Sepenggal Kisah Tentang Mutiara

1434 Kata
Mutiara Annisa Soetopo, gadis  manis nan mungil itu masih terbaring diatas bangkar pesakitan dengan mata terpejam erat, seolah mengabaikan semua kejadian didunia nyata karena mimpi indah yang tengah membuainya. Setelah sekian lama menunggu, hembusan nafas panjang keluar dari bibir Nathanael,  kakak angkat dari gadis itu. Jemarinya yang besar itu mulai terulur, mengelus wajah lembut berhias baretan luka. “ B*rengsek!” Jemari besar itu terkepal erat, mengutuk dalam hati gadis berwajah memuakkan yang menyebabkan semua ini terjadi. Andai, sebagai kakak Nathan selalu berada disamping gadis kecil itu, semua hal buruk ini mungkin tidak akan terjadi. " Heh kamu tidak rindu lagi sama kakak?" bisiknya. " Kamu tahu ada cowok yang sering kesini untuk kamu. Andra. Dia cukup lumayan sih..tapi jangan pacaran dulu. Minimal pacaran pas kamu lulus kuliah aja. Tapi cari yang mapan dan tampan, ya! Dan paling penting harus lulus seleksi dari kakakmu ini ya? " Nathan tersenyum. " Ok kalau kamu bangun kakak akan ajak kamu ke Disneyland Singapura ya. " bujuknya lagi. Nathanael, pemuda yang menjabat sebagai kakak angkat gadis itu sudah mulai lelah. Dia tak tahu lagi bagaimana caranya agar adiknya itu membuka mata. Hingga disuatu titik, pemuda itu menelungkupkan kepalanya diatas ranjang, Air mata yang mati- matian dibendung pada akhirnya tumpah. Nathan sangat takut, dia tak mau kehilangan adiknya lagi seperti yang dulu. “ Disneyland, Eropa, Amerika, Kutub Utara atau Korea Utara kamu minta kemanapun akan kakak kabulkan. Tapi buka mata kamu dulu, Mut! Kakak capek, Kuliah kakak berantakan! Semua ini salahmu dan kakak tidak mau tahu pokoknya kamu harus bangun, sekarang!” “ Katakan, apa yang harus kakak lakukan agar kamu mau membuka mata! Kamu mau pukul kakak, marah atau apapun itu kakak tidak perduli! Yang penting buka matamu!” “ Nathan.” Telapak tangan lembut bersarang di pundak pemuda yang tengah bergetar karena tangis itu, mengelusnya perlahan untuk menenangkan. “ Mbak!” manic mata yang biasa memancarkan keisengan itu kini menatapnya sendu dengan linangan air mata. Dengan cepat Andira membawa tubuh tegap pemuda itu dalam pelukannya, membiarkan menumpahkan segala ketakutannya. “ Tenanglah, Mutiara akan cepat bangun dan kembali pada kita.” Telapak tangan Andira menepuk punggung ringkih itu, menenangkan. “ Sampai kapan?” Nathan menatap wajah kakak iparnya itu menuntut, “ Satu hari, satu minggu, satu bulan atau bahkan mungkin satu tahun?! Sampai kapan?!” “ Nathan..” “ Aku hanya mau adikku bangun!” “ Iya, mbak juga menginginkan hal yang sama.” Andira mengalihkan pandangannya pada gadis yang terbaring diatas bangkar. Tak ada pergerakan sedikitpun selain hembusan nafas teratur yang menandakan adanya kehidupan dalam diri gadis itu. Genap tiga hari sudah Nathan menemani Mutiara dan kini pemuda itu sudah tidak tahan lagi, dia akan memberikan pelajaran pada pembuat kekacauan ini. Raungan mesin 250 CC itu membelah jalanan dengan kecepatan tinggi, mengabaikan rintikan hujan yang membasahi tubuh tegapnya untuk sampai tujuan. Rumah berpagar hitam itu berdiri kokoh seolah menegaskan seberapa kuatnya jeruji itu melindungi penghuni didalamnya. Tapi siapa yang perduli, gigi dibalas gigi dan darah juga dibalas dengan darah, kan?! Dengan amarah yang menguasai dirinya, jemari itu mencengkram erat stang motor, menabrak berulang kali pagar bangunan dimana gadis mengerikan itu tinggal. “ Bocah sialan, kamu mau saya laporkan pada polisi atas tuduhan pengrusakan?!” seorang pria bertubuh besar keluar dari balik pos, membuka pintu pagar samping dan  mencengkram bahu pemuda yang masih diatas motor itu. “ Lakukan saja!” bisik Nathan dari balik helmnya. “ Bocah tengik!”  dalam sekali dorongan, Nathan beserta motor besar yang dinaikinya roboh. “ B*ngsat!” teriak Nathan keras pasalnya kaki pemuda itu terjepit badan motor, sekuat tenaga Nathan bangkit dengan menarik kakinya perlahan. “ Manusia sepertimu memang tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?” Dengan langkah tertatih, pemuda itu membuka helmnya, tersenyum sinis pada pria sok kuat itu. “ Bocah sepertimu hanya lalat kecil tidak tahu diri!” Bruk! Pria besar berseragam itu langsung ambruk akibat hantaman keras yang dilakukan Nathan dengan menggunakan helmnya. “ Siapa yang kamu sebut lalat kecil, huh?” tersenyum mengejek pada pria yang sibuk menyeka darah yang mengalih disepanjang hidung besarnya. “Kutu Kup*ret!"belum sedetik makian itu terucap, Pria bername tag Wito itu langsung pingsan karena hantaman keras yang dilayangkan Nathan dengan menggunakan helm full facenya lagi. Setelah membereskan pria penjaga gerbang yang hanya mengandalkan tampang sangarnya itu, Nathan masuk kedalam rumah berhalaman luas itu dengan langkah tertatihnya. “ Sial!” pemuda itu meringis pasalnya kaki yang tadi terjepit badan motor mulai terasa nyeri dan terlihat mengeluarkan darah. “ Nandya, keluar!” teriakan itu menggema si seluruh ruangan, memanggil si gadis pemilik rumah untuk keluar dari tempat persembunyiannya. “ Apa kamu tuli? Kubilang keluar!” Nathan dengan emosinya, pemuda itu mengobrak- abrik isi rumah mewah itu, menghancurkan apapun yang ada didepannya. “ Nak!” suara itu terdengar bergetar ketakutan, menepuk pundak Nathan perlahan.  “ Apakah kamu mencari Nona Nandya?” “ Dimana dia?” “ Nona beserta keluarga memutuskan untuk tidak menempati kediaman ini.” “ Kemana mereka pergi?” “ Maaf, kami sama sekali tidak tahu.” “ Suck!” maki Nathan pelan, merasa sia- sia datang ketempat ini karena tidak menjumpai gadis laknat itu. * Nathan melepas hoddie basah yang membungkus tegapnya bersamaan dengan terbukanya pintu kamar, menampilkan sosok pria dewasa yang menatapnya dengan tajam. “ Kali ini hal bodoh apalagi yang kamu lakukan diluar sana?!  Apakah ini cara orang tua kita mendidik kita? Dengan bertindak seperti preman?!” mendengar itu Nathan menarik nafas panjang, pasti ada seseorang yang melaporkan perbuatannya hari ini. “ Demi Tuhan Nathanael, Sampai kapan kamu akan seperti ini?!” “ Sudah berulang kali kukatakan, Sampai adikku bangun kembali!”  “ Jangan konyol Nathan! Berbuat hal demikian tidak menjamin Mutiara untuk siuman!” Narendra memijat pelipisnya yang mulai berdenyut, memikirkan kekeraskepalaan sang adik. “ Ada kami disini yang akan menjaganya,  jadi sebaiknya kamu segera kembali dan selesaikan kuliahmu dengan baik.” “ Tidak!” jawaban itu tegas, jemarinya yang sudah mulai terbentuk itu terkepal dengan erat.  “ Nathan!” “ Hanya sampai Mutiara bangun!” pemuda itu menatap sang kakak dalam. “ Setelah itu aku akan pergi dan melakukan apapun yang kamu mau.” “ Baiklah, Kakak pegang kata- katamu!” pria matang itu tersenyum tipis, “ Obati luka di kakimu sebelum bertambah parah.” Dan pintu kamarnya tertutup, menyisakan Nathan yang termenung melihat lelehan darah yang berceceran disekitaran lantai kamarnya. Hari berganti dengan cepat dan kini sudah genap satu minggu, bungsu cantik itu enggan membuka matanya. “ Sampai kapan?” senyum itu perih, air mata yang sekian hari tertumpuk dipelupuk mata itu akhirnya mengalir dengan sendirinya, “ Apa kamu tidak mau bangun?” jemari Nathan bergetar, meraih jemari kurus nan rapuh itu, mengecupi setiap sisinya dengan putus asa. “ Kami semua menunggumu disini. Buka matamu dan lihat kami semua sayang padamu, Mutiara!” “ Nathan cukup!” Andira, wanita yang sedari tadi berdiri dibelakang pemuda itu memeluk bahu rapuhnya erat, menguatkan pemuda yang terlihat rapuh itu. “ Mereka berkata dengan sangat jelas kalau tidak ada masalah terhadap tubuhnya, kan? Mereka bilang Mutiara sangat stabil untuk saat ini, tapi kenapa dia sama sekali tidak mau bangun?!” “ Hey dengar!” jemari lembut kakak iparnya itu meminta Nathan untuk menatap matanya, “ Semua akan baik- baik saja, Mutiara adalah gadis terkuat yang pernah kita tahu dan sekarang tugas kita adalah menunggunya kembali.” “ Iya!” Silih berganti bagian dari keluarga itu menunggui Mutiara yang terlelap seperti putri tidur di bangkar VIP itu dan  puluhan cangkir kopi telah diteguk pemuda itu dalam minggu ini. Hembusan nafas kasar itu keluar dari bibirnya setelah melihat pantulan wajahnya yang kini terlihat mengerikan, bahkan tubuhnya yang biasanya bersih terawat kini kusam dan kusut masai. “ Biar saja!” ucapnya dalam hari sebelum menyalakan keran dan membasuh wajahnya dengan air dingin berulang kali. Setelah dirasa cukup, pemuda itu segera keluar dari dalam kamar mandi dan kembali duduk di atas sofa panjang tempatnya mengistirahatkan tubuhnya selama berhari- hari ini. Demi membunuh rasa bosan, pemuda itu menyalakan ponsel, membuka aplikasi game, Hampir satu, jam mata serta tangan itu berkonsentrasi pada layar pipihnya. Mengumpat secara tertahan saat hampir terbunuh oleh lawan- lawannya. Dari posisi duduk tegak sampai akhirnya merebahkan diri diatas sofa, hingga uapan itu mulai keluar dari mulut Nathan, matanyapun juga mulai perih. Dalam sekejap ponsel itu terjatuh ke lantai disertai hembusan nafasnya teratur. Nathan tidak tahu seberapa lama dia tertidur, tapi yang jelas sekarang suara ribut seperti lalat itu terdengar amat jelas ditelinganya. Pemuda itu mengerutkan alisnya dalam sebelum membuka mata, bersiap untuk memaki siapapun yang menggangunya hari ini namun semua itu urung saat mata tajamnya tertumpu pada sosok yang terduduk diatas bangkar, menatap manicnya dengan seulas senyum tipis di bibirnya yang pucat. “ Kak.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN