Sita masih menangis. Dafa dengan sabar meminjamkan bahunya seperti biasa. Dafa tidak mau mengatakan sesuatu yang akan menyakiti Sita. Dia hanya terdiam. "Kenapa Daf? Tak puaskah dia sudah menyakitiku selama ini? Hampir 10 tahun aku terluka. Saat dia kembali ke Indo pun, dia malah membuatku semakin terluka dengan keputusannya." "Aku mencoba menerima keputusannya. Bahwa tidak ada lagi 'kita' di antara kita berdua. Sakit Daf." Dafa mengeratkan pelukannya. Bingung harus bagaimana. "Kenapa sekarang dia mengatakan seolah-olah tidak terjadi sesuatu di antara kita. Rindu katanya, bullshit." Cecar Sita. "Kalau dia masih memiliki perasaan yang sama denganku, kenapa pa dia datang ke sini, dia menegaskan bahwa tidak ada apa-apa di antara kita. Rasa kecewanya begitu besar padaku. Lalu, bagaimana

