5

1943 Kata
Hari berganti dengan cepat hingga tanpa terasa kelulusan itu sudah didepan mata. Dan dibangku tua dibawah pohon yang rindang, gadis manis itu tersenyum dengan lebar, menatap kertas dibalik amplop miliknya. Mengamati dengan antusias nilai sempurna yang tercetak di kertas itu. “ Apakah kamu lulus?” pertanyaan itu keluar dari bibir Andra yang tiba- tiba duduk disampingnya. “ Tentu saja LULUS!” senyumnya lebar bersamaan dengan pelukan hangat yang dilayangkan Andra padanya. “ Aku senang sekali! Sumpah!” “ Andra, kita jadi tontonan!” manic bulat itu menatap sekitar diiringi senyum canggungnya. “ Maaf, aku terlalu senang!” pemuda itu tersenyum malu dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “ Apakah kamu mau melihat nilaiku?” Andra mengulurkan amplop miliknya dan meminta Muti untuk membuka. “ Ini nilaimu?” manic cantik itu senang, menatap sang sahabat tidak percaya. “ Tentu saja itu nilaiku! Terima kasih berkatmu aku bisa lulus dengan nilai baik seperti ini! Tidak bisa dibayangkan bagaimana jadinya aku tanpamu!” senyumnya lebar, “ Dan selamat untukmu yang berhasil menjadi nomor satu dikelulusan tahun ini!” “ Terima kasih!” Mutiara tersenyum, setidaknya ada satu orang siswa disekolahnya yang mengucapkan kata selamat atas prestasi yang diraihnya. “ Apakah kamu mendengar kabar tentang pesta kelulusan yang diadakan oleh para donator sekolah kita?” “ Tidak.” Mutiara menggelengkan kepalanya pelan, dia tidak pernah tahu informasi apapun disekolah kalau Andra tidak memberitahunya dan selalu seperti itu selama 3 tahun dia bersekolah. “ Maka dari itu aku memberitahumu. Pesta akan diadakan di salah satu club ternama dengan bintang tamu DJ dari Paman Sam sana.  Jadi apakah kamu mau datang keacara pesta besok?” “ Mungkin tidak!” Mutiara langsung menolak, tentu saja dia tidak akan mau datang selain itu dia tidak mungkin diizinkan untuk datang keacara yang diadakan di Club malam. “ Sayang sekali!” Andra tersenyum kecut, “ Baiklah, kalau kamu tidak datang, aku juga tidak akan datang.” “ Kenapa?” “ Mana mungkin aku bersenang- senang sendiri tanpa dirimu! Memangnya aku ini teman macam apa?!” “ Datanglah! Aku tidak apa- apa kok!” senyum itu tidak sampai mata dan Andra yang kenal betul dengan gadis itu sedikit khawatir. “ Kenapa? Apakah kamu masih takut?” manic coklat itu menatap Mutiara lembut, menggenggam jemarinya dengan hangat. “ Semua sudah baik- baik saja sekarang dan kamu sudah mulai membaik. Sudah saatnya kamu keluar dan bersenang- senang!” Andra, pemuda tanggung dengan penuh empatinya. “ Kalau masalah izin, aku yang akan meminta izin pada Kakakmu, tenang saja!” senyumnya lebar. Dan meminta izin membawa seorang gadis untuk pergi ke party itu tidak semudah kelihatannya. Meskipun sudah sering bertemu, pemuda itu tetap saja kikuk dan segan pada pria beranak satu yang duduk didepannya kini. “ Jadi kamu berniat mengajak Mutiara untuk datang keacara sekolah lusa?” suara berat itu menyentak Andra, pemuda tanggung itu menganggukkan kepalanya cepat. “ Dimana kegiatannya?” “ Disalah satu tempat ramai yang sering dikunjungi kaum muda.” Andra menggaruk kepalanya, bingung sendiri dengan jawaban yang harus diberikan pada pria dewasa yang sedang menatapnya dengan tajam itu. “ Lebih tepatnya? Cepat katakan!” “ Mas!” suara lain datang dan kemudian duduk disamping sang suami, mengelus lengan pria itu untuk santai. “ Dimana tempatnya, Andra?” gantian sang istri bertanya. “ Di The Velvet!” ucapan itu terlontar begitu saja dari bibir Andra, yang langsung membuat Narendra berdiri, berkacak pinggang dan  berkata dengan tegas, “ Club malam?! Mutiara tidak saya izinkan!” “ Mas, tenang sedikit!” Andira menarik sang suami untuk duduk ditempat. “ Maafkan Kakak Mutiara yang satu ini! “ Iya.” Pemuda itu meringis. “ Bukankah sekolah hanya mengadakan acara Wisuda minggu depan dan acaranyapun di sekolah lalu acara apa di The Velvet itu?” “ Itu adalah salah satu acara yang diadakan Donator Yayasan. Mereka dikabarkan telah membooking satu lantai di The Velvet Khusus untuk acara itu. Telah dipastikan disana No Alkohol, No Drugs, dan No Sss.. ya seperti itu.” Andra hampir kelepasan menyebutkan kata- kata tabu diakhir kalimat. Bisa mati dia! “ Bisa dipastikan aman?” Narendra tentu saja tidak akan percaya begitu saja. “ Menurut informasi seperti itu.” “ Bagaimana kamu menjamin situasi seperti itu aman jika kamu hanya berpatokan pada kata orang lain!” Narendra, bersendekap, menatap Andra tajam, “ Mutiara tidak saya izinkan datang ke tempat itu!” “ Mas!” dahi Andira mengerut, tidak setuju pada sang suami. “ The Velvet itu club malam Andira! Hanya orang bodoh yang mengizinkan adiknya pergi ke tempat seperti itu!” “ Dan hanya orang egois yang tega mengekang sang adik untuk menikmati hidup seperti remaja yang lain!” wanita itu bersendekap, menantang sang suami. “ Lalu, apa aku harus mengizinkannya untuk pergi?!” “ Iya!” Andira tersenyum disertai ancaman di bibir cantiknya, seolah berkata, “Izinkan mereka pergi atau kau tidak dapat jatah, Narendra!” Sialan, tentu saja pria seperti Narendra tidak mau hal seperti itu terjadi! Bisa merana dia! “ Sst! Baiklah!” Narendra menyerah, memijat pelipisnya yang berkedut, “ Kamu bisa mengajak Mutiara pergi keacara itu dengan syarat.” Manic itu menatap Andra tajam, “ Pastikan dia aman disana, jangan biarkan dia menyentuh apapun yang berbahaya dan jauhkan semua lelaki yang berusaha mendekatinya kalau sampai kamu melanggar hal itu, saya pastikan kamu akan tamat!” ancam Narendra dengan tangan menggorok leher. “ Saya akan jamin!” gelagap pemuda itu dan sosok yang sedari tadi mengintip dibalik dinding tersenyum. Setelah itu Andira sangat berantusias, membawa Mutiara untuk membeli gaun baru ditemani oleh Andra serta baby Al. “ Kurasa ini cocok untukmu!” gaun model A Line semata kaki ditempelkan pada tubuh gadis yang berdiri didepannya dengan pandangan menilai, “ Bagaimana menurutmu?” bertanya pada Andra, pemuda itu lantas menaruh tangan di dagu seolah menilai. “ Bagus! Tapi masih banyak gaun yang lebih bagus lagi!” “ Kamu benar!” Andira lantas menarik tangan Mutiara, membawa gadis itu menjelajah isi Dep. Store,  meninggalkan Andra bersama Baby Al yang tampak anteng di Stollernya. “ Kita akan menunggu dua wanita itu disini, Bung! Tapi ingat, jangan nakal, ya!” ujarnya pada Balita yang sibuk dengan mainan dan dotnya itu. Sedangkan disisi lain Andira terus memilah- milah gaun, menempelkan kain berbentuk cantik itu dibadan Mutiara sembari menimbang- nimbang. Gaun demi gaun itu dicoba sampai akhirnya sebuah Midi dress berwarna Peach bertabur Swarovski dibagian d**a menjadi pilihan, “ Kamu bisa coba gaun ini!” dan mendorong tubuh kecil itu masuk ruang ganti. Tak lama kemudian wajah Mutiara mengintip dibalik ruang ganti dan melangkah secara perlahan kedepan Andira. “ Cantik sekali!” Andira tersenyum, mengagumi tubuh cantik berbalut gaun yang pas ditubuh mungilnya itu. “ Kita akan ambil ini!” senyum Andira lebar pada sang pramuniaga. Gaun cantik sudah terbungkus rapi dalam paperbag dan keempat orang itu bersiap pulang setelah membelikan setelan pada Andra sebagai bonus, namun langkah Muti terhenti, menatap gaun berwarna putih gading berlengan panjang, terlihat sederhana dan kuno, digantung disudut ruangan. Seolah sengaja disisihkan! “Padahal bagus!” bisik Mutiara pelan. “ Apa yang kamu lihat?” Andira menatap Mutiara bingung. “ Bisakah kita membeli itu juga?” tunjuknya pada gaun yang terlihat tersisih itu. “ Bukankah itu sedikit kuno?” “ Tapi bagus!” ucap Muti, ‘ Seperti milik ibu dulu.’ Batinnya. “ Baiklah kalau itu yang kamu mau.” Mendengar itu Muti tersenyum lebar. Jam berputar dengan cepat, Mutiara menatap penampilannya didepan cermin dengan gugup. “ Kamu pasti bisa!” ucap gadis itu pada dirinya sendiri bersamamaan dengan diketuknya pintu dari luar. “ Andra sudah datang!” “ Iya!” menarik nafas panjang dan membuka pintu. “ Cantik sekali!” pujian itu keluar dari bibir Andra saat melihat gadis itu turun dari lantai atas. “ Dia memang cantik sejak dulu!” ujar Andira, “ Pergilah dan tunjukkan pesona mematikanmu pada bocah- bocah congkak disana! Buat mereka menyesal karena sudah berbuat jahat padamu!” senyum Andira, mengelus perlahan pipi lembut itu. “ Ingat jangan pulang terlalu larut, Cinderella!” imbuh Andira lagi. Mobil yang dikendarai oleh supir keluarga itu berjalan membelah jalanan Bali yang tidak pernah sepi itu, memasuki Kawasan The Velvet dan menurunkan kedua penumpangnya disana. “ Saya akan menunggu kalian sampai acara usai.” Ujar sang supir dengan senyum ramahnya. “ Iya, Pak!” sahut Andra tegas, seolah paham benar bahwa sang supir membawa gadis itu pergi dengan baik dan pulang harus dalam keadaan baik juga. Security yang berjaga didepan pintu masuk melihat identitas mereka dan diarahkan menuju lantai 1 dimana acara diadakan. Hingar bingar dan silau lampu berwarna warni menyambut manic hitam itu, jemarinya bergetar  dengan cepat mencengkram ujung jas yang dipakai oleh Andra. Keringat dingin langsung membanjiri tubuh mungil gadis itu, manic hitamnya dengan cepat terpejam, dengan keras gadis itu menggigit bibirnya, menyembunyikan ketakutan yang mat ketara. “ Tenanglah, disini aman!” senyumnya, “ Kemarikan tanganmu!” meminta gadis itu untuk menggenggam tangannya. Kedua pasangan itu masuk semakin dalam dan langsung menyita perhatian sebagian remaja yang sedang bersenang- senang disana. “ Aku takut!” “ Tenang saja ada aku disini untuk menjagamu.” dengan perlahan Andra menepuk punggung tangan Mutiara, “ Kamu tahu, kamu cantik sekali!” jujur Andra sembari menuntun kaki itu untuk duduk disalah satu sofa yang terlihat kosong. “ Duduklah dengan tenang disini! Aku akan mengambilkan minum untukmu!” Andra pergi, meninggalkan Mutiara seorang diri. “ Apakah kita pernah bertemu?” sosok itu datang sejenak setelah Andra pergi. “ Kamu dari kelas mana?” wajah itu semakin mendekat, mengamati wajah cantik Mutiara dengan intense. “ Kenapa aku baru sadar disekolah ada siswi cantik sepertimu?” Tidak ada jawaban yang keluar dari gadis manis itu, wajahnya yang cantik semakin menunduk dengan jemari meremat satu sama lain semakin keras dan bibir menggigit semakin keras, menahan isak tangis yang akan keluar. “ Bolehkah kita berkenalan, Siapa namamu?” tangan itu terulur, berniat menyentuh wajah Mutiara namun dengan cepat sosok itu datang, duduk diantara keduanya sembari meletakkan dua buah gelas minuman dimeja. “ Dia pacarku, bung! Jangan macam- macam!” peringat Andra, menatap siswa yang entah siapa namanya itu. “ Sekarang kamu pergi sana, menjauh dari kami!” “ Pacarmu?” pemuda menatap keduanya meremehkan sembari berkata, “ Jaga dia dengan baik, karena dia terlihat cantik.” Secara perlahan wajah pemuda itu mendekat, membisikkan sesuatu di cuping telinga Andra, “ Andai kamu tidak datang, mungkin dia sudah kubawa kelantai atas! Melakukan S*x yang keras sampai dia mendesah keenakan!” senyumnya menjijikkan sebelum menepuk puncak Andra. “ Kampret, Jaga kata- kata lo!” maki Andra kesal, berniat mengejar si anak kurang ajar itu namun dengan cepat dicegah oleh Mutiara. “ Andra!” “ Dia kurang ajar!” Andai Mutiara mendengar apa yang dibisikkan pemuda itu tadi! “ Terima kasih!” Mutiara tersenyum tulus. “ Maaf aku tadi terlalu lama ambil minum.” “ Ya.” “Minumlah!” Andra mengambilkan gelas untuk Mutiara, membiarkan gadis itu menyesap sedikit orange squashnya. “ Baiklah kita abaikan kejadian tadi! Sekarang maukan kamu bergabung dengan yang lain?” manic itu melirik pada puluhan siswa lain yang asyik menari diatas lantai. “ Menari bersama!” Andra tahu ada keraguan dan ketakutan dalam mata cantik itu, “Aku bersamamu!” “Tapi…” “Aku tidak bisa menari!” pekiknya keras bersamaan dengan tarikan Andra ketengah- tengah lantai itu. “ Andra!” “ Tidak perlu teknik, yang penting menari dan bersenang- senang!” meraih tangan Mutiara dan menggoyangkannya ke kiri dan kekanan. “ Andra, aku takut!” “ Kenapa harus takut? Kita ini sedang bersenang- senang Mutiara!” tawanya keras. “Jangan pikirkan apapun saat ini! Tertawa dan menarilah!” Dan disalah satu sudut tempat itu, sosok yang paling tidak diharapkan mengmati keduanya, seulas senyum licik  membias dalam bibir merahnya. “ Selamat bersenang- senang, Nona Soetopo!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN