Clara keluar dari ruangan Bu Dora dengan wajah yang cemberut dan masam. Bukan karena ia dimarahi. Bukan, bukan karena itu. Mungkin ia akan sangat senang jika Bu Dora memarahinya karena memang itu yang ia harapkan tetapi nyatanya Bu Dora tidak memarahinya.
Padahal Clara sudah memancingnya dengan mengatakan baru akan menyerahkan laporan besok tapi tetap saja manajer gendutnya itu tidak marah padanya. Entah apa yang dimakannya siang tadi hingga membuatnya tidak marah.
Andai saja Bu Dora marah padanya, ia sudah langsung akan memanggil Jevan. Pria itu akan datang menyelematinya bagaikan seorang pangeran tampan yang menolong princess cantik dari kemarahan si penyihir gendut. Clara pasti akan loncat-loncat kegirangan jika memang itu terjadi.
"Udah jinak kan?" Tanya Jevan begitu ia menghempaskan tubuhnya ke kursi
Clara melirik sinis ke arah Jevan yang sedang senyam senyum seperti sedang meledeknya. Ingin sekali rasanya ia mencakar-cakar wajah itu tapi ia juga terlalu sayang melukai wajah tampan dan menggemaskan Jevan.
Enggan menanggapi Jevan, ia kembali melengoskan wajah lalu menegakkan tubuhnya dan bergerak maju untuk melanjutkan kembali menyelesaikan laporannya yang harus ia serahkan beberapa jam lagi.
Jevan. Pria itu masih melirik ke arah Clara yang masih terlihat masam. Entah kenapa kedua sudut bibirnya tertarik refleks melihat wajah cantik itu cemberut yang malah membuatnya makin menggemaskan.
Pukul lima sore, saatnya jam pulang kantor. Jevan merapihkan semua kertas yang memenuhi hampir seluruh meja. Ia menumpuknya menjadi satu lalu meletakkannya ke dalam laci meja.
Dimatikannya komputer yang ada di depannya lalu bangkit berdiri siap untuk pulang ketika dari ekor matanya ia melihat tas hitam Clara yang masih berada di kursi. Tetapi si pemilik tidak kelihatan batang hidungnya. Kemana dia?
Otaknya langsung bekerja cepat mengingat ucapan Clara tadi yang harus menyerahkan laporan ke Bu Dora. Matanya pun langsung berpindah ke arah ruangan Bu Dora. Apa sejak tadi dia ada di sana? Lama sekali.
Mejanya sudah rapih, komputernya pun sudah mati. Jevan hanya tinggal berjalan keluar meninggalkan ruangan saja dan langsung melesat pulang tetapi entah mengapa ia mengurungkan niatnya untuk pulang sekarang.
Pria tampan itu kembali mendaratkan bokongnya ke kursi. Ia memutar kursinya menghadap ke arah ruangan bu Dora yang pintunya masih tertutup rapat. Jevan sedikit menggoyang-goyangkan kursinya ke kanan ke kiri dengan pandangan terus menatap ke pintu ruangan Bu Dora seperti sedang menunggu seseorang yang keluar dari sana.
Lima menit menunggu akhirnya pintu ruangan tersebut terbuka bersamaan dengan keluarnya Clara dari dalam. Buru-buru Jevan langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.
Clara mengernyitkan dahi melihat Jevan yang masih berada di ruangan sementara rekan-rekannya yang lain sudah pulang semua. Sedang apa pria itu? Ia langsung menyambar tasnya dan melangkah cepat keluar ruangan berusaha menyusul Jevan.
Clara terpekik kaget saat dirinya hendak masuk lift namun pintu lift bergerak akan menutup. Untung saja Jevan yang berada di dalam lift langsung menahan pintu besi tersebut dengan tangannya. Untuk sepersekian detik mereka saling pandang sebelum akhirnya Clara yang memutuskan pandangan mereka dan melangkah masuk ke dalam lift.
Hening. Itulah suasana dalam lift saat ini. Hanya terdengar suara detak jantung mereka yang berdebar kencang seakan saling bersahutan. Clara memainkan jari tangannya sendiri berusaha menutupi kegugupannya yang hanya berdua dalam lift dengan Jevan. Sementara pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku celana dengan pandangan lurus ke depan. Tetapi jauh di dalam hatinya ia merasa gugup.
"Ehem!" Jevan berdehem sambil membenarkan letak kacamatanya. Clara hanya meliriknya melalui ekor matanya saja.
"Diomelin bu Dora?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Jevan
"Hah?" Clara menoleh menatapnya dengan mata membulat. Jevan bertanya padanya? Tak disangka.
"Oh—engga kok" jawab Clara begitu menyadari kalau ia belum menjawab pertanyaan pria di sampingnya
Jevan diam tak menanggapi lagi jawaban Clara. Gadis itu mendengus sebal, Jevan tak pernah melayangkan pertanyaan banyak. Satu pertanyaan saja sudah cukup. Satu saja sudah bersyukur daripada tidak sama sekali.
"Lo nungguin gue?" Ia kembali menatap Jevan. Dalam hati ia merutuki mulut lancangnya ini yang begitu gampangnya menanyakan hal tersebut.
Menunggunya? Mana mungkin.
Jevan menoleh ke arahnya dengan raut wajah yang terlihat sedikit terkejut namun buru-buru ia memalingkan wajahnya, "engga" ia menggelengkan kepala
Clara mengangguk-nganggukkan kepala. Ia sudah bisa menebak apa jawaban Jevan kenapa juga mesti bertanya.
Ting. Pintu lift terbuka lebar di lantai satu. Jevan keluar lebih dulu kemudian disusul Clara di belakangnya. Tidak ingin merasa terus canggung dan kaku seperti ini, gadis itu berusaha menyamai langkahnya dengan Jevan.
"Je. Kalo sore gini banyak taksi gak di depan?" Tanyanya dengan ada maksud terselubung
"Ada"
"Kalo ojek online banyak juga?"
"Lumayan"
Ada. Lumayan. Hmm. Apa cuma itu jawaban Jevan? Apa ia harus membayar mahal jika menjawab pertanyaan Clara dengan jawaban yang panjang?
Di depan kantor, Jevan langsung berbelok ke kanan menuju parkiran motor tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan untuk basa-basi menawarkan tumpangan saja tidak. Makhluk sejenis apa sih Jevan ini?
Sementara Clara tak melanjutkan langkahnya, ia berhenti di depan kantor menatap ke arah punggung lebar Jevan yang perlahan-lahan tidak terlihat lagi. Ia menghela nafas berat, padahal tadi ia sudah melempar kode pada Jevan dengan menanyakan taksi dan ojek. Ia pikir Jevan akan peka dan menawarkan tumpangan. Tapi nyatanya pria itu tidak memiliki sisi kepekaan sedikit pun.
Berhadapan dengan Jevan selalu menguji kesabarannya.
Clara berdiri di trotoar depan kantor menunggu taksi yang lewat. Tapi sayangnya sejak tadi jarang sekali taksi yang lewat, sekalipun ada sedang mengangkut penumpang.
Dan yang lebih sialnya lagi ponsel Clara mati hingga dirinya tidak bisa memesan ojek online. Sebenarnya bisa saja ia berjalan sampai ke apartemennya yang memang tidak jauh tapi rasanya kakinya terlalu malas untuk berjalan kaki sampai apartemen.
Dengan tangan terlipat di d**a, ia memainkan ujung heelsnya di aspal sambil memandang ke arah jalanan mencari taksi. Pandangan Clara teralihkan begitu melihat sebuah motor yang berhenti tepat didepannya dengan si pengendara yang memakai helm full face berwarna hitam. Sambil menyelipkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinga, Clara mengernyitkan dahi menatap pria tersebut. Siapa? Pikirnya.
"Ayo naik" ucapnya sambil mengedikkan dagunya meminta Clara baik ke boncengan belakangnya
Kerutan makin terlihat jelas di dahi Clara. Ia tidak kenal dengan pria itu tetapi kenapa pria itu malah memintanya naik. Apa ini salah satu modus penjahat yang ingin menculiknya?
"Ini gue" pria itu membuka kaca helmnya
Mata Clara melebar begitu melihat setengah wajah pria dibalik helm tersebut. Jevan. Ya Tuhan, sulit rasanya dipercaya kalau Jevan menawarinya tumpangan tapi itu yang terjadi sekarang. Ini nyata.
Seulas senyum terbit di wajah cantik Clara. Hatinya senang bukan main melihat Jevan di depannya dan menawarkan tumpangan untuknya.
"Mau gak?" Tanya Jevan tidak sabaran
Refleks Clara menahan lengan Jevan sambil menatapnya, "iya mau mau"
Ia maju selangkah dan berniat akan naik ke boncengan belakang ketika menyadari motor Jevan ini motor ninja. Otomatis boncengan belakangnya lebih tinggi. Ia melirik ke arah rok bermodel pensil selututnya yang berwarna hitam.
Pasti sudah tahu kan apa yang sedang dipikirkan oleh gadis cantik itu? Dengan rok bermodel seperti itu bagaimana bisa ia duduk di boncengan belakang dengan posisi normal. Itu tidak mungkin.
Dengan posisi menyamping? Bisa saja sih tetapi mungkin saja sebagian roknya akan terangkat sedikit dan paha mulusnya akan terlihat. Tidak. Clara tidak ingin 'bersedekah' pada orang-orang dengan memperlihatkan paha mulusnya itu.
Kalau sudah seperti ini Clara harus bagaimana? Membiarkan Jevan pergi dan meninggalkannya? Ini kesempatan emas. Sangat jarang sekali ia mendapatkan kesempatan seperti ini. Mungkin dewi keberuntungan sedang berpihak dengannya hingga sekarang ia dihadapkan pada rezeki nomplok seperti ini.
Ah tetapi bagaimana dengan roknya, kalau saja ia tahu hari ini Jevan akan memberinya tumpangan. Clara tidak akan menggunakan rok. Besok, tolong ingatkan Clara untuk memakai celana jika ke kantor. Semua yang dilakukan Clara sejak tadi tak luput dari pandangan Jevan. Ia mengerti apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Ia mematikan mesin motornya lalu melepaskan helm.
Sementara Clara sendiri masih diam membisu ditempatnya. Ia tidak rela menolak ajakan Jevan tapi ia juga tidak ingin memberikan 'sedekah' gratis dengan memperlihatkan paha mulusnya. Lalu Clara harus apa?
Clara mengangkat wajahnya begitu melihat jaket yang berada tepat di depan wajahnya. Dahinya mengernyit bingung lalu melirik ke arah Jevan yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya seraya menyerahkan jaket kulit miliknya.
"Pakai ini"
"Buat apa? Ini lagi gak hujan" ucap Clara yang memang tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti
Dahi Jevan mengkerut, ternyata Clara tak sepintar yang ia bayangkan. Ia pikir gadis itu bisa langsung mengerti tetapi nyatanya malah bertanya seperti anak kecil yang masih polos.
Jevan menatapnya sekilas sebelum akhirnya menjawab Clara, "buat nutupin paha lo" ia sengaja menekankan ucapannya pada kata paha. Kemudian kembali menaiki motornya
"Biasa aja ngomongnya. Ngajakin ribut" ujar Clara kesal dengan wajah cemberut
Dalam hati Clara tersenyum, ternyata Jevan masih memiliki hati nurani juga dengan meminjamkan ia jaket agar pahanya tertutupi. Bisakah ia menyebut ini sebagai bentuk perhatian Jevan padanya?
Mesin motor sudah dihidupkan. Jevan sudah kembali mengenakan helmnya, Clara juga sudah duduk diboncengan belakang dengan posisi nyamping dan jaket yang menutupi pahanya. Agak aneh dengan posisi duduknya yang seperti ini, ia merasa tinggi sekali.
Karena takut terjungkal, ia memberanikan diri berpegangan pada sisi kemeja pinggang Jevan. Ia mencengkramnya kuat bersamaan dengan debaran jantungnya yang melompat-lompat. Jevan melirik ke arah pinggangnya dimana di sana terdapat tangan Clara yang mencengkram kuat kedua sisi kemejanya dengan sangat kencang.
Tanpa aba-apa apapun Jevan langsung mengegas motornya membuat Clara terpekik kaget dan makin mengencangkan cengkraman tangannya. Sementara Jevan tertawa kecil melihat keterkejutan Clara namun sayangnya gadis itu tidak mengetahuinya karena wajahnya tertutupi helm.
Sepanjang perjalanan tangan Clara terasa gatal ingin melingkarkan tangannya dipinggang Jevan agar menambah kesan romantis. Tetapi ia masih waras untuk tidak melakukannya, ia takut nantinya Jevan akan mengerem mendadak hingga membuatnya jatuh terjungkal atau pun terplanting ke depan.
Perjalanan antara kantor dan apartemen Clara bagaikan naik kereta yang melaju begitu cepat walaupun kenyataannya mereka naik motor. Jarak antara kantor dan apartemennya memang dekat.
Hanya butuh beberapa menit dengan mobil itu pun karena macet tapi jika dengan motor bisa setengah lebih cepat dibandingkan itu. Karena motor bisa menyalip-nyalip kemacetan, sejak tadi juga Jevan mengendarai motornya dengan cukup kencang membuat rambut Clara berkibar-kibar seperti iklan shampo.
Gak berasa, rutuk Clara dalam hati begitu motor Jevan berhenti tepat di depan apartemennya. Dalam hati ia terus mengomel kenapa jarak apartemennya dan kantor sangat dekat? Ia bahkan belum mengobrol apapun dengan Jevan tapi sekarang ia sudah sampai. Menyebalkan.
Dengan berat hati Clara turun dari motor Jevan. Ia menyampirkan jaket pria itu dilengan kirinya lalu tangannya bergerak menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari tangan. Jevan membuka helmnya.
"Makasih ya Je udah nganterin. Gak mau mampir dulu?" Ia menawari walaupun sebetulnya ia sudah tau apa jawaban Jevan. Mustahil ia mau mengiyakan tawaran Clara.
"Udah sore" jawabnya tanpa turun dari motor
Kan pulangnya emang sore, batin Clara
"Yaudah nih jaketnya. Sekali lagi makasih ya, pulangnya jangan ngebut, hati-hati. Kalo udah sampe kabarin gue" ia menyerahkan jaket ada Jevan
Jevan menoleh ke arahnya sambil memakai jaketnya kembali, "harus banget kabarin lo? Buat apa?"
Mulut Clara mengatup rapat-rapat mendengar pertanyaan Jevan yang cukup menyentil hatinya. Lagipula buat apa juga ia meminta Jevan mengabarinya, memangnya Jevan pacarnya?
Semoga saja. Tetapi apa salahnya juga Jevan mengabarinya. Anggap saja sebagai latihan membiasakan diri sebelum akhirnya nanti menjadi pasangan betulan. Ehem!
"Ya buat mastiin kalo lo selamat sampe rumah. Nanti kalo ada apa-apa sama lo gue gak mau diintrogasi sama polisi karena gue orang terakhir yang ketemu sama lo"
Jevan tersenyum lebar mendengar ucapan Clara membuat gadis itu menatapnya tidak percaya. Seperti tertular olehnya, Clara pun ikut menyunggingkan senyum bahagianya. Lalu maju selangkah dan memegang lengan Jevan.
"Makasih Je buat tumpangannya" ucapnya sambil senyam-senyum dan membuat pola tidak jelas di lengan Jevan dengan jari telunjuknya
Dahi Jevan mengkerut, alisnya menyatu melihat apa yang sedang dilakukan gadis itu,
"iya. Sama-sama" ia berusaha menarik lengannya yang langsung membuat gadis itu cemberut dan mencebikkan bibirnya sebal
"Yaudah gue masuk"
"Masuk sana" sahutnya acuh. Jevan mengedikkan dagunya ke arah apartemen seperti sedang mengusir
"Gak ada manis-manisnya banget sih lo" Clara menghentakkan kakinya sebal
"Pakein gula supaya manis" ia memakai helmnya
"Jevan!"
Tak ada tanggapan dari pria itu, ia mengangkat kedua bahunya acuh lalu menyalakan mesin motornya dan langsung pergi meninggalkan Clara yang masih terpaku ditempatnya menatap Jevan dengan mulut yang terbuka. Benar-benar Jevan ini. Ia bahkan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pamit sedikit pun. Berasal darimana makhluk seperti Jevan ini?
***
Keesokan harinya, di jam makan siang. Jevan melirik jam tangannya--pukul dua belas lebih lima belas menit. Ia menoleh ke arah samping--disana masih terlihat Clara yang nampak serius mengerjakan pekerjaannya. Sejak tadi gadis itu memang anteng tidak terdengar suaranya. Rambutnya sudah digelung dengan bantuan pulpen karena sejak tadi ia tidak menemukan jepitannya. Helaian panjang poninya menjuntai keluar mengenai wajah cantiknya.
Sudut bibir Jevan tertarik melihat wajah cantik serius itu. Sesekali dahinya mengernyit dengan mulutnya yang berkomat-kamit membaca serentetan kalimat dan tangan kanannya mengklik-klik mouse.
"Gak makan?" Tanyanya
Dengan sedikit ragu Clara menolehkan kepala. Ia menoleh ke arah Jevan kemudian menoleh lagi ke sekitar takut kalau pria ini bukan berbicara padanya. Tapi nyatanya sekeliling mereka sudah kosong. Ia bahkan baru menyadari waktu sudah menunjukkan jam makan siang dan semua rekannya sudah pergi mencari makan. Ia kembali menatap ke arah Jevan dengan kedua alis terangkat.
"Gak makan?" Ulang Jevan lagi dengan pertanyaan yang sama
Gadis itu ber-oh ria lalu tersenyum senang begitu menyadari kalau Jevan mengkhawatirkannya karena belum makan siang. Ia menggeser kursinya mendekat ke kursi Jevan masih dengan senyuman diwajahnya.
"Mau traktir gue ya?" Seperti biasa Clara memegang lengan kokoh Jevan yang terlapisi kemeja berwarna biru gelap. Ia menaikturunkan alisnya
Jevan mengernyitkan dahi, menatap Clara dengan alis bertautan. Ia hanya bertanya seperti itu tetapi respon yang didapatkan malah seperti ini. Respon yang sangat tidak bagus untuk jantungnya yang sudah berdetak tak normal.
Ia memalingkan wajah enggan melihat senyuman manis Clara. Jevan menarik lengannya perlahan dan menjauhkan wajah gadis itu dengan tangannya, "ge-er"
Clara mencemberutkan wajahnya dengan bibir yang dimanyunkan. Ia pikir Jevan mau mengajaknya makan siang bersama tetapi ternyata ia salah.
"Mau kemana?" Tanyanya mendongakkan kepala begitu melihat Jevan bangkit dari kursi
"Makan"
"Ikut Je" rengeknya seperti anak kecil kemudian tersenyum
Jevan terhipnotis oleh senyuman manis itu dan langsung mengangguk setuju. Ia berjalan keluar ruangan memutuskan untuk menunggunya di luar. Diusap d**a kirinya yang merasakan debaran jantung yang begitu hebat hanya karena melihat senyum gadis centil itu.
Setelah beberapa menit perjalanan sampailah mereka direstoran cepat saji pilihan Clara. Gadis itu sempat terheran-heran begitu melihat Jevan mengendarai mobil. Berkali-kali ia bertanya apa benar ini mobilnya sampai akhirnya Jevan sendiri kesal dan ingin rasanya menyumpal mulut gadis itu.
Kalau selama ini Jevan memiliki mobil, kenapa ia lebih senang membawa motor yang harus kepanasan dan kehujanan? Lebih cepat dan praktis, itu jawaban pria itu tadi.
Padahal hari ini Clara sudah memakai celana bukan rok agar lebih mudah kalau-kalau Jevan memberi tumpangannya lagi. Tapi begitu melihat Jevan membawa mobil, ia sedikit menyesalinya. Karena menurutnya ia akan terlihat lebih sexy kalau pakai rok.
"Je fotoin" ia tersenyum dan bersiap-siap foto dengan pesanan makanannya yang baru saja diantar.
"Jangan norak"
Clara mencebikkan bibirnya, menatap sinis Jevan, "kali aja kalo hasilnya bagus nanti gue bisa jadi model buat restoran ini. Cepetan fotoin"
Jevan memutar bola matanya malas lalu mengeluarkan ponsel dari saku celana. Ia mengarahkan kamera ke gadis di depannya yang sudah bersiap-siap untuk difoto. Ia sudah melepas blazernya lalu menempatkan burgernya tepat didepan mulut yang terbuka seperti ingin menggigitnya.
Pria itu sedikit menyunggingkan senyumnya saat melihat pose Clara. Tapi ia tidak bisa memungkiri walaupun dengan pose seperti itu, gadis itu tetap terlihat cantik.
Cekrek.
"Bagus gak?" Tanyanya meletakkan kembali burger di piring
"Jelek" ia menyerahkan ponsel ke Clara yang langsung mencemberutkan wajahnya. Dalam hati Jevan terkekeh melihat wajah menggemaskan itu.
"Bagus banget Je" pekik Clara girang dengan senyuman cerianya "gue kirim ke line gue ya. Terus nanti gue jadiin wallpaper di hp lo"
Uhuk. Uhuk.
Jevan tersedak mendengar kalimat terakhir Clara, ia menyambar minumannya dan menyeruputnya sampai setengah. Sedangkan gadis itu mengerutkan dahinya bingung, memang ada yang salah dengan ucapannya?
"Nanti handphone gue mati lagi. Sini"
Clara sedikit membanting ponsel Jevan di meja lalu mendorongnya ke arah si empunya yang sudah melotot ke arahnya. Bukannya takut, Clara justru menjulurkan lidahnya ke arah Jevan.
Perut Clara masih terasa sangat penuh dan kenyang tapi Jevan sudah mengajaknya kembali ke kantor. Dengan wajah cemberut Clara mengenakan kembali blazernya lalu berdiri dan berjalan sambil menggerutu sebal menyusul Jevan yang sudah berjalan lebih dulu menuju pintu keluar.
"Jevan? Clara?"
Mendengar seseorang menyebut namanya, Clara mengangkat kepala. Senyuman langsung merekah diwajah cantiknya.
"Kak Jasmine" serunya heboh yang langsung memeluk singkat wanita cantik itu dan bercipika-cipiki dengannya
Dirga yang berdiri disebelah istrinya langsung menjauhkan tubuh Clara,
"Apaan sih Ga? Ganggu aja" sungut Clara sebal
"Kalian lagi makan siang? Kok bisa barengan?" Tanya Jasmine menatap Jevan dan Clara bergantian
Dirga memicingkan matanya, "jangan bilang kalo kalian sekantor"
"Emang kenapa kalo sekantor? Masalah buat lo?" Ujar Clara menantang
"Gue cuma kasian sama Jevan pasti digangguin terus sama lo" jawab Dirga
"Jevan justru seneng sekantor sama gue"
Dirga langsung membuat gerakan ingin muntah mendengar ucapan Clara membuat gadis itu mendelik ke arahnya. Sementara Jasmine dan Jevan asik memperhatikan dua sepupu yang sedang berseteru ini.
"Jevan pasti tertekan sekantor sama lo" sambung Dirga
Baru saja Clara akan kembali menanggapi ucapan Dirga sudah ada sebuah tangan yang membekap mulutnya. Ia melirik ke sampingnya ternyata Jevan yang merangkul bahunya lalu telapak tangannya digunakan membekap mulut Clara.
Jantung Clara langsung berdetak cepat. Lengan kokoh ini merangkul bahunya dan tubuhnya merapat ke sisi tubuh Jevan--membuatnya bisa menghirup dengan jelas aroma parfum Jevan. Jasmine tersenyum melihat perlakuan adiknya pada Clara. Sementara Dirga tertawa puas melihatnya.
"Kita emang sekantor kak. Kebetulan aja tadi makan bareng. Kakak juga lagi makan siang?"
Jasmine menganggukkan kepalanya, "iya Je. Oh iya, Ael nanyain kamu katanya kok gak main-main"
"Nanti pulangnya aku mampir"
Clara mendongakkan menatap Jevan, "Je—hmmppt" baru saja akan berbicara pria itu sudah kembali membekap mulutnya
"Yaudah kalo gitu kita duluan Je. Kamu lakban aja mulutnya kalo masih berisik" ucap Dirga tersenyum meledek ke arah Clara yang mendelik ke arahnya lalu pergi meninggalkan mereka. Sepeninggal pasangan suami istri itu. Jevan melepaskan tangannya, melirik sekilas ke arah Clara lalu melangkah keluar restoran membuat Clara menghentakkan kakinya kesal.
"Je nanti gue ikut ke rumah kak Jasmine. Ikut ya Je, please"
Ia sudah duduk di kursi penumpang depan sambil mengusap-ngusapkan kedua telapak tangannya memohon pada Jevan yang sedang memasang seatbelt.
"Pakai seatbeltnya" hanya itu yang diucapkan Jevan lalu menyalakan mesin mobil
Clara mengabaikan ucapan Jevan, ia masih terus menerus memohon, "Je, gue ikut. Mau ikut ketemu Ael sama Leca"
Jevan memejamkan matanya sejenak lalu menghela nafas dan mengubah posisinya menjadi miring menghadap Clara. Ia menatap gadis itu lekat-lekat mengunci pandangannya hingga membuat Clara menghentikan permohonannya dan berganti dengan debaran jantungnya yang sudah marathon.
Perlahan tapi pasti Jevan memajukan wajahnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Clara dengan masih terus mengunci tatapan gadis itu. Clara terus memundurkan kepalanya ke belakang tapi sudah tidak bisa. Susah payah ia menelan ludahnya sendiri melihat jarak wajahnya dengan Jevan yang begitu dekat.
Bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas hangat Jevan. Dari jarak sedekat ini ia bisa melihat dengan jelas wajah tampan Jevan. Mata coklatnya yang selalu dibingkai kacamata berbingkai hitam. Rahangnya yang tegas. Hidungnya yang mancung. Sedikit bulu-bulu kasar sehabis dicukur terlihat di bawah hidungnya. Dagunya yang sedikit terbelah dua membuatnya semakin tampan.
Oh Tuhan, Clara sesak nafas. Ia butuh oksigen sekarang. Kedua tangan gadis itu sudah meremas kencang celana putihnya sendiri. Jantungnya makin berdetak tak beraturan.
Klek. Clara melirik sekilas ke arah tubuhnya. Ternyata sejak tadi Jevan memakaikannya seatbelt. Ia bahkan tidak menyadari hal tersebut karena terlalu terpesona dengan ketampanan Jevan.
"Bawel" satu kata yang mampu membuat mata Clara membulat dan refleks melipat bibirnya ke dalam agar tak lagi bersuara.
Setelahnya Jevan menarik tubuhnya dan duduk normal di kursi kemudi. Sementara Clara menghela nafas lega dengan mata terpejam dan berusaha mengatur debaran jantungnya. Hampir saja Clara lupa caranya bernafas begitu dihadapkan wajah tampan Jevan dengan jarak sedekat tadi. Jevan menoleh sekilas ke arahnya lalu tersenyum saat melihat Clara yang terlihat gugup dan salah tingkah hanya karena perbuatannya tadi.
"Apa liat-liat?" Tanya Clara galak
HAHAHA. Jevan tertawa puas melihat gadis di sampingnya yang berubah menjadi singa betina karena perbuatannya barusan. Sementara Clara, ia semakin terpaku dengan ketampanan prja itu yang kian bertambah ketika tertawa lepas seperti ini. Tawa pertama Jevan karena Clara dan untuk Clara.
Tuhan, jadikan dia jodohku dan ayah dari anak-anakku kelak.