ONE SHOT-BECAUSE YOU LIVE

3824 Kata
Ghivana   Umurku sekarang memasuki angka dua puluh empat tahun. Aku sekarang bekerja di salah satu bank swasta di bilangan Jakarta. Dua tahun yang lalu aku lulus dari Universitas tempatku menimba ilmu selama kurang lebih empat tahun lamanya. Aku berhasil menyabet gelar S1 di jurusan manajemen dengan IPK yang memuaskan. Tidak sia-sia aku belajar selama ini, memutar otak bersama teman-teman seperjuanganku untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Begitu lulus, aku langsung melamar di salah satu bank—tempatku bekerja sekarang—dan alhamdulillah bank tersebut menerimaku.             Hari ini hujan cukup deras mengguyur ibu kota. Aku menghela napas panjang dan duduk di depan tempat kerjaku seraya mengetuk ujung sepatu di lantai. Sesekali, aku melihat ke arah langit dan kembali menghela napas karena sepertinya tidak ada tanda-tanda langit akan berubah cerah. Padahal, jarum jam masih menunjukkan angka tiga sore, namun gelapnya langit saat ini seperti menunjukkan bahwa hari telah malam.             Sesuatu didalam tasku bergetar. Aku tersentak pelan dan segera merogoh tas tanganku. Kuraih BlackBerry-ku dan tersenyum saat membaca satu pesan singkat yang masuk kedalam ponselku.   From: Keilvan Vhan, jangan kemana-mana dan jangan nekat main hujan kalau nggak mau gue tabok, oke? I’ll be there soon! Wait for me!               Aku tidak membalas pesan singkat dari Keilvan itu. Biarkan saja, aku senang apabila melihat wajah cemberutnya karena dia paling tidak suka kalau aku mengabaikan pesan singkatnya. Well, aku dan Keilvan sudah bersahabat sejak kami duduk di semester tiga dulu. Hubungan kami cukup dekat, bahkan mungkin sangat dekat untuk ukuran sahabat sampai-sampai beberapa teman kami sering berkata bahwa aku dan Keilvan sebenarnya memiliki hubungan khusus. Hubungan yang lebih dari sebatas sahabat.             Mau tahu apa yang aku dan Keilvan lakukan setiap kali mendengar hal tersebut?             Kami berdua akan terbahak dan menggelengkan kepala, lalu sama-sama berkata bahwa orang-orang tersebut sangat gemar bergosip layaknya Ibu-Ibu perumahan saat membeli sayur-mayur di ujung jalan.             Sedang asyik melamunkan masa lalu, masa-masa menyenangkan yang terjadi diantara aku dan Keilvan, suara klakson mobil terdengar. Aku mendongak dan tersenyum tipis ketika melihat Picanto Keilvan muncul tepat di depanku. Aku berniat untuk masuk ke pintu penumpang, bersiap menerobos derasnya hujan, ketika tiba-tiba Keilvan sudah memasang tubuhnya tepat di depanku dengan keadaan yang sedikit basah karena hujan. Kutatap kedua matanya yang menyorot tegas dan lantang, juga keningnya yang mengerut. Di lengan kanannya, sebuah jaket tebal tersampir, membuatku ikut mengerutkan kening.             “Udah gue bilang jangan main hujan, kan?” Keilvan mendengus pelan saat melihatku nyengir kuda. Kemudian, laki-laki itu menyampirkan jaketnya ke tubuhku hingga menutupi kepalaku. Keilvan menuntunku ke pintu penumpang dan membukakan pintu untukku, sebelum kemudian laki-laki itu mengitari badan mobil dan masuk ke pintu pengemudi. Keadaannya saat ini bisa dibilang cukup memprihatinkan karena tubuhnya yang semula hanya basah sedikit, sekarang jadi basah kuyup.             “Matiin aja, AC mobilnya, Keil,” ucapku akhirnya. Tidak tega melihat sahabatku itu menggigil kedinginan seperti sekarang. Yang dilakukan oleh Keilvan hanya menggeleng dan tertawa pelan. Laki-laki itu memutar tubuhnya untuk menghadap ke arahku, membenarkan posisi jaketnya yang melilit pada tubuhku lalu mengacak kerudungku gemas. Dia mengecilkan AC mobil namun tidak benar-benar mematikannya. Kemudian, Keilvan membuka kemeja kerjanya dan melemparnya ke jok belakang, menyisakan sebuah kaus putih yang mencetak jelas lekuk tubuhnya yang atletis.             For your information, Keilvan saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta terbaik di Jakarta Pusat dengan menjabat sebagai manajer keuangan. “Nggak usah dimatiin... biarin aja, nanti yang ada lo malah kepanasan,” balasnya. Dia memasang sabuk pengaman sebelum kemudian mulai menjalankan mesin mobilnya. “Kepanasan, gimana?” tanyaku kesal. “Ini lagi hujan deras, Keil... gue nggak akan kepanasan meskipun lo matiin AC-nya.” Aku mengulurkan tangan kananku, bersiap mematikan AC mobil Keilvan, namun si empunya mobil justru menahan gerakanku. “Biarin aja, Vhan... gue lagi butuh udara segar,” ucap Keilvan lagi. Kali ini, aku bisa mendengar nada frustasi dalam suaranya. Aku menoleh dan berusaha meneliti wajah sahabatku itu. Tatapan mata Keilvan tetap terfokus pada jalanan di depannya namun aku tahu, tatapan itu juga melanglang-buana entah kemana. Aku berani bertaruh, kalau Keilvan tetap dalam keadaannya yang seperti itu, mobil ini pasti akan menabrak sesuatu. “Something’s wrong, Keil?” tanyaku hati-hati. Aku memainkan rambutnya yang basah dan cukup tersentak ketika menyentuh kulit wajahnya yang dingin. Sedingin es batu didalam freezer kulkasku. “Nggak ada. Cuma ada masalah sedikit di kantor.” Keilvan menyentuh tanganku dan menggenggamnya sekilas, seolah memberikan kehangatan bagi tubuhku. Kemudian, laki-laki itu meletakkan tanganku di atas pangkuanku sendiri dan kembali berkonsentrasi menyetir. Ini bukan Keilvan yang biasanya. ### Vean   Mau tahu apa yang paling membuatku kesal? Jawabannya sangat mudah. Hal yang paling membuatku kesal adalah saat laporan keuangan perusahaan pada akhir bulan yang seharusnya sudah diserahkan padaku, justru belum kutemukan di atas meja kerjaku. Aku sudah senewen sejak siang tadi, menunggu salah satu karyawan yang bertugas untuk membuat dan menyerahkan laporan tersebut padaku. Tapi, sampai jam empat sore ini, dia tak kunjung datang. Hujan diluar sana semakin deras dan cacing-cacing dalam perutku sudah berdemo untuk meminta jatah makanan mereka. Aku mengetukan ujung jari telunjukku di atas meja dan berdecak jengkel. Sampai kemudian, suara ketukan terdengar olehku dan setelah aku menyerukan perintah untuk siapapun diluar sana agar masuk kedalam ruangan, seorang gadis berambut pendek menyembulkan kepalanya ragu.             Aku bukan tipe orang yang pemarah. Aku cenderung cuek pada hal apapun, sehingga membuatku tidak gampang untuk didekati. Mungkin, karena aku terlalu cuek dan saat ini tampangku sudah seperti harimau yang tidak diberi makan satu bulan oleh pawangnya, gadis di depanku itu mulai mengkeret ketakutan.             Ya, dia adalah karyawan yang sejak siang tadi kutunggu untuk menyerahkan hasil laporan keuangan akhir bulan perusahaan ini. Aku adalah salah satu general manager yang bertugas untuk memeriksa semua laporan-laporan yang berkaitan dengan perusahaan sebelum kemudian kuserahkan pada direktur perusahaan.             “Ma—maaf, Pak... saya tadi....”             “Kamu boleh keluar,” ucapku tegas, memotong perkataan gadis tersebut. Kuberi dia tatapan tegas yang langsung membuatnya memutar tubuh dan berjalan tergesa menuju pintu. Aku menghembuskan napas keras dan menyandarkan punggung di sandaran kursi. Kulempar laporan tersebut ke atas meja dan mendesah panjang. Moodku untuk memeriksa laporan tersebut sudah menghilang entah kemana. Mungkin, aku akan memeriksanya di rumah dan menyerahkannya pada direktur besok pagi.             Yang terpenting saat ini adalah memberikan makan pada cacing-cacing didalam perutku.             Aku berjalan menuju basement dan menekan tombol pada kunci mobilku. Mobil sedan silver di ujung sana menyala dan berbunyi beberapa kali. Aku membuka pintu pengemudi dan melempar tas kerjaku serta laporan-laporan perusahaan dengan asal ke jok belakang. Kulonggarkan dasi yang kupakai dan membuka dua kancing atas kemeja kerjaku. Jas kerjaku sudah teronggok asal di jok penumpang di samping tempat dudukku.             “Makan dimana, ya?” gumamku pelan seraya menjalankan mobil. Aku memikirkan tempat yang enak untuk didatangi sampai akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah resto Jepang yang terletak tak jauh dari perusahaan tempatku bekerja. Aku memarkir mobil dan setengah berlari menuju resto tersebut karena hujan masih setia membasahi bumi. Tubuhku sedikit basah namun aku tidak peduli. Aku juga tidak peduli dengan tatapan-tatapan para pengunjung perempuan yang secara terang-terangan menatap ke arahku dengan tatapan menggoda dan penuh nafsu. Demi Tuhan... apa mereka tidak bisa mengontrol mata mereka sebentar saja? Apakah semua perempuan di muka bumi ini akan bersikap seperti itu kalau melihat laki-laki tampan sepertiku?             Oke, bukannya aku memuji diri sendiri. Hanya saja, banyak perempuan yang mengatakan bahwa aku memang tampan. Bahkan, beberapa diantara perempuan yang kukenal nekat menyatakan perasaan mereka padaku. Namun, sejak dulu hingga sekarang—tepatnya saat aku masih duduk di semester tujuh—aku masih penasaran dengannya. Penasaran pada seorang gadis yang sepertinya tidak tertarik kepadaku. Rasa penasaran itu akhirnya berubah menjadi rasa suka dan sayang, entah sejak kapan. Yang jelas, aku merasa sangat t***l dan merasa seperti seorang yang pengecut karena tidak berani menyatakan perasaanku padanya. Aku tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang. Sejak lulus kuliah, aku tidak pernah mendatangi kampusku karena memang tidak mempunyai waktu luang untuk sekedar bermain disana. Sialnya, disaat aku mempunyai waktu untuk berkunjung kesana, aku justru tidak bertemu dengannya.             Menyimpan perasaan khusus pada seseorang tanpa ada keberanian untuk mengungkapkan memang sangat menyakitkan.             “Pesan apa, Mas?” tanya seorang pramusaji yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingku. Aku tersenyum dan menyebutkan beberapa makanan yang ingin kusantap beserta minumannya. Sang pramusaji yang sudah mencatat pesananku tersenyum dan berlalu. Aku menghembuskan napas dan mengambil BlackBerry-ku dari dalam saku celana.             Suara jeritan tertahan seorang perempuan terdengar jelas di kedua telingaku, membuatku refleks menoleh dan terperangah. Dengan sigap, kutahan tubuh perempuan berkerudung itu supaya tidak jatuh mencium kerasnya lantai. Rupanya, sebelah kakiku yang sialan ini melintang dengan seenaknya di koridor hingga kemungkinan besar membuat perempuan berkerudung itu tersandung.             “Maaf... gue nggak sengaja. Maaf,” ucapku menyesal. Kubantu dia menegakkan tubuhnya dan sekali lagi mengucapkan kata maaf. Kutatap seseorang yang rupanya berdiri di belakang perempuan itu dan aku... terkejut. Orang itu juga sama terkejutnya denganku saat ini.             Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, perempuan yang nyaris terjatuh itu mendongak. Aku bisa melihat reaksi tubuhnya yang mendadak berubah kaku dan kedua matanya yang terbelalak kala melihatku. Aku tidak bisa menjelaskan perasaan aneh yang menerjang dadaku saat ini. Perasaan senang yang tidak bisa terlukiskan oleh kata-kata.             “Givhana?” panggilku lembut. Senyum lebar menghiasi bibirku saat ini. “Apa kabar?” ### Keilvan   Percayalah, kalian tidak akan pernah mau mengalami hal yang aku alami selama kurang lebih empat tahun terakhir ini. Kuakui, aku memang sudah mempunyai pacar waktu itu, kira-kira saat aku duduk di semester lima. Tapi, lambat laun aku merasakan sesuatu yang tidak wajar. Oke, hal itu memang wajar, tapi aku merasa hal tersebut tidak wajar karena orang tersebut adalah seseorang yang bahkan sudah kuanggap sebagai adikku sendiri. Aaarrgh, kalian pusing? Sama, akupun merasakan hal tersebut!             Oke, aku perjelas.             Aku menyukai sahabatku sendiri.             Tidak tahu kapan persisnya aku merasakan perasaan khusus pada Givhana ini. Yang jelas, kemungkinan besar aku sudah menyukainya sejak semester lima. Sejak aku masih mempunyai pacar. b******k? Ya, aku memang b******k. Kuterima apapun persepsi kalian terhadapku. Tapi, apakah salah kalau perasaan sialan ini tiba-tiba saja merembet masuk kedalam hatiku? Bukan salahku, kan? Rasa suka, sayang dan cinta selalu muncul dan bersemayam secara tiba-tiba di hati manusia, sama seperti yang kualami.             Perhatian Givhana terhadapku, kepeduliannya, kebaikannya, membuatku merasa nyaman dan tenang. Membuatku damai dan diliputi perasaan senang setiap harinya. Kami selalu bersama, bercanda, tertawa dan lain sebagainya, meskipun waktu itu, kami sempat bertengkar hebat hingga dia tidak mau berbicara denganku selama berhari-hari. Aku frustasi. Dia menganggapku sudah berubah kepadanya karena aku selalu menjadi orang lain kalau berhadapan dengannya. Katanya, karena pacarku lah, aku berubah. Aku seperti orang asing yang tidak mengenalnya kalau aku sudah bertemu dan berduaan dengan pacarku. Padahal, dia tidak tahu bahwa itu semua kulakukan demi membunuh perasaan sialan yang mulai tumbuh di hatiku untuknya itu.             Karena tidak tahan dengan sikapnya terhadapku, seolah-olah dia tidak menganggapku ada, aku pun berusaha untuk berbicara dengannya. Awalnya dia tidak ingin mendengarkan bahkan berniat untuk pergi. Tapi, dengan sigap aku langsung mencekal pergelangan tangannya. Dia berontak tetapi aku tidak melepaskan. Kutahan dia semampuku dan kujelaskan beberapa hal kepadanya. Minus tentang perasaanku tentu saja. Aku tidak mau persahabatanku dengan Givhana hancur karena perasaan ini.             Dan sampai sekarang perasaan itu masih bertahan didalam hatiku. Setelah aku putus dengan Elviana dulu, perasaan suka dan sayangku pada Givhana justru bertambah besar. Tapi, aku tidak pernah mengungkapkannya karena aku takut. Takut dia akan pergi menjauh dariku. Yang bisa kulakukan hanyalah bersikap layaknya seorang Kakak, sahabat dan laki-laki yang akan melindungi dan menjaga Givhana sampai kapanpun. Karena, aku tahu akan satu hal...             Dia masih menyukai Vean. Senior kami saat di kampus dulu.             Sial!             Karena terlalu asyik memikirkan masa lalu, aku tidak menyadari bahwa Givhana hampir saja terjatuh. Aku berniat untuk menahan tubuh gadis itu namun seorang laki-laki di depan kami telah lebih dulu melakukan hal tersebut. Belakangan kuketahui bahwa sebelah kaki laki-laki itulah yang membuat Givhana nyaris mencium kerasnya lantai. Begitu tatapanku bertumbukan dengan tatapan laki-laki yang menolong Givhana, aku tersentak hebat. Darahku serasa terserap habis keluar. Tubuhku mendadak kaku, seperti tidak bisa digerakkan sama sekali.             “Givhana? Apa kabar?” tanyanya. Aku menelan ludah susah payah. Ada desakan hebat dalam dadaku untuk menghajar laki-laki itu. Menghajar laki-laki yang sama sekali tidak peka terhadap perasaan Givhana selama ini.             Dan rasa cemburu itupun seketika menyeruak keluar.             “Ba—baik,” jawab Givhana terbata. Aku menatap punggung gadis itu dengan tatapan datar. Bisa kurasakan bahwa Givhana pasti merasa senang sekaligus sesak di waktu yang bersamaan.             Yah, setidaknya dalam hal cinta bertepuk sebelah tangan, aku tidak sendirian. Aku menyukai Givhana sedangkan gadis itu menyukai Vean. Vean yang saat ini berdiri tepat di depan kami dengan senyuman lembutnya. b******k! Kenapa tatapan mata Vean begitu berbinar dan lembut terhadap Givhana?             Apa jangan-jangan... spekulasiku selama ini benar?             Vean juga menyukai Givhana?             Holy s**t!             “Hai....” Aku tersentak ketika mendengar sapaan itu. Sapaan Vean yang ditujukkan ke arahku. Aku menatap laki-laki itu dengan tegas yang dibalas dengan alis terangkat satu olehnya. Dia mengulurkan tangan kanannya yang kujabat dengan lantang. “Apa kabar?”             “Baik,” sahutku sekenanya. Suaraku pun terdengar sangat datar dan tidak bersahabat, membuat Givhana menoleh ke arahku dan mengerutkan kening. Aku mendengus pelan dan melepaskan jabatan tanganku. Kutatap Vean dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kemeja yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, dasi yang dilonggarkan, lengan kemeja yang dilipat hingga sebatas siku serta kacamata yang membingkai kedua mata tajamnya. Penampilannya tidak jauh berbeda denganku. Untungnya tadi aku dan Givhana mampir dulu di sebuah mall untuk membeli kemeja baru untuk kukenakkan. Kalau tidak, Vean pasti akan tersenyum mengejek ke arahku karena memakai kemeja basah. “Kak Vean sendiri? Lama nggak ada kabar dan nggak pernah main lagi ke kampus semenjak lulus. Kenapa? Lupa sama almameter sendiri setelah meraih kesuksesan?”             Oke, sekali lagi aku mendapatkan hadiah kerutan kening dan tatapan heran dari Givhana. Err... berhenti menatapku seperti itu, Givhana! Aku melakukan itu semua karena aku sangat cemburu, puas?!             “Sebenarnya....” Suara Vean mulai terdengar lagi. “Gue beberapa kali menyempatkan diri ke kampus waktu itu. Yah, sekedar main sama ketemu dosen-dosen. Sayangnya, gue nggak pernah ketemu kalian.” Kusadari tatapan Vean kembali terarah kepada Givhana yang sialnya tidak mengalihkan tatapannya. Gadis itu terlihat seperti orang yang terkena sihir, mantera atau hipnotis. Yah, semacam itulah.             “Lo kenal sama Givhana, Kak?” tanyaku ketus. Heran sebenarnya, karena Vean menyebut nama gadis itu, sedangkan setahuku Givhana dan Vean bahkan tidak pernah mengucapkan sepatah katapun dulu. Kalau keduanya bertemu, yang dilakukan oleh Givhana hanyalah melirik Vean dan mengalihkan tatapan kalau laki-laki itu balas menatapnya.             “Kenal.” Vean mengangguk mantap. Aku yang memberi pertanyaan tetapi dia menjawab sambil terus menatap wajah Givhana. Ugh! I’m gonna kill this guy, seriously!             “Terus, kenapa dulu kalau kalian ketemu Kak Vean nggak pernah nyapa Givhana?” tanyaku menyudutkan. Aku juga heran kenapa aku masih menyebut Vean dengan panggilan ‘kak’. Kini, tatapan Vean sepenuhnya terarah kepadaku. “Kenapa lo cuma diam dan nggak ngomong apa-apa kalau ketemu Givhana? Lo hanya menyapa Lili atau Ezira. Lo hanya ngomong sama mereka berdua seolah Givhana nggak pernah ada disana. Dan sekarang, lo bersikap seolah lo udah kenal sama Givhana sejak dulu. Sejak zaman es batu sampai dinosaurus berubah bentuk menjadi ayam. Kenapa?”             Perumpamaan yang kugunakan benar-benar menjijikkan! Aku sendiri bingung mendapatkan perumpamaan tadi dari mana. Yang jelas, rasa cemburuku benar-benar sudah mencapai ubun-ubun.             “Keil? Lo kenapa aneh begini, sih?” tegur Givhana padaku. Hahaha, rasanya aku ingin terbahak keras. Sahabatku sendiri malah membela Vean. Well, itu sudah pasti terjadi. Di mata Givhana, aku ini hanyalah Keilvan si sahabat setia. Bukan Keilvan seorang laki-laki yang pantas untuk diperhitungkan oleh hatinya.             “Lo yang aneh!” seruku emosi. Kulihat Givhana tersentak dan mundur beberapa langkah ke belakang. s**t! Sikapku semakin aneh karena kemunculan si Vean. Seumur hidupku, aku tidak pernah membentak Givhana seperti tadi. “Lo masih aja suka sama Kak Vean sampai sekarang. Kak Vean yang jelas-jelas nggak pernah peka sama perasaan lo yang bahkan mungkin nggak pernah menganggap lo ada dulu!”             “Keilvan!”             Aku tidak mempedulikan seruan keras Givhana, juga tidak peduli dengan tatapan penasaran para pengunjung lainnya. Aku benar-benar tidak peduli! “Apa? Lo mau ngomong apa, hah? Yang gue omongin emang benar, kan? Iya, kan?! Lo memendam perasaan lo selama ini! Enam tahun, Vhan! Enam tahun lo masih mikirin si b******k ini dan sama sekali nggak ngeliat ke arah gue!”             “Maksud lo apa, sih? Gue sama sekali nggak ngerti!” Givhana berteriak frustasi. Gadis itu menatapku dengan tatapan berkaca yang kubalas dengan tegas. Aku menguliti gadis itu dengan tatapanku, tidak berniat untuk melepaskan tatapan matanya dariku barang sedetikpun.             “Dia suka sama lo, Vhan....”             Suara Vean kembali muncul, membuatku dan Givhana refleks menoleh ke arahnya. Vean menatapku tegas dan lantang.             “Ya... gue suka sama lo, Givhana... sejak dulu.” Aku menatap Givhana yang kini menutup mulutnya dengan sebelah tangan. ### Suasana di resto Jepang itu semakin memanas. Keilvan sama sekali tidak mengalihkan tatapannya dari Givhana barang sedetikpun. Sementara itu, di tempatnya berdiri, Givhana menutup mulutnya dengan sebelah tangan dan menatap Keilvan dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana mungkin, orang yang sudah menjadi sahabatnya selama ini, yang selalu ada disaat dia membutuhkan, yang sudah dianggapnya sebagai seorang Kakak, ternyata menyukainya?             “Lo... apa...?” tanya Givhana terbata. Dia tidak bisa mempercayai ini semua.             “Gue suka sama lo... sejak semester lima. Tapi gue sadar bahwa gue nggak pernah ada di setiap mata lo memandang, Vhan...,” ucap Keilvan lagi. Kedua tangannya terkepal kuat di sisi tubuhnya. Gemuruh didalam dadanya semakin bergejolak hebat, mendesaknya untuk segera mengeluarkan bara magma didalam sana.             “Tapi... astaga... bahkan waktu itu lo masih jadi pacar Elviana, Keil...,” balas Givhana pelan. Sementara itu, Vean lebih memilih untuk diam. Dia tahu sejak awal bahwa ada yang tidak beres dengan persahabatan diantara Givhana dan Keilvan. Dulu, dia sempat bertanya kepada Riko, salah satu temannya, mengenai kedekatan Keilvan dan Givhana. Riko berkata bahwa Keilvan dan Givhana bersahabat sejak semester tiga, karena Riko memang dekat dengan Keilvan. Mereka berdua sering main futsal bersama di lapangan kampus. Namun ucapan Riko itu tidak benar-benar diterima oleh Vean.             Ayolah, tidak akan pernah bisa seorang perempuan dan laki-laki bersahabat. Pasti akan terjadi sesuatu dalam lingkar persahabatan tersebut.             “Gue memang masih jadi pacar Elviana waktu itu,” jelas Keilvan lelah. Dia benar-benar lelah dengan semuanya. Tentang perasaannya yang selama ini dia pendam didalam hati tanpa berani untuk mengungkapkannya. “Tapi, lama-lama gue merasa ada yang aneh sama hati gue. Gue nggak rela waktu lo menghabiskan waktu lo sama Devon, sahabat lo sejak SMA itu. Gue marah dan kesal waktu liat lo akrab sama Orgi, dibandingin sama gue. Gue marah waktu tau lo nangis karena masih mengingat Kak Vean. Gue cemburu dan gue sadar, lo udah masuk kedalam hati gue. Gue sadar kalau saat itu, gue udah jatuh cinta sama lo.”             “Kenapa?”             Diam. Keilvan tidak berkata apa-apa melainkan hanya menatap kedua mata Givhana yang menyorotkan kekecewaan.             “Kenapa lo harus suka sama gue, Keil? Lo tau gue nggak bisa... kita sahabat....”             “Gue tau.” Keilvan mengangguk lemah dan tersenyum pahit. “Gue juga nggak ngerti dan nggak bisa nolak, kan, kalau perasaan itu tiba-tiba aja hadir didalam hati gue?”             Givhana menundukkan kepalanya dan menarik napas panjang. Ini sama sekali diluar perkiraannya. Keilvan yang selama ini selalu melindunginya ternyata memiliki perasaan khusus padanya?             “Gue nggak minta lo untuk nerima perasaan gue, Vhan... yang gue minta, tolong lo jangan menjauh dari gue... jangan pernah pergi dari gue karena gue nggak mau kehilangan lo... lo sahabat gue yang paling ngertiin kondisi gue disaat apapun.”             Lagi-lagi hanya hening yang mendominasi. Keilvan tersenyum getir dan menghembuskan napas berat. Dia menghampiri Givhana dan menepuk pundak gadis itu sebelum akhirnya menarik Givhana kedalam pelukannya. Lalu, Keilvan berbisik, “Kejar dia, Vhan... bilang kalau lo cinta sama dia....”             Setelah pelukan Keilvan terlepas, Givhana mendongak untuk menatap laki-laki itu. Keilvan sekali lagi menepuk pundak Givhana dan berjalan ke arah pintu keluar             “Jadi... selama ini lo suka sama gue?” tanya Vean tiba-tiba, membuat Givhana tersentak dan menatap laki-laki itu ragu. Vean tersenyum lembut ke arahnya, membuat debar jantung Givhana menjadi tidak karuan.             “Ya...,” jawab Givhana akhirnya setelah jeda beberapa detik. “Gue suka sama lo sejak semester satu. Sejak acara kampus waktu itu dimana lo mendata para mahasiswa semester satu. Sejak itu juga, gue tau kalau gue bertepuk sebelah tangan karena lo sama sekali nggak pernah menganggap gue ada. Lo hanya menatap ke arah... Jacelyn....”                     “Gue memang suka sama Jacelyn... saat gadis itu masih jadi mahasiswi baru, sama seperti lo... tapi, lambat laun ada yang berubah.”             Givhana mengerutkan kening dan menunggu kelanjutan kalimat Vean tadi. Entah kenapa jantungnya semakin berdetak kencang, melebihi batas normal.             “Waktu gue duduk di semester tujuh, ada satu gadis yang menggaggu pikiran gue. Gadis yang tanpa sadar mulai mencuri dan menyedot semua perhatian gue. Gadis yang selalu mengalihkan tatapannya bahkan terkesan tidak peduli saat gue menatapnya atau bahkan tersenyum ke arahnya. Gadis yang selalu membuat gue penasaran....” Vean mendekati Givhana dan langsung memeluk gadis itu tanpa aba-aba. Membuat Givhana terkejut dan hanya bisa menahan napas ketika kepalanya mendarat pada d**a bidang laki-laki itu. “Gadis itu adalah elo, Givhana....”             Apakah semua ini hanyalah mimpi?             “Lo nggak tau betapa cemburunya gue ketika melihat lo sama Keilvan... gue frustasi. Gue pengin bisa ngobrol sama lo tapi gue nggak punya cukup keberanian untuk sekedar menyapa lo karena lo terlalu cuek dan fokus pada dunia lo sendiri. Gue takut bahwa lo sama sekali nggak pernah menganggap gue ada, makanya gue nggak pernah satu kalipun mengajak lo berbicara disaat gue lagi ngobrol sama teman-teman lo. Tapi, satu hal yang harus lo tahu... selama ini, lo selalu ada di hati gue, hidup disana, memberikan satu harapan buat gue bahwa suatu saat nanti, lo akan jadi milik gue... dan saat itu akhirnya tiba....”             Yang bisa dilakukan oleh Givhana hanyalah diam dan memejamkan kedua matanya. Airmata itu perlahan mengalir diiringi senyuman bahagia di bibir Givhana. Penantiannya selama ini ternyata tidak sia-sia. Ternyata selama ini, perasaannya terbalaskan. Tidak pernah bertepuk sebelah tangan.             “Asal Kak Vean tau, Kakak selalu ada didalam hati gue... kemanapun gue pergi, Kakak selalu ada disana, nggak pernah hilang... hidup abadi didalam hati gue, meskipun gue beberapa kali sempat mencoba untuk menghapus semuanya.” Givhana berkata lirih dan tersenyum semakin lebar ketika pelukan Vean semakin terasa di tubuhnya.             “Would you be my girl?” bisik Vean pelan.             Tawaran manis yang tidak pernah akan disia-siakan oleh Givhana. Diiringi siulan heboh dan tepuk tangan dari para pengunjung, Givhana mengangguk mantap.             Sementara itu, diluar resto, Keilvan melihat itu semua dari dekat jendela. Senyumnya mengembang dan dia menghela napas keras. Keilvan merenggangkan otot-otot tubuhnya dan menatap langit yang mulai berubah cerah setelah gelap mendominasi beberapa jam yang lalu.             “Congratulation, Givhana...,” ucapnya pelan, lalu berjalan ke arah Picanto-nya. Awal yang baru untuk Givhana, dan dia pun akan memulai awal yang baru untuk kehidupan cintanya. Yang jelas, semua tentang Givhana akan selalu hidup didalam hatinya. Selamanya. ###  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN