Scene 7

4365 Kata
Hari berlalu tanpa terasa sudah memasuki akhir semester. Enak juga rasanya kuliah mau ujian saja ada liburnya dulu, katanya minggu tenang, libur selama satu minggu. Itu seharusnya tapi karena bertepatan dengan tahun baru libur jadi molor menjadi dua minggu. Tahun barunya di hari rabu, jadi pihak kampus menambah menjadi dua minggu. Beberapa dari temanku mengajak tahun baruan bersama untuk pertama kalinya tapi aku menolak dikarenakan memang selain menghemat aku juga malas begadang kalau banyak cewek. �Heh su! Tadi aku ketemu sama pak RT, Pak RT minta bantuan minggu depan. Katanya, pak RT jadi ketua kegiatan selama seminggu besok, acaranya rame, ada jalan santai, dangdutan, dan masih banyak lagi lah acaranya pokoknya seminggu full� �Nah untuk penjagaan memang dari kepanitiaan, tapi katanya ndak mampu untuk kebersihan, harus sewa orang dari luar. Lumayan satu minggu bisa buat kita hidup 1 bulan. Hitung-hitung kerja sampingan. Pak RT hanya menawarkan buat yang mau saja, tapi kalau ada kegiatan di kampus, ndak ikut juga ndak papa kok� ucapku, kami duduk di halaman depan rumah, lesehan. Berteman dengan dunhill mild dan juga kopi hitam �Males aku, mending di kontrakan saja, gimana?� ucap Justi �Halah, gayamu... ndak butuh uang kamu?� ucap Samo �Masih ada kok, beneran kok masih ada� �Kalian saja yang kerja ya, gimana?� ucap Justi �Tumben bisa ngirit njus?� ucapku �Simpanan tante-tante ha ha ha� ucap Samo �Matanyaaaaaa.... bener itu njus?� ucapku �Ndak ada... sudah kapok akunya, Samo mungkin� ucap Justi �Aku ya ndak mungkin, mana ada yang mau sama orang gembrot seperti aku� ucap Samo Kulihat mata mereka menyembunyikan sesuatu, jelas aku tahu selama ini kami selalu bersama. Tidak mungkin aku tidak mengenal mereka. Daripada aku harus memaksa mereka lebih baik aku diam saja. �Ya sudah kalau begitu, besok aku saja. ya bisa saja kan sewaktu-waktu kita butuh uang lebih. Lha terus kalian mau ngapain selama liburan?� ucapku �Yaaaa... mmm... ke kampus ar, kita kan duo culun selalu dibutuhkan untuk urusan angkat-angkat barang� ucap Samo. Benar-benar kelihatan bohongnya, hadeeeeh... �Ar, kamu ndak cari pacar? Kamu itu to ar kalau diluar kampus kamu bisa dapat cewek model apa saja deh, kulit lumayan cerah, wajah ganteng tinggi semampai. He�e kan sam?..� ucap Justi, Samo mengangguk �Tumben otak kamu muter jus ha ha ha� ucap Samo �Belum kepikiran ndes� ucapku �Atau jangan-jangan kamu...� ucap Samo �Apa?! Matamu suuuuu su!� �Aku kangen kampung� lanjutku �Sama...� jawab mereka berdua bergantian, Hening, sehening malam. Seakan tak ingin saling mengganggu, ingatan kami kembali ke masa dimana kami masih berada dikampung. Ingatan tentang desa yang sangat tidak semaju ibu kota negara ini. Kami saling memandang, dan kami bangkit dari duduk, menuju ke kamar masing-masing. Aku rebah dan memandang ke genting karena memang tidak ada ternit sama sekali. ----- �Sam, aku duluan yah...� ucapku �Ya, njus nanti ketemu di kontrakan saja� ucap Samo �Oke, oke, oke� ucapku �Otakmu muter kan jus?� tanya samo kepadaku �Lha otak itu kan ndak bisa muter kan sam?� jawabku sekaligus balik bertanya �Owh, ndak papa Jus, mandeg berarti� ucapnya, tanpa penjelasan sama sekali, aku malah bener-bener bingung Kuliah, eh, benar ya kuliah, waktu itu kalau tidak salah ya, setelah 1 bulan aku kuliah. Aku sekarang jarang pulang bareng dengan Samo. Kalau sebenarnya, aku ya tahu to, kemana Samo akan pergi? Karena aku dan dia sudah sama-sama tahu, hanya saja ini semua berjalan dibelakang Arta. Kalau Arta sampai tahu mungkin semuanya akan sedikit bubar. Ini semua berawal dari... he he he... akhirnya aku bisa cerita juga, ketika itu ... oOo Gara-gara perut mules, aku ditinggal oleh Samo pulang, Samo kampret itu malas menungguku BAB. Aku sendirian didalam kampus dan jongkok di atas closet, kalau orang kota mengatakannya. Bagaimana tidak, aku malas jika harus duduk, ndak enak sama sekali ya, enakan jongkok. Setelahnya aku pulang, berjalan kaki menuju halte bis, kurogoh saku bajuku. �waduh, bajirut! Rokok habis...� hatiku berkata bak seorang pujangga Kepalaku mlengos kanan kiri, ndak ada warung. Dasar kota, masa ndak ada warung rokok, di desa buanyak banget lho padahal. Ada warung nasi kucing, warung rujak, warung pecel, warung gajah duduk juga ada. Eh, itu anu, sarung he he he. Malas banget kalau pulang ndak ngrokok dulu, ya wis (ya sudah), aku nyari to. Ada gang, aku masuk saja. harapannya ketemu kios rokok, beli rokok bukan kondom. Kalau dari depan gang sampai pemukimannya jauh sekali. Gangnya sempit, cukup buat satu mobil, ada sisa tapi cukup buat sepeda motor, seperti jalan-jalan di desaku. Tapi kalau jalan didesaku masih mungkin untuk dua mobil, biasa ambil jalan samping masih sisa tanah banyak. Tapi kalau di gang ini mobilnya harus jalan di dinding seperti pembalap setan di pasar malam. Jelas! karena disamping kanan kiri semuanya pagar bumi, kiri pagar dengan kampusku, dan kanan pagar dengan rumah mewah. �Copeeeeeeeeeeeet...� teriak seorang, waladalah, ada bidadari yang mengejar pcncopet, eh tapi kok bidadari kecopetan? Si penjambret kok ya ndak lari ketempat lain, malah lari ke arahku. Aku segera bergerak ke tengah dan mencoba menghalangi penjambret itu. �MINGGIR!� teriak pencopet itu, dengan tangan menggenggam dan mencoba untuk memukulku Kalau kata samo, pukulan orang yang berlari itu bakalan marem sekali kalau kena. Aku menghindar, ndak mau aku kena pukulannya, ya nunduk dan langsung aku kasih dagunya pada dagunya. Bugh! Pencopet itu langsung terangkat keatas, seperti seorang petarung street fighter! Game ding dong yang dulu aku pernah main, pake koin. Pencopetnya terbang kebelakang, pencopet terjatuh kebelakang dan kepala, kepala yang jatuh duluan. Agak gugup, Aku mendekat. Lha malah pencopetnya tiduran di jalan, harusnya kan di kamar. Aku ambil saja tas kecil itu, lha ndak niat nyopet dia, �walah bau congyang� bathinku �Ini mbak...� ucapku, cantik, hmm... bodinya, aduh kenapa malah mikir yang endak-endak to aku ini. �Eh hash hash hash hash terima kasih, kalau hash hash tidak ada kamu, mungkin hash hash hash...� ucap mbaknya, �ooo tenag mbak, ndak papa, mbaknya santai saja, istirahat dulu, minum kopi eh, ini bukan kontrakan, waduh� tepuk jidat aku, bisa-bisanya aku lupa �Eh, mbak... orangnya kan sudah tidur to mbak, lebih baik mbak�e segera pergi saja nanti kalau ada orang lihat malah kita yang yang jadi tersangka� ucapku �Eh iya... makasih ini sebagai hash hash hash...ucapan terima kasih� ucapnya yang sebelumnya sibuk mengambil uang dan menyerahkannya ke aku. �Ndak usah mbak, itu sudah kewajiban, menolong orang itu kata temanku, samo sama arta mbak� ucapku, aku mendada-d**a dengan kedua tanganku �Eh... gak papa... beneran?� ucapnya, tetap saja mbaknya menyodorkan uang �Sudah mbak, ndak usah.. aku mau cari rokok mbak, rokokku itu tadi habis owk... sekalian langsung pulang� ucapku �Beneran gak mau?� ucapnya, akunya mengangguk saja �Disana tidak ada warung rokok� ucapnya, mbak�e menunjuk ke arah yang mau aku tuju, mbak�e ternyata bisa tahu ke mana aku mau pergi �Ya sudah mbak aku tak balik saja, oia mbak cepetan pergi mbak sebelum dia sadar...� ucapku membalikan arah. Tiba-tiba tanganku ditariknya. �Aku antar kamu pulang...� ucapnya �Ta.. tapi aku mau cari rokok mbak...� ucapku �Sudah, nanti kita cari dijalan...� ucapnya Aku kemudian digandeng oleh mbaknya, dan berjalan mundur menuju ke arah pemukiman. aku berjalan mundur tapi kepalaku selalu menengok ke belakang, Aku diseretnya menuju sebuah mobil sedan merah. Dan... �Wuiiiiiiiiiiih... ini kenapa mobil pintunya naik keatas?� bathinku �Naik... cepetan!� ucapnya �I.. iya mbak...� ucapku Mobil muter, orang tadi dilewati sama mobil, masih juga orang itu tidur. Lha akunya tambah benar-benar bingung melihat keadaan dalam mobil. Ada sebuah batang yang mirip tongkat digerak maju mundurkan saja, aku tahu itu untuk menambah dan mengurangi gigi tapi kalau di bis atau mobil di desa pasti ada geserkanan-kiri-maju-mundur. Ini beda, hanya maju dan mundur. Dan Dalam mobil kayak di kulkas, ruang kuliahku saja kalah dingin sama ini mobil. �Siapa namamu?� ucap mbaknya, pakaiannya kaosnya ketat, belahan d**a rendah, ngiler aku tambah lagi celana jeans ketat �Justian, Justian Mahendra Wasengan mbak� ucapku, dia melirikku dan tersenyum �Linda White Heart� ucapnya, aku hanya mengangguk Tempat duduknya pun beda dengan mobil-mobil desa yang pernah aku naiki, sangat empuk dan nyaman, nyut nyut rasanya di punggung. Ini sebenernya mobil apaan yah? Sudah tadi pintunya naik ke atas, lha ini dalemannnya indah banget. Sesuai kayaknya sama dalemannya mbaknya, he he he �Untung tadi ada lu, oia gak papa kan aku pake bahasa lu-gue, secara dari tadi bahasa lu formal banget...� ucapnya, aku ngangguk-ngangguk, suaranya rada-rada gimana gitu. �Mau beli rokok apa?� ucapnya �Danhil mbak tapi tulisannya, d-u-n-h-i-l-l mbak� ucapku sambil memandang ke arahnya, dia melirikku tajam, aku merasa matanya menusuk hatiku �Bukan orang sini?� ucapnya, aku mengangguk-anggukan kepalaku �Darimana?� ucapnya kembali �Desa Bajak Tani mbak� ucapku, dahinya mengrenyit, �Desa?� tanyanya �Iya mbak, itu di daerah tengah agak ketimur mbak, ada sawahnya, ada air terjunnya mbak, udarane to mbak disana kalau malam kaya didalam mobil ini mbak� ceritaku ke mbaknya �Hi hi hi, dasar kampungan lu� ucapnya, aku langsung menunduk dan duduk mengarah ke depan. Sedikit kuangkat wajahku, �Eehhhh itu mbak itu ada kios rokok, aku turun disini saj.... ja...� ucapku sambil melihat kios rokok terlewati �Lho kok... lho kok ndak berhenti mbak?...� �rokok mbak rokok, rokok mbaaaak...� ucapku, dengan kedua tanganku berada di kaca mobil �Yaelah... beli rokok dikios pinggir jalan, ntar beli di market saja� ucapnya, aku bersandar pada jok mobil empuk ini sambil memegang tasku, ini mbaknya memang judes, aku malah takut, hiiiii �Dandanmu culun tapi bisa juga kelahi ya? gak nyangka masih ada orang baik kaya lu didunia ini� ucapnya �Banyak mbak, kalau tidak bisa menemukannya jadi salah satunya saja mbak, lagian tadi juga pas, pas aku jalan, pas pencopet itu kearahku, pas dia mukul, pas aku menghindar, dan pas aku memukulnya mbak, begituuuuu...� ucapku menirukan kata-kata Arta dan Samo, kemudian mobil membelok ke sebuah market pinggir jalan, B-Mart begitu tulisannya. Dia memandangku sejenak dan kemudian tersenyum renyah kepadaku �Bentar, aku belikan...� ucapnya �Ndak usah mbak aku beli sendiri saja, nanti mbak dikira ngrokok lho kalau mbeliin saya� ucapku �Sudah lu disini ja... tunggu...� ucapnya, kemudian keluar dari mobil, pintu naik ke atas dan dia keluar. Kulihat dia berjalan santai masuk ke market tersebut Lha,waduh, kok ditinggal sendirian. Nanri kalau mbaknya salah beli rokok bagaimana? Ini, ini buka pintunya bagaimana? Tadi pintu naik ke atas, sekarang cara bukannya? Tadi mbaknya megang apaan ya, kok beda semua dengan yang ada di mobil didesaku? Hladalah, kenapa aku tadi ndak nanya mbaknya ya? Ini kenapa juga mobilnya ndak dimatikan ya? ndak tahu apa bensin mahal? �Heeeee...???? ini pencetan apa ya?� aku memencetnya, tiba-tiba wuih keren kacanya turun sendiri, kalau di desaku harus diputer-puter baru kacanya buka. Dengan pede aku keluar dari mobil melalui kaca jendela mobil. �Akhirnya aku bisa keluar ha ha ha� ucapku sambil tertawa sendiri, banyak orang heran dengan tingkahku, masa bodoh paling ketemu juga hari ini besok ndak lihat aku lagi Plak... pukulan ringan di bahuku �Ngapain keluar? Masuk lagi? Lagian ada pintu keluar lewat jendela! nih!