Mobil putih itu berjalan menembus jalanan yang bisa dibilang cukup lenggang di jam sibuk ini. Sosok wanita paruh baya itu menggenggam jemari Nandya erat dengan manic terus mengamati sang putri yang sedari tadi menepuk- bepuk kaca mobil, mengamati deretan gedung- gedung yang menjulang tinggi dengan tawanya yang lebar sebelum akhirnya meloncat- loncat kecil diatas kursinya. “Banyak rumah raksasa!” “Banyak rumah punya raksasa disini!” “Itu- itu- itu banyak! Aku mau seperti itu! Aku mau!” “Iya sayang, nanti kalau Nandya sembuh kita bikin rumah raksasa yang banyak, ya!” jemari tua Prameswari mengelus surai sang putri dengan senyumnya. “Aku juga suka menari…menari…menari!” tubuh Nandya bergerak semakin tidak beraturan membuat Prameswari langsung memeluk tubuhnya dengan erat. “Iya. Cantikny

