Helena tergugu di tempatnya duduk. Hatinya remuk redam hancur berkeping-keping. Tanpa sadar ia meremas gelas yang ada di tangannya sampai pecah. Dan melukai dirinya sampai berdarah. Dipejamkannya mata mencoba untuk menenangkan dirinya. Tenggorokannya terasa kering, nadi di lehernya berdenyut dengan cepat. Hatinya terasa kebas, begitu juga dengan tangannya. Ia tak merasakan sakit luka di tangannya akibat terkena pecahan gelas. Tak dihiraukannya darah yang menetes membasahi lantai. Dari tempatnya duduk Matteo mengumpat melihatnya. “Sial! Astaga, Helena! Apakah kau tidak sadar, kalau kau sudah membuat dirimu terluka.” Bergegas ia bangun dari duduknya berjalan mendekati Helena. Ia bermaksud untuk membantu istrinya itu mengobati lukanya. Helena mengangkat tangan ke arah Matteo. “Berhenti!

