Bab.7 Menuju Ke Pesta

1119 Kata
  Jeana menghembuskan nafas panjang dan menatap lelaki yang duduk di atas mobil dengannya. Leo dengan ekspresi dingin sedang menatap tajam ke depan tanpa menghiraukan Jeana yang duduk di sampingnya. Dia sesekali memegang ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Jeana lagi-lagi malas untuk berdebat denganya, apalagi mengucapkan satu kata pun. Suasana di dalam mobil sangat kaku. Mr. Robert dengan kacamata hitamnya sesekali melirik dari kaca spion memandangi Jeana yang tampak gusar dan gelisah.   “Tidak nyaman?” Leo menatap Jeana tiba-tiba. Jeana mengangguk, mencoba memberikan isyarat bahwa dia tidak bisa pergi ke pesta ini bersamanya.   “Mohon!” serunya, mimik wajahnya menahan gelisa.   “Tidak apa-apa, wartawan tidak akan meliputmu!” sambung Leo, dia kemudian menekan beberapa tombol dan mengirimkan pesan ke seseorang lagi.   “Di sana akan banyak model, jadi aku menyuruhmu mempercantik diri!” ujar Leo lagi tanpa memandang Jeana ke samping.   Jeana menghembuskan nafas, mencoba menenangkan diri. Jeana sama sekali tidak menyukai kerumunan, apalagi sebuah pesta yang dihadari wartawan. Jeana kadang lupa bahwa saat ini dia sudah berstatus seorang istri dari pengusaha nomor satu yang di kejar wartawan nasional. Apalagi Leo mempunyai kisah asmara yang misterius.   “Tapi tuan..” sahut Jeana lagi, dia menatap wajah Leo dengan pandangan memohon, berharap lelaki itu mengerti.   “Tenang saja, aku tidak akan membicarakanmu nanti!” potong Leo santai. Mr Robert melirik sekilas wajah Jeana dari kaca spion.   “Sudah sampai tuan!” sahut Robert. Robert menurunkan kacamata hitamnya dan bergegas membuka pintu. Mobil Leo terparkir rapi di antara mobil-mobil para pengusaha dan model internasional yang juga menghadari pesta itu.   Dengan sangat ragu-ragu, Jeana memandang sekeliling area parkir. Jeana menghembuskan nafas dan turun dengan sangat pelan. Leo sudah sangat jauh berjalan meninggalkanya, Leo masuk tanpa menunggu Jeana sama sekali.   Jeana mengangkat sedikit gaunnya karena kepanjangan, dia berjalan sangat pelan karena sepatu heels 5 cm yang menganggu kaki mungilnya. Dia memegang pelipisnya, ada butiran bening yang menetes membasahi keningnya. Tangan Jeana dingin dan berkeringat.   Jeana memasuki lobi hotel, dia sama sekali tidak menemukan Leo. Lelaki itu sudah lebih dahulu meninggalkanya dan bergabung dengan kelompok bisnis di meja vvip.   “Nona, untuk saat ini jangan berdekatan dengan tuan Leo dulu!” Suara Mr. Robert menahan Jeana. Robert segera datang saat Jeana ingin mendekati Leo. Jeana menghentikan langkahnya dan cemberut. Jeana memandangi Robert dan mencoba mencerna kata-kata lelaki itu.   “Apakah karena dia malu?” batin Jeana kesal. Jeana lalu menuju salah satu meja dan duduk, beberapa pelayan menyuguhkan secangkir anggur di hadapannya. Dia lagi-lagi mencoba menghindari kerumunan di pesta ini. Jeana lebih memilih duduk di pojokan dan menuangkan satu botol anggur di gelasnya.   “Benar-benar suami durhaka!” ujar Jeana memaki. Dari kejauhan, dia melihat Leo sedang bergandengan dengan Sela dan beberapa Ceo yang sedang asik bercerita dengannya. Tentu saja pesta ini dihadiri banyak wartawan karena banyak model dan artis internasional yang hadir di sini.   Dari kejauhan, Jeana sesekali memandangi Sela yang melingkarkan tangannya di pinggang Leo. Lelaki itu sama sekali tidak terganggu. Leo malahan semakin mendekatkan tubuhnya kepada Sela. Jeana sama sekali tidak mengerti maksud mereka memamerkan kemesrahan di publik.   “Nona!”   “Hallo, Nona!” Suara itu mengagetkan Jeana. Jeana dengan ekspresi kesal memandang ke depan dan mendapati dua lelaki berjas hitam berdiri di depannya sambil tersenyum dan membawah kamera.   “Anda datang dengan undangan siapa?” seru lelaki itu. Jeana menatap manik mata lelaki itu dengan sinis. Jeana sama sekali terganggu dengan basa-basi seperti ini. Sebuah id card mengantung di leher lelaki berjas hitam itu.   “Wartawan?” sahut Jeana langsung. Lelaki itu menganguk sejenak.   “Jadi nona, anda datang dengan siapa?” ulangnya. Salah satu alis lelaki itu terangkat. Dia menunggu jawaban Jeana.   “Aku sendiri!” cetus Jeana cuek. Merasa mendapatkan orang yang salah, wartawan itu segera berlalu dan menuju pasangan fenomenal tahun ini. Leo dan Sela yang menjadi pusat atmosfer di pesta kebangsaan malam ini.   Tepuk tangan dan sorotan lampu memandangi Leo dan Sela yang memulai konfrensi pers dengan beberapa wartawan yang menunggunya sejak tadi. Jeana semakin kesal dan mengepalkan tangannya. Jeana tidak cemburu, tetapi lelaki itu mengajaknya ke sini malah menelantarkanya. Dari kejauhan, Jeana memandang Robert yang bagaikan patung berdiri di samping Leo. Robert memberikan isyarat kepada Jeana untuk tetap duduk di pojok.   “Menyesal aku ke sini!” cetus Jeana kesal. Dia kemudian berdiri dan mencoba beberapa anggur yang tersedia di samping mejanya. Waktu awal kuliah, Tuan Brokas-ayahnya- melarangnya untuk minum anggur. Tetapi malam ini, Jeana akan mencoba semuanya. Tidak peduli tuan Leo akan memarahinya atau tidak.   Beberapa menu makanan membuatnya tertarik. Jeana dengan sepatu heelsnya tanpa malu menarik kue itu sehingga alas meja dan botol anggur berjatuhan, membuat gaduh seisi gedung.   “Plak!!”   “Jeana?” sahut Leo, semua pasang mata melirik ke sumber suara. Botol anggur itu menjatuhi gaun Jeana sehingga meninggalkan bekas merah. Jeana yang syok, spontan terdiam sejenak dan menunduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan, dia ketakutan.   Mr. Robert kemudian berlari menghampirinya, namun seorang lelaki muda segera memeluk Jeana dan mengangkat tubuhnya keluar dari kerumunan pesta itu. Tangan Jeana dingin. Jeana masih menutup matanya dan tidak sama sekali melepaskannya.   Manik mata Leo melihat aksi heroik lelaki itu. Tapi tangan Sela menahanya untuk tidak meninggalkan ruangan ini.   “Leo, maafkan aku tuan!” ujar Jeana terbata-bata, dia sangat ketakutan. Sesampai di taman hotel. Lelaki itu melepaskan pelukannya dan mengusap lembut Jeana.   “Sayang Jeana, aku Alfin!” ucap Alfin lembut. Jeana mengangkat kepalanya pelan. Ada air mata membasahi pipinya. Alfin segera mencium kening Jeana. Memegang tanganya yang dingin dan mencoba mengusap kepalanya.   “Tidak apa-apa!” sambungnya lagi. Jeana masih terdiam.   “Kamu tidak cocok di pesta seperti itu sayang!” bisik Alfin. Alfin terus-terusan memegang tangan Jeana yang dingin. Tubuh Jeana bergetar, dia ketakutan dan malu.   “A-aku, maafkan aku Alfin!” spontan Jeana memeluk lelaki itu. Alfin mencium puncak kepala kekasihnya dengan lembut. Dia tidak akan bertanya banyak, karena ini menganggu Jeana. Jeana tidak suka suasana ramai seperti ini.   Di dalam pelukan Alfin, Jeana menangis. Alfin memeluknya erat dan membiarkan Jeana mengeluarkan kesedihannya dalam pelukannya. Dia sangat mencintai Jeana. Jeana adalah hidup Alfin. Apapun akan dilakukan Alfin untuk perempuan itu.   “Sudah sayang!” Alfin mengecup kening Jeana lagi untuk menenangkannya, tubuh Jeana masih bergetar akibat tangisan yang ditahannya dari tadi.   Alfin memandang wajah teduh Jeana, diusapnya secara lembut air mata kekasihnya. Betapa Alfin sangat mencintai perempuan yang berada di depannya, Jeana Brokas. Kekasih hati dan cinta pertamanya.   Jeana tertunduk kaku. Kemudian beberapa saat melepaskan pelukan Alfin. Jeana melangkah mundur lalu membuat jarak sejauh mungkin dengan Alfin.   “Maafkan aku Alfin!” sahutnya lalu bergegas lari menuju parkiran mobil.   Alfin terdiam, dia membiarkan Jeana berlari menjauhinya. Alfin sama sekali tidak pernah memaksa Jeana. Jika Jeana tidak suka, Alfin tidak akan melakukan hal itu, seperti saat ini.   Bersambung…
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN