Agneta berdiri menatap nanar kemeja putih beserta jaket milik pria yang telah m*****i nya 5 tahun lalu. Kepingan kisah di masalalu nya itu tidak bisa ia lupakan. Walaupun kini rasa bencinya tidak sebesar dulu karena kehadiran Regan membuat rasa bencinya sedikit terobati. Tetapi kini ketakutannya berubah menjadi rasa takut kehilangan Regan, permata hatinya. Agneta menoleh pada anak kecil yang begitu tampan dan sangat serupa dengan pria itu. Kata-kata Dave tadi siang kembali terngiang di telinganya. Seketika air matanya luruh membasahi pipi, berharap semua ketakutannya tak akan pernah terjadi. Agneta berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang. Ia mengusap rambut halus Regan yang terlelap nyenyak. “Jangan pernah tinggalkan Bunda. Apapun yang terjadi, te

