ADULT ALERT 21++
Setelah sholat, Hendrick masuk kamar Dee dan membangunkannya.
"Sayang, bangun... sudah masuk ashar, ibu sudah pulang, Tony juga datang ini. Bangun sayang!" Hendrick mengecup ringan bibir Dee.
"Mmmm.... iya!" Dee meregangkan tubuhnya, lalu perlahan membuka matanya.
"Sholat dulu, sebentar lagi Lucky dan Yetnu sampai sini juga. Selesai kamu sholat, aku mau pulang dulu." Hendrick duduk di tepi ranjang, membantu Dee duduk.
"Pulang? Kenapa?" tanya Dee kecewa.
"Nggak enak sama ibu, kan sudah seharian di sini. Kalau nuruti hati sih aku nggak ingin pulang ninggalin kamu, sayang!" Hendrick mengusap kepala Dee dengan penuh kasih.
"Oh...!" Dee menunduk sedih.
"Besok aku janji jemput kamu sekolah, pulangnya kita jalan dulu sebelum kuantar balik, gimana?" bujuk Hendrick.
"Nggak usah, aku sholat dulu!" Dee beranjak turun dari ranjang, dan bergegas menuju tempat wudlu.
"Hah... kalau nuruti kata hati sih, kamu aku bawa balik Dee!" gumam Hendrick frustasi.
Hendrick keluar dari kamar Dee, lalu berjalan menuju ruang tamu, menemani Toni menonton tv.
"Ngapain muka ditekuk gitu?" tanya Tony melihat kerutan di kening Hendrick.
"Dee ngambek karena aku pamit mau pulang!" Hendrick menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Hah? Mbanyol tuh anak, kasmaran banget kelihatannya sampai kamu tinggal aja nggak mau!' goda Tony.
"Memang kamu nggak pernah kasmaran? Kalau dibolehin ibu sih, Dee mau ku bawa pulang!" gumam Hendrick.
"Jangan cari gara-gara kau!" ancam Tony, Hendrick hanya terkekeh geli.
"Assalamu'alaikum!" Bu Tuti masuk rumah bersama Tama dan Destri, lalu menyusul Lucky dan Yetnu.
"Hendrick makan malam di sini ya?!" ajak Bu Tuti.
"Ah, saya mau pulang ini bu, nunggu Dee selesai sholat." jawab Hendrick.
"Sekalian makan malam dulu di sini, baru pulang, lagian apa Diane bolehin kamu pulang?" goda Bu Tuti.
"Uhuk... Uhuk... I-iya bu, saya makan di sini, maaf ngrepoti ibu!" Hendrick menggaruk kepalanya yang tidak gatal untuk menutupi kegugupannya.
"Ya wes, kalian ngobrol dulu, Tama Destri main sendiri dulu ya, ibu mau masak!" Bu Tuti bergegas menuju dapur dan mulai memasak.
"Rick, do you have something you need to tell us?" tanya Lucky sambil menatap penuh selidik ke arah Hendrick.
"No, I don't!" jawab Hendrick singkat.
"Are you sure?" desak Lucky.
"100%!" sahut Hendrick dengan nada datar.
Tony mengangkat sebelah alisnya.
Dee pasti nggak ingin ada yang tau tentang hubungan mereka. Batin Tony.
"Sudah, kalau ada sesuatu juga bakal bilang, ngapain sih Ky?" Tony menengahi.
"Ya aneh aja gitu, kok segitunya Hendrick ngehajar si Ghani, hidungnya patah, gigi lepas 3, belum lagi tuh kemaluan yang diinjak Hendrick!" Lucky bergidik ngeri.
"Apa anehnya, siapa sih yang nggak marah kalau cewek yang disukai dilecehkan cowok lain?" jawab Hendrick geram. "Lagian suruh siapa dia gesekin kelaminnya ke tubuh Dee, pake ngomong kaya gitu, Dee sampai nangis di tidurnya tadi. Rasanya pengen kupotong itu tangan dan kaki ketiganya!" sambung Hendrick berapi-api.
"Heh, mau jadi kriminal kamu?" tanya Yetnu.
"Ini diminum dan dicemil dulu, aku bantu ibu masak!" tiba-tiba Dee datang membawa nampan berisi empat cangkir teh, sepiring brownies dan sepiring tahu isi.
Hendrick bangkit dan mengambil nampan dari tangan Dee, lalu meletakkannya di meja.
"Berat, kenapa nggak manggil kita buat bantu bawa?" tanya Hendrick.
"Segitu sih nggak berat, Hend." jawab Dee yang langsung berbalik menuju dapur lagi.
"Whoi, pandangan dikondisikan bisa nggak sih? Aku tau kamu suka sepupuku, tapi nggak usah segitunya ditunjukin lah! Geli!!" goda Yetnu, "Mata memandang penuh cinta, nggak kaya Hendrick aja!" tambahnya disambut gelak tawa Tony dan Lucky.
Hendrick mendengus kesal, apa salahnya menatap kekasihnya dengan penuh cinta???
"Freddy gimana? Sudah baikan?" tanya Hendrick.
"Demam tinggi dia, siang tadi masuk rawat inap karena suhunya 41°C." jawab Yetnu.
"Mau nengok?" tanya Tony.
"Jam besuk malam ada ga sih?" tanya Lucky.
"Dia di VVIP, bebas jam kunjungnya!"
jawab Yetnu.
"Ya udah, habis makan malam aja kita kesana." usul Tony.
"Dee diajak?" tanya Lucky.
"Tanya aja nanti, dari subuh tadi dia sudah heboh ngajak nengok ke rumah." jawab Yetnu.
Hendrick mengerutkan keningnya tanda tak suka.
"Aku bantu bulik dulu deh, nggak enak duduk doang di sini. Kalian mending main sama Tama dan Destri deh!" Tony bangkit dan berjalan ke arah dapur.
Sesampainya di dapur, Tony langsung menanyakan apa yang bisa dibantu.
"Cuci berasnya aja Ton!" ucap Bu Tuti.
"Ibu istirahat aja lah, biar Diane sama mas yang masak!" sahut Dee sambil membaluri ayam dengan bumbu marinasi.
"Iya bulik, istirahat aja!" sambung Tony.
"Ndak popo ta?" tanya Bu Tuti.
" Ndak papa Bulik.... Oh iya bulik, nanti habis makan malam mau ajak Dee nengok Freddy, dia masuk RS tadi siang." ucap Tony.
"Lho, sakit apa?" tanya Bu Tuti.
"Freddy masuk RS? Kenapa nggak bilang?" tanya Dee, nadanya 1 oktaf lebih tinggi.
"Ya kamu balik tadi. Demam 41°C jadi mau ga mau dibawa ke RS!" jawab Tony.
"Habis masak aja, bawa makanan ke RS, makan sama-sama di sana biar pulang ndak kemalaman, besok masih sekolah!" sahut Bu Tuti.
"Iya, bulik." jawab Tony yang segera mencuci beras.
Setelah Bu Tuti masuk kamar, Dee dan Tony langsung memasak bahan yang sudah di sediakan.
Pukul 17:20, semua masakan sudah selesai di masak. Dee mengambil food container dan mulai mengemas makanan untuk dibawa ke rumah sakit, sementara Tony mandi dan meminjam pakaian Yetnu untuk ganti baju.
Setelah Tony mandi, dia menyuruh Dee untuk segera mandi dan sholat maghrib. Tepat pukul 18;00, mereka berangkat menuju rumah sakit. dengan mengendarai motor, setelah drama siapa yang boncengin Dee.
Pada akhirnya Dee membonceng motor Hendrick, mereka berdua mampir ke kost Hendrick dulu karena Hendrick ingin ganti baju, sementara yang lain sepakat menunggu di pintu bangsal VVIP.
Sesampainya di kost, Hendrick cepat-cepat berganti pakaian, dia tak nyaman memakai baju Yetnu karena ukurannya yang tidak sesuai, badan Hendrick sedikit lebih besar dibanding Yetnu. Dee menunggu di ruang tamu sambil memainkan ponselnya.
"Yuk sayang!" Hendrick keluar dari kamarnya, memakai polo shirt putih dan celana chino selutut warna abu gelap terlihat sangat tampan, Dee menatapnya tak berkedip.
"Sayang?" panggil Hendrick sambil melambaikan tangannya di depan mata Dee.
"Ah... ya?" Dee terlonjak kaget.
"Ngelamunin apa?" tanya Hendrick.
"Nggak kok.... Harus banget ya ke rumah sakit seganteng ini?" gerutu Dee.
"Apa? Aku ganteng?" goda Hendrick.
"Aku ke rumah sakit sendiri aja, aku nggak mau ada perawat atau cewek yang melototi kamu nanti!" omel Dee sambil beranjak mengambil tasnya, melangkah keluar sambil membuka aplikasi ojek online.
"Hey, sayang... Aduh, iya iya sebentar." Hendrick menahan tangan Dee dan dengan sebelah tangannya Hendrick mengacak rambutnya sampai berantakan.
"Sudah?" tanya Hendrick.
"Iiih.... Kalau gitu malah kelihatan kaya cowo nakal yg sexy. Udah ah, aku ke rumah sakit sendiri!" Dee menarik lepas tangannya lalu berniat keluar dari pavilion Hendrick, tapi Hendrick menariknya ke dalam pelukannya dan mulai mencium Dee dengan gemas.
"Sayang, kalau kita ribut kasihan yang lain sudah nunggu di sana lho!" bisik Hendrick.
"Ya makanya, aku kesana sendiri aja." keukeuh Dee.
"Sayang, kamu kira aku nggak jengkel lihat kamu jadi santapan mata lapar cowok-cowok yang lihatin kamu? Buatku, cewek lain nggak ada artinya, kamu adalah satu-satunya wanita di hatiku. Got it?" bujuk Hendrick seraya mengecup seluruh wajah Dee.
Wajah Dee memerah panas.
"Harus janji, nggak lirik cewek yang godain kamu nanti?!"pinta Dee.
"Kamu juga harus janji, jangan over peduli ke Freddy, Ok?" sahut Hendrick.
"Ga janji, dia kan temanku!" dengus Dee.
"Ya udah, aku juga nggak janji!" ancam Hendrick.
"I dare you!!! Kalau sampai lirik cewek lain, aku nggak akan mau ngomong dan kamu ajak jalan setahun!" Dee balik mengancam.
"I dare you Dee!" Hendrick melotot dengar ancaman Dee.
"Try me then... Let's see, do I really dare to do it!" Dee menatap Hendrick serius.
"GOD!!! Ok... Ok...!! Tapi jangan terlalu dekat ya sama Freddy, I might be drown in jealousy!" Hendrick memohon sambil memeluk Dee.
"Hmmm..." sahut Dee.
Hendrick menarik dagu Dee dan memagut bibir peach Dee dengan lembut.
Setelah beberapa saat, Hendrick melepas bibir Dee dan mengusapnya dengan ibu jarinya.
"I love you!" bisik Hendrick.
"I love you too!" bisik Dee.
"Ayo berangkat!" Hendrick menggandeng tangan Dee dan melangkah keluar.
Hendrick memakaikan helm di kepala Dee, lalu setelah Dee naik, diapun menjalankan motornya perlahan menuju rumah sakit.
Sampainya di pintu masuk pavilion pasien VVIP, tampak Lucky yang bersungut-sungut.
"Kemana aja sih? Lu apain sepupu gue?" omel Lucky sambil mencekal lengan Hendrick.
"Eih, kakak apa-apaan sih? Hendrick mandi dulu tadi, maklumi aja kalau lama!" lerai Dee.
"Awas lu ya, kalau sampai Dee lecet dikit, gue gorok tuh leher!" ancam Lucky.
"Jangan macam-macam deh kak, ade ngga mau punya sepupu kriminal!" sahut Dee.
"Kalau masih mau ribut ngomel-ngomel, lanjutin aja! Aku mau masuk, kangen ngobrol sama Freddy! Sini makanannya!" gerutu Dee sambil menyambar thermal bag yang dibawa Lucky, lalu melangkah lebar menuju kamar rawat inap Freddy.
"Kangen Freddy???" gumam Hendrick kesal, lalu dengan cepat melangkah mengejar Dee.
"What's he mad for?" tanya Lucky bingung.
Tony dan Yetnu hanya mengangkat bahu mereka lalu melangkah menyusul Dee dan Hendrick
Sampai di depan kamar rawat inap Freddy, Dee mengetuk pintu perlahan.
"Assalamu'alaikum...." Dee perlahan membuka pintu
"Wa'alaikumsalam... Eh, Diane.... masuk, sendiri?" tanya kak Maya, kakak sulung Freddy, setelah mempersilakan Dee masuk.
"Rame-rame kak, hai Fred, gimana keadaanmu? Masih demam?" tanya Dee, diletakkannya thermal bag di atas meja tamu lalu berjalan menghampiri Freddy yang tengah berbaring lemas di ranjang rumah sakit.
"Lumayan Dee, lebih baik setelah lihat kamu, seharian kangen setengah mati." jawab Freddy, tak lupa dengan candaan dan godaannya.
"Sakit masih aja gombal!" omel Maya.
"Hehehehe... aku juga kangen, sepi nggak ada kamu, nggak ada yang ngajak bercanda." sahut Dee seraya merapikan rambut Freddy yang sebagian menutup matanya.
"Diane, kakak keluar sebentar ya, mau balik ambil baju ganti, titip adik kakak yang ngeselin ini sebentar." pinta Maya, seraya meraih tasnya.
"Iya kak, tinggal aja, Dee temani Freddy!" sahut Dee, dibetulkannya selimut yang tersingkap dan bantal Freddy karena terlihat tak nyaman.
Di balik pintu, Hendrick menahan emosinya, dia tak jadi masuk ketika melihat Dee dengan penuh perhatian merapikan rambut Freddy tadi.
Tony, Lucky dan Yetnu yang berdiri di belakangnya bingung, kenapa Hendrick nggak segera masuk.
"Whoi, niat masuk nggak? kalau nggak, minggir sono!" omel Lucky seraya menarik minggir Hendrick.
Wajah Hendrick menggelap seketika, tapi dia juga akhirnya ikut masuk mengikuti ketiga orang temannya.
"Ah, kalian sudah datang?" Silakan masuk!" Maya mempersilakan mereka masuk, tapi bingung melihat Lucky.
"Ah, ini sepupuku dari pihak bapak, kak. Kenalin ini kak Lucky!" Dee memperkenalkan Lucky yang lalu menjabat tangan Maya yang menatap lekat ke arah Lucky. Takjub, gen dari keluarga Dee nggak ada yang jelek.
Lucky agak canggung ditatap intens oleh Maya.
"Kak, lepasin tangan Lucky, ilernya dilap, segitunya lihat berondong!" ceplos Freddy membuyarkan lamunan Maya.
"Dasar adik nggak ada akhlak!" Maya melempar dompetnya ke arah Freddy, dan nyaris mengenai kepala Freddy kalau Dee terlambat menangkapnya.
"Kak Maya gimana sih, main lempar dompet seberat ini, kalau kena kepala Freddy gimana?" omel Dee.
"Ya biar aja, biar langsung lempeng tuh otak!" jawab Maya asal.
Lucky melongo, kakak sama adik 11-12 ternyata.
"Kakak balik dulu, tolong titip adik yang ngeselin ini sebentar ya!" Maya mengambil dompet nya dari tangan Dee lalu melenggang pergi.
"Hah...!" Freddy menghela nafas panjang.
"Sudah makan?" tanya Dee.
"Nggak selera Dee, pahit!" jawab Freddy.
"Aku buatin bubur seafood, makan ya?" Dee melangkah ke meja dan membuka thermal bag lalu mengeluarkan rantang berisi bubur seafood yang dia buat untuk Freddy tadi.
Hendrick mengerutkan keningnya, segitunya sampai buatin Freddy bubur????
"Kalian makan dulu aja sekalian, aku nyusul!" Dee menata makanan di meja dan mengeluarkan piring Styrofoam serta sendok plastik dari dalam tas kecil yang dibawanya.
"Iya, bentar!" jawab Tony.
"Diagnosa dokter apa Fred?" tanya Yetnu.
"Typhus sama dehidrasi." jawab Freddy lemah.
"Kok bisa dehidrasi?" tanya Tony, melangkah ke arah sofa dan duduk bersama Lucky, Yetnu menusul setelahnya, lalu mengambil piring dan nasi, lalu lauk dan mulai makan.
Sementara Hendrick hanya berdiri, menatap ke arah Dee yang sedang mengatur posisi Freddy agar nyaman saat makan. Cemburu....
"Aku malas makan minum, rasanya nggak enak!" jawab Freddy.
"Oh, ini masih nggak enak lidahnya?" tanya Dee seraya menarik meja yang disediakan untuk meletakkan makanan saat pasien makan.
"Ya gitulah Dee!" jawab Freddy.
"Tapi tetap harus makan, aku suapi ya? Harus makan, biar cepat sembuh, dua minggu lagi kan ujian, harus cepat sembuh" bujuk Dee.
"Iya deh!" jawab Freddy.
"Kamu kenapa baik banget ke aku Dee, kalau aku jatuh cinta gimana?" goda Freddy, dan tanpa seorangpun yang tau, Hendrick menggeretakkan giginya menahan cemburu.
"Ngomong apa kamu? Kamu itu sahabatku, kalau aku nggak baik ke kamu trus suruh baik ke siapa?" omel Dee, "Nih, buka mulut!" Dee menyendok bubur, meniupnya sedikit lalu menyuapkan ke mulut Freddy.
Freddy dengan senang hati membuka mulutnya, menerima suapan bubur dan mengunyahnya dengan bahagia.
"Terima kasih Dee!" Freddy menatap Dee dengan penuh kasih, membuat Hendrick semakin emosi.
"Sama-sama, enak?" Dee membersihkan ceceran bubur yang menempel di ujung bibir Freddy menggunakan tissue, dan Hendrick sudah tidak tahan lagi.
"Aku keluar sebentar beli minum!" seru Hendrick datar, wajahnya mendung.
"Makan dulu, Hend!" seru Dee, tapi Hendrick tak menggubrisnya, langsung melangkah keluar dan menutup pintu agak kencang.
Dee terlonjak kaget.
"Cemburu.... Kelakuan manusia satu itu memang aneh!" gumam Tony.
"Bisa mati muda lho kalau gitu terus!" gurau Lucky.
"Nggak usah peduliin dia, nih makan lagi Fred!" Dee kembali menyuapkan bubur ke mulut Freddy.
'Maafkan aku, Rick... sekali ini saja, ijinkan aku manja ke Dee, sekali ini saja, setelah itu aku akan merelakannya untuk mu.' Batin Freddy
Hendrick berjalan tergesa menuju minimarket yang berada di dalam rumah sakit. Nafasnya memburu menahan amarah, wajah tampannya pun terlihat menyeramkan, sehingga para wanita yang melihatnya tak berani untuk sekedar menatapnya.
Sesampainya di minimarket, Hendrick langsung mengambil 5 botol minuman lalu membayarnya di kasir.
Setelah itu, dia keluar fan kembali melangkahkan kakinya menuju ruang rawat inap Freddy.
Saat masuk, dia melihat Dee sudah selesai menyuapi Freddy dan membantu membersihkan mulut Freddy menggunakan handuk hangat dengan telaten, lalu membantu Freddy merebahkan tubuhnya du ranjang. Terlihat sangat penuh kasih sayang, sampai hatinya tersa terbakar. Sementara ketiga temannya sudah selesai makan, dan sekarang mereka duduk di dekat ranjang.
Hendrick membagikan minumam yang dia beli tanpa kata, sedangkan Dee beranjak menuju toilet untuk mencuci tangannya.
"Rick, kamu kenapa?" tanya Freddy.
"Nggak kenapa-kenapa!" jawab Hendrick datar.
Dee yang keluar dari toilet, menepuk bahu Hendrick.
"Ayo makan, tinggal kita yang belum makan!" ajak Dee.
Tatapan dan wajah Hendrick sedikit relax saat melihat senyuman Dee, lalu perlahan mengekor di belakang Dee dan duduk di sampingnya.
Dee mangambil piring Styrofoam lalu mengisinya dengan 1,5 centong nasi dan melengkapinya dengan ca kangkung, ayam goreng dan sambal matah. Lalu menyerahkannya pada Hendrick.
"Ini!" ucap Dee seraya tersenyum pada Hendrick.
Hendrick menerimanya dengan senang hati lalu mulai memakannya
Lalu Dee mangambil ca kangkung, ayam dan sambal tanpa nasi untuknya.
Melihat pemandangan itu, Freddy tersenyum getir.
"Kalian berdua ada sesuatu?" tanya Freddy.
"I...."
"Enggak!" jawab Dee cepat, memotong jawaban Hendrick.
Hendrick mengernyitkan keningnya tanda tak suka, mood yang baru saja membaik, langsung memburuk seketika. Nafsu makannya hilang. Dia menyuapkan nasi ke mulut dengan tak selera.
"Oh, sungguh? Aku kira kalian ada sesuatu?" tanya Freddy sembari tersenyum.
"Sungguh, nggak ada!" jawab Dee.
Tony menghembuskan nafas panjang saat melihat ekspresi Hendrick yang menggelap. Freddy, Lucky dan Yetnu pun menyadari hal itu, tapi Dee tidak tau.
SRAK!!!
Hendrick meletakkan makanannya di meja, baru setengah yang dia makan, walau masakan Dee enak seperti biasanya, tapi dia sama sekali tak berselera. Hendrick menegak minumannya sampai tersisa seperempat saja.
"Nggak dihabisin? Aku ngambilinnya kebanyakan? Atau rasanya nggak enak?" tanya Dee heran.
"Nggak selera! Lagi nggak ingin makan ayam!" jawab Hendrick ketus.
DEG!!!
Dee terhenyak mendengar jawaban Hendrick, wajahnya murung.
"Maaf!" Dee menundukkan wajahnya, dan perlahan dia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
Tony, Lucky, Yetnu dan Freddy yang melihat perubahan ekspresi Dee langsung menatap marah ke arah Hendrick.
Dee menggeser duduknya menjauh dari Hendrick, dia tetap makan dalam diam sampai makanan di piringnya habis.
Lalu dia mengambil sisa makanan Hendrick, dan kembali duduk untuk memakannya.
Lucky dan Yetnu membeliakkan matanya saat Dee mulai menyuapkan makanan sisa Hendrick ke mulutnya. Hendrick pun kaget sampai terlompat berdiri.
"What the hell are you doing DIANE???" bentak Lucky.
"Don't eat that!" Lucky menghampiri Dee lalu merebut piring yang ada di tangan Dee, lalu meletakkannya di meja.
"Sayang dibuang, masih banyak, lagian aku sudah cape-cape masaknya, ibu juga susah payah belanjanya! Kakak tau kan, di keluarga kita nggak boleh mubadzir makanan.!" jawab Dee sambil meraih kembali piring bekas Hendrick tadi.
"I'll finish it all!" Hendrick merebut piringnya dari tangan Dee dan mulai memakannya sampai habis.
Dee diam saja, wajahnya masih suram. Perlahan dia membereskan meja, mengambil tissur basah, melap meja lalu bergegas ke toilet untuk mencuci tangannya.
Setelah itu, Dee menghampiri ranjang Freddy, lalu duduk di kursi yang ada di dekat ranjang.
"What's with this face? My angel lost her pretty face?" goda Freddy.
"Kamu kapan boleh pulang?" tanya Dee tanpa menanggapi godaan Freddy.
"Mungkin lusa, kenapa?" jawab Freddy lalu balik bertanya pada Dee.
"Nggak apa-apa, sepi aja gitu nggak ada kamu kalau jam istirahat." Dee memaksakan diri untuk tersenyum.
"Senyumnya jangan terpaksa, kalau senyummu tulus, bisa bantu aku cepat sembuh!" goda Freddy sambil mencubit kedua pipi Dee.
"Apaan sih, Fred... Sakit tau!" gerutu Dee, Freddy terkekeh lalu melepas pipi Dee
"Jangan salahin Freddy, pipimu memang cubitable Dee!" Lucky memalingkan wajah Dee ke arahnya, lalu dengan gemas mencubit kedua pipi Dee.
"Aaaah, sakit kaaaaak...!!!" pekik Dee.
"Nggak cuma pipi, hidungnya juga tarikable!" giliran Tony menarik hidung Dee perlahan.
"Aaaaaah.... mas jeleeeek!!!!" pekik Dee kesakitan sambil mengerucutkan mulutnya, tangannya mengusap pipi dan hidungnya yang memerah.
"Satu lagi nih, bibirnya sentilable juga, wkwkwkwkwk!!!" Yetnu dengan tak berperasaan menyentil bibir manyun Dee.
"Yaaa.... Yetnu!!! Do you want to die???" ancam Dee, Yetnu hanya membalasnya dengan juluran lidah.
"Nah gitu dong, I like you when you are this lively, Dee!" Freddy mengusap lembut kepala Dee.
Hendrick yang sudah selesai makan melihat interksi Dee dengan Freddy kembali terbakar amarah. Kenapa dia hanya bisa membuat Dee sedih, sedangkan Freddy selalu bisa membuat Dee tertawa.
Pukul 19:30, Maya tiba di rumah sakit, lalu mereka berlima berpamitan.
"Kami balik dulu ya Fred, cepat sembuh ya!" pamit Dee pada Freddy sambil merapikan selimut Freddy.
"Aamiin, makasih ya sudah ditengok!" sahut Freddy.
"Kami balik dulu kak Maya!" setelah berpamitan pada Maya, mereka bersama-sama keluar dari kamar Freddy.
"Dee, balik sama siapa?" tanya Tony, dia tau Dee moodnya lagi nggak baik, Hendrick pun sepertinya moodnya kacau karena Dee terlalu care pada Freddy tadi.
"Aku balik sama ma...."
"Balik sama aku!" jawab Hendrick cepat memotong jawaban Dee.
Lucky mengernyit tak senang.
"Ya udah, antar Dee balik, baik-baik sama dia!" pesan Tony, tangannya mencegah Lucky untuk bicara.
"Kami bertiga duluan!" Tony melangkah pergi, saat di samping Hendrick dia berhenti sejenak.
"Jam 21:00 sudah harus sampai rumah, aku buat alasan ke bulik, tapi ingat, kau tak boleh macam-macam!" bisik Tony setengah mengancam.
"Aku tau, thanks!" sahut Hendrick.
Setelah semua pergi, Hendrick meraih tangan Dee.
"Dee, kita ke kostku sebentar ya, kita butuh bicara!" pinta Hendrick.
Dee hanya mengangguk pelan. Mereka berjalan beriringan menuju parkiran, setelah mengambil motor, Hendrick memakaikan helm ke kepala Dee dan memintanya segera naik.
Hendrick menjalankan motornya perlahan, jarak antara rumah sakit dan kostnya hanya 10 menit.
Setibanya di kost, setelah memarkir motornya, Hendrick segera membuka pintu pavilionnya dan meminta Dee masuk.
Dee melepas slip onnya, lalu melangkah masuk ke dalam ruang tamu Hendrick.
Hendrick menutup pintu perlahan, lalu dengan gerakan tiba-tiba, Hendrick memeluk Dee dari belakang.
"Hend.... ada apa ini?" tanya Dee kaget.
"Aku cemburu!!" bisik Hendrick.
"Cemburu?" tanya Dee.
"Kau begitu perhatiannya pada Freddy, aku cemburu... Hanya dia yang bisa bikin kamu tertawa, sedangkan aku selalu membuatmu sedih... Maafkan aku, sayang!" bisik Hendrick sambil membenamkan wajahnya di lekukan leher Dee sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Dee.
"Hend, kamu tau kan kalau aku mencintaimu?" tanya Dee.
"Tau.... Aku juga sangat mencintaimu!" jawab Hendrick.
"So please, have a faith in me, trust me!" pinta Dee.
"Maafkan aku!" Hendrick mengeratkan pelukannya. Aroma tubuh Dee semakin menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya, tiba-tiba membangkitkan sesuatu di bawah sana yang tadi tertidur.
Nafas Hendrick mulai berat, tanpa disadari dia mulai mengecup ringan leher Dee dan menjilatinya. Dee memekik lirih, tubuhnya bergetar hebat, dia merasakan sesuatu mengganjal di belahan pantatnya.
"Hend.... Apa itu sedang keras?" tanya Dee dengan suara mendesah karena jilatan Hendrick di leher dan telinganya.
"Hmmmmm.... Maaf!" Hendrick menghentikan permainannya di leher Dee, kemudian melepas pelukannya. Hendrick bergerak menjauh dari Dee, dia tak mau lepas kendali.
Dee menahan tangan Hendrick, lalu menjatuhkan tubuhnya di pelukan Hendrick. Tangannya melingkat di leher Hendrick.
"I told you that we can do it if you really want it!" gumam Dee yang dengan malu-malu mencium bibir Hendrick.
"No, let me do it by myself!" Hendrick mati-matian menahan diri.
"Dee, I love you, tapi aku nggak ingin melakukan itu sebelum kita menikah, walau aku sangat ingin, tapi aku ingin menjagamu sampai hari di mana kita resmi menikah, aku bisa sabar, sayang!" bisik Hendrick seraya mengecup kening Dee.
"Oh... Maaf, aku jadi bertingkah seperti perempuan murahan ya? hahahaha..." Dee melepas pelukannya dan tertawa sumbang.
"Don't say that!!!" Hendrick menarik pinggang Dee dan menahannya.
"Aku tahu kamu mau membantuku melepas ini, bukan aku tak ingin, aku ingin sekali, tapi tidak sekarang Dee." bisik Hendrick sambil mengecup bibir Dee dengan lembut, mengecupnya lagi lalu melumatnya dengan lembut, lidahnya menyeruak masuk ke dalam mulut Dee dan bergelut manja dengan lidah Dee.
Dee merasakan desakan keras di perut bagian bawah, tanpa Hendrick sadari, Hendrick menggesekkan bagian tubuhnya yang mengeras itu pada perut bagian bawah Dee.
Dee menggerakkan tangannya menyentuh bagian itu, mengelusnya perlahan dari luar celana Hendrick, hingga terdengar lenguhan perlahan dari mulut Hendrick di sela ciuman mereka.
Perlahan tangan Dee merayap masuk ke dalam celana Hendrick dan menyentuh langsung kemaluan Hendrick yang sudah benar-benar tegang mengeras.
"Uaaaah.... Sayang, hentikaaaaan.... ssssshhhh... ooooh..." erang Hendrick, satu tangannya menahan tangan Dee yang menurunkan celananya. Namun karena lemas oleh gairah, Hendrick akhirnya membiarkan Dee menurunkan celananya, sehingga k*********a sukses keluar dan berdiri tegak di antara tubuh mereka.
Dee tidak berani menatapnya, karena dia merasa ukurannya kali ini lebih besar dari pada siang tadi. Nafas Dee memburu, Hendrick masih melumat bibir Dee, sementara tangannya menyusup masuk ke dalam crop top kemben yang Dee pakai, melepas kait branya dan sekali tarik terbebaslah dua bulatan p******a Dee yang menggoda.
Perlahan Hendrick meremas dan memainkan kedua p******a Dee sementara bibirnya masih sibuk mencecapi manisnya bibir Dee.
Dee pun dengan lembut membelai dan mengurut kemaluan Hendrick yang kian menegang.
Perlahan bibir Hendrick melepaskan bibir Dee, lalu bergerak menelusuri leher turun ke d**a Dee. Sejenak dipandanginya dua bulatan indah p******a Dee dengan p****g berwarna pink yang mencuat berani. perlahan Hendrick menjulurkan lidahnya menyentuh p****g Dee. Bagai tesambar petir, tubuh Dee menegang, cengkeramannya di kemaluan Hendrick mengetat, mereka berdua mengerang bersamaan. Dengan rakus, Hendrick menjilat dan memainkan p****g Dee dengan lidahnya, sementara Dee masih mengelusa dan memainkan kemaluan Hendrick perlahan.
Desahan demi desahan memenuhi ruang tamu kecil di pavilion Hendrick, Sampai akhirnya Dee mengerang lirih...
"Hend, berhenti.... aaaah.... aku rasanya mau buang air kecil.... oooh...." desah Dee, Hendrick teringat tadi siang Dee sempat menyemburkan cairan orgasm buru-buru membantu Dee mumbuka celana panjangnya, dan melemparnya ke atas sofa, sementara lidahnya masih tetap bermain di p****g Dee.
Dee semakin merancau, dan tangannya semakin mencengkeram kemaluan Hendrick dan mengocoknya lebih cepat.
Tak berapa lama tubuh Dee mengejang hebat .
"Aaaaah.... aaaah.... aaaah.... Hendrick... Aaaaaaaaaaaaah....!!!" erang Dee panjang, seiring dengan cairan orgasm nya yang menyembur ke arah Hendrick, mengenai kemaluan Hendrick dan juga perutnya.Tubuh Dee melemas, tapi tangannya tetap mengocok kemaluan Hendrick yang sedikit licin karena terkena cairan orgasm Dee, hal ini membuat Hendrick semakin kelojotan dan akhirnya tubuhnya menegang.
"Ah sayang.... yes... oh Dee... honey.... ahh... aaah... aaaah.... aaaaaaaaaaah.... sayang.... aaaaah...!!!" Hendrick menyemburkan spermanya tepat di perut Dee. Setelah semua keluar, Hendrick memeluk erat Dee dan menciuminya.
"I love you sayang.... Maaf, akhirnya kita seperti ini lagi.... I love you.... Pulang besok, aku akan bawa langsung papa dan mama, kita menikah secepatnya, sekolah kita tak ada larangan menikah, jadi kita menikah secepatnya, aku tidak mau kita begini terus, sayang!" ucap Hendrick mengeratkan pelukannya.
"Hmmmm.... Hend, kakiku lemas, maaf aku ngotori lantaimu, aku mengompol tadi!" gumam Dee hampir menangis.
"Itu bukan air seni sayang, nggak apa-apa, jangan nangis ya!" hibur Hendrick.
"Tapi keluar dari sini!" Dee menunjuk vaginanya.
DEG!!!
Dee hanya memakai celana dalam brokat warna nude dan sekarang basah karna cairan orgasmnya, menampakkan apa yang tersembunyi di dalamnya.
"Sa-sayang, mandi ya, trus kuantar pulang." Hendrick mengalihkan pandangannya dari v****a Dee. berulang kali dia menelan ludahnya, celakanya si junior mengeras lagi.
Hendrick menggendong Dee masuk kamar mandi dan menyuruhnya segera mandi keramas. Tapi kaki Dee masih lemas tak mampu berdiri. Akhirnya Hendrick mendudukkan Dee di kloset duduk agar Dee bisa mandi tanpa harus berdiri.
Hendrick menutup kamar mandi, nafasnya tersengal-sengal, juniornya pun kembali tegak berdiri.
"Dalam sehari sudah berapa kali dikeluarin kenapa masih bisa bangun lagi sih?" gerutu Hendrick, yang lalu buru-buru masuk kamar dan menuntaskan hasratnya sekali lagi. Setelah beberapa kali mengerangkan nama Dee, akhirnya Hendrick terbaring lemas.
Namun karena teringat Dee yang mandi dalam keadaan lemas, Hendrick buru-buru bangkit keluar kamar dan menghampiri kamar mandi.
"Sayang... sudah selesai?" tanya Hendrick lembut.
"Ummm.... sebentar lagi." jawab Dee.
"Kalau sudah panggil aku ya!" seru Hendrick.
"Iya!" sahut Dee.
Hendrick mengambil ponselnya dan segera menelepon papanya, sambil menunggu tersambung, Hendrick membersihkan bekas tetesan orgasm mereka dengan tissue lalu mengepelnya.
Tak lama sambungan telepon tersambung.
"Assalamu'alaikum, papa!" sapa Hendrick.
Papa Hendrick : "Wa'alaikumsalam, gimana kabarnya Rick?'
Hendrick : "Alhamdulillah baik, pa.... Begini pa, Hendrick mau bilang ke papa, tapi papa tentu sudah tau dari mama kalau Hendrick dan Dee..."
Papa Hendrick : "Papa tau, terus kamu mau nikah setelah lulus SMU kan?"
Hendrick : "Anu pa, sebetulnya kalau boleh, Hendrick mau nikahi Diane liburan kenaikan kelas besok!"
Papa Hendrick : " APA???? KAU GILA???"
Hendrick : "Enggak pa, Hendrick cuma ga ingin kejebak zina!" (walaupun sebenarnya sudah, tapi Hendrick tak ingin melakukan yang lebih jauh lagi sebelum menikah)
Papa Hendrick : "Apa kamu sudah melakukan sesuatu pada Diane? Jangan merusak anak orang!! Ingat gimana orang tua Diane memperlakukan kamu, mereka sudah anggap kamu seperti anak sendiri, jangan macam-macam sama Diane! Pulang saat liburan kenaikan kelas, ah... nggak perlu, papa sama mama akan ke Jogja, kira bahas lamaran di Jogja, setelah lamaran kamu ikut pulang mempersiapkan emas kawin dan lainnya. Paham?"
Hendrick : "Paham pa!"
Papa Hendrick : "Tapi kamu harus bilang dulu sama orang tua Diane kalau kalian ada hubungan!"
Hendrick : "Iya pa, malam ini sekalian antar Dee pulang, Hendrick mau bicara sama Bu Tuti dan Pak Edi."
Papa Hendrick : "Diane di kost? Papa mau bicara!"
Hendrick : "Na-nanti pa, Dee lagi di kamar mandi."
Papa Hendrick : "Ya sudah, besok saja, baik-baik sama Diane, jarang-jarang ada anak gadis yang sopan dan baik kaya Diane! Assalamu'alaikum."
Hendrick : "Iya pa, wa'alaikumsalam."
Hendrick menutup teleponnya dan bernafas lega. Beruntung papa tidak menentang keinginannya, sekarang tinggal bicara ke orang tua Dee.
"Hend... Hendrick... Boleh pinjam handuk?" panggil Dee dari dalam kamar mandi.
Hendrick menepuk keningnya, dia lupa mengambilkan handuk buat Dee tadi.
"Iya, sebentar sayang, aku ambilkan!" sahut Hendrick sambil berlari ke kamarnya untuk mengambil handuk.
Chapter 16 ~end~