Bab.5 Aku Tidak Mencintaimu Jeana

1195 Kata
  “Cup!”   Sebuah kecupan manis mendarat di pipi Jeana, dia mencoba meraba-raba siapa yang sudah memberikannya sarapan di pipinya pagi hari ini. Matanya dibuka perlahan dan melihat lelaki dengan rahang yang tegak tersenyum di depannya.   “Istri kecilku!” seru Leo. Kening Jeana berkerut.   “Mengapa lelaki ini tiba-tiba menghampirinya?” batin Jeana.   “Ada apa?” tanya Jeana tanpa basa-basi. Wajah Jeana sama sekali tidak bersahabat memandangi Leo. Leo segera mendekati Jeana dan ingin menciumnya.   “Jangan macam-macam!” Sontak Jeana duduk dengan aksi tiba-tiba Leo. Mata Jeana mengamati celana yang digunakan Leo.   “Aku hanya ingin mencium aromamu!” cetus Leo sambil memalingkan wajahnya.   “Sudah bangun nona Jeana?” ucap tuan Andra. Tuan Andra menyungingkan senyum menatap Jeana yang sedang mengumpulkan nyawanya di sofa. Jeana melirik tuan Andra yang sedang duduk manis di teras rumah, dia membalas senyuman ayah mertuanya itu.   “Tuan Andra!” sahut Jeana sambil tersenyum.   Mata Jeana lalu berpindah melihat Leo yang mengandeng tangannya segera dan memeluknya dari belakang secara tiba-tiba. Lelaki itu mendekatkan tubuhnya sehingga d**a mereka bertemu dan membuat Jeana sesak.   “Pantas saja dia bersikap manis!” batin Jeana segera. Jeana berdiri dan merapikan rambutnya. Sudah semalaman dia terlelap tidur di sofa ini, dia menghembuskan nafas panjang dan menjauh dari lelaki itu segera.   “Antarkan Jeana ke kampus, Leo!” suara tuan Andra membuat mata Jeana melirik ke arah dapur. Lelaki paruh baya itu dengan tongkat jalannya sedang mengambil air mineral.   “Kenapa kalian seperti anak yang bermusuhan akhir ini?” serunya lagi. Leo dan Jeana saling berpandangan.   “Bukankah kemarin kalian mesra!” ucapnya.   “Bagaimana aku bisa dapat cucu jika seperti ini?” sambungnya sambil meneguk air mineral diiringi sebutir obat.   “Masih mesra papa, ia kan sayang?” Leo kemudian mengecup bibir Jeana dan memeluk perempuan itu lebih erat. Tengorokan Jeana serasa tercekik, dia sesak dan jantungnya bergetar hebat. Pipinya memerah jika berdekatan dengan lelaki itu.   “Apakah itu ciuman pertamamu?” bisik Leo dengan senyuman nakal saat melihat pipi Jeana semerah tomat. Jeana menatap tajam ke arah Leo. Jeana seakan ingin menghajar lelaki yang melakukan itu tanpa seizinya.   “Antarkan istrimu ke kampus!” ucap tuan Andra lagi, dia berjalan sambil menahan tawanya melihat Leo yang memeluk erat Jeana. Dia merasa bahagia melihat Leo dan Jeana sudah mesrah kembali di depannya.   “Tidak papa, hari ini aku lagi sibuk, ia kan sayang!” seru Leo kemudian. Dia mundur beberapa langkah dan melepaskan pelukannya.   “Sibuk apa?” Andra mengerutkan kening menatap anak semata wayangnya itu.   “Papa tidak mau tahu, kamu harus mengantarkan istrimu!” tegas tuan Andra lagi. Leo menghela nafas panjang sambil menatap Jeana dengan pandangan sinis. Jeana tersenyum dan tertawa melihat ekspresi Leo.   “Sudah berapa bulan kalian menikah dan bahkan tidak seromantis ini!” sahut tuan Andra lagi dan masuk ke kamarnya segera.   “Kamu mau, sakit jantung papa kambung lagi?” sahut tuan Andra. Dia lalu menutup pintu kamarnya dengan keras.   “Jeana, kamu bisa bersama Rebeca untuk ke kampus, pergilah bersamanya!” bisik Leo kemudian.   “Jangan merepotkan aku lagi!” sahut Leo lagi. Jeana hanya tersenyum kecut melihat wajah cemberut suaminya. “Bukankah tuan Andra menyuruhmu, aku tidak bisa menolaknya, suamiku!” tidak mau kalah, Jeana menaikan intonasi nadanya mengucapkan hal itu.   “Jangan pernah panggil aku dengan panggilan suami!” bisik Leo pelan. Jeana melangkah kakinya sambil bernyanyi kecil dan mengejek Leo. Dia segera berlari masuk ke dalam kamar untuk bersiap ke kampus.   “Kamu bisa kan jalan sendiri!” sambungnya Leo lagi. Jeana tidak menghiraukan suara Leo. Dia memasang earphone dan asik mendengarkan musik kesayanganya.   “Jeana!” teriak Leo.   “Tuan, sangat susah untuk berdebat dengan nona Jeana!” suara bibi Oliv segera dan membuat Leo melirik sekilas perempuan paruh baya itu.   “Dia akan keluar secepatnya!” sambung perempuan paruh baya itu lagi lalu menuju dapur. Dengan pakaian yang sudah rapi. Jeana keluar dari dalam kamar dan mendapati Leo menatapnya dengan mata tajam dan seakan menusuk jantung hatinya.   “Mengapa menatapku seperti itu tuan?” merasa di intimidasi, Jeana lalu berjalan dan menuju mobil. Dia tidak menghiraukan Leo yang menatapnya dan mengikutinya dari belakang.   “Kamu seharusnya tidak merepotkanku Jeana!” sambung Leo. Dia menyetir dengan sangat pelan dan memandang Jeana sekilas.   “Aku punya urusan lain, aku tidak punya waktu mengurusimu!” sambungnya lagi. Jeana tidak menghiraukan suara lelaki di sampingnya. Dia sibuk menatap ke luar jendela.   “Aku tidak mencintaimu!” tegas Leo lagi. Dia sudah ke lima kali mengucapkan kalimat itu. Berharap bahwa perempuan di sampingnya memahami dan mengerti bahkan lebih baik segera pergi dari hidupnya.   Tanpa sadar, bulir air mata mengalir dari mata sayup Jeana. Dia menutup matanya dengan kedua tangan dan terisak. Membuat Leo terheran dan seketika kebingungan. Suara Jeana semakin tinggi dan membuat Leo panik. Dia tidak pernah melihat perempuan menangis di depannya. Perasaan iba tiba-tiba menyerang dirinya.   “Aku sudah katakan, jika tidak tahan, kamu boleh pergi!” sambung Leo. Dia masih saja tidak menatap wajah perempuan itu. Ada sesak di hatinya saat melihat perempuan menangis di depannya, itu yang sangat dia benci.   “Sudah berapa kali aku katakan bahwa aku hanya suka dengan Sela!” Leo terus-terusan berbicara, Jeana hanya menahan isak tangisnya.   “Aku tidak punya apa pun sekarang, jangan marahi aku!” ucap Jeana lirih. Leo sekilas melirik wajah gadis itu dan langsung menatap ke depan kembali.   “Kamu bisa memarahiku, tapi jangan pernah membentakku!” sambung Jeana. Dia menyeka air matanya secepat mungkin.   Sesampai di kampus, Jeana turun dan tidak berbicara satu kata pun. Dari ujung sana, seorang lelaki sudah menunggu Jeana dengan senyuman ramah. Lelaki itu langsung menarik tangan Jeana dan mengajaknya masuk kelas. Leo melihat hal itu sekilas, dia mengerutkan kening dan segera menyetir mobilnya kembali.   ***   Bibi Oliv baru saja sampai di rumah tuan Leo dan memulai aktifitasnya lagi. Dia sudah cuti 5 hari sehingga semua kerjaan di selesaikan Jeana. Gadis kecil yang tiba-tiba saja berstatus sebagai istri tuan muda Leo.   “Tuan, nona Jeana akan di masakan makanan apa?” serunya saat menatap Leo yang baru sampai di rumah. Dengan pandangan yang tajam dan menusuk, lelaki itu berlalu di hadapan bibi Oliv.   “Jangan bertanya hal bodoh, perempuan itu makan seperti biasa!” serunya sambil masuk ke kamar dan mengambil jas hitam yang bertengker indah di kursi. Tubuhnya yang kekar dan wajah yang tampan, membuat semua wanita jatuh hati hanya sekali pandang kepadanya.   “Baik, tuan!” memahami tatapan tajam dari Leo, bibi Oliv lalu menuju ke dapur. Dia paham bahwa tuan muda Leo sangat tidak suka dengan istri kecilnya saat ini.   “Tolong carikan informasi mengenai lelaki yang bersama Jeana pagi ini!” ada Mr. Robert, salah satu asisten yang sangat di percaya oleh Leo berdiri di pintu.   “Cari semua mengenai dia dan apa yang mereka lakukan di kampus!” sambung Leo. Matanya menatap tajam layar ponsel yang berisi video Jeana.   “Tapi tuan…”   “Aku tidak mau tahu, kamu cari nama lelaki itu segera!” pandangan tajam menusuk menatap Mr. Robert yang berdiri kaku di belakangnya. Tidak ada yang bisa lari dari titah seorang Leo Vernado, dia tidak akan segan-segan memusnahkan siapa pun yang menantangnya, kecuali tuan Andra Brawijaya.   Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN