Chapter 31: Rank Quest (6)

2701 Kata
Jantung Ace berdetak sangat cepat ketika pasukan elf itu mulai mengepung. Walau dipikir seperti apa pun, monster-monster ini setara dengan lizardman. Hanya saja, mereka memiliki pembagian pasukan yang cukup bagus. Elf tipe assasins yang menggunakan dagger mengerumun di sekitar Ace, sementara di lapisan kedua ada para pemanah, dan elf magis ada di belakang pemanah. Kemungkinan besar mereka bisa menggunakan sihir penyembuhan seperti Allura, jadi Ace tidak boleh menyia-nyiakan serangan apa pun. Dia harus menghabisi para magis sebelum menyerang pemanah dan assasins. “Jika dipikir-pikir, ini sama saja bertarung dengan Hilla dan Allura.” Ace berlarian, menghindari serangan-serangan panah sekaligus para assasins. Ketika berhasil mendapat celah, Ace menutup jarak dalam sekejap mata lalu melompat di depan elf penyerang sambil menciptakan pedang panjang. Hanya saja, ayunannya terlalu lemah untuk membunuh para elf. Bar HP mereka berkurang drastis hingga setengah, tapi ini tidaklah buruk karena dia bukan ahli pedang. Elf-elf yang terkena ayunan pedangnya meraung dan meronta-ronta kesakitan. Kecepatan berlari Ace meningkat. Dengan cekatan, dia menjadikan salah satu tubuh elf menjadi pijakan, lalu melompat. Ketika tubuh Ace melayang di udara, dia mengumpulkan kekuatan sihir di kedua lengan, lalu mengarahkannya ke bawah. “[Frost Barrage!]” Hujan kristal tajam muncul dari dua lingkaran sihir berwarna biru muda saling bertumpuk menyapu pemanah yang berusaha melindungi elf magis. Ace tak berhenti di situ. Setelah menciptakan pijakan untuk kembali melompat, Dia menyerang lapisan elf magis yang berusaha menyerangnya ketika di udara. Dengan tangan kanannya yang bebas, Ace menciptakan tombak-tombak yang melesat maju, menyapu tujuh elf magis sekaligus. Dalam sekejap, elf-elf pemanah menarik busur ke arah Ace, sementara [Kor] bersembunyi di balik pasukan. Tepatnya, monster itu duduk di samping singgasana seolah-olah menjaga mahkota dan catur. Itu artinya, jika Ace menggunakan pijakan untuk melayang di udara menuju mahkota, dia akan langsung berhadapan dengan [Kor]. Memang benar waktu yang dibutuhkan akan jauh lebih singkat jika dia bisa mengalahkannya. Namun, bertarung dengan boss level tinggi selagi anak buahnya masih ada bisa menjadi pengganggu. Dia tidak bisa menyerang secara area dan single target secara bersamaan, juga kesulitan menjaga punggungnya agar tetap aman. Elf assassins mungkin tidak akan terlalu mengganggu, tapi pemanah dan magis yang bisa menyerang dari jarak jauh sangatlah merepotkan. Sementara elf lain yang menggunakan tongkat mengamuk dan mengarahkan sihir es berbentuk tombak raksasa. Namun, Ace dengan ringan berguling ke samping dan menghindari serangan itu. Meski jantungnya berdetak kencang, Ace langsung bersiap-siap untuk serangan selanjutnya. “Bertarung seminimal mungkin dan diam-diam menuju singgasana.” Ace membisikkan strategi dalam dirinya sendiri sambil membentuk dinding es mengelilinginya ketika elf pemanah menghujaninya dengan panah sementara elf yang memakai dagger menyerang dari dekat. “Taktik yang licik, huh?” Namun, keadaan itu tidak berlangsung lama. Segera setelah hujan panah berakhir, Ace keluar dari balik dinding. Dia menciptakan tangga-tangga untuk bertarung dari atas, persis yang Ace lakukan ketika berhadapan dengan sekerumunan beruang. “Kau pikir trik itu akan berhasil dua kali?” [Kor] memamerkan senyum licik, lalu mengangkat tangannya ke atas. Dengan segera, elf-elf pemanah menembak. Ace terkesiap ketika pijakan tangganya dihancurkan dalam sekejap. Selagi tubuh Ace melayang di udara, pasukan magis elf merapalkan mantra untuk menciptakan es-es tajam tepat di bawah Ace. Mata Ace melebar, lalu dia menggertakkan giginya. “Sial.” Tak ingin tubuhnya tertembus tusukan es tajam, Ace segara membentuk pijakan tangga lagi. Kali ini, dia membuatnya berlapis-lapis agar tidak mudah dihancurkan. Namun, karena serangan barusan membutuhkan banyak MP, dia tidak bisa menyia-nyiakan serangan apa pun mulai sekarang. Bahkan di tengah pertempuran gila, Ace masih sempat melirik sekilas ke penunjuk waktu. [Remaining Time: 6 minute 32 seconds] Tinggal enam menit lagi. Jika terus seperit ini, Ace tidak akan bisa mengambil mahkota. Haruskah dia membunuh mereka semua? Tapi, dilihat dari jumlah, Ace tidak akan sanggup mengalahkan mereka dalam waktu sesingkat ini. Apalagi [Kor] sepertinya tidak berniat memberi Ace celah untuk mendekat ke mahkota. Ace berdecak. Perhitungan awal untuk tidak menghabisi monster-monster ini telah melenceng total. Ketika Ace mendarat di lantai, salah satu monster elf telah menunggu dan menghunuskan pedang. Mungkin monster ini juga tidak berencana membiarkan Ace hidup. Sebelum pedang elf itu menembus pertahanan, Ace menyerang lebih dulu. Dia menghindari ayunan penuh hawa membunuh elf itu dan menciptakan pedang es panjang, lalu menikamnya dari belakang. Tubuh elf tersebut pecah menjadi polygon, tapi di saat yang bersamaan, elf lain mengayunkan pedang dalam lengkungan besar. Ace segera menunduk lebih rendah untuk menghindar. Bilah dagger elf itu terayun melewati kepala Ace sedikit. Andai dia tidak membungkuk lebih rendah, dagger itu pasti telah menyayat tengkuknya. Pandangan Ace tertuju pada bagian tengah tubuh elf itu. Dia melakukan gerakan yang sama saat menjatuhkan [King Yedee]. Ketika para pemanah kembali menyerang, dia menjadikan tubuh elf di hadapannya sebagai perisai, lalu mempersiapkan skill. “[Frost Barrage]!” Tentunya Ace tidak bisa mempertahankan skill itu dalam waktu yang lama. Dia tidak bisa kehabisan MP di tahap awal. Terlebih pertarungan ini jauh lebih sulit dibandingkan pertarungan dengan [King Yedee]. Jumlah musuh dan kekuatan mereka benar-benar membuat Ace repot. Beberapa elf tipe penyerang gugur terkena kepingan es tajam. Tanpa memedulikan tubuh elf yang berubah menjadi polygon tak terbatas, Ace kembali menerjang dan mengumpulkan kekuatan di lengan. Dengan segera, dia membentuk lingkaran es berujung tajam dan mengarahkannya ke bagian pemanah. Tentu serangan itu tidak akan cukup untuk membunuh sekaligus, tapi menyingkirkan para pemanah adalah langkah pertama yang dia pikirkan. “Menyingkirkan pemanah, huh?” Ace terkesiap ketika [Kor] menyadari strateginya. Jika memang benar [Kor] adalah monster yang memiliki akal seperti naga, [Kor] akan menjadi musuh yang lebih sulit dibanding dugaan Ace. Sebisa mungkin dia tidak ingin bertarung dalam kondisi kelelahan dan dikerumuni pasukan seperti ini karena Ace sadar dirinya pasti kalah telak. Tanpa memedulikan [Kor], Ace mundur beberapa langkah untuk memperbaiki postur tubuh. Dia menggulung lengan jubah putih hingga siku sambil menjaga pandangannya tetap awas. Sekarang pasukan elf telah dilumpuhkan di beberapa sisi. Para pemanah di sisi kanan telah dihabisi, sementara penyihir masih terus bersembunyi di balik pemanah. Mereka kuat. Itu adalah 01penilaian yang jujur darinya. “Aku harus menghabisi pemanah dan penyihir. Merekalah yang paling merepotkan karena bisa bertarung dari jarak jauh. Meskipun aku berhasil mencapai mahkota, mereka bisa membunuhku dalam sekejap.” Ace menjaga pemikiran itu dalam benak. Jujur saja, Ace sudah tidak lagi gugup dan gemetar menghadapi musuh-musuh ini. Dia berterimakasih pada beruang es dan [King Yedee] yang telah membantunya belajar menggunakan sihir. Terlebih, mereka ini tidak sebanding dengan naga yang telah dibunuhnya. Benar. Dia adalah player yang membunuh naga. Entah itu hanya kebetulan atau keberuntungan, Ace tidak lagi peduli. Senyum tipis perlahan terbentuk di bibir Ace seolah sedang mengingat kenangan yang menyenangkan. “Dibandingkan ‘dia’, kalian bukan apa-apa.” “Dia?” [Kor] mengernyit. Tak berniat menjawab, Ace kembali menyerang elf-elf bodoh di hadapannya. Dengan mudah, Ace menghindari serangan elf yang ditujukan ke bahu, lalu lengan Ace mulai dilapisi es keras dan tajam. Dia bertarung layaknya petinju professional yang terus menerobos bagian kepala musuh, menghabisi mereka dalam sekali pukulan. Dua elf lain bergegas menyerang. Tampaknya mereka merasa mulai terdesak dengan pertarungan yang sedang berlangsung. Tapi, bukan hanya mereka sada yang mulai kewalahan, Ace yang telah bertarung dari tahap satu juga mulai kelelahan. Bahkan rasanya, dia akan tertidur jika memejamkan mata sebentar saja. Ace menciptakan palu es raksasa yang langsung menghantam para elf dari atas. Palu rasaksa itu pecah berikut dengan monster-monster menjadi pecahan cahaya. Tak ingin berlama-lama, Ace kembali bergerak. Ada banyak elf penyeran yang maju. Namun, karena tingkat kelelahannya sudah tinggi, gerakan Ace jadi melambat. Satu demi satu, para elf yang mendekat dihancurkan dengan ayunan pedang. “[Infinite Strike]!” Dua pedang es muncul dari tangannya. Ace segera menahan serangan elf dengan lengan kanan, sementara tangan kirinya mengayun secara diagonal. Mungkin ini adalah skill yang hebat, tapi jika digunakan untuk melawan monster berjumlah banyak, tentu tidak akan efektif. Ace sadar akan hal itu, tapi dibanding menggunakan [Frost Barrage] dari jauh, akan lebih cepat kalau dia mendekat dan menghabisi musuh satu per satu. Tanpa memperhatikan jumlah serangan yang datang, Ace terus mengayunkan pedang dengan membabi buta. Mata Ace dan seluruh tubuhnya mendingin ketika aura es yang sangat dingin memancar dari tubuh. Karena tingkat pertahanannya lemah ketika menggunakan skill ini, Ace menghabiskan beberapa poin mana untuk membekukan bagian tubuh. [Remaining Time: 5 minute 2 seconds] Sementara itu, warna penunjuk waktu telah berubah menjadi merah, mendandakan bahwa lima menit lagi, quest ini akan berakhir. Meski tidak berhasil mendapatkan mahkota, quest akan selesai dan Ace akan mati. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Ace mengatakan itu sambil terus menghabisi musuh di depan. Ketika salah satu pedangnya patah, Ace menciptakannya lagi dan lagi. “Dengan senang hati, aku akan menghadapi kalian sampai detik terakhir.” Hampir tiga puluh elf telah musnah karena serangan beruntun itu. Kini, tubuhnya dipenuhi luka merah transparan yang memancarakan cahaya. Kepalan tangannya yang lemah tidak cukup untuk menghentikan serangan dari para elf yang tidak ada hentinya. Ace terjepit dengan kuat oleh empat elf yang tiba-tiba menghantam tubuhnya secara bersamaan. Elf lain menerkamnya seolah-olah mereka tidak ingin melewatkan kesempatan untuk segera membunuh Ace. Dalam sekejap mata, tubuh Ace telah terkubur di antara elf yang terus menikamnya. Napas Ace semakin tercekat. Kalau tidak bisa melepaskan diri dari posisi ini, dia tidak akan bisa menyerang lagi. Dia berada dalam situasi yang benar-benar tidak menguntungkan, tapi Ace tidak ingin menyerah. [HP: 1742/2867] [MP: 320/ 460] Sementara di belakang sana, para elf magis mempersiapkan sihir dan para pemanah kembali menghujaninya. Ace melirik penunjuk waktu, tapi di saat yang bersamaan, para elf magis itu bukan mempersiapkan sihir penyerang, tapi pelumpuh. Ace berusaha bangkit secepat mungkin, mengabaikan elf-elf yang memburunya dengan lapar. Namun, [Kor] yang tiba-tiba berdiri di hadapannya membuat Ace terkejut. Ace berteriak ketika sengatan sihir yang kuat itu mengaliri di tubuh. Cahaya-cahaya ungu seperti petir kecil melilit tubuhnya erat. Ace terjatuh dalam posisi bersimpuh. Ketika mendongak, dia melihat tatapan dingin dengan hawa membunuh yang kuat dari [Kor]. “Kau terlalu meremehkanku.” Monster itu menarik pedang dari pinggang, lalu menghunusnya ke bahu Ace. “Jangan harap kau bisa bebas dari sini tanpa merasakan kematian.” [Remaining Time: 4 minute 12 seconds] Gigi Ace bergemeletuk. Sisa empat menit lagi. Semakin lama, ikatan sihir itu semakin kuat. Ace mencoba menggerakkan jari-jari untuk mengeluarkan sihir, tapi semuanya gagal. Seolah-olah ada barrier yang membungkus dirinya saat ini. Di samping itu, HP-nya terus berkurang. Para elf yang mengerumuni mulai menyerang, termasuk para pemanah dan magis yang tersisa. [HP: 1346/2867] [MP: 320/ 460] Di saat yang bersamaan, sosok berjubah hitam itu muncul di balik [Kor], seolah-olah dia memperhatikan Ace sejak tadi. Aura yang kuat ini … bukan dari [Kor], melainkan sosok itu. Begitu banyak pertanyaan yang tiba-tiba menyerang benak Ace. “Kau!” Ace berseru sekuat mungkin di udara, berharap sosok itu berbalik. Namun, yang dijumpai Ace hanyalah sosok kegelapan kosong yang bergerak dari dalam jubah. Ketika Ace melihat ke dalamnya, dia tidak menemukan apa pun. Kenapa dia tidak bisa melihat apa pun dari sosok itu? Mungkinkah dia bukanlah manusia? Apakah dia hanyalah data sama seperti monster-monster dan tempat ini? Namun, bagaimana— Mendadak ruangan ini menjadi sunyi. Kegelapan tak terbatas seolah membungkus seluruh ruangan, persis seperti yang Ace alami sewaktu memasuki Hidden Dungeon. Waktu seakan terhenti. Bahkan [Kor] tidak bergerak sedikit pun, masih terdiam kaku dengan senyum miring. Panah-panah yang melayang terhenti di udara, termasuk pengurangan poin HP Ace yang telah mencapai zona kuning. Perasaan aneh mulai berdesir di seluruh tubuh Ace. Ah, perasaan yang sangat familier. “Kenapa kau bersikeras seperti ini, Ace Clauser?” Suara itu sangat tenang dan dalam, seakan hendak menarik siapa pun yang mendengar ke dalamnya. “Padahal kau hanyalah pecundang yang tidak bisa menyelamatkan nyawa ayahmu.” Ace terkesiap dengan mata membulat. Apa ini? Kenapa sosok itu bisa tahu tentang ayahnya? Apa mungkin sosok ini memiliki kaitan dengan kecelakaan sang ayah? “Siapa kau?” Tak peduli dengan tubuhnya yang sakit, Ace memaksa mulutnya untuk terbuka. “Apakah kau Creator?” “Pada akhirnya, hanya sejauh inilah kau bisa melakukannya. Sejak dulu kau telah ditakdirkan untuk berada di titik terendah manusia. Kau tidak memiliki kesempatan apa pun. Meskipun kau berusaha untuk bertahan, kau akan tetap mati. Tidak akan ada jalan keluar untukmu.” Ah. s****n. Apakah sosok ini berusaha mengingatkannya pada masa lalu? Bahwa dirinya adalah Ace Clauser yang hanya diam jika dirundung dan dihina. Ace benci jika mengingat masa-masa itu. Bahwa dirinya hanya anak lemah yang bahkan tidak bisa melindungi diri sendiri. Lalu, memangnya kenapa? Ace juga sadar bahwa sekuat apa pun dirinya berlari, dia tidak akan bisa mengejar siapa-siapa. Jadi, dia hanya tidak perlu melakukan itu dan menentukan jalannya sendiri. Dia tidak perlu mengejar atau menjadi siapa pun untuk tetap bertahan. Dia hanya perlu menjadi dirinya sendiri. Hanya itu. Seulas senyum terbit di wajah Ace. Matanya menyala-nyala dengan keinginan keras dan kebencian belaka. Dia pernah merasakan hal ini sebelumnya. Meski dia berusaha untuk menyusul semuanya, dia akan tetap tertinggal. Meski dia berusaha bangkit untuk berjuang, pada akhirnya dia akan jatuh kembali. Dan karena perasaan itulah, Ace tidak pernah berharap dirinya akan berjalan beriringan dengan orang lain. “Jika tidak ada jalan keluar, aku akan menciptakannya. Jika aku tidak bisa bertahan, aku akan maju. Aku tidak perlu khawatir tentang kematian, bukan begitu?” Dia telah mendapat kesempatan untuk berubah. Hubungan antara dirinya dan system bukanlah bawahan dan atasan, tapi rekan. Jika system telah memilihnya, Ace tidak punya keraguan sedikit pun untuk tetap melangkah. Dia tidak akan pernah membiarkan segalanya berakhir seperti ini. Selama bertahun-tahun, Ace telah terjebak di dasar kehidupan. Untuk beberapa sisi, dia sangat ingin berada di atas orang lain. Dia lebih tahu kesedihan dan ketakutan lebih dari siapa pun, mencoba segalanya untuk bertahan hidup. Bahkan meski dia selamat, akan ada orang lain yang berusaha menginjaknya. Kali ini dia telah bertemu teman-teman yang menerimanya dengan baik. Mereka membiarkan satu posisi paling belakang tetap kosong agar dirinya bisa ikut bertahan hidup. Jadi, bagaimana bisa dia hanya menonton tanpa melakukan apa-apa? Perasaan tidak berdaya memang terus menghantuinya, tapi bukan berarti dia tidak ingin meraih jalan yang membawanya ke puncak. “Kalau begitu, jangan menyerah.” Setelah mengulang kalimat yang sama, sosok itu menghilang. Waktu telah kembali. Perasaan aneh yang menyelimuti tubuhnya telah berakhir, berganti menjadi gejolak yang tidak bisa dijelaskan. Ace marah, tapi juga tenang. Seolah semua perasaan yang berlawanan tengah berkumpul dalam dirinya. [HP: 952/2867] [MP: 320/ 460] Ace melirik HP-nya yang terus berkurang. Bahkan dalam beberapa detik, elf-elf itu terus menyerang Ace yang telah dilumpuhkan. Mereka pasti sangat bahagia melihat target hanya diam merenung. Namun, dia tidak berniat untuk menyerahkan diri lagi. “Tidak apa-apa. Meski HP-ku menjadi satu, aku akan berjuang seperti orang gila sampai akhir. Aku akan berjuang sampai seluruh tubuhku tidak bisa bergerak lagi.” [HP: 290/2867] [MP: 320/ 460] Ace menarik aliran sihir yang tadi dikumpulkan di kedua tangan, lalu menyebarkannya ke seluruh tubuh. Meski harus menghabiskan MP sekalipun, Ace tidak peduli. Dia akan menguras tenaga-tenaga monster s****n ini untuk bertahan hidup. Dengan sekali entakan, Ace mengalirkan seluruh MP yang tersisa hingga ikatan sihir itu terbuka. [HP: 78/2867] [MP: 0/ 460] Ini pertama kalinya dia hampir mati dan MP-nya benar-benar kosong. Ace menyadari bahwa MP bukan sekadar jumlah kekuatan sihir yang ada di tubuh, tapi juga kekuatan yang menggerakkan tubuhnya. Ketika poin mana menjadi nol, berdiri pun terasa sangat sulit. Namun, Ace tidak mau menyerah pada batasan system. “[Energy Drain]!” [HP: 2867/2867] [MP: 460/ 460] Monster-monster di sekitar Ace seketika pecah menjadi kepingan polygon dan dalam sekejap, HP dan MP Ace pulih kembali. Tubuhnya diselimuti aura hijau kebiruan yang seakan terserap ke dalam tubuh. Dalam sekejap, Ace merasa rasa sakit dan lelah yang menerpanya menghilang. Fakta bahwa HP dan MP berpengaruh dalam kondisi tubuh telah dibuktikan melalui skill ini. “Kau!” [Kor] menunjuk Ace yang diselimuti kekuatan sihir dengan tatapan tak percaya. Bahkan rasanya, wajah cantik elf itu mengerut seperti kakek-kakek tua karena terkejut. “Bagaimana bisa mengempaskan energy sihir kuat seperti itu?” Seulas senyum terbit di wajah Ace. Dia menunjuk [Kor] dengan angkuh. “Bagaimana ya? Sepertinya system lebih mencintaiku dengan memberikan skill ini dibanding menyelamatkan monster rendahan sepertimu.” Wajah [Kor] menjadi kaku, tapi itu hanya bertahan selama beberapa detik. Ace tahu apa yang dimaksud [Kor], yaitu penunjuk waktu. Sekarang Ace hanya memiliki waktu dua menit empat puluh delapan detik. Dia tidak akan bisa membantai seluruh monster di sini, tapi dia tetap bisa mendapatkan mahkotanya. “Perhitunganku tidak salah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN