Jeana mengurutkan kening sesaat dia mendapati Alfin sudah berdiri di depan kampus. Lelaki tinggi itu menatap Jeana sangat dalam. Alfin kemudian berlari dan menghampiri Jeana segera.
Mobil silver Leo berhenti di depan gapura kampus. Robert membuka kaca mata hitamnya dan memperhatikan Jeana bersama lelaki itu. Sebuah simpul senyum mengembang dari wajahnya.
“Kamu dari mana?” tanya Alfin, wajahnya pucat pasi mengamati Jeana yang kebingungan melihatnya. Alfin segera menyentuh pipi perempuan itu dan mengelusnya lembut. Angin sore mengibaskan rambut Jeana yang panjang.
“Aku mencarimu dari semalam!”
“Kata tentangga, Tuan Brokas sudah pindah!” sambung Alfin, tanganya memegang jemari Jeana dan mengecupnya lembut. Alfin memberikan atmosfer kenyamanan kepada kekasihnya itu.
Jeana mengangguk sejenak, dia belum mengucapkan satu kata pun atas pertanyaan Alfin. Lidahnya mendadak keluh. Semilir angin sejuk menyibakan rambutnya. Dedaunan yang gugur dari ranting pohon bertebaran disekitarnya. Semesta seakan mendukung pertemuannya dengan Alfin hari ini. Walaupun dia sudah berstatus seorang istri. Apakah ini adalah salah satu dosa pertama Jeana?.
“Hmm!” desah Jeana. Alfin menyergitkan dahinya memandangi wajah Jeana yang kebingungan harus berkata apa.
“Ada masalah sayang?” tanya Alfin lembut. Jeana mengeleng dan berjalan pelan masuk ke kelas.
“Aku perlu istirahat saja, kemarin aku bermimpi!”
“Maafkan aku Alfin!” seru Jeana lirih lalu mempercepat langkahnya masuk ke dalam kelas dan meninggalkan Alfin yang berdiri kaku.
Bulir air mata mengalir tiba-tiba dari wajah cantik Jeana. Seharusnya dia tidak berbohong kepada Alfin. Lelaki itu sudah banyak membantunya selama ini.
“Maafkan aku fin!” batinnya. Alfin tidak mengejar Jeana karena Alfin tahu, bahwa perempuan seperti Jeana tidak suka hal seperti itu.
Jeana masuk ke kelas dan mencoba menghembuskan nafas panjang. Rebeca lalu menghampiri Jeana sesaat perempuan manis itu menunjukan batang hidungnya di kelas.
“Kemana aja?” serunya. Jeana mengeleng, tatapanya sama sekali tidak bersemangat hari ini.
“Ada apa?” seru Rebeca lagi.
“Sini duduk!” Rebeca memberikan tempat duduk dan Jeana segera menyandarkan badan dan memijit pelipis kepalanya. Dia menghempaskan rasa lelahnya di samping Rebeca.
“Alfin kemarin malam cari kamu, dia panik!”
“Aku baru lihat laki-laki sehancur itu!” ujar Rebeca lagi.
“Memangnya ada apa?” sahutnya. Jeana mengeleng, dia sangat bingung hari ini, terutama mengenai hatinya sendiri.
Tadi pagi saat dia keluar rumah, tuan Leo sudah lebih dulu pergi ke kantor. Lelaki dingin dan kaku itu bahkan menyediakan cokelat panas dan sepucuk bunga mawar di meja makan. Jeana bingung dengan sifat lelaki itu kepadanya.
“Ada apa Jeana Brokas?” sahut Rebeca lagi. Merasa di cuekin, Rebeca lalu meletakan tanganya di kening Jeana. Jeana mengikuti arah tangan Rebeca.
“Kamu tidak lagi gila kan?” seru Rebeca. Rebeca benar-benar tidak paham kelakukan temannya itu.
“Kemarin aku dicium!” ucap Jeana lirih sambil menunduk ke bawah.
“Bagus dong!” jawab Rebeca enteng sambil memasukan kerupuk kering ke mulutnya.
“Terus apa lagi, apakah…”
“Jangan pikir aneh-aneh Rebeca!” cetus Jeana. Jeana paham bahwa temannya yang satu ini akan berpikir aneh-aneh dengan semua hal yang dia katakan.
“Tapi di bandingkan Alfin, lelaki itu tidak terlalu buruk!” seru Rebeca lagi. Jeana menghembuskan nafas panjang mendengarkannya.
“Owh yah, di Tv kemarin aku lihat Sela Askara dan seorang lelaki tampan!”
“Tapi…” Rebeca menjeda.
“Lelaki itu mirip dengan suami kamu!”
“Aku mau tanya soal itu hari ini!” jelas Rebeca panjang lebar. Matanya mengintimidasi Jeana dan menunggu jawaban perempuan itu segera.
“Iya!”
“Itu memang dia!” sahut Jeana enteng. Mata Rebeca membola mendengarkan Jeana.
“Leo dan Sela adalah sepasang kekasih!”
“Uhuk!” kerupuk kering itu tersembur dari mulut Rebeca, dia kemudian meneguk air dari botol mineral segera, wajahnya memerah sesaat.
“Maksud kamu, kekasih Leo itu Sela Askara?” tanyanya.
“Model internasional dengan kisah asmara yang misterius?” sambung Rebeca. Jeana mengangguk tanpa memandang wajah Rebeca.
“Tuhan, otak kamu di mana Jeana!” celetus Rebeca.
“Kamu istri simpananya gitu?” Jeana menghela nafasnya. Dia kemudian mengambil tumpukan buku dari tasnya.
“Tapi hanya sampai dua tahun Rebeca!” seru Jeana lirih. Rebeca mengeleng, otaknya tidak bisa menjangkau pikiran Jeana.
“Kamu yang tidak waras di sini Jeana!” celetus Rebeca langsung.
Sebelum itu, tuan Andra Brawijaya tidak ingin Leo Vernando terlibat dalam industri media. Tuan Andra lalu menyuruh beberapa direksi perusahaan untuk mencari perempuan yang tepat untuk dijadikan istri dari Leo Vernando. Tuan Andra sangat tidak menyukai Sela Askara terlebih perempuan itu bermulut kasar di Tv nasional.
Tuan Brokas yang terlilit hutang, memperkenalkan ketiga anaknya untuk menjadi pendamping hidup seorang Leo. Tuan Andra tertarik kepada Jeana karena keluguan dan sifat sabar Jeana yang menurutnya pas mendampingi Leo.
Jeana terus-terusan menatap layar ponselnya. Setiap dia mengingat pernikahan dengan Leo yang serba tertutup dan misterius. Jeana kadang berpikir bahwa yang tidak waras di sini adalah dirinya.
Prof Gali lagi-lagi memberikan tugas tambahan kepada Rebeca dan Jeana karena kedua perempuan itu sempat bolos kuliah. Rebeca tidak berhenti-hentinya mengomel saat mereka berjalan pulang dari kampus.
“Umur aku 21 tahun, tapi masih saja di suruh mengambar!” keluh Rebeca. Jeana terdiam, pikiranya hanya tentang Alfin, dia mengamati area parkir. Berharap Alfin tetap menunggunya di sini. Jeana merasah bersalah sudah membuat kekasihnya itu khawatir.
“Menunggu Alfin?”
“Alfin lagi sibuk karena perusahaan ayahnya baru berdiri!” sahut Rebeca memahami maksud tatapan Jeana.
“Dia dinobatkan sebagai direksi, membantu ayahnya!” sambung Rebeca lagi.
Angin segar menyibakan rambut panjang mereka. Dedaunan yang khas di musim gugur bertebaran di area kampus. Ada daun-daun kering berwarna jingga dan ranting pohon yang berserakan. Musim gugur tinggal sebentar lagi akan berganti.
“Kenapa Jeana?” tanya Rebeca. Matanya menatap wajah teduh Jeana. Jeana mengeleng segera.
“Tidak!” serunya.
“Owh jadi karena itu dia datang ke pesta kemarin?” batin Jeana.
Jeana melangkah dengan lemas. Dia tidak memiliki semangat hari ini. Robert dengan setelan jas hitam dan kacamata hitam segera bergegas menjemputnya.
“Nona, maaf saya menjemput anda sekarang!” sahutnya sambil memberikan salam kepada Jeana dan Rebeca.
“Hola om Robert!” celetus Rebeca sok asik. Robert membuka kacamatanya dan menatap tajam gadis itu.
“Siapa anda?”
“Aku?” Rebeca menunjuk diri.
“Aku sahabat Jeana om!” celetus Rebeca dengan girang. Robert mengangguk lalu bergegas ke mobil. Dengan senyuman khas, Jeana berpamitan kepada Rebeca dan mengayunkan tanganya sebagai tanda perpisahan.
“Hati-hati kamu diculik dengan mereka!” setelah mengatakan itu, Rebeca tertawa diiringi oleh pandangan sinis dari Robert yang segera membuka kaca mata hitamnya.
“Aku tidak akan menculi Nona Jeana!” jawabnya sarkas. Rebeca mengangguk dan mencoba tersenyum ramah dengan Robert.
“Aku hanya bercanda om!” sahutnya.
Bersambung…
Hai guys, jangan lupa tinggalkan review menarik kalian dan jangan lupa juga untuk masukan ke rak buku :") Silahkan berkunjung di ig saya Nurjannah Mangguali untuk melihat visualisasi dari Leo dan Jeana. Miciw ^^