Bab 5. Belajar Mobil

1498 Kata
Alara mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan keadaan dimana matahari telah tinggi. Ia ingat bahwa hari ini adalah hari minggu yang artinya dia bisa berleha-leha sampai siang di kamar. Alara meraba sisi ranjangnya untuk melihat ponsel dan memastikan jam berapa saat ini. Matanya yang terpejam seketika menyipit saat melihat ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Alara kembali meletakkan ponselnya dengan asal dan memejamkan matanya. Rasanya hari minggu itu sangat menyenangkan. Tapi, dia sepertinya lupa akan sesuatu. Dahinya seketika berkerut mencoba mengingat-ingat apa yang telah ia lupakan. Tak ingin mengingat lagi, Alara kembali tertidur sampai nada dering ponselnya mengganggu kesenangan hidupnya di hari minggu. Gadis itu kembali meraba ponselnya dan mengangkatnya tanpa melihat nama si pemanggil. “Hm?” sahutnya dengan suara serak khas bangun tidur. “Sampai kapan kamu mau tidur? Saya sudah di bawah.” Dahinya berkerut seketika lalu menjauhkan ponselnya untuk melihat nama si pemanggil yang tak lain adalah ‘Pak Adam Dosen.’ Matanya melebar seketika dan kini dia sudah mengingat apa yang dilupakannya. Belajar mobil bersama Pak Adam! Ya ampun! Alara panik. Ia segera mematikan ponselnya lalu beranjak ke kamar mandi hanya sekedar untuk mencuci muka lalu menyikat giginya. Alara meraih pakaian santai baju oblong cewek dan celana jeans selututnya, sementara rambutnya ia kuncir menjadi satu ke belakang. “Mati gue!” gumamnya lalu segera meraih dompet dan ponselnya. Dengan terburu-buru Alara segera turun ke bawah. Sesampainya di bawah, ia langsung ke dapur untuk sarapan terlebih dahulu. Kemudian, mengirimkan pesan kepada Pak Adam. ‘Pak, saya sarapan dulu. Terima kasih dan maaf.’ Setelah menyelesaikan sarapannya, Alara beranjak ke ruang tamu dimana Ibunya dan Pak Adam sedang mengobrol. Seketika ia langsung meraih kunci mobil miliknya lalu menyalami ibunya. “Alara pergi dulu, Ma, Assalammualaikum.” Sang ibu menggeleng pelan. “Waalaikumsalam.” Gadis itu segera menarik tangan Pak Adam untuk keluar dari rumahnya. “Saya sudah menunggu hampir dua jam.” Pak Adam menatap Alara dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis itu menunduk, “Maafin saya, Pak. Saya lupa.” “Ayo, naik.” Alara menggeleng ketika melihat Pak Adam hendak menuju ke mobilnya. “Naik mobil saya saja, Pak. Nanti mobil Bapak lecet kalau kenapa-napa.” “Selama bukan kamu yang lecet tidak masalah.” Perkataan bernada datar itu mampu membuat pipi Alara memerah seketika. Ia benar-benar tersanjung walau itu hanyalah perhatian kecil dari sosok dosennya ini, "Nggak usah, Pak. Saya nggak enak. Sudah, naik mobil saya aja." Alara lalu meraih tangan Pak Adam dan memberikannya kunci mobil miliknya yang sudah dipanaskan oleh Ibunya sebelumnya. Ya, sebelum tidur semalam Alara memang meminta tolong pada sang ibu yang selalu bangun pagi untuk memanaskan mobilnya esok hari. Adam tidak ingin berdebat sehingga memutuskan mengiyakan permintaan gadis itu. Dia menuju ke mobil dengan merk honda dan membuka pintu kemudi sementara Alara duduk di sebelahnya. “Kita belajar di lapangan dekat sini saja.” Alara mengangguk kemudian memasang seatbelt. “Ara mana, Pak? Nggak jadi ikut?” Adam menggeleng sebelum menggunakan satu tangannya untuk memutar stir mobil sambil melihat ke belakang. “Dia ke rumah omanya.” “Ah,” Alara mengangguk lalu memperhatikan bagaimana cara dosennya ini mengemudi. Melihat orang mengemudi sangat lah mudah, namun ketika mengemudi sendiri rasanya begitu sulit. Keduanya sampai di lapangan. Adam seketika menghentikan mobilnya lalu menggunakan rem tangan. Ia menoleh menatap Alara dan berkata. “Ayo, tuker.” Mata Alara melebar seketika, namun ketika dilihatnya Pak Adam sudah keluar dari mobil, Alara melepaskan seatbelt dan menukar tempat mereka. Menarik napas dalam-dalam, Alara mencoba mengatur kursinya terlebih dahulu agar nyaman. Lalu, ia menunduk membuat tanda tanya di kepala Adam. “Kamu ngapain?” “Lepas sandal, Pak.” “Buat apa?” Alara berhasil melepas sandalnya lalu melemparkannya ke belakang. “Biar lebih leluasa. Saya suka kaku kalau pakai sandal.” Adam menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan gadis satu ini. “Kalau kamu terbiasa menyetir nggak pakai sandal, nanti kamu kebiasaan.” “Kita belajar dulu, Pak. Kalau sudah lancar nanti saya biasain pakai sandal,” jawabnya lalu kembali menegakkan tubuhnya. Alara menarik napasnya kemudian menatap Pak Adam dan bertanya. “Jadi, saya harus ngapain?” Adam memegang rem tangan lalu berkata. “Kamu belajar injak gas dulu. Kalau sudah bisa mengatur injakannya baru kita belajar jalan. Sekarang mana kopling, gas, sama rem?” “Pedal kiri kopling, tengah rem, dan kanan gas.” “Sekarang coba kamu injak gas.” Alara mengangguk dan melirik tangan Pak Adam yang masih memegang rem tangan yang berarti aktif. Ia perlahan menginjakkan kakinya pada gas, namun yang terjadi injakannya terlalu kuat membuat suaranya juga menguat. “Jangan terlalu dalam, pelan-pelan. Ulangi!” Alara menelan salivanya lalu kembali menginjakkan gas mobil kemudian kali ini dia lumayan berhasil walau kadang masih menginjak terlalu dalam. Sampai beberapa menit kemudian ia akhirnya mulai bisa mengendalikan injakannya. “Sekarang letakkan tangan kamu searah jarum jam 10 dan jam 2.” Alara menurut, dilihatnya Pak Adam mulai menurunkan rem tangan. “Tekan kopling, masukkan gigi 1. Biasa disini hal yang paling sulit untuk pengemudi baru seperti kamu.” Alara menginjak pedal kopling dan memasukkan gigi satu. “Setelah itu, naikkan kopling secara perlahan dan injak gas secara pelan-pelan juga. Inget Ra, kopling dan gas itu ibarat jungkat-jungkit jadi ketika gas ditekan, kopling harus diangkat secara perlahan.” Alara mencobanya, ia menginjak gas namun lupa mengangkat kopling sehingga membuat mobilnya mati seketika. Alara menggigit bibir bawahnya merasa malu tanpa berani menoleh pada sosok dosen di sebelahnya. “Maaf, Pak.” “Ini memang bagian paling susah untuk pemula.” Ia lalu kembali berkata. “Turunkan gigi ke posisi netral dan kamu hidupkan lagi mobilnya. Ulangi sampai kamu bisa menyetarakan antara kopling dan gas.” ●●● Hari sudah siang dan Alara kini memilih untuk duduk di sebuah warung dekat lapangan. Ia memesan kelapa muda dingin dan berpikir bahwa belajar mobil ternyata tidak semudah perkiraannya. Pak Adam memilih untuk duduk di depannya dan memesan minuman yang sama. “Kamu lapar?” Alara menggeleng pelan. “Saya sudah makan tadi jam sepuluh. Bapak lapar?” “Iya, saya lapar.” Adam lalu memanggil penjaga warung yang merupakan Ibu-ibu. “Ada makanan apa saja, Buk?” “Kentang goreng, mie.” Adam menggeleng pelan. “Nasi ada, Buk?” “Ada, nasi ayam kangkung.” “Pesen 1 sekalian sama air mineral botol.” Sang Ibu mengangguk lalu menatap Alara. “Mbaknya juga?” Alara tersenyum kecil lalu menggeleng. “Nggak, Buk.” “Baik, sebentar Mas.” Adam lalu menatap Alara yang kini sedang meminum kelapa muda miliknya. “Kita latihan dua kali seminggu. Sabtu sama Minggu kalau hari lain saya kerja dan kamu juga kuliah 'kan?” “Saya bisa belajar sama Abang saya kok, Pak.” “Tidak. Kamu belajar sama saya, untuk seterusnya juga.” Alara hanya mengangguk patuh. Seketika ia mengernyitkan dahinya dan mencoba bertanya. “Pak, skripsi itu sulit?” Pertanyaan diluar konsep latihan mereka membuat Adam mengernyit seketika. “Tergantung dari judul yang kamu ajukan.” “Saya dengar dari kakak kelas, judul yang diajukan belum tentu diterima oleh pembimbing.” “Judul yang diajukan dan ditolak oleh pembimbing karena ada dua alasan, pertama kamu tidak sanggup melakukannya dan kedua judulnya terlalu mainstream.” Ia menjelaskan sesuai dengan pengalamannya selama ini. “Kamu masih semester 6 'kan? Kenapa sudah mikir skripsi?” “Kan nggak lama lagi saya skripsi, Pak.” “Kamu harus KKN dulu.” Alara mengangguk lalu mengaduk kelapa muda miliknya. “Saya ingin mempersiapkannya dari sekarang.” Tak lama, sang Ibu membawakan nasi ayam kangkung untuk Pak Adam sekaligus dengan air mineral botol. “Kamu yakin nggak mau makan?” Alara mengangguk walau melihat makanan Pak Adam perutnya serasa menjerit minta diisi. Tentu saja Alara gengsi apalagi dia baru saja makan sekitar 3 jam yang lalu. “Bapak saja.” “Atau kamu malu?” Seketika mata bening Alara melebar. “N-Ngapain saya malu.” Pak Adam mengendikkan bahu dan menjawab. “Saya nggak mau perempuan yang pergi sama saya kelaparan atau kamu nggak biasa makan makanan di pinggir jalan?” “Nggak begitu, Pak.” “Kalau begitu, pesan. Kita bisa makan bersama untuk awal dari hubungan yang akan kita jalani seterusnya.” Semakin lama di dekat Pak Adam kondisi jantungnya makin tidak sehat. Dia merasakan degupan jantungnya kian berdebar dengan keras. “Bapak kenapa mau nikah sama saya?” “Karena dijodohkan.” Adam memberikan jawaban singkat namun membuat Alara jengkel. “Bapak terima gitu aja?” Adam menatap gadis di depannya ini dengan seksama. “Saya tentu saja menilai dulu seperti apa kamu karena saya sudah tahu bahwa kamu adalah mahasiswi saya.” “Terus?” “Bisa dikatakan kalau saya memperhatikan kamu.” “Bapak perhatiin saya? Sejak kapan?” Adam menghela napas pelan. “Sejak tahu bahwa kamu menjadi calon istri saya. Saya habiskan makanan ini dulu, setelahnya baru kamu bicara lagi.” Alara menipiskan bibir dan mengangguk merasa malu karena sudah menunda makan siang dosennya. “Baik, Pak.” Pada akhirnya ia hanya memilih untuk memainkan ponselnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN