"Pak wali kota bilang kalau… mulai bulan depan, kita harus membayar tagihan oksigen," Alinea yang tengah memutar sendok di dalam secangkir teh yang baru saja dibuatnya itu pun tiba-tiba terhenti, ia dapat dengan jelas mendengar percakapan Saka di ruang tamu.
"Lima juta per-orang, bagi mereka yang sudah berusia di atas 20 tahun." Saka melanjutkan kalimatnya, yang tentu semakin membuat Alinea tersentak meski hanya mendengarnya dari dapur.
Lima juta.
"Saka Amalta, 18 tahun. Menatap khawatir."
Face-Shield yang dikenakan sang ayah mengeluarkan suara seperti barusan, pasti rekan sekolahnya itu tengah mengkhawatirkan nasib keluarga Alinea sekarang. Alinea sangat benci itu, Alinea benci hidup diselimuti rasa kasihan dari orang lain.
Gadis itu meletakkan sendok yang semula digunakannya di atas meja, ia menggelengkan kepalanya guna menepis sejenak pikirannya yang sudah semrawut itu dan hendak segera membawa kakinya melangkah menghampiri sang tamu, menyajikan teh yang telah dibuatnya.
Namun,
"Jika menatapku seperti itu… aku merasa masalah besar tengah terjadi, seolah kehidupanku akan hancur sebentar lagi. Faktanya… apa yang terjadi sekarang, tidak akan lagi bisa membaik."
Mendengar apa yang baru saja diucapkan sang ayah membuat langkah Alinea seketika terhenti. Ya, memang benar. Rasanya… apa yang terjadi sekarang tidak akan lagi bisa membaik. Dalam hitungan detik Alinea menundukkan kepalanya, bersamaan dengan napasnya yang terhela sebelum pada akhirnya gadis itu kembali menegakkan kepala dan menguatkan kakinya untuk melangkah. Dengan senyuman manis, Alinea menyajikan secangkir teh yang telah dibuatnya kepada tamunya, Saka.
"Silakan diminum!" Ujarnya.
"Terima kasih!" Balas Saka.
Mengetahui sang putri sudah menjamu tamunya, lantas ayah Aline pun bangkit dari duduk.
"Kalau begitu, silakan kalian berbincang. Ayah ke kamar dulu."
Jarum jam terus berdetik. Setelah ayah Alinea kembali ke kamarnya, dua anak manusia yang berada di ruang tamu itu terjebak dalam keheningan. Alinea yang tenggelam dalam pemikirannya tentang nasib hidup dirinya dan sang ayah, sementara Saka, lelaki itu menatap lekat Alinea dengan penuh rasa cemas.
"Ekhem!" Saka sengaja membuat suara dengan berdehem demi memecah keheningan, yang ternyata berhasil membuat Alinea terkesiap. Setelah berkedip sebanyak dua kali, gadis itu kembali menyimpulkan senyum dan menatap ke arah rekannya itu.
"Saka, diminum!" Katanya, yang Saka tau itu hanyalah sebuah kalimat basa-basi.
"Baiklah, aku minum, ya!" Ucap Saka seraya meraih gagang cangkir berisi teh yang sengaja dibuatkan untuk dirinya itu.
Setelah menyeruput sedikit teh yang kental sebab terbuat dari vilidis itu, lantas Saka kembali meletakkan cangkir di atas meja. Pandangannya kembali dilabuhkan pada gadis yang terduduk di hadapannya.
"Apa… terjadi sesuatu?" Tanya Saka, sebab sedari tadi mimik Alinea menyiratkan kalau dirinya tengah dirundung permasalahan. Bagaimana tidak, lima juta rupiah perbulan harus dikeluarkannya hanya untuk oksigen. Uang dari mana? Untuk biaya sekolah dan makan sehari-hari saja harus membuat ayah Alinea yang sebagai musisi jalanan harus terus berjuang meski sudah sakit-sakitan.
Alinea membalas tatapan Saka, membuat mata keduanya bertemu. Bagi Saka, mata Alinea yang selalu memancarkan pelangi itu kini terlihat begitu kelabu. "Apa menurutmu… hidup harus semenderita ini?" Sebuah kalimat tanya terlontar dari bibir mungilnya. Pun Saka hanya mampu membalasnya, dengan seulas senyum kecut nan miris. Rupanya gadis itu telah mendengar percakapan Saka barusan.
***
"Tak bisa terbilang sedikit yang menderita. Banyak yang sudah mengecap pahitnya kehilangan dan pahitnya kematian." Ujar Alinea setelah keduanya terdiam cukup lama.
"Aku tahu itu," balas Saka sambil melihat cangkirnya yang telah kosong. "Memangnya, apa yang bisa kita lakukan sekarang?"
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut Saka, Alinea hanya mampu menghela napas untuk kesekian kalinya pada percakapannya dengan Saka kali ini, gadis itu nampak kehilangan semangatnya dalam bicara. "Hendak menyalahkan orang pada masa lalu pun tak ada gunanya. Merekalah yang merusak alam hingga alam memberi balasan seperti ini. Tapi tetap ini tidak adil! Kenapa malah kita yang harus menanggung akibatnya?"
Itulah akhir dari percakapan antar keduanya, sebelum pada akhirnya Saka memutuskan untuk pamit undur diri bertolak kembali ke kediamannya.
Sementara berdiri di skydrive bus yang penuh sesak, Saka terus memikirkan apa yang kiranya akan ia sampaikan kepada kedua orangtuanya yang menunggu di rumah. Ini bukan hal mudah, ini sudah kelewatan. Sampai-sampai rasanya Saka ingin menangis meraung-raung dan menyerang apa pun yang berada di sekitarnya. Beruntung akal sehatnya masih dapat bekerja, sehingga ia tidak mungkin melakukan hal i***t seperti itu.
Nyaris saja tempat tujuannya terlewat kalau saja Saka terlambat menekan bel untuk memberhentikan laju skydrive bus yang ia tumpangi. Setelah pintu terbuka secara otomatis, Saka mulai melangkahkan kakinya untuk melanjutkan perjalanan menyusuri beranda rumah yang sudah di depan mata.
Di liriknya arloji hitam yang melingkar di tangan kiri, pukul 17.20. Helaan napas berat terdengar sesaat sebelum Saka memasuki kediamannya.
"Aku pulang…." Ujarnya lesu.
Saka tidak percaya, kalau pada akhirnya berita buruk ini sampai kepada kedua orangtuanya dari mulutnya sendiri. Ayah dan ibu Saka, jelas kelihatan murung sekali hari itu. Pun Saka sendiri hanya bisa duduk termenung di atas sofa.
"Sudah… jangan terlalu dipikirkan, Ibu sudah siapkan makan malam, mari."
Makan malam? Rasanya sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuk memikirkan urusan perut. Ayah dan Ibu Saka pun tak berbeda jauh, setelah masing-masing menempati kursinya di meja makan, mereka hanya memandangi makanan yang telah tersaji itu dengan wajah suram.
"Ayo, disantap!" Ujar ibu Saka sambil tersenyum hambar.
"Iya." Sang Ayah menghela napas panjang, hanya sebaris kata 'iya' yang mampu terlontar, namun sejatinya masih belum ada pergerakan sama sekali untuk mengeksekusi makanan.
"Aku pergi dulu, hendak bertemu Profesor Ed."
Ayah dan Ibu Saka tidak mengatakan apa-apa kala putranya tersebut malah memilih beranjak dan berlalu pergi. Mungkin, tenaga mereka sudah habis untuk memikirkan cara bagaimana untuk tetap ada di dunia ini esok pagi.
Profesor Ed adalah seorang ilmuwan negara. Dia dibayar untuk meneliti pun untuk hasil dari penelitiannya tersebut. Terdengar hebat, bukan? Kendati begitu, dia bukanlah orang yang kaya raya. Tapi entah sih, Saka tidak tahu menyoal tabungan atau investasinya, namun, yang bocah itu tau, rumah Profesor Ed tidak bisa terbilang bagus dan jauh dari kata mewah. Bahkan menurut Saka, cenderung jelek. Ah, tidak. Dengan seluruh ruangan yang berantakan, membuat rumahnya terkesan "jelek sekali".
Tentang bagaimana Saka bisa mengenalnya. Semua itu bermula saat ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, ketika Profesor Ed menjadi guru dadakan di sekolahnya karena guru Fisika yang biasa mengajar meninggal akibat dehidrasi. Profesor Ed acap kali mendapat olokan dari para murid kala naluri profesornya muncul hingga membuatnya bicara ngawur. Namun berbeda dengan yang lainnya, Saka justru melihat aura yang berbeda, yang membuatnya menjadi semakin dekat dan lebih sering berbagi cerita dengannya.
"Saka!" Ujarnya sambil tersenyum saat melihat Saka berjalan mendekat ke arahnya. Profesor Ed tengah duduk di depan rumahnya dengan secangkir teh dan koran baru.
"Hai, Prof!" Sapa saka dengan memaksakan senyum. "Ada kabar apa hari ini?"
"Ayolah, Saka! Tak usah kau pura-pura tidak tahu seperti itu. Belum dengarkah kau soal tagihan oksigen?"
"Tentu saja sudah, Prof. Karena itulah aku ke sini, aku ingin melupakannya barang sejenak." Balas Saka, seraya menempati kursi kosong di sebelah Profesor Ed yang dibatasi oleh meja berbentuk bundar.
"Mau teh?" Tawar Profesor Ed, sementara Saka menanggapinya dengan gelengan kepala sopan.
"Tagihan itu… merupakan sebuah masalah, Saka."
"Ya, aku tahu. Lantas?"
Profesor Ed menghela napas panjang, sebelum akhirnya ia membenarkan letak kacamatanya yang melorot.
"Kau tahu? Masalah adalah sebuah jurang," ucapnya. "Jurang yang terbentang lebar di depanmu itu, harus kau lompati. Bukan malah pura-pura tidak tahu. Kalau kau menutup mata, maka kau akan terjatuh. Ini tentang berhasil atau mati. Begitulah prinsip ilmuwan."
"Tapi aku bukan ilmuwan, Prof!" Teriak Saka. "Aku tidak bisa menghadapi masalah ini, Prof. Kalau saja Profesor punya pemecahannya, tolong biarkan aku tahu…."
Profesor Ed, geming selama beberapa detik. Sementara Saka menghela napas dibarengi sedikit rasa kecewa. Ya, Saka paham, mungkin Profesor Ed juga tidak tahu jalan keluarnya.
Helaan napas mulai terdengar, membuat Saka lantas menoleh ke arah Profesor Ed, sepertinya lelaki tua berambut putih itu bersiap untuk menuturkan sesuatu. Namun, tanpa diduga, alih-alih memberi jawaban, Pfofesor Ed malah berkata, "enam puluh tahun yang lalu, bumi itu surga. Dulu, kau bisa menjumpai pohon di setiap sudut jalan. Bahkan ada satu tempat yang bernama hutan, di sana pepohonan tumbuh dan berjajar dengan indah. Ada juga sungai dan danau, sebuah cekungan yang berisi air yang melimpah. Namun lambat laun semua itu berubah karena ulah manusia sendiri. Mereka dibutakan dengan keserakahan yang tanpa sadar justru malah merusak tempat hidup mereka sendiri. Coba kau pikir, apa jadinya kalau semua itu bisa dicegah?"
"Entahlah," tukas Saka. "Apa gunanya menceritakan masa yang sudah terlewat berpuluh-puluh tahun lalu? Apa dengan menceritakan itu, keadaan sekarang bisa berubah?"
"Tak ada cerita yang tak pantas didengarkan, Nak."