� ucap mbak linda, �weee ternyata mbaknya pintar juga, rokoknya ndak salah beli� ucapku menerima rokok dari mbak linda �gue juga tahu kali, dah masuk, ngapain juga lu keluar?� ucapnya sedikit membentak �Eh mbak linda, maaf mbak ndak tahu buka pintunya didesa ndak ada yang kaya gitu. Aku turun sini saja mbak, ntar malah kesasar kalau turun ditempat lain. Terima kasih buat tumpangannya... � ucapku, bibirnya datar �Dah masuk lagi, gue anterin...� ucapnya, aku menggeleng �Sudah mbak terima kasih banyak pokoknya� ucapku sembari membungkuk �Masuk...� ucapnya, yang langsung membukakan pintu kembali. Matanya mendelik ke arahku, akhirnya mau tidak mau aku kembali masuk. Kulihat dia masuk lagi ke dalam mobil, benar-benar menakutkan, dia seperti mak lampir �Mbak kalau disini aku ndak bisa ngrokok mbaaaak... aku pengen ngrokok mbak� ucapku memohon �Sudahlah... itu jendela dah buka, ngrokok saja... nih minum� ucapnya, mobil kembali berputar dan berjalan pada aspal. aku sulut dunhill dan mengeluarkan kepalaku �Temani gue ya hari ini, suntuk..� ucapnya �Mbak...� ucapku, dia menoleh dan melihatku yang menoleh sedikit kedalam �Mbak ndak takut sama aku mbak? Secara baru kenal lho mbak, ntar kalau mbak aku perkosa bagaimana? Kalau kata temen-temen kontrakanku itu, aku itu apa ya anuu mmmm PK mbak� ucapku, mbak lisa memandangku sejenak �Jujur banget jadi orang lu, gue bisa membedakan orang baik sama orang jahat...� ucapnya �Heeee... mbak dukun?� ucapku �Iya gue dukun, sialan lu! Jadi orang jangan polos-polos banget napa?� ucap mbak lisa �Ndak polos akunya mbak, buktinya aku pakai baju sama celnaa� ucapku �Ha ha ha... dasar otak lu m***m ya� ucapnya �Kok m***m mbak kan aku ndak ngomong jorok mbak?� tanyaku heran �Sudah, lupakan... bisa mpe subuh ngomong sama lu� ucapnya �Jangan mbak, besok aku kan kuliah...� ucapku �Aduuuuh... ya ya... � ucapnya, aku pandangi sejenak tapi jujur saja rada ndak nyambung aku ngomong sama si mbak linda ini. apa orang kota memang ndak nyambungan ya kalau ngomong? �Kenapa mbak suntuk?� ucapku �Haaaashhh... lagi nyari selingkuhan mantan suami gue, mau gue labrak habis-habisan lonthe itu� ucapnya membuatku terkejut tapi tak mengubah posisi dudukku �Malah kecopetan tadi untung ada lu� ucapnya �Lha, sudah mantan kok harus dicari? Kalau kata temenku mantan untuk dilupakan...� ucapku, dia memandangku sejenak �Masih jengkel saja, habisnyaaaa... .... ... hiks...� ucapnya tiba-tiba menangis �Lho lho mbak nangis? Kok malah nangis? Jangan nangis mbaaak, ntar aku diamarahi bapaknya mbak...� ucapku, mobil berhenti di pinggi jalan, dia mengambil tisu dan mengusap air matanya �Lu tahu gak, gue udah serahin semuanya, dia minta apa gue kasih! Tapi setelah nikah ama gue, dia malah selingkuh sama lonthe! Dia ambil hArta gue, siapa yang gak terima! Gue Cuma diplorotin satu tahun ini!� ucapnya membentak... �Eh anu itu mbak... aduh... kok malah jadi gini... aduh... sudah mbak jangan nangis... cup cup cup diam mbak...� ucapku �Lu kira gue anak kecil apa! Lu cup cup! Dasar culun!� bentaknya Walah mbaknya malah marah besar, gimana ini? tak buang saja rokokku, duduk lagi sambil sandaran di kursi, nyut nyut. Sudah, pokoknya aku dah ndak mau ngomong lagi, nanti alah dimarahi. Apa lagi setelah melihatnya marah-marah. Aku genggam tanganku sendiri, dan tak berani menatapnya. Berlanjut lagi marahnya, membuatku semakin diam... �Kenapa diam!� ucapnya �Eeeegh??? aku kan ndak tahu apa-apa... kok aku yang dimarahi???� ucapku pelan �Karena lu lu... argh... sudah lupakan...� mobil kembali berjalan, hening sesaat... �Maaf tadi gue marahin lu...� lanjutnya �Ndak papa mbak... kata ibuku dulu sewaktu masih hidup, jangan pernah membantah perempuan... begitu mbak� ucapku pelan Aku meliriknya dia memandangku sesaat dan kemudian tersenyum. Wajahnya kembali sumrigah dan selalu ada senyum di wajahnya. Wah, untung, duh gusti, untung saja dia senyum. Tapi senyume itu lho, haduuuh, mak nyes. �Dimana rumahmu?� ucapnya �ndak punya mbak, dulu punya mbak tapi punya bapak-ibuku, tapi sudah dijual � ucapku pelan �maksudnya rumah lu di sini!� ucapnya, aku menggeleng �Sudah jangan takut lagi, aku gak marah lagi kok... tenaaaang...� ucapnya �I.. iya mbak... di kompleks gemah, gemah... pokoknya ada gemahnya mbak belakangnya aku lupa eeee...� ucapku �Gemah ripah loh jinawi?� ucapnya �Naaah wah mbaknya pintar ya, pasti ranking satu waktu sekolah...� jawabku polos �Ya gue tahu, nanti gue antar kesana...� dia memandangku sejenak �Emang kalau tahu nama tempat, ranking satu di sekolahan gitu� ucapnya �Bu guru bilangnya gitu owk mbak... dulu aku sering dimarahi mbak, nyebut nama guru saja salah terus...� ucapku �Emang siapa nama gurumu?� ucapnya �Angel mbak... tapi sekarang aku sudah bisa mbak, ibu guru saya itu keturunan londo (orang barat), namanya angel lha saya manggilnya ya angel (sulit dalam bahasa jawa), ternyata harusnya enjel, gitu mbak� ucapku �Ha ha ha... lu o�on ha ha ha� ucapnya �Aku Justi mbak, Justian bukan o�on...� ucapku, dia memandangku dan langsung tertawa keras Diantarnya aku sampai didepan gang, sewaktu hendak keluar aku melihat keadaan sekitar. Aman, dan aku langsung keluar tapi tunggu dulu ini bukannya gimana. Tampaknya mbak linda tahu kesusahanku, dan sebuah tangan halus langsung membukakan pintu dari belakang tubuhku. �Terima kasih mbak...� ucapku �Ya sama-sama...� ucapnya �Aku pulang dulu mbak...� ucapku �He�em...� dia tersenyum, sungguh manis �Heh jus, jangan o�on terus ya...� ucapnya �Justi mbak Justi.. o�on itu siapa?� ucapku, dia tertawa keras Mbaknya ndak jawab apa-apa tapi Cuma ketawa keras. Mobilnya langsung jalan gitu saja, ndak pake klakson-klakson dulu. kalau di desa kan biasanya, habis nganter, orangnya turun, diklakson. Ya udah, pulang, ketemu ma dua sahabat sejatiku. Besoknya, aku berangkat ya sama Samo, ya sama Arta, dan berpisah di halte kampus. Arta itu orange pinter, memang dasaranya dia pinter jadi bisa masuk universitas, eh, aku juga pinter kok, nyatanya aku kuliah. Kampusku sama Arta itu jauh, Arta pernah ikut kekampusku, ikut pengenalan kampus kalau ndak salah.nah, kalau Aku dan Samo memang satu jurusan tapi aku berbeda kelas, aku kelas C diambil dari kata Cinta dan Samo kelas A diambil dari kata Anjing ha ha ha, sssst, jangan keras-keras, kalau Samo dengar aku bisa dihajar. Hari ini, Samo pulang dulu, lha akunya sore. Walah, pokoknya capek, padahal kuliahya cuma gitu-gitu saja, aku juga memperhatikan tapi tetep saja ndak mudeng. Lagi enak-enaknya jalan, tiba-tiba sebuah mobil yang sama dengan kemarin mengklaskson aku �diiin� yang keras, aku menoleh. �Masuk...�� ucapnya �Lho mbaknya, mau kemana?� ucapku �Masuk!� bentaknya �A.. aku mau pulang mbak...� ucapku, sambil menundukan badan �Aku lagi butuh teman buat ngobrol� ucapnya. Matanya kembali mendelik, tapi bagaimana cara bukanya �Ta.. tapi mbak...� ucapku �Cepetan...� ucapnya �Bukanya gimana, kemarin kan mbak yang bukain?� ucapku �Oh hi hi hi... itu kan ada handelnya, tarik ke atas...� ucapnya tersenyum renyah Aku mencoba dan dapat terbuka, kemudian aku masuk. Langsung dia melaju, sambil melepaskan kacamataku. Aku hendak merebutnya tapi kacamata itu di tempatkan di belahan tang-top putihnya, langsung saja niat itu aku urungkan. Tak ada pembicaraan hingga di pantai, aku diajaknya duduk dengan sekaleng minuman bersoda. �Kok diem?� ucapnya �Mobilnya aneh... dan mbak kok tiba-tiba ngajak pergi?� ucapku �Gak suka? aku antar pulang sekarang saja kalau gitu...� ucapnya, aku mengangguk �Kamu takut aku marahi?� ucapnya, aku hanya menggeleng �Takut sama pacar kamu?� ucapnya, aku menggeleng �Belum punya mbak, habis putus...� ucapku �Teman kuliah kamu?� ucapnya �Ndak mbak, tapi perempuan bersuami� ucapku �Hah?! Gila, orang seculun kamu bisa-bisanya....� dia sangat terkejut dengan pengakuanku �Beneran?� ucapnya, aku mengangguk dan mengankat tanganku dengan jari berbentuk huruf V �Ceritain dong...� ucapnya �Cerita? Cerita apaan mbak?� ucapku �Ya cerita kamu sama cewek bersuami itu...� jawabnya �Janganlah mbak itu kan masa lalu yang buruk kok diceritain, ntar mbak cerita-cerita, akunya ndak laku gimana?...� ucapku �Ya gak papakan, kalau gak mau ya sudah...� ucapnya. �I.. iyaaa... gini itu tu dulu ada perempuan, terus tinggal didesaku, nah akunya kan ndak tahu kalau perempuan itu punya suami mbak. Pertamanya ya kenal biasa sajaaaa, ngakunya dia tinggal didesa karena pindahan dari kota gitu.. lha berarti kan dia itu singgel kan mbak? Ya to? Naah... karena aku tahunya single, jadinya ya aku dekati, lha pas setelah dekat itu to mbak, aku tembak dianya mau, waktu itu umurku masih 16 tahun dia 24 tahun mbak...� ucapku �Terus...� balasnya �Namanya kan juga ornag pacaran to mbak, aku mulai tambah cinta... sering main kesana, tapi suatu hari pas lagi pacaran, aku dilabrak sama suaminya. Pertama aku melawan, tapi setelah tahu dia benar-benar suaminya...� ucapku �Apa kok malah diem...� ucapnya �Ya diam mbak, dihajar pun aku diam lha akunya kan yang salah... kedua temanku yang menolongku, haaaash... hancur mbak... akhirnya keluargaku tahu, aku dimarahi habis-habisan... namanya cinta mbak, aku tetap menjalin hubungan gelap mbak, tapi saat aku menjalin itu salah satu temanku selalu mencegahku, malah aku yang dihajar habis-habisan olehnya, karena katanya itu sepet lihat sikapku..� jelasku �Ya kamu salah... wajar teman kamu mengingatkan... tapi caranya salah itu...� ucapnya �Lho mbak kok tahu itu salah?� ucapku polos �Dah lanjutin aja ceritanya, dibahas mpe kiamat juga kamu gak bakal mudeng jus� ucapnya �Apanya mbak yang ndak mudeng?� aku semakin bingung �Daaaah lanjutiiiiin....� ucapnya �I iya mbak iya...� �Dia itu to mbak, hajar aku dan mengikatku didalam kamar seharian, dia temani aku... dan dia juga yang datang ke perempuan itu untuk mengatakan keapadanya, untuk mengakhiri hubungan gelapku. Lha pas itu to mbak si perempuan sudah punya niat untuk menceraikan suaminya ya gara-gara aku itu, tapi temenku itu juga mbak yang menyadarkan perempuan itu hingga akhirnya perempuan itu pindah kembali kekota dan aku ndak pernah ketemu lagi. Haaaash... nasib sama juga dialami oleh satu lagi temanku, Samo... dan temanku yang hajar aku itu juga yang menyelesaikannya...� �Gitu mbak ceritanya, untung akunya itu mbak ndak dibunuh sama suami si perempuan itu mbak. Dan temnaku yang hajar aku itu mbak, bener-bener menyadarkan aku mbak. Kalau saja ndak ada dia sudah nyemplung kali akunya mbak� ucapku �Kali?� ucapnya �Sungai mbak, di desaku itu ada sungai yang arusnya buanter mbak, cuepet buanget mbak. Orang nyemplung situ pasti mati mbak...� ucapku yang bercerita dengan sungguh-sungguh �Ha ha ha...� tawanya �Kok malah ketawa sih mbak... ya maklumlah, masih 18 tahun, masih labil...� ucapku �Jujur banget kamu itu...� ucapnya �Katanya suruh ceritaaaa, diceritain jujur malah diketawaiiiin. Aaah, tadi mending ndak usah cerita to...� ucapku. Aku rogoh sakuku dan kuambil sebatang dunhill �Aku dulu dikenalkan kepada seorang lelaki oleh sahabatku sendiri. dia lelaki baik, mendekatiku layaknya seorang pengeran dengan kuda putihnya. Aku jatuh cinta, hingga akhirnya aku menikah satu tahun lalu. Tapi setelah menikah, dia berjalan dibelakangku dengan sahabat yang mengenalkannya kepadaku. Awalnya aku tidak curiga, tapi setelah dia mengambil mobil dan rumah, beserta beberapa harta yang lain dia melayangkan surat cerai. Aku sudah tidak bisa mengambilnya lagi, dan dikemudian hari aku baru tahu kalau selingkuhannya adalah sahabatku sendiri� ucapnya �Kalau kata temenku, makanya cinta pakai otak...� ucapku �Kayak lu cinta pakai otak gitu iya?� ucapnya �Dasar lu!� ucapnya sambil mendorong bahuku, hening... �Eh mbak, lha mbaknya kok tiba-tiba mengajak aku pergi? Terus itu dari tadi, kok ndak lu lu lu...� ucapku �Terserah aku dong, mau pake aku-kamu, lu-gue. Lagian, Aku kan sudah bilang kalau Aku bisa mbedain mana baik mana enggak� ucapnya �Ooooh... tak kasih tahu mbak sssstttt jangan bilang sama siapa-siapa ya mbak...� ucapku mendekatkan kepalaku kearahnya �Apa?� ucapnya �Kalau ada cewek katanya kan bisa mbedain cowok baik apa enggak, tapi kecolongan rumah sama mobil ha ha ha ha...� ucapku langsung berdiri ketika melihatnya hendak memukulku �Sialan! Sini gak! Pulang sendiri!� ucapnya berdiri dengan tangan berpinggang �Iya iya gitu saja maraaaaah... huuuu...� ucapku mendekatinya, langsung aku dijitaknya aku melihatnya tertawa lepas, seakan tidak ada beban dalam hatinya.... �Oke aku gak bakal bilang sama siapa-siapa kok, tapi jangan bilang juga ya kalau ada cowok dibohongin sama cewek bersuami ha ha ha ha� tawanya �Ndak lucu... ndak lucu itu...� ucapku dengan bibir manyun Kami kemudian bercanda layaknya orang pacaran. Dipinggir pantai dan melihat ke arah laut yang bergaris cakrawala. Warna biru laut sudah pudar, karena matahari mulai terbenam berganti warna merah oranye... �Umur kamu 18 sekarang?� ucapnya �Iya mbak... lha mbak?� ucapku �25...� ucapnya �Tua dong...� ucapku �Enak saja tua, situ tu yang masih brondong...� ucapnya �Brondong manis ya mbak?� ucapku �GE ER!� balasnya Hening sesaat, sebuah kepala berambut panjang rebah dibahuku... �Entah kenapa aku pengen ketemu kamu hari ini, jadi aku nungguin kamu tadi... kamu sebenernya gak culun-culu banget lho� ucapnya �Wooo jelas ganteng, he he he� ucapku �Sok yes kamu itu...� ucapnya �He he he he� tawaku �Kenapa dandan culun kaya gini?� ucapnya �Karena...� ucapku terputus �Apa?� ucapnya bangkit dan memiringkan tubuhnya, memandangku �Ndak mbak...� ucapku �Cerita gak?! Atau pulang sendiri?! gue paling gak suka dibuat penasaran...� ucapnya �Kejem banget mbak, jangan galak-galak mbak kaya bu enjel saja mbaknya ah...� ucapku �Ya gak bakalan galak asal kamu cerita� ucapnya �I iya mbak iya... gini, itu tu karena sahabatku... biar dianya bisa gak gampang marah gitu, ya piye yo mbak yo jelaskene, angel banget owk (bagamana ya mbak ya menjelaskannya, susah banget)...� ucapku �Ngomong apa sih, tapi kalau itu karena sahabat lu itu... kayaknya gak cuma itu deh...� ucapnya �Ya, tapi ndak bisa aku ceritakan... maaf...� ucapku, lha pas aku noleh, mataku sama mata mbaknya bertatapan �He�em... gak papa...� dia tersenyum manis �Oia mbak aku kenalkan sama Arta, mau? Ganteng lho mbak, pinter juga... dari dulu sampai sekarang saja aku ndak pernah tahu kenapa aku bisa ikut kuliah, padahal kalau dilihat dari peringkat sekolah, aku itu nomor paling belakang mbak, aku sama Samo tepatnya...� ucapku �Hei...� ucapnya pelan sambil memegang kaleng minuman yang ditempelkan di pelipis kanannya, sambil memandangku. Aku menoleh ke arahnya... �Kenapa malah ngomongin orang yang gak aku ngerti?� ucapnya, aku malah jadi sedikit bingung sama diriku sendiri kenapa juga dari tadi menceritakan Arta �Ha ha ha iya juga ya mbak ha ha ha... eh... bener mbak bener, lho kan mau aku kenalkan, mbaknya gimana to?� ucapku kebingungan �Mulai o�on lagi deh lu, tadi sudah bagus ceritanya, sekarang o�on lagi...� ucapnya �Eh, Justi mbak bukan o�on...� ucapku �Dah gak usah dibahas, lha waktu pacaran sama si perempuan itu, pacaran saja??� ucapnya mengehentikan tawaku �Maksudnya...� ucapku �Iya pacaran dalam arti sebenarnya apa pacaran dalam arti seperti orang nikah?