Pemuda bernama Mark itu tersenyum lebar dan tepukan tangan meriah disertai suitan menyambut keduanya sebagai bentuk ucapan selamat, sangat berbanding terbalik dengan wajah Mutiara yang memucat.
“Maaf tapi ini, Tidak ada niatan saya untuk mempermainkan kakak, tapi surat ini saya yakin bukan tulisan saya!” dengan jemari bergetar, gadis itu membuka kembali lembaran kertas kusut yang tadi dia remas dan menunjukkannya pada si senior itu agar mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
“ Tenanglah, saya tahu kamu gugup!” senior itu tersenyum, menepuk pucak kepala Mutiara kemudian wajahnya mulai mendekat, berbisik pelan ditelinga gadis itu, “ Saya tahu itu bukan tulisan kamu karena aku yang telah menukarnya.”
“ Apa?”
“ Apakah kamu berniat mempermalukan aku didepan semua orang?” Senior itu tersenyum lebar sembari mengambil alih Microfon yang dipegang Mutiara dan memberikan benda itu pada sang MC.
“ Kita bicarakan masalah ini berdua!” menggenggam pergelangan tangan gadis itu dan membawanya turun dari panggung.
“ Woo!” cemooh itu datang dari si pembawa Acara, “ Senior kita yang satu itu sama sekali tidak mau membuang waktu, langsung sikat saja!” tawanya menggema. “ Baiklah kita lupakan dua orang yang sedang berbahagia itu dan kita lanjut keacara selanjutnya!” acara itu berlanjut, sedangkan Mutiara dan senior sudah berlalu.
“ Tunggu!” langkah kaki keduanya dihadang oleh Sandy, menatap tajam pemuda bercat coklat itu, “ Akan kamu bawa kemana dia?!”
“ Ini bukan urusanmu, Bung!”
“ Kak Sandy!” wajah Mutiara sudah tidak berbentuk lagi, pucat dengan mata mengembun, berusaha melepaskan cekalan tangannya yang semakin lama semakin erat.
“ Sudahlah Bung! Ini Masalah kami berdua!”
“ Aku tidak mau!” Mutiara menggelengkan kepalanya keras, meminta pertolongan teman kakaknya itu.
“ Lihat dia tidak mau!” Sandy maju, mencengkram kerah kemeja yang dipakai temannya itu.
“ Ayolah Bung, dia sudah dewasa, jangan jadi babysitter!”
“ Kalian berdua cukup!” akhirnya salah satu dari deretan senior melerai mereka, “ Apakah kalian tidak malu menjadi bahan tontonan!” tunjuknya pada ratusan mata yang menonton drama itu.
“ Berengsek!” maki Sandy, “ Mutiara tidak mau ikut begundal ini Sammy!”
“ Oh jadi kamu mengenalnya?! Sudahlah Sandy, biarkan mereka pergi dan menyelesaikan masalah mereka sendiri! Sekarang sebaiknya kamu berkumpul dengan yang lain!”
“ Dia tidak akan ikut kemanapun tanpa seizinku!” mata Sandy menghunus tajam namun sayang temannya itu tidak mengerti, dia malah memanggil senior yang lain, meminta mereka untuk menggotong tubuh Sandy kembali ke tempat panitia, tanpa perduli pemuda itu sibuk memaki dan menendang- nendang udara.
“Hey sialan semua lepaskan aku!”
“Tidak bisa Sandy, biarkan mereka bicara berdua!”
“Kampret Kalian semua! Awas kalian, Hoy Mark!” teriakan Sandy hanya angin lalu dan Mark tersenyum senang, Benar- benar teman- teman yang pengertian bukan?
“ Ikut aku!”
“ Tidak mau!”
“ Ikut, atau kamu akan merasakan akibatnya!” mendengar ancaman itu membuat Muti tunduk dan mau tak mau ikut dengan sang senior dengan langkah kakinya yang terseok- seok.
“ B*ngsat kalian semua!” Sandy akhirnya bisa bebas, memaki keempat orang yang menawannya tadi.
“ Tenanglah Sandy!”
“ Tenang kepalamu!” wajah itu memerah, mencengkram kemeja pemuda itu dengan kasar, “ Apakah kamu tahu, kenapa aku langsung ganti kelompok dihari pertama ospek?! B*jingan itu berusaha melakukan pelecehan hari itu dan hari ini kalian bisa saja membuat gadis itu dalam bahaya!”
“ Mark bukan orang seperti itu Sandy!”
“ Sudahlah Sandy, tenanglah!” pemuda itu menepuk jemari Sandy yang melingkar dikerahnya itu dengan senyum takut.
“ Bagaimana aku bisa tenang! Nathan bisa menghajarku b*ngsat!” teriaknya marah.
“Nathan siapa?”
“Menurutmu Nathan yang mana?!”
“ Nathan yang itu?”
“ Memang Nathan mana lagi jadi temanku,hah?!” Sandy menendang meja dengan kesal, “ Demi Tuhan! Gadis itu adiknya!” Sandy langsung pergi setelahnya, meninggalkan teman- temannya yang sudah pucat pasi.
“ Apakah kita juga akan ikut dihajar karena hal ini?” Menatap orang- orang yang ikut menggotong Sandy tadi.
“ Mungkin saja! Aku tidak mau dibuat masuk rumah sakit seperti anak jurusan sebelah!”
“ Matilah kita!”
“Ya, kalian mati setelah ini!” umpat Sandy, pemuda itu menembus kerumunan, bertanya pada para j*nior apakah dia melihat dua orang yang naik keatas panggung tadi, ada yang berkata mereka menuju arah kanan menuju gedung utama ada yang berkata mereka menuju arah kiri menuju Perpustakaan
“ Sialan!” nafas pemuda itu putus- putus, berlari tanpa arah sembari bertanya kanan kiri. “ Kemana mereka pergi?!” pemuda itu meremas surainya, menatap Lorong panjang gedung yang kosong itu.
“ Mutiara dimana kamu!” Sandy terengah, mendial nomor Mutiara namun sama sekali tidak terangkat.
“ Angkat!” teriaknya kesal sebelum berpikir jika sendirian, dia tidak akan bisa menemukan gadis itu, mengambil keputusan sulit, Sandy segera mendial nomor telepon Nathan dan langsung terangkat pada dering ketiga.
“ Apa?”
“ Apakah kamu menyadap ponsel adikmu?” nafas itu terengah.
“ Terjadi sesuatu, kan?! B*rengsek!” Suara diujung sana terdengar marah, dengan cepat sambungan terputus. Sedangkan diujung sana, Nathanael meradang, jemarinya langsung membuka aplikasi, mencari titik koordinat ponsel sang adik yang dia pasang beberapa waktu lalu.
“ Lama sekali!” ujarnya setelah sekian menit menunggu tanpa hasil.
Nathan menaiki motor besarnya, membunyikan klakson dengan keras tanpa perduli apapun.
Memakirkan motornya dengan sembarang, Nathan segera berlari menuju gedung Universitas dengan tangan kanan membawa ponselnya.
“ Sialan, harusnya pasang Aplikasi yang lebih canggih!” umpatnya keras dengan berusaha memperbesar lokasi yang dimaksud.
“ Dek kamu dimana?!” wajahnya panik, menekan nomor telepon Mutiara untuk kesekian kalinya namun tidak dijawab.
“ Mutiara!” kesalnya.
“ Apakah kamu sudah menemukan lokasinya?!” akhirnya dia memutuskan menelepon Sandy.
“ Belum!” jawaban diujung sana sudah membuat Nathan frustasi.
Setiap ruangan yang ada difakultas itu telah dibuka namun nihil. Dan detik itu juga ponselnya berdering, nama sang adik tertera dengan jelas dilayar ponselnya.
“ Untuk apa kakak membawaku ke perpustakaan?” suara adiknya terdengar, berikut dengan suara lain, “ Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu kita!”
TUT!
Sambungan itu putus.
Ada beberapa perpustakaan yang tersebar dan paling mungkin adalah “ Perpustakaan Fakultas!” dengan cepat dia mendial nomor Sandy meminta pemuda itu menuju perpustakaan yang ada di fakultas itu.
*
Mutiara digeret dengan paksa, gadis itu meronta namun sayang orang- orang yang melihat mereka hanya menatapnya acuh dan tidak mau ikut campur. Pada akhirnya, tubuhnya didorong masuk kedalam perpustakaan.
“ Aku mau pulang!!” teriak gadis itu namun dengan cepat Mark memblokir gerak tubuhnya, “ Tidak akan sayang, urusan kita belum selesai!”
“ Aku akan laporkan semua ini pada kakakku!”
“ Siapa kakakmu? Memangnya aku perduli?!” senyumnya lebar, jemarinya membelai wajah gadis itu.
“Jangan sentuh aku!” dan detik itu juga ponsel yang berada dalam tas kecilnya berbunyi.
“ Apakah itu dari kakakmu? Angkat saja!” senyumnya lebar, merebut paksa tas gadis itu.
“ Tidak!” Mutiara langsung menggigit tangan pemuda itu dan mencolok matanya.
“ Sialan!” makinya keras, matanya perih dan Mutiara berhasil lari, mengambil setiap buku yang ada dihadapannya untuk dilemparkan kearah pemuda itu.
“ Pergi!”
“ Jalang kecil sialan!” teriakan itu semakin keras dan Mutiara berusaha mengeluarkan ponselnya, menekan angka satu sebagai panggilan cepat.
“ Kak, cepat angkat!” matanya sudah mengabur karena tangis dan pekikkannya keluar dengan keras, pinggang kurusnya berhasil ditangkap sedangkan ponselnya terlempar beberapa langkah darinya.
“ Kamu terpojok, manis!” seringai itu mengerikan, memojokkan tubuh gadis itu diantara rak buku.
“ Untuk apa kakak membawaku ke perpustakaan?” manic bersimbah air mata itu melirik ponsel yang sudah terhubung.
“ Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu kita!” senior itu tersenyum, menghapus lelehan air mata gadis itu dan jemarinya dengan cepat meraih ponsel Mutiara yang tergeletak dilantai, dan mematikan sambungan teleponnya.
“ Berusaha menghubungi kakakmu itu?!” seringainya kejam sebelum membanting ponsel pintar itu kelantai. “ Jangan berharap banyak nona!”
“ Tidak! Pergi, jangan sentuh aku!”
“ Tapi aku tidak akan menuruti permintaanmu itu, karena aku sangat ingin menyentuhmu!”
“ Tidak!” manic Mutiara tertutup, menangis dengan keras sebelum suara lain terdengar.
“ Dia bilang tidak mau, b*ngsat!”
Mutiara membuka matanya, menatap sang Kakak yang sudah menghajar habis senior kurang ajar itu dengan membabi buta.
“Kau harus mati!” Nathan mengeram, tanpa ampun menonjok wajah sok tampan Mark dengan kepalan tangan besarnya, mengabaikan darah dan sosok yang sudah tidak bisa melakukan perlawanan itu.
“Orang sepertimu harus mati karena menyentuh adikku!” teriak Nathan keras.
“ Nathan!” Sandy yang baru datang segera melerai sekaligus menyelamatkan nyawa Mark yang sudah berdarah hampir diseluruh wajahnya.
“ Lepaskan aku, dia harus dihajar sampai mampus! Dia pantas mendapakannya!”
“ Cukup! Kamu membuat adikmu ketakutan!” teriaknya keras, menunjuk arah Mutiara yang meringkuk diujung rak dengan wajah pucat pasi.
“ Mutiara!” Nathan mendekat, memeluk tubuh kecil itu dengan sayang, “ Apakah b*jingan itu melakukan hal menjijikkan padamu?” manic Nathan memindai adiknya.
“ Tidak.”
“ Sudah jangan menangis lagi! Semua sudah baik- baik saja!” bibir itu tersenyum menghapus lelehan air mata yang terus mengalir karena ketakutan.
“Jangan menangis!” jemari besar pemuda itu bergetar panik, “Kakak disini, sayang!”
“ Kak!” Mutiara berusaha tersenyum sebelum tubuhnya jatuh lunglai kedalam pelukan sang kakak.
“ Mutiara!”
Mutiara tidak tahu berapa lama dia pingsan, manic hitamnya secara perlahan terbuka dan indera penciumnya mencium aroma obat yang kuat di sekelilingnya.
“ Akhirnya kamu bangun juga!” nada itu terdengar dengan tajam, manic hitam Mutiara segera mengikuti kemana arah suara berasal.
Disana, diatas sofa panjang di ruang VIP rumah sakit itu, Nathanael Abdi Soetopo untuk pertama kalinya menatap manic sang adik dengan tajam dan penuh amarah.
“ Siapa yang sudah melakukannya, MUTIARA!”