"Apa jatuh cinta itu terjadi saat hati kita mulai berpuisi indah tentangnya?"
----
Setelah beberapa hari lalu Ayu mencoba bekerja di kafe Arjuna dan tidak berakhir bagus, ia lebih memilih mengantar catering milik ibunya saja. Dalihnya, agar ongkos ojol biar jadi uang sakunya. Dan hari ini Ayu berangkat pagi, lebih tepatnya bersamaan dengan orang-orang yang berangkat kerja dan sekolah. Katanya agar bisa merasakan bagaimana padatnya aktivitas pagi hari yang sudah lama tidak ia rasakan. Namun, semangatnya sedikit memudar karena ternyata macetnya jalanan lebih dari apa yang dibayangkannya.
Meski masih pagi, peluh sudah membasahi wajahnya karena padatnya kendaraan membuat suhu lingkungan lebih cepat panas. Ayu menyeka keringatnya beberapa kali sambil melajukan sepeda motornya pelan-pelan. Tahu sendiri, kan bagaimana berkendara saat macet?
Baru saja jalanan agak lengang, ternyata beberapa meter ke depan sudah lampu merah. Ayu hanya mendesah pasrah sambil tertunduk lesu menunggu lampu kembali hijau.
"Mbak, kantor sipil ya. Tapi, saya gak ada aplikasi, tapi nanti saya bayar, kok. Tenang aja."
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundak Ayu dan sudah duduk di jok belakang motornya. Tentu saja, hal itu membuat Ayu yang tengah loyo menjadi tersadar sepenuhnya dan segera berteriak.
"SAYA BUKAN OJOL! GAK LIHAT APA SAYA GAK PAKE JAKET OJOL? RABUN YA? APA KAMU ORANG JAHAT? TURUN GAK? TURUN!!!"
Ayu memaki orang yang dengan sembarang duduk di motornya tanpa menoleh ke belakang. Bisa saja kan orang itu menodongkan sajam ke arahnya? Orang-orang yang ikut berhenti di lampu merah sontak menengok ke arah Ayu dan gadis itu menjadi pusat perhatian.
"Bercanda. Saya bukan orang jahat kok," bisik orang yang duduk secara tiba-tiba di motor Ayu. Dan sepertinya Ayu mengenal suara itu.
"Ish, Mas Sandi ternyata!" Ayu menengok ke arah spion dan di sana terpampang wajah tampan yang beberapa waktu ini mengisi kepalanya.
"Jalan, Yu. Sudah hijau tuh. Nanti, saya jelaskan sambil jalan."
Tentu saja, hal ini tidak patut ditiru ya. Berkendara di jalan raya tapi tidak mengenakan helm. Tapi apa daya, ini situasi gawat darurat bagi Sandi.
"Mas, kalau ada polisi terus ditilang, Ayu gak mau ikutan dan gak mau kalau motor Ayu jadi jaminan."
"Iya, Yu. Mobil saya mogok, terus ojol pesanan saya gak sampai-sampai katanya macet, pas saya turun dari mobil ternyata lihat kamu. Ya sekalian nebeng sampai kantor deh. Untung ada kamu, ya."
Ayu ingin tersenyum, tapi bisa saja senyumannya itu dilihat Sandi lewat kaca spion. Maka dari itu, ia menurunkan kaca helmnya kemudian tersenyum tanpa bisa dilihat oleh Sandi.
Tidak ada percakapan lain setelah itu, jalanan juga sudah tidak terlalu macet jadi Ayu bisa melakukan motornya sedikit cepat.
"Kantor Mas Sandi, nih."
Ayu berhenti tepat di depan kantor sipil tempat Sandi bekerja.
"Mau mampir dulu?" tanya Sandi.
"Ayu sudah punya KTP."
"Ya, barangkali mau ngurus buku nikah," kekeh Sandi yang masih berdiri di samping motor Ayu.
"Ngaco! Sana masuk nanti telat dan ngebutnya Ayu sia-sia."
"Ongkosnya gimana?"
"Pake hati aja, Mas." Tentu saja, hal itu hanya Ayu ucapkan dalam hati.
"Novel gratis boleh."
"Oke."
Kemudian, Sandi melangkahkan kakinya meninggalkan Ayu yang masih setia melihat punggung lelaki itu. Dan, astaga, pesanan cateringnya hampir saja terlupa. Ayu segera bergegas dari sana.
****
"Ayu, betah panas-panasan ya daripada bantuin Mas di kafe?" tanya Arjuna yang siang ini pulang untuk sekedar makan siang di rumah.
"Kafe Mas Juna isinya laki semua. Takut!"
Arjuna hanya terkekeh mendengar jawaban sang adik sambil mengacak rambutnya gemas.
"Ayu lapar, Mas. Yuk jangan kebanyakan ngobrol!"
"Gimana, Yu? Ada panggilan interview?" tanya Arjuna setelah menelan makanan yang dikunyahnya.
"Belum ada, Mas. Doain ya."
"Kalem aja, Yu. Baru lulus juga, nikmatin dulu masa santai setelah mumet skripsi."
Ayu mengangguk mengiyakan perkataan kakaknya. Tumben sekali Arjuna tidak mengomel. Delima yang duduk di antara kedua anaknya pun tersenyum melihat mereka rukun.
"Kalau cowok ada?"
"Ada, Mas Juna kan cowok," jawab Ayu santai.
"Bukan itu."
"Jangan mulai, Mas!"
"Nah loh, baru akur sudah mulai panas lagi." Delima menengahi.
Ayu dan Arjuna sama-sama bungkam dan kembali melanjutkan makannya. Akan sangat bahaya jika ibunya sudah mengomel.
****
Ayu membuka ponselnya yang dayanya sudah hampir habis. Ia segera mengisi daya ponselnya sambil memainkannya. Walaupun, tentu saja itu tidak sehat bagi ponselnya.
Ia tidak membuka aplikasi menulis kali ini. Melainkan, membuka roomchatnya bersama Sandi. Ia tertawa sendiri membacanya. Tapi sialnya, tanpa ia duga, Sandi mengiriminya pesan dan tentu saja itu membuat pesannya segera menunjukkan centang biru di w******p Sandi.
"Aduh ketahuan deh. Gimana nih? Aduh!" pekik Ayu yang kemudian menyimpan ponselnya ke atas meja.
Ia tidak ingin membuka ponselnya, namun beberapa pesan kembali masuk dan mau tidak mau Ayu membukanya juga karena sudah terlanjur ketahuan juga.
Mas Sandi :
Fast read ya, Yu?
Ayu :
Hehe. Iya, Mas. Tadi kebetulan lagi buka WA terus langsung kebuka.
Oke, alasan yang bagus Ayu. Setidaknya, itu lebih rasional dan bisa diterima Sandi.
Mas Sandi :
Ganggu gak?
Ayu :
Nggak, Mas.
Mas Sandi :
Video call, yuk!
Ayu tidak percaya dengan apa yang ia baca. Ia mengucek matanya berkali-kali, memastikan apa yang dibacanya tidak salah.
Ayu :
Ayu lagi kucel, Mas. Malu.
Kali ini, Ayu menjawab jujur. Ya, walaupun lebih banyak gugupnya daripada kucelnya.
Mas Sandi :
Oke, saya ganggu ya?
Ayu :
Bukan gitu, Mas. Memangnya penting ya?
Mas Sandi :
Nggak kok! Ya sudah, mandi dulu sana.
Ayu :
Mas, jangan gitu lah, nanti Ayu baper. Padahal Mas Sandi gini ke semua fansnya. Haha
Mas Sandi :
Hahaha nggak.
Ayu mulai dibuat tak mengerti dengan sikap Sandi yang menurutnya tidak wajar. Pertama, ia hanya penggemar Sandi yang tentu saja sama dengan ribuan perempuan lainnya. Kedua, cara bicara Sandi pun berbeda padanya. Lelaki itu bahkan berbicara sangat datar pada temannya sendiri. Ah tapi tidak semua datar, Ayu tiba-tiba teringat perempuan yang berjalan bersama Sandi hari itu.
Baru saja Ayu akan berbunga-bunga, sudah dijatuhkan kembali.
"Sadar, Yu sadar. Mungkin aja, Mas Sandi gitu ke semua penggemar perempuannya."
Ayu terus mengingatkan dirinya untuk tidak terlalu percaya diri. Tapi apa daya, bayangan Sandi tidak bisa lepas dari kepalanya.
Mas Sandi :
Minggu ketemu yuk!
Ayu :
Ha?
Mas Sandi :
Saya mau kasih novel yang saya janjikan.
Ayu :
Gak usah, Mas. Ayu bercanda kok.
Mas Sandi :
Gak apa-apa, nanti saya sharelock ya (:
Ayu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Apa jantungnya sudah tidak sehat? Bahkan, ia sendiri bisa mendengar detak jantungnya sendiri. Ini sudah pasti, Ayu jatuh cinta pada Sandi. Tidak diragukan lagi.