Mutiara tahu apa yang diucapkan bibirnya beberapa waktu yang lalu itu berdampak buruk bagi kehidupannya nanti. Manic hitamnya meredup sembari mengelus dengan lembut perutnya. “ Hey, apapun yang terjadi kakak akan terus bersamamu!” Nathan mengangkat wajahnya, menghapus genangan air yang mulai turun itu. “Kak…” “Semua akan baik- baik saja. Ok!” Nathan tersenyum teduh, seolah berujar semua akan baik- baik saja. “ Iya. Terima kasih.” Senyum Mutiara. Setelah kepulangannya dari rumah sakit, Mutiara terduduk seorang diri di sofa ruang tengah, menatap kosong layar besar didepannya seolah raganya hilang diterpa angin. Apakah setelah pengakuannya tempo hari, semua berjalan dengan normal dan keluarganya itu memaafkan kesalahan yang dilakukannya? Mutiara tidak tahu itu, nasibnya seolah diuj

