Andira, wanita beranak satu itu nyatanya tidak pergi. Dia tetap berdiri didepan pintu kamar. Dari mata hitam cantik itu, Andira juga tahu, banyak sekali luka yang tersimpan disana.
Dan dia harus melakukan sesuatu demi gadis itu.
“ Kita harus membawa Mutiara ke Psikiater!” dengan tegas wanita itu menatap sang suami yang tengah berbaring diatas ranjang.
“ Bukankah dia baik- baik saja?”
“ Belum.” Andira mendekat, duduk disamping pria itu lalu menatapnya dengan serius, “ Aku sangat tahu Mutiara itu gadis yang sangat kuat tapi tetap saja tidak mudah untuk sembuh dari trauma pasca koma dan bullying yang dia alami.” Jemari itu menggenggam erat jemari besar sang suami. “ Apakah mas setuju?”
“ Apapun yang terbaik.” Senyumnya. “ Sekarang tidurlah!” menepuk sisi ranjangnya yang kosong dengan seringai menggoda.
“ Hari belum terlalu larut dan aku sama sekali belum mengantuk.” Ujar wanita itu tapi tetap berbaring disamping sang suami, menyandarkan kepalanya tepat di d*da bidangnya yang menggoda.
“ Apakah kamu ingin sedikit membakar lemak?” seringai serigala itu terbit.
“ Tentu saja tidak! Sedang tidak Mood!” jemari itu nakal, menyusuri kain piyama yang membungkus tubuh tegap itu, “ Harusnya kita memberikan pelajaran yang berat pada Nandya, seperti dipenjara minimal sepuluh tahun kalau perlu kita buat dia koma seperti yang dia lakukan pada Mutiara! Setidaknya kita siksa batinnya sampai dia tidak sanggup lagi bernafas dibumi! Dengan memaafkan dan membuatnya seperti sekarang ini, jujur membuatku cemas. Kamu tahu sendirikan efek jera sangat perlu supaya oknum- oknum seperti itu jera!” wanita dan emosinya yang suka berubah- ubah membuat Narendra mengerutkan kening. “ Lakukan semua itu sekarang!” kepala itu terangkat, menatap manic mata Narendra dengan tegas.
“ Jangan ikutan gila!” kekeh Narendra, menggulingkan tubuh Andira lalu menindih wanita itu. “ Bukankah kamu sendiri yang berucap bahwa hukuman sosial jauh lebih kejam bahkan kita juga membuat gadis itu tidak diterima sekolah dimanapun.”
“ Tapi setelah berpikir lebih jauh semua itu dirasa sangat kurang! Siapapun akan melakukan itu andai salah satu anggota keluarganya tersakiti!”
“ Semua akan baik- baik saja, tenanglah!” senyumnya lebar, mengelus surai lembut Andira yang tergerai disekitar bantal.
“ Tapi kita akan tetap membawa Muti ke Psikiater, kan?”
“ Ya!” Kekeh pria itu dengan menyusupkan kepalanya diceruk leher sang istri dan menghisapnya kuat. Satu desahan lolos dari bibir wanita itu disertai jemarinya yang juga sibuk membelai punggung kokoh Narendra.
“ Stop!” Andira menahan kepala pria itu dengan kedua tangannya saat Narendra hendak berbuat lebih.
“ Tanggung!”
“ Pembicaraan kita belum selesai!”
“ Pembicaraan apa lagi?” dahi pria itu berkerut dan emosinya sudah mulai naik, terhenti ditengah jalan itu sama sekali tidak enak Nyonya!
“ Ada beberapa hal yang harus kutanyakan!”
“ Kamu bisa bertanya nanti!” kesal Narendra, membungkam bibir yang hendak membantah itu, melumatnya dalam dan memasukkan lidah kedalamnya, memancing tautan keduanya dalam gairah yang tak berujung.
“ MAS!” Andira menjauhkan wajah Narendra, menggigit bibir merahnya menggoda, “ Biarkan kali ini aku yang mengambil alih!” Andira lantas mendorong tubuh Narendra dari atas tubuhnya, menarik kasar kaos hitam yang membungkus tubuh besar itu, “ Kenapa semakin tua, mas semakin Sexy?” Andira menyusuri d*da bidang yang terbentuk sempurna itu dengan nakal, “ Dan itu buruk untuk hormone wanita seperti istrimu ini!”
“ Bukankah itu bagus?” Narendra menyeringai, menarik tubuh itu keatas pangkuannya.
“ Iya memang bagus!” Andira mendekat, menyesap ceruk kokoh Narendra dengan kuat, meninggalkan bekas keunguan disana. “ Tapi awas saja kalau berani main dibelakangku! Kalau sampai ketahuan, detik itu juga kujamin Mas akan bangkrut dan jadi gembel seketika!”
“ Tidak akan!” Narendra tersenyum dan jemari Andira langsung menakup wajah itu, mengecup bibirnya singkat secara berulang kali sampai akhirnya tubuh besar itu terbaring terlentang diatas ranjang.
Jemarinya yang nakal mulai merambat, menarik turun resleting celana selutut yang dipakai Narendra, sekaligus meremas J*nior yang sudah ingin bebas dari balik kain ketat yang membungkusnya itu, membuat si empunya mendesah panjang dan langsung menarik wajah Andira yang sibuk berkelana didada bidangnya, mengajak bibir merah itu untuk kembali berperang lidah, menyalurkan Hasrat yang kian menggebu.
“ Panas sekali!” Andira lantas bangkit, menarik turun celana yang masih terpasang itu dan menatap tubuh pasrah Narendra yang terlihat memerah karena nafsu yang memuncak.
“ Ayo, lakukan apa yang tadi kamu inginkan Andira!” Narendra tersenyum, menunjuk boxer briefe yang masih melekat dibagian intimnya.
Dan setelah itu, hanya dinding yangn membungkus ruangan itu yang tahu, seberapa panasnya permainan sepasang suami istri itu.
Pagi datang, Andira telah siap dengan pakaian casualnya menyiapkan sarapan bersama dengan sang Assistant. “ Mamamama!” tubuh gempal itu meronta dalam pelukan sang suami. “ MA!” teriaknya kesal, bibir yang selalu mengeluarkan air liur itu berteriak marah dan memukul wajah sang Ayah dengan kepalan tangan mungilnya.
“ Ya ampun nak, kenapa kamu galak sekali!” wajah itu berulang kali mengelak namun Alva sama sekali tidak mau berhenti. “ Mamamama!” omelnya panjang tiada henti.
“ Ayo sama Bunda!” tubuh gempal itu beralih dalam gendongan Andira.
“ Mamama Brbrrr! Mamamam!” seolah sedang curhat balita mungil itu kembali bersuara dengan gemas.
“ Lapar? Baiklah sekarang waktunya mamam, ya nak!” bayi itu dipindahkan ke kursi duduknya, dengan telaten Andira meniup bubur yang masih hangat itu dan menyuapkannya pada si kecil.
“ Selamat Pagi!” akhirnya satu- satunya gadis remaja dirumah itu keluar dari peraduannya, mengambil duduk disamping Andira dengan seulas senyum lebar, namun kedua orang dewasa itu tidak mudah ditipu, wajah dan bibir itu boleh saja tersenyum tapi mata Mutiara mengambarkan semuanya.
Sedih, tertekan dan takut.
“ Pagi, Mutiara!” jawab dua orang dewasa itu.
“ Mutiara!” Narendra bangkit dari duduknya, berjongkok disamping kursi gadis itu dan menggenggam jemari kecilnya dengan hangat.
“ Kak?”
“ Menangislah!” Narendra tersenyum sedih, menakup wajah kecil itu dengan jemarinya yang bebas, “ Menangislah yang keras jika itu bisa membuatmu lebih lega!”
“ Hiks!” secara perlahan wajah itu berubah, ceruk telaganya yang berwarna hitam pekat secara perlahan menganak sungai.
“ Kakak!” suara itu serak serta rapuh, membuat Andira langsung mengalihkan pandangannya, menahan air mata yang hendak mengalir.
“ Sekretaris kakak sudah membuatkan janji dengan Dr. Roschel, pastikan kamu jangan terlambat datang karena akan sangat sulit membuat janji dengan beliau.” Narendra tersenyum, mengelus surai lebat hitam itu perlahan, “ Jika kamu merasa nyaman dengan beliau, kita akan meminta jadwal rutin. Mutiara, Maukah kamu berjanji setelah semua ini, kamu akan kembali bangkit?”
“ Apakah aku bisa?”
“ Tentu!” senyum menenangkan itu terbit membuat Mutiara langsung berhambur memeluk Narendra dan menangis keras.
“ Terima kasih!”
“ Ya.” Tangan itu terulur mengelus puncak kepala Mutiara pelan, “ Untuk itu, kita harus sama sama berjuang, Ok!” manic itu terangkat, menatap manic sang istri yang tersenyum menahan tangis itu.
Sementara itu disebuah ruangan besar berdominasi warna coklat tua nan hangat, sosok pria tegap itu duduk dengan gagah dibalik sofa panjang, menatap dengan tajam sosok wanita berkaca mata yang terlihat mulai pening.
“ Hanya sampai ini kemampuanmu?” suara itu terdengar meremehkan. “ Sayang sekali, sudah banyak uang yang saya keluarkan nyatanya sama sekali tidak memberikan hasil apapun.”
“ Xavier, dengarkan aku! Kondisi mental setiap orang berbeda! Jangan samakan dirimu dengan setiap pasien yang konsultasi padaku!” wanita yang bernama Roschel itu melepas kaca mata yang membingkai matanya dan memijat hidungnya yang berdenyut.
“ Benarkah?” alis tebal itu naik, “ Atau karena sertifikat Psikolog-mu yang perlu diragukan?”
“ Xavier!” wanita itu menarik nafas dalam. “ Sudah kubilang tenangkan dirimu! Ambil alih kendali atas dirimu sendiri saat amarah dan s*tan dalam dirimu itu bangkit! Kalau apa yang kusarankan tidak mempan, itu karena salahmu sendiri menolak untuk membuka diri dan bercerita, jadi bagaimana aku bisa membantumu!” teriaknya marah.
“ Kalau hanya itu saranmu sebaiknya saya sudah lama tidak buang- buang uang seperti ini.” Xavier lantas bangkit dari duduknya, merapikan armaninya yang sama sekali tidak kusut itu dengan menatap Roschel dingin sebelum keluar dari ruangan hangat itu dan membanting pintunya keras.
“ Xavier sialan!” teriak Roschel tertahan sesaat setelahnya, kesal sekali dengan pria satu itu.
“ Saya tidak mau konsultasi dengan Roschel lagi! Cari Psikiater yang lebih baik lagi dari dia!” Xavier menatap kesal pada sang Personal Assistant.
“ Baik Tuan Xavier!” pria yang mengabdi hampir 20 tahun di keluarga Wijaya itu menekan tombol lift, kedua pria itu masuk dan lift dengan cepat turun di lantai 1 rumah sakit ternama itu.
“ Ada kabar terbaru mengenai retail kita di Jepang Tuan.” Pria berkaca mata itu menyerahkan tabletnya, meminta sang atasann untuk melihat sendiri grafik yang dikirim oleh Team Sales mereka bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Tanpa menatap sekitar, pria itu terus melangkah.
Plang!
Tablet yang belum sepenuhnya berada dalam genggaman Xavier itu jatuh, mengantam lantai dengan bunyi yang keras, bisa dipastikan benda itu retak di beberapa sudut.
“ Dimana matamu?” makinya kasar.
“ Maaf!” suara itu kecil bergetar, memungut tablet dan menyerahkannya pada si pemilik tanpa berani mengangkat kepalanya. “ Saya minta maaf!”
“ Apakah dengan meminta maaf bisa mengembalikan barang milik saya kembali utuh?!” bentakan itu membuat tubuh kecil didepannya semakin ciut.
“ Mutiara!” wanita dewasa datang, merangkul pundak gadis disampingnya itu dan menatap manic Xavier penuh maaf.
“ Maafkan adik saya, Tuan!” wanita itu lantas mengeluarkan kartu nama dari balik tas kecilnya, “ Ini kartu nama Suami saya, anda bisa menghubungi beliau disana untuk ganti rugi.” Sayang sekali tangan yang terulur itu sama sekali tidak bersambut membuat wanita dewasa itu melirik pria yang jauh lebih tua dari pria alpha itu, mengamcam secara tidak kasat mata agar kartu nama itu diambil.
“ Kami akan segera menghubungi anda, nyonya!” sang personal Assistant tersenyum sopan, menerima kartu nama yang terulur itu dan menyimpannya.
“ Sekali lagi kami minta maaf!” wanita itu menganggukkan kepalanya takzim bukan kepada si Arrogant busuk itu tapi pada si pria paruh baya kemudian membawa gadis kecil itu bersamanya untuk masuk kedalam kotak persegi yang secara perlahan tertutup itu.
“ Merepotkan!” ujar Xavier kesal.