Malam menggantikan siang, dan rasa was-was yang dirasakan Saka semakin menjadi. Namun aneh sekali, ayah dan ibunya justru kelihatan begitu tenang. Ya, Saka tahu, orang dewasa memang pandai menyembunyikan perasaan. Mungkin, di balik koran dan di balik penggorengan, jantung ayah dan ibunya berdetak kencang tak keruan saking tegangnya.
Saka lantas mencoba bersikap setenang mungkin, membaca buku, sampai memejamkan mata berusaha untuk tidur. Namun, semua usaha yang ia lakukan itu sia-sia. Nyatanya ia hanya mampu menatap langit-langit kamarnya sembari menghela napas berat, sebelum pada akhirnya ia bangkit dari rebahnya, dan membawa langkah ke tepian jendela. Menengadah, melempar jauh tatapannya ke dalam gelapnya malam.
“Apa lagi yang bisa diharapkan?” Sebaris tanya dilemparnya entah pada siapa. “Ah, tidak. Mungkin akan jauh lebih tepat kalau pertanyaannya adalah… apa masih ada lagi harapan?” ucapnya, meralat kalimat tanya yang ia lontarkan sebelumnya. Detik berikutnya, Saka beralih pada meja belajarnya. Meraih secarik kertas dan menorehkan beberapa kalimat di atasnya, membiarkan jemarinya menari menuntun pena yang ada dalam genggamannya itu.
Kehidupan. Sebuah kata sederhana yang dapat meluas. Sebuah kata yang terhubung pada segala aspek dari kata itu sendiri. Kehidupan, adalah sesuatu yang rumit, tidak kah kau pikir? Kadang, tak jarang kehidupan terasa hambar dan malah mengecewakan. Seperti yang ku katakan sebelumnya, kehidupan itu agaknya memang cukup rumit. Setiap orang memiliki kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang panjang dan ada yang pendek. Ada yang senang, ada juga yang susah. Segalanya dapat dimiliki oleh kehidupan. Tapi sekarang, kehidupan bagiku sudah tidak lagi memiliki arti.
Tok… Tok…
Suara ketukan pintu pun terdengar, bersamaan dengan torehan tanda titik sebagai penanda akhir dari barisan kalimat yang Saka rangkai barusan.
“Masuk saja, tidak dikunci!” Sahut Saka, kepada seorang lelaki yang baru saja mengetuk pintu kamarnya.
“Kau belum tidur?” Ucap seorang lelaki, yang baru saja muncul dari balik pintu.
“Kalau aku sudah tidur, aku tidak mungkin menyuruhmu masuk, Kak.” Balas Saka asal.
“Aku punya hadiah!” Kata Sekala, seraya mendudukan dirinya di atas ranjang sang adik tanpa dipersilakan terlebih dahulu. Pun sebuah pemutar lagu, berhasil dikeluarkannya dari balik saku. “Ini untukmu. Jika kehausan, kau bisa pakai ini untuk mengalihkan sejenak rasa hausmu.”
Saka betul-betul berterima kasih. Sebab selama ini keluarganya tak pernah berpikir untuk membeli hal-hal semacam itu. Bisa tetap hidup di hari ini saja ia sudah sangat bersyukur.
“Sekala! Ini pasti mahal! Bagaimana dengan persediaan airmu nanti?” Tanya sang ibu, yang tiba-tiba saja menghampiri dan berdiri di ambang pintu sembari memegang sebotol besar air minum.
“Tak perlu khawatir, Bu. Percayalah, aku masih punya banyak di rumah.”
Mendengar jawaban dari putra sulungnya, lantas Evi, ibu 2 anak itu melengkungkan senyum, dan berlalu.
“Ah, tiada lagi yang hal yang membahagiakan selain memiliki anak sepertinya. Di masa sulit begini dia sangat mementingkan keluarganya. Aku benar-benar beruntung.” Katanya, sembari menuangkan sebotol air itu ke dalam dispenser yang hampir kosong.
Saka dapat mendengar apa yang ibunya ucapkan barusan. Pun rasanya, Saka juga beruntung memiliki Kakak seperti Sekala. Namun, tiba-tiba saja terbesit sebaris tanya dalam benaknya,
“Kapan aku akan membuat orang-orang di sekitarku merasa beruntung?”
“Sekala, kapan kau akan menikah?” Sang ayah yang sedang bersantai di ruang tamu pun melempar tanyanya, kepada Sekala yang masih berada di kamar sang adik.
“Ya ampun, Ayah, apakah tepat membahas pernikahan di zaman yang seperti ini?” Timpal Saka. Dirinya merasa kalau pertanyaan ayahnya barusan sedikit tidak masuk akal. Itu konyol, kenapa juga harus bertanya perihal pernikahan di saat seluruh manusia berusaha mati-matian untuk bertahan hidup setiap harinya.
Mendengar itu, Sekala terkekeh juga tersipu. “Itu bukan prioritasku sekarang, Yah.” Jawabnya.
Sementara Saka hanya sedikit berdecis, tersenyum kecut sembari menunduk. Dalam batinnya terbesit sebaris tanya, “masihkah tepat membahas pernikahan di masa yang untuk bertahan hidup saja sulit seperti sekarang ini?”
“Setidaknya, ajaklah kekasihmu itu ke rumah sekali-sekali.” Tambah sang ayah.
“Sebenarnya sekarang ini dia ada di Bandung, mengunjungi makam orangtuanya di sini. Mungkin besok dia bisa kuajak datang ke rumah.”
“Nah, itu ide yang sangat bagus! Ayah tunggu janjimu, lho!”
Ya, mungkin agaknya membahas pernikahan memang dirasa kurang tepat. Tapi nyatanya, memiliki seseorang yang selalu berada di samping kita di saat bumi dan seisinya sedang tidak baik-baik saja, nyatanya mampu memperpanjang harapan untuk dapat tetap bertahan sedikit lebih lama lagi di sini.
“Saka, bagaimana sekolahmu? Aman?” Sekala melempar tanyanya pada sang adik.
Sedang yang ditanya hanya memberi jawaban sekenanya saja, “ya, begitulah.” Ucapnya.
Kakak beradik yang lama tak bersua itu pun saling berbincang, saling melempar tanya sekadar melepas kerinduannya masing-masing. Saka dan segala keingintahuannya yang terbilang tinggi, terus melempar Sekala dengan pertanyaan-pertanyaannya terkait kondisi di luaran sana. Dan Sekala dengan wawasannya yang cukup luas pun mampu memberi jawab atas semua tanya sang adik.
Perbincangan antar keduanya membuat waktu terasa bergulir dengan begitu cepatnya, hingga membuat mulut Saka tiba-tiba saja terbuka dan menarik napas dalam sehingga paru-parunya terisi udara.
“Kau mengantuk? Kalau begitu tidurlah.” Ucap Sekala, yang menyadari respon alami tubuh sang adik yang sudah mulai merasa Lelah dan mengantuk.
Saka lantas segera menarik selimutnya, dan membenarkan posisi bantal. Bersamaan dengan Sekala yang membawa kakinya melangkah keluar dari kamar sang adik.
***
Malam ini, udara terasa lebih panas dari biasanya. Pun berhasil mengusik Saka dari lelapnya. Di pertengahan malam, bocah itu merasakan kerongkongannya begitu tandus. Agaknya butuh sedikit air untuk sekadar membasuhnya.
Ruang tamu begitu sepi dan gelap. Wajar, namanya juga tengah malam. Justru akan sangat aneh kalau tengah malam begini rumahnya menjadi riuh. Saka terus membawa langkahnya di tengah kegelapan, sembari menggaruk kepalanya yang sebetulnya tidak gatal. Sampai tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Ketika tanpa sengaja ia mendengar sebuah suara dari meja makan. Pun perlahan ia menoleh, keningnya mengernyit, matanya menyipit guna menajamkan penglihatannya. Berbeda dengan ruang tamu yang sepi dan gelap, di ruang makan sana malah terang benderang. Ternyata, ayah, ibu dan sang kakak sedang berdiskusi di sana.
“Tagihan itu memang menyulitkan keadaan ekonomi kita yang memang sudah sulit,” kata ibu dengan nada yang sedih. “Untuk sebulan ini, mungkin kami masih bisa hidup. Namun, Saka tidak akan bisa sekolah.”
“Aku akan membayar uang sekolah Saka bulan ini,” Sekala menimpali. “Namun soal air, aku tidak tahu. Gajiku belum seberapa karena selama ini perusahaanku belum terlalu menghasilkan.”
Sesaat kemudian, Saka mendengar sang ayah mengela napasnya dan berkata, “Mungkin bulan depan, kita memang terpaksa memberhentikan Saka sekolah.”
“Tidak!”