Bayu tersenyum manis sambil duduk begitu saja menempati bangku kosong yang ada di depan Airin. Meski gadis di depannya terlihat sangat keberatan, tapi Bayu justru terlihat acuh. Dia bahkan melambaikan tangannya untuk memanggil seorang gadis cantik dengan seragam pelayan langsung mendekat ketika melihat lambaiannya.
Memberikan selembar kertas menu yang langsung Bayu tolak. Karena ia sudah memilih minuman apa yang ingin ia nikmati siang ini.
“Tolong Ice Moccachino satu ya!” pinta Bayu yang langsung diangguki pelayan cantik itu.
Setelah menulis pesanan, pelayan bergegas pergi dan meninggalkan Bayu dan Airin berdua. Terdengar dengusan dari Airin yang membuat pria itu seketika melihat pada wanita cantik yang masih duduk di depannya. Mendapat tatapan tajam dari Airin, bukannya merasa malu karena tiba-tiba saja sudah bergabung duduk bersamanya, Bayu justru mengulum senyum karena merasa wajah Airin sangat imut.
“Sedang apa kamu di sini?” sengit Airin dengan pandangan penuh curiga menatap ke arah Bayu.
Pria itu terkekeh, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya.
“Hanya ingin minum kopi dingin. Di luar cuaca sangat panas, jadi aku pikir mendinginkan diri di kedai es krim seperti ini sepertinya bukan ide yang buruk.” Ucapan Bayu terdengar santai tapi nyata menyindir Airin yang sedang mendinginkan diri di kedai itu.
Airin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia masih tidak percaya dengan apa yang CEO muda itu katakan.
“Jangan bilang kamu menguntitku sampai ke sini ya? Sejak kapan kamu jadi seorang stalker seperti itu?” tuduh Airin sambil memicingkan matanya, melipat kedua tangan di depan d**a.
“Loh, bukannya kedai ini tempat umum? Siapa pun berhak untuk datang ke sini bukan.” Bayu mengedarkan pandangan, melihat sekeliling dengan wajah tak bersalah. Lalu muncul ide jahilnya di dalam kepala.
“Terus kalau aku bilang memang aku mengikutimu bagaimana?” Bayu sengaja menggoda Airin sambil memajukan tubuhnya mendekat ke meja.
Ia ingin tahu bagaimana reaksi gadis itu. Namun bukannya marah, Airin hanya tertawa.
“Kalau kamu ingin mendekatiku, sebaiknya mulai sekarang buang jauh-jauh keinginanmu itu. Aku sudah punya pacar.” Airin mengangkat tangan kirinya, sengaja memperlihatkan cincin berlian yang melingkar di jari manis. Cincin pemberian Raldo dua tahun yang lalu sebagai hadiah ulang tahun.
“Dan pacarku itu sangat pencemburu. Dia tidak akan suka melihat ada pria lain yang mendekatiku.” Perkataan gadis itu penuh dengan penekanan, seakan menekankan jika apa yang dia alami dua hari yang lalu juga akibat Bayu yang mengirim pesan pada ponselnya. Walau nyata Bayu tidak tahu apa yang harus dialami Airin.
Bayu terdiam, berusaha mencerna apa yang gadis itu katakan. Meski ada sedikit rasa kecewa yang ia rasakan di dalam hati. Namun pria muda itu berusaha menutupinya dengan rapat, agar Airin tidak dapat melihatnya. Pembicaraan mereka terhenti ketika seorang pelayan membawakan dua gelas pesanan mereka dan segera meletakkannya di meja.
Setelah mengucapkan terima kasih, Airin langsung menyendok es krim pesanannya karena kerongkongannya memang sudah kering sejak tadi. Seakan melupakan jika saat ini ada orang lain yang duduk bersamanya.
“Apa dua hari kamu tidak masuk kerja itu juga gara-gara pacarmu?”
Pertanyaan yang Bayu ucapkan sukses menghentikan suapan keempat sendok berisi penuh es krim ke mulut