� ucapnya, aku menunduk �Oooo ngerti aku maksud mbaknya, ya kaya suami-istri mbak. Setiap hari, apa ya? eh, setiap hari aku dateng kerumahnya mbak, ya kuda-kudaan juga mbak...� ucapku pelan kuangkat kepalaku dan meneguk kembali minuman kaleng ini �Hebat kamu ya, bisa juga ada cewek kemakan o�on kamu...� ucapnya �O�on lagi, Justi mbak Justi...� jawabku, dia hanya tersenyum saja �Ha ha... oia kamu tadi bilang tambah cinta sama perempuan itu kan, beneran itu cinta?� ucapnya mulai membahas kembali masa laluku �Wah lha iya to mbak, yakin cinta kalau aku...� ucapku, kusulut kembali dunhill-ku �Beneran yakin itu cinta? Cinta apa nafsu?� ucapnya �Ndak mudeng aku mbak, yakin... kalau kata sahabtku Samo itu, malah dia bilang sama saja...� ucapku �Iya sama, karena sebagian cinta juga nafsu. Kalau cinta tidak akan berbohong...� ucapnya sambil memandang ke lepas pantai, dengan sudut kaleng berada di bibirnya �Argh... bingung aku mbak... otakku dah ndak bisa muter lagi mbak... jangan dibahas lagi mbak itu masa lalu� ucapku �Aku cuma pengen kamu inget, jadi biar kamu gak kejebak kesitu lagi suatu saat nanti...� ucapnya �Ooo gitu to, ya mbaknya juga hati-hati... mbak terlalu baik untuk dipermainkan...� ucapku �Ha ha ha ha darimana kamu tahu gue baik...� ucapnya �Karena mbak memberiku tumpangan waktu pulang kemarin...� ucapku �Semua orang juga bisa melakukannya kali, lagian aku juga merasa berhutang budi sama, so what gitu loh kalau aku bantu kamu pulang...� ucapnya �Karena ketika tidak menemukan orang baik, maka jadilah salah satunya...� ucapku, ingat akan kata-kata Arta Tiba-tiba dia mendorong bahuku, dan tersenyum... �Oia mbak, kita pulang yuk mbak dah sore, nanti mbak dicari sama bapak ibu mbak lho...� ucapku, dia memandangku dengan senyuman �Oke, yuk...� ucapnya Aku kemudian diantarnya pulang ke kontrakan sore itu, dan saat aku diantar aku melihat Samo bersama seorang perempuan. ketika itu aku berada di dalam mobil dan Samo berada di kemudi mobil sampingku. Kami saling berpandangan, dan tepuk jidat. Aku terlebih dulu sampai di mulut gang, dan berpisah dengan mbak linda. Aku menunggu dan beberapa saat kemudian Samo datang. �Punya suami?� ucapku �Ndak, jomblo barusan... yuk pulang� ucapnya �Beneran?� ucapku �Iya, sumpah...� jawabnya �Kalau yang tadi?� lanjut Samo bertanya �Baru kenal dua hari, habis dicerai suaminya� ucapku �Sama aku juga baru beberapa hari...� ucapnya �Aku takut sam... jika kejadian itu terulang lagi...� ucapku berdiri dan berjalan di samping Samo �Sama aku juga...� ucapnya Lha jelas waktu itu aku takut sama Arta, apalagi kalau akunya digebuki lagi sama dia. Untungnya si mbak lisa itu bukan istri orang, tapi ya kalau sekarang ngomong sama Arta. Wah, jangan dulu sajalah nanti saja kalau sudah ngepas sama waktunya. Aku dan Samo pulang ke kontrakan dan Arta sedang tiduran di kamarnya, saling guyonan sejenak. Jujur saja malas bercanda terlalu lama, padahal itu adalah hal yang paling indah dalam kebersamaan kami. tapi aku dan Samo sedang mengalami sesuatu yang aneh di perasaaan kami. oOo Itulah awal mula aku mulai sibuk dengan yang diluar. Ya mungkin karena kedekatanku dengan mbak linda dari saat pertama ketemu sampai sekarang yang membuatku malas membantu pak RT dan Arta. Bahkan Samo juga sama, dia juga malas. Hari ini mbak linda mengirimkan sms ke aku untuk menemaninya jalan-jalan. Setelah didalam mobil mbak linda, aku selalu mengubah dandanan culunku menjadi seperti biasanya aku. Entah kenapa selama satu semester ini aku merasakan hal yang lain ketika bersama mbak linda. Walau kita ketemu juga jarang hanya diawal saja aku sering ketemu tapi beberapa bulan ini kita ketemu paling 1 bulan sekali. Maklum, aku apanya jadi ndak mungkin kan aku melarang. Mobil berjalan entah menuju kemana...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN