Chapt 2. My Zizil

2248 Kata
Terlalu fokus mengamati dirinya dan barang-barangnya. Baby ini menjatuhkan dot s**u nya, dan membuat ku kaget. “Eh sayang.” Ucapku kaget. Aku senyum menatapnya. ‘Aku panggil dia apa ya.’ Bathin ku sambil mengernyitkan kening seraya berpikir. Dia juga senyum sambil bergerak lasak, seraya menyuruh ku untuk menurunkan dia. Supaya dia bisa berdiri tegak di tanah, pikirku. ‘Siapa yang tega ninggalin dia disini ya. Apa dia kena penyakit infeksi HIV atau AIDS ya. Maka keluarganya ninggalin dia disini. Atau dia diculik.’ Bathin ku menerka-nerka. ‘Tapi kalo diculik, kenapa ditinggal gitu aja ama penculiknya ya ?’ ‘Kalo dia ditinggal gitu aja sama keluarganya, kenapa tidak ada sepucuk surat pun dari keluarganya ya?’ Bathinku semakin menerka tentang baby ini. “Zizil sayang...” Aku memanggilnya. ‘Yah mulai sekarang aku adalah Mommy mu sayang. Dan kamu adalah Zizil anak Mommy.’ Bathinku seraya membuat keputusan sendiri. Untuk singkat waktu, aku sempat berpikir. Aku tidak akan melapor ke polisi tentang anak ini. Dan aku berniat akan membawanya pulang ke rumah ku. Tanpa memikirkan alasan apa yang akan kuberikan kepada keluarga ku tentang anak ini. “Mom... Mom... Momm...” Panggilnya mulai mengeluarkan suara seperti itu sambil lari ke arah ku. Hati ku terenyuh. Dan aku langsung memeluknya. ‘Entah sampai kapan aku mempertahankan mu baby. Mommy sudah terpikat oleh mu. Dan seperti tidak bisa melepasmu lagi. Sekalipun kepada keluarga asli mu.’ Bathin ku seraya egois sambil mengecup singkat puncak kepala Zizil, bayi yang sudah ku akui sebagai anak sendiri mulai hari ini hingga seterusnya. “Oke baby, Zizil boleh panggil Mommy dengan sebutan Mommy. Okay.” Ucapku seraya membuatnya mengerti dengan ucapanku. Seakan dia mengerti bahasa ku, dia langsung memeluk tubuhku erat. Dan mengambil tangan ku untuk berjalan ke arah perosotan dan ayunan yang sedang dimainkan oleh beberapa anak-anak yang lain.             Kakiku mulai melangkah kecil, mengikuti langkah kecilnya. Membiarkan jemariku terus digenggam erat olehnya. ’Dia uda bisa jalan dengan tegak, walau sedikit agak tertatih. Pasti ini anak minum vitamin yang bagus untuk pertumbuhan tulangnya.’ Bathinku seketika mengernyitkan kening. ’Gimana caraku ngasih makan dia nanti ya ? Zizil pasti terbiasa makan makanan yang enak dan bergizi. Minum vitamin yang teratur. Rajin ke dokter anak. Rumah yang full AC.’ Bathin ku seraya menebak kebiasaannya setiap hari bersama dengan keluarganya selama ini. Seketika aku diam seribu bahasa dengan bathin ku yang terus berbicara panjang lebar. Sambil ku lihat Zizil berinteraksi dengan anak yang lain, yang usianya lebih tua dari dia. Anak-anak itu juga mengajak Zizil bermain. Dan aku terus mengawasi nya dari jarak dekat. ’Aku harus punya alasan dulu kepada Mama Papa.’ Bathinku sambil menghela panjang nafasku. ’Soal biaya hidup Zizil, urusan belakang lah itu. Lagian anak ini juga ada perhiasan. Pasti bisa dijual walaupun tanpa ada surat. Mengingat perhiasannya yang pasti harganya sangat mahal.’ Bathinku lagi menggelengkan kepala. Aku kembali terkejut dengan pemikiran ku barusan. Yah! Itu ide yang tidak buruk, pikirku. ’Lagian kan uangnya juga buat keperluan dia. Mungkin kalungnya yang harus aku simpan dengan baik. Karena itu adalah identitas asli Zizil.’ Aku kembali senyum dengan otakku yang mulai mencari-cari solusi untuk biaya hidup Zizil ke depannya. Pandanganku yang masih fokus pada putriku, Zizil. Melihatnya hendak terjatuh, aku berlari cepat ke arahnya. Dan menangkap badannya saat dia berjalan dan hendak tersandung batu. ”Hati-hati donk Sayang. Anak mommy harus pelan-pelan jalannya. Okay.” Ku kecup keningnya. Dia membalasnya dan kembali memelukku erat. Anak-anak yang lain mulai mengajaknya bermain lagi. Tapi ku lihat mata Zizil mulai sayup. Oh tidak! Dia sepertinya mulai mengantuk, pikirku. Masih dalam keadaan sadar, aku mendengar suara seorang wanita yang mengajakku berbicara. ”Mulai ngantuk ya anaknya, dek.” Ucap seorang wanita seraya bertanya dari arah samping kiriku. Aku menoleh ke sumber suara. Ku lihat seorang wanita sedang berjalan ke arah kami. Ibu-ibu yang ku perkirakan usia nya mungkin sekitar 30 an tahun. Dia menghampiri ku sambil membawa tas berisi perlengkapan bayinya. Mendengar kalimatnya barusan, membuatku mulai bersuara membalas kalimatnya. “Ehh… Iya ini, Bu…” Aku tersenyum kikuk. Dan menggendong Zizil. Aku lalu duduk, dan memangkunya menghadap ke arah badanku. Aku menidurkan kepalanya di bahu ku. Ku sibakkan ke belakang ujung runcing jilbabku. Agar anak ku, maksudku Zizil putri ku. Supaya dia mudah tidur di bahu ku tanpa terganggu dengan jilbab ku yang berwarna cream ini. “Berapa tahun usianya, dek. Cantik ya anaknya.” Ibu itu menatap lekat Zizil, dan beralih menatapku. Dia menatap kami secara bergantian. Mungkin dia berpikir, Mommy nya seperti ini wajahnya. Tetapi anaknya berwajah bak malaikat yang sangat sempurna. Aku tersenyum mendengar kalimatnya barusan. Dengan gerak-geriknya, terlihat dia seperti tengah memperhatikan kesamaan atau perbedaan dari wajah kami. “Mau masuk usia 2 tahun, Bu.” Aku tersenyum malu, merutuki diri sendiri yang sok tahu tentang usia Zizil. ”Matanya cantik ya, dek. Badannya putih bersih. Minum apa waktu hamil ?” Tanya ibu itu lagi dengan wajahnya yang melempar senyuman ke arahku. Hell! Aku tiba-tiba merasa tersindir. Karena wajahku yang tentu sangat tidak mirip dengan Zizil, bak 360 derajat sangat berbeda. Sangat mengerti dengan ucapan halus ibu tadi. Dapat k*****a melalui bola matanya. Aku langsung membuka suara lagi. ”Dia mirip sama Daddy nya, Bu. Sama sekali tidak ada miripnya dengan saya. Cuma rambutnya la bu yang diturunkan dari saya.” Ucapku tersenyum ramah. Aku tertawa miris dengan ucapan ku sendiri. ‘Masuk akal lah Anta. Karena rambut mu kan memang hitam. Untung kebohonganmu tidak 100% Nta. Uda lah banyak dosa mu, nambah lagi dosa mu sama orang yang gak kau kenal. Owalah Nta Nta.’ Bathin ku kembali merutuki diri sendiri. “Oh gitu ya Nak, pantas lah.” Ibu itu tersenyum lebar sabil memperhatikan putriku, Zizil. ‘What the!!’ Hampir aku mengumpat dalam hati. ‘Pantas lah katanya ? Oh My!!’ Bathin ku lagi seraya ingin mengumpat wanita yang tengah aku hadapi ini. Ibu itu lalu memandangku curiga, seakan aku ini sedang menculik anak dari sebuah keluarga yang kaya raya. Mungkin karena penampilan ku yang seperti baru pulang dari kantor, dengan pakaian rapi serta wajah sudah sangat lusuh dan capek. Aku dengan cepat dan lugas lalu memandang ibu itu. Dengan bola matanya yang mampu untuk aku baca, tentang apa isi pikirannya itu. “Saya baru pulang kerja, Bu. Anak saya tadi saya titipkan sama sepupu saya yang menghadiri pesta keluarga mantan suami saya.” Ucapku seraya membuat percaya ibu itu, bahwa Zizil benar putriku. ‘What the hell Anta!! Lo malah berakting seakan lo uda pernah nikah dan baru aja cerai ama suami lo. Gila gila gila. Lo uda mulai gak waras Nta.’ Bathin ku sambil tersenyum bodoh dengan wajah tertunduk malu. Entah karena malu berbohong, atau karena apa. ‘Bodoh banget lo Nta.’ Bathinku lagi seraya merutuki diri sendiri. “Oh maaf dek, saya gak ada maksud buat singgung privasi kamu.” Ibu itu menggangguk dan tersenyum malu, seperti sudah salah menilai ku dari awal. “Gak apa-apa kok, Bu.” Ucapku membalas sambil tersenyum. ‘Gottcaahhhh…’ Bathinku seraya mensukseskan kalimatku sendiri. “Jadi kamu kesini sama siapa, dek ?” Tanyanya lagi padaku. ”Sendiri, Bu. Tadi kami jumpa tengah disini. Dan aku bingung, aku bawa sepeda motor. Bingung mau cemana bawa pulang anak saya dan Stroller kami.” Sambil menunjuk ke arah Stroller Zizil yang dari jauh terlihat sangat mewah. Ibu itu memandang takjub ke arah Stroller mewah itu. ”Jadi gimana kalian pulang nanti ?” Tiba-tiba seorang pria yang usia nya hampir seumuran dengan ibu itu mendekati kami yang sedang berbicara. ”Mungkin saya akan gendong aja, Bu. Tapi lupa bawa kain panjang. Sepupu juga lupa bawa katanya.” Jawab ku singkat dan merutuki diri karena berbohong lagi dan lagi. ”Oh ini saya ada kain panjang. Kamu pakai saja, dek.” Sambil berdiri dan mendekati ke arah pria tadi yang mungkin adalah suaminya. ”Anaknya tidur ya dek ?” Pria itu berbicara sambil membawa tas yang dipegang ibu itu. ”Eh. Iya pak. Tapi ini mau pulang.” Aku sambil berdiri dan memposisikan tubuh Zizil ke pelukan ku agar nyaman. Yah! Dia sudah tertidur pulas di dalam gendongan ku. ”Mana suaminya ?” Istrinya langsung mencubit punggang si pria itu sambil tersenyum kikuk. “Ini kain panjangnya.” Ucap ibu itu menyodorkan kain panjang ke arah ku.             Ibu itu bergerak terburu-buru. ”Kami pamit ya dek. Hati-hati dijalan. Dan tetap semangat. Ingatlah bahwa selalu ada pelangi setelah badai menerpa. Begitu juga dengan hidup kita.” Ucap ibu itu tersenyum sambil menganggukan kepala dan mereka pergi sambil sesekali melirik kami. Lalu berjalan ke arah gerbang luar Taman Kota. Dan disusul dengan dua bocah perempuan yang berusia sekitar 4 tahun dan 7 tahun. “Terimakasih banyak ya, Bu. Semoga kebaikan ibu dibalas oleh Allah. Amin.” Ucapku juga tersenyum ke arah ibu dan keluarganya tadi. ’Pesan itu akan selalu saya ingat, Bu. Walaupun kita baru sekali jumpa. Tapi entah kenapa hatiku berkata. Bahwa hidupku yang baru, akan segera dimulai.’ Bathin ku sambil menghela panjang nafasku. Aku terdiam sejenak. Dengan isi hatiku, seraya mengelus punggung Zizil. Aku duduk kembali sembari melebarkan kain panjang pemberian ibu yang baik hati tadi. Karena pengalaman ku yang sudah sering menggendong adik sepupu ku. Aku sedikit lihai menggendong Zizil dengan menggunakan kain panjang bermotif batik coklat pekat yang ada di tanganku. Dengan telaten aku mengatur posisi tidur yang nyaman buat Zizil. Sesekali dia menggeliat karena tidurnya terusik. Namun kembali diam. Mungkin karena posisi tidurnya sudah kembali nyaman. Gendongan yang pas sudah aku lakukan. Membuat putriku, Zizil nyaman di gendonganku dengan kain bermotif batik coklat pekat ini. ’Selesai. Saatnya kita pulang, Sayang. Dan jantung Mommy mulai gak karuan sekarang. Tambah lagi badan mu lumayan berat banget, Nak.’ Bathin ku sambil berjalan ke arah Stroller mewah itu. ’Kayaknya aku harus bawa semuanya. Tapi cemana ya ? Oh aku masukkan aja ke dalam tas.’ Bathinku mengambil semua perlengkapan bayi yang ada di Stroller itu. Perlengkapan Ezpz Happy Mat, botol s**u Dr Brown’s, s**u formula Enfagrow, dua botol termos Zojirushi SF-CC20. Dan Oh No, sepatu merk Channel berwarna cream. Semua barang bermerk terkenal itu lalu aku masukkan ke dalam ransel ku bermerk Eiger. ’Astaga, termosnya mana la muat di tas ku. Dasar bego!’ Hati ku mengumpat lagi dan lagi. Ku perhatikan lagi Stroller mewah ini. ’Pengen dibawa, tapi cemana bawak nya yah ? Malah repot jadinya.’ Sambil mengelus pegangan Stroller. Lalu memandang ke arah dalam stroller. ’Bantalnya.’ Ku ambil lalu ku posisikan lagi ke kepala Zizil. Dan sepertinya sudah semakin nyaman dia tidur di dalam gendongan ku. ’Bantalnya buat gendongan ku jadi agak mendingan.’ Bathinku sambil meneliti wajah cantik putriku, Zizil. Ku pegang lagi Stroller mewah itu. Meraba setiap jengkal Stroller nya. Dan tanpa ku sadari terdapat suara saat jemariku menyentuh benda bulat disana. Cetek!!! ’Bunyi apa itu.’ Bathinku sambil memperhatikan arah tangan ku tadi. ’Apa ini ?’ ’Kayak bentuk kamera pengintai atau apa yah ?’ Bathinku berpikir keras. Dan aku mulai sadar. ’Ah sial. Ini pasti Gps.’ Bathinku sigap berpikir. Lalu segara ku matikan lagi. Aku mulai menjauh dari Stroller itu. Seakan takut dengan amukan orang-orang atau takut ketahuan. Ku sandang ransel Eiger ku ke punggung ku dengan cepat. Lalu ku bawa dua termos tadi dengan tangan kanan ku. Karena tangan kiri ku, ku gunakan untuk menjadi bantal Zizil. *** Menuju gerbang luar, aku berjalan cepat ke arah sepeda motor ku bermerk Vario. Aku meletakkan dua termos yang berat ini ke tanah. Dan ku lepas ransel ku. Ku ambil remot Vario Matic ku. Yah! Vario model terbaru, dengan remot tanpa kunci. Aku membuka kunci bagasi Vario. Bagasi kereta yang lumayan besar. Lalu ku masukkan dua termos tadi. ’Untung aja masuk sebijik. Sebijik lagi letak di depan aja.’ Bathinku bernegosiasi sendiri meletakkan tali termos di bagian depan pada bawah Vario. Aku lalu menutup kembali bagasi kereta. Ku tatap Stroller mewah itu dengan senyuman miris. Ku lihat wajah Zizil, putri angkat ku ini. ‘Hidup ku yang baru akan segera dimulai. Dan sekarang kamu aman, Nak. Ada Mommy disini. Mommy gak akan ninggalin kamu sendirian disini.’ Bathinku sambil menghidupkan mesin Vario. Memposisikan duduk ku yang sedikit kesusahan. ’Ya Allah. Niat ku baik. Jangan turunkan hujan sebelum kami sampai ke rumah. Jangan beri aku kesusahan saat dijalan. Jangan beri macet apapun saat dijalan. Anak ini sekarang adalah tanggung jawabku. Kau pertemukan kami atas izin kehendak Mu. Aku menerima kehidupan baru ku dengan menerima anak ini sebagai putri angkat ku.’ Hati ku berdoa sambil memandang ke depan dengan harapan penuh. Lalu ku hidupkan mesin Vario ku. Meletakkan remot kereta di jok depan kereta bagian kiri. Ku selipkan diantara kedua sarung tangan ku. Yah! Aku lebih memilih tidak memakai sarung tangan kali ini. Agar lebih mudah. Mungkin saja pendapatku ini benar. ’Bukan karena tidak ingin mengembalikan anak ini kepada keluarganya, Ya Allah. Tapi untuk saat ini biarlah aku yang mengurusnya. Anak ini pasti sedang dalam bahaya. Izinkan aku Ya Allah. Bismillah.’ Aku mulai menaikkan gas dan menjalankan Vario ku menembus hamparan jalanan Kota Medan. Ketika hendak membelokkan kereta ke arah kiri. Ku dengar suara mobil polisi dan beberapa laki-laki berbadan besar, berbaju hitam layaknya bodyguard dengan mengendarai kereta KLX menuju taman kota tadi yang kami singgahi. Namun tak ku hirauakan. Aku tetap tenang, dan tetap melajukan kereta ku dengan santai dan berhati-hati walau hati ku agak risau.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN