POV Dr. Ryan. "Benar 'kan itu Delia, Ma?" Aku bertanya memastikan. Gegas kuhampiri Mama, setelah melihatnya selesai video call dengan seseorang. "Menurutmu?" Mama malah balik bertanya. Matanya lekat menatapku balik. "Ma, please …. Ryan serius." Dengan memelas aku menekan suaraku. Mama malah terkekeh pelan sambil mengusap rambutku. "Kamu sangat mencintainya?" Aku terkesiap mendengar pertanyaan Mama. Dari raut wajahnya tidak ada kemarahan di sana. Cara bicaranya pun lembut. Dengan menganggukkan kepala, kuiyakan. "Tunggulah sampai masa iddahnya selesai, baru dekati dia." "A--apa, Ma?" ulangku. Aku tidak ingin salah dengar. Suara Mama terdengar pelan dan kecil di telingaku. "Nggak bisa diulang, sana pergi! Mama mau tidur," sahutnya lalu bangkit dari duduknya. "Ma." Kupegang erat tang

