7

2219 Kata
  Dave baru saja selesai melakukan meeting di luar kantor dengan salah seorang client. Ia kini berada di dalam mobil Limosin hitam, tampak menegak sampanye. Tatapan tajamnya menatap keluar jendela mobil, hingga tatapannya menangkap sosok anak kecil yang beberapa hari lalu berkenalan dengannya. Anak itu tampak duduk di sebuah ayunan yang ada di taman sepi. Dave segera meminta sopir menghentikan mobilnya. Ia menyimpan gelas sampanye dan merapihkan jas bagian depannya. Ia beranjak menuruni Limosin itu dan berjalan perlahan tanpa suara mendekati anak laki-laki itu.             “Belum di jemput?” pertanyaan yang meluncur bebas dari bibir Dave membuat bocah itu menoleh padanya dengan mata bulatnya yang begitu lucu dan menggemaskan.             “Om-?”             “Davero, masih ingat?” tanya Dave membuat anak itu mengangguk antusias.             “Om teman kelja Bunda,” ucapnya dengan cadel membuat Davero tersenyum.             “Kenapa sendirian?” tanya Dave dengan senyumannya. Ini adalah sebuah kejadian langka, bahkan sangat langka. Seorang Davero tersenyum pada seorang anak kecil yang sungguh dia tidak pernah menyukai anak kecil.             “Tante Ilen belum jemput Egan,” ucapnya dengan polos.             “Ayo ikut Om, biar Om yang antar kamu pulang,” ucap Davero.             “Tidak Om, Egan tidak mau melepotkan. Kata Bunda, Egan gak boleh ngelepotin oranglain.” Tanpa sadar Dave tersenyum walau itu hanya sedetik saja karena senyuman itu langsung hilang di telan udara. Dave berjongkok dengan bertumpu pada sebelah lututnya. Matanya yang pekat dan tajam menatap mata Regan yang juga memiliki mata pekat walau terlihat polos dan lembut.             “Aku adalah teman kantor Bunda kamu, apalagi aku sudah pernah ke rumahmu. Jadi kamu tidak akan merepotkanmu, jadi ayo aku antar,” ucap Dave.             “Tidak bisa Om,” ucap Regan dengan sedikit gugup.             “Apa mau di temani saja di sini?” tanya Dave.             “Egan punya uang koin,” ucap Regan seraya mengeluarkan uang koin seribu rupiah dari saku celana sekola nya. “Bagaimana kalau ini sebagai bayalan Om mengantal Egan pulang?” tanya Regan tampak ragu-ragu menatap Dave yang tak bergeming di tempatnya.             “Kalau ini kulang, nanti sisanya akan Egan bayal kalau Egan ketemu Bunda,” tambahnya dan kali ini Dave bergeming dari keterpakuannya. Matanya yang tajam dan mengerikan menusuk ke relung mata polos milik Regan. Siapa anak ini? Batinnya.             Davero tak bergeming karena perasaannya yang campur aduk, ia tidak mengerti dengan apa yang terjadi dengan perasaannya. “Baiklah, aku terima bayaran ini. Ini sudah cukup untukku,” ucap Davero menerima koin itu membuat senyuman Regan mengembang lebar. Tanpa sadar, senyuman itu menular pada Dave hingga Dave membalas senyuman bocah polos itu dengan senyuman kecilnya dan tampak jarang ia perlihatkan selama ini.             Dave memangku tubuh Regan ke dalam gendongannya dan membawanya menaiki Limosin yang terparkir tak jauh dari tempatnya. Ia mendudukan Regan di sampingnya dan ia menyusul menaiki Limosin itu dan meminta sang sopir untuk melajukan mobilnya. Regan tampak menatap sekeliling mobil yang tampak luas. mobil ini bukan mobil sedan kebanyakan karena ukurannya jga cukup panjang di banding mobil sedan kebanyakan. Di dalam mobil inipun terdapat sebuah jok mobil yang begitu mirip dengan sofa mewah berwarna gold dengan meja sudut yang berbentuk memanjang dengan berbagai jenis minuman alkohol bermerek mahal dan mewah berjajar di sana.             “Di sini banyak sekali minuman,” ucap Regan membuat Dave tersenyum padanya. Entah kenapa di samping Regan, Dave menjadi sosok yang lebih banyak tersenyum dan itu adalah sebuah kegiatan langka yang terjadi padanya.             “Iya, tapi sayangnya aku tidak bisa memberikannya untukmu, Jagoan kecil,” ucap Dave membuat Regan cemberut lucu.             “Om tau, Egan menunggu tante Ilen di sana cukup lama dan Egan sangat haus. Tetapi Om malah pelit tidak belbagi minuman-minuman itu untukku,” ucapnya dengan begitu lucu dan itu membuat Dave terkekeh mendengarnya.             Terkekeh? Bahkan sang sopirpun tercengang mendengar kekehan ringan yang tak pernah ia dengan selama ini dari seorang Davero. Selama puluhan tahun ia mengabdi di keluarga Wiratama tetapi baru kali ini ia mendengar kekehan dari atasannya. Atasannya yang sangat arogant, dingin dan juga di takuti oleh siapapun karena sikapnya yang sungguh menakutkan. Sungguh anak kecil ajaib, membuat sang Devil akhirnya tunduk.             “Kau merajuk, hm.” Dave mengusap kepala Regan dengan gemas. “Baiklah begini saja, bagaimana kalau kita makan Bento sebelum pulang?”             “Benalkah?” tanya Regan dengan mata yang berbinar lucu. Entah hanya perasaan Dave saja atau apa, anak ini sungguh mirip dengannya. Garis wajahnya, matanya, tatapannya, hidungnya. Ya itu sangat mirip dengan dirinya.             Dave memangku tubuh Regan memasuki tempat makan. Ia memesan dua buah bento untuknya dan Regan. Mereka memilih salah satu meja di dekat jendela besar yang menjadi dinding pembatas tempat makan itu.             “Ini untukmu, Jagoan!” ucap Dave membuat Regan berbinar menatap makanannya penuh minat. “Dan berhenti mengatakan kalau aku pelit.”             “Tidak, Om sangatlah baik,” kekehnya mulai menyuapkan makanannya dengan lahap.             “Kau sangat pintar bersilat lidah ternyata,” ucap Dave ikut menikmati makanannya membuat Regan menampilkan cengiran kudanya dengan lebar.             Dave melihat Regan makan dengan begitu lahap hingga membuatnya cemong dan itu sungguh membuat Dave gemas melihatnya. “Regan,”             “Iya,”             “Om boleh bertanya sesuatu,” ucap Dave yang di angguki Regan.             “Apa Ayahmu bekerja di luar kota?” tanya Dave membuat Regan mengernyitkan dahinya. Ia sedikit bingung harus menjawab apa.             “Kata Bunda, Egan tidak punya Ayah karena Ayah sudah pergi meninggalkan kami,” ucap Regan dengan polosnya membuat Dave merenung.             “Benarkah?” tanya Dave yang di angguki Regan.             “Egan belum pelnah beltemu Ayah asli Egan,” ucapnya membuat Dave menatapnya dengan prihatin.             “Sudahlah, tanpa Ayahmu juga Bunda mu sudah bisa merawat dan mendidikmu dengan baik seperti ini.” Dave mengatakannya dengan seringai kecil. Entah kenapa mendengar penuturan Regan membuatnya memiliki secerca harapan untuk mengambil Agneta kembali. Wanita yang sudah membuatnya tersiksa selama beberapa tahun ini. Wanita yang membuatnya menjadi semakin tertutup dan hampir gila karena tak menemukan Agneta. Sekarang dia tidak akan melepaskannya lagi. Tidak akan pernah.             “Egan tidak sedih Om, kalena Egan memiliki banyak kelualga dan Ayah Ai-“ ucapan Regan terhenti karena Dave menerima panggilan masuk. Dave tampak sibuk dengan seseorang di sebrang sana, dan Egan memilih kembali menghabiskan makanannya yang begitu menggugah.             “Regan, apa kau sudah selesai makan?” tanya Dave yang di angguki Regan. “Kita pulang yah, Om ada sedikit pekerjaan.”             “Iya Om,” ucap Regan.             Tangan Dave terulur mengambil salah satu tissue dan mengusap pipi Regan yang tampak cemong. Setelahnya Dave kembali menggendong tubuh Regan dan membawanya keluar dari tempat makan itu. ***             Agneta tampak resah di dalam rumahnya, ia sudah menangis terisak saat terakhir mendengar kabar dari Iren. Ia terpaksa ijin pulang dari kantor saat mendengar kabar kalau Iren tak menemukan Regan di sekola. Iren memang terlambat menjemput karena ojek yang biasa mengantarnya datang terlambat, tetapi saat sampai di sana, ternyata sekola sudah kosong dan Regan tak ada di sana. Agneta bahkan sudah pergi kesana dan mencarinya tetapi juga tetap tak menemukan Regan. Agneta sempat menghubungi Aiden, tetapi Aiden sedang melakukan pertemuan dengan Mr. Oktavio dan ia akan segera datang saat meetingnya selesai.             “Regan kamu dimana,” isaknya sungguh kentara. Hatinya berdebar sakit, ia tidak pernah kehilangan Regan seperti ini. Pikiran negative terus bergelayut di pikirannya, apalagi sekarang sedang musim kasus penculikan anak kecil. Mengetahui kenyataan itu membuat hati Agneta semakin khawatir dan sangat gelisah.             Gerakannya terhenti saat mendengar kekehan Regan, ia berlari keluar rumahnya. “Regan!” panggilannya dan matanya membelalak saat melihat Regan datang bersama siapa. “Dave,” gumamnya.             Regan tampak terkekeh dalam gendongan Dave yang juga tersenyum kepada Regan. “Bunda,” teriak Regan. Dave menurunkan Regan membuat Regan berlari ke arah Agneta dan memeluk Agneta. Ada rasa takut di hati Agneta, takut kalau Dave akan menyadari siapa Regan. Ada ketidakrelaan di dalam hatinya melihat Regan dekat dengan Dave.             “Masuk Regan!” ucap Agneta penuh penekanan.             “Bunda, maafkan Egan. Tapi Egan sudah membayal Om Vero untuk biaya mengantalkan Egan pulang,” ucapnya dengan polos.             “Masuklah dulu, dan ganti bajumu bersama tante Iren,” perintah Agneta membuat Regan akhirnya mengangguk dan masuk kedalam hingga kini menyisakan Dave dan Agneta.             Agneta menatap Dave dengan tatapan membunuhnya sedangkan Dave tampak santai dengan menyusupkan kedua kepalan tangannya ke dalam saku celana hitamnya yang berkilau tampak sekali harganya begitu mahal. “Tolong Pak Wiratama yang terhormat, jangan usik lagi kehidupan saya!” peringatan Agneta. Agneta terpaksa memperingati itu pada Dave, dia terlalu takut Dave akan menyadari siapa Regan. Dan kalau Dave tau kalau Regan adalah putra kandungnya, bisa saja dia berbuat sesuatu. Dan yang paling Agneta takutkan adalah Dave akan memisahkan Regan dengan Agneta. Sungguh itu adalah sesuatu yang sangat tidak pernah ingin terjadi dalam hidup Agneta. Regan adalah kehidupannya, Regan adalah nyawanya. Segalanya adalah Regan, dan kalau sampai ia kehilangan Regan, dia tak yakin mampu bertahan hidup lagi.             “Ada apa Agneta? Kau tampak takut sekali, tenanglah aku tidak berniat menculik putramu dan menjualnya,” ucap Dave dengan nada geli karena melihat ketakutan yang begitu jelas di mata Agneta.             “Anda tidak perlu repot-repot lagi mengantarnya pulang, terima kasih untuk bantuan anda, Mr.Wiratama.” Agneta mengatakannya dengan penuh penekanan dan memalingkan wajahnya saat mengingat kejadian kemarin dimana Dave menciumnya. “Maaf, saya harus mengurusi putra saya dulu,” ucap Agneta seakan mengusir Dave dengan halus. Ia beranjak memasuki rumahnya meninggalkan Dave yang masih tak bergeming di tempatnya.             Dave ingin sekali menerjang Agneta dan memerintah Agneta untuk berhenti bersikap formal padanya. Ia tidak suka cara tatap Agneta padanya. Tetapi Dave sadar, semuanya perlu waktu. Dan ia tidak akan merusak segalanya. Akhirnya ia memilih berlalu pergi meninggalkan tempat itu.             Jarak setengah jam datanglah sebuah mobil mewah lainnya berwarna silver dan sang empu keluar dengan tergesa-gesa. “Agneta,” panggilnya saat Agneta membuka pintu rumahnya.             “Aiden,” ucap Agneta.             “Bagaimana Regan?” tanya Aiden tampak khawatir.             “Dia sudah pulang dan sekarang sedang bersama Iren, tadi temanku yang mengantarnya pulang,” ucap Agneta menutupi kebenaran kalau Dave lah yang mengantarnya.             “Syukurlah, aku sangat khawatir sekali,” ucap Aiden menarik Agneta ke dalam pelukannya. Agneta memejamkan matanya dan menenggelamkan wajahnya di d**a bidang Aiden.             “Oh Shitt!!!” umpat seseorang yang bersembunyi di sudut yang tersembunyi.             “Permainan macam ini!” sahut yang lain.             “Wanita yang Dave sukai adalah kekasih Aiden,” ucapnya.             “Gue tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi nanti saat mereka tau akan hal ini,” ucap yang lainnya.             “Loe yang laporkan ini pada Dave,” ucapnya.             “Kenapa harus gue, Kay?” pekiknya.             “Karena loe Kakak gue, Key,” seru Kay.             “Saat kondisi seperti ini baru kau mengakuiku sebagai Kakakmu, dasar sialan!” pekik Key.             “Karena di saat seperti ini sosok Kakak di perlukan,” ucap Kay dengan senyuman paling menyebalkannya membuat Key ingin sekali mencukur semua jambang yang ada di rahang Kay.             “Kita sebaiknya mencari tau lagi lebih banyak. Karena gue penasaran dengan Ayah kandung Regan,” ucap Kay mengusap jambangnya dengan tangan.             “Kenapa? Kau tak lihat handphone mu yang sudah penuh panggilan dan pesan dari Big Boss untuk menanyakan hasil penyelidikan kita,” ucap Key.             “Ayolah Key jangan bodoh,” ucap Kay.             “Kau sungguh Adik yang durhaka,” sindir Key dengan kesal membuat Kay terkekeh kecil.             “Kau lihat wajah anak tadi?” tanya Kay.             “Ya, kenapa dengan wajahnya?” tanya Key tampak malas menyahuti, dia malah tampak resah bagaimana cara untuk melaporkan hasil penyelidikannya ini pada Davero. Bahkan ia dan kembarannya melihat langsung Dave yang beberapa menit lalu datang dan kini Aiden yang di sambut hangat oleh Agneta.             “Wajah anak itu mengingatkanku pada Davero kecil,” ucap Kay membuat Key menengok.             “Benarkah? Mungkin karena tadi dia di gendong Dave jadi kau melihatnya seperti iitu,” ucap Key seakan tak percaya.             “Kemana saja matamu sejak tadi, Key? Kau bahkan tidak menyadari kejanggalan itu, dasar detektif payah,” gerutu Kay beranjak dari persembunyiannya saat Aiden dan Agneta sudah masuk ke dalam rumah. Ia berjalan menuju ke depan dimana mobilnya di parkir diikuti Key.             “Terima kasih atas pujianmu Adik yang Manis,” sindir Key yang kini berjalan di samping Kay.             “Aku harus tau apa yang terjadi di masalalu Agneta dan Davero. Dan siapa ayah kandung bocah itu,” ucap Kay. Dia sangat mengenal Dave, dia tau kalau Dave tidak menyukai anak kecil. Dan melihat kedekatannya tadi dengan Regan sudah pasti bukan karena untuk mencuri perhatian Agneta, tetapi karena Dave memang menyukai bocah itu. Di tambah wajah itu, wajah yang begitu mirip dengan Davero kecil.             “Kau tidak berniat menjatuhkan diri ke selokan itu kan karena frustasi mendapat kebenaran ini,” ucap Key menyadarkan Kay. Kay tersadar arah jalan kakinya dan ia menggerutu kesal saat ujung kakinya sudah menyentuh ujung daratan dan di hadapannya terdapat selokan. Key tertawa geli melihat gerutuan Kay. Mereka berjalan beriringan menuju mobilnya.             “Persiapkan dirimu untuk melaporkan semua hasilnya, Kakak!” ucap Kay membalas ejekan Key tadi membuat Key merengut kesal.             “Kita berdua yang melapor,” ucap Key.             “Tidak,”             “Kita saudara kembar, jadi kalau aku terkena amukan, maka kau juga. Itulah takdir dari saudara kembar,” ucap Key dengan senyuman lebarnya, ia senang karena mendapatkan jalan keluar dari keresahannya.             “Kau mengakuiku sebagai saudara kembar, sungguh sebuah keajaiban,” gerutu Kay beranjak memasuki mobilnya diikuti Key.             “Mari kita berdoa sebelum mendapatkan amukan dari Lucifer,” ucap Key yang tak di respon Kay. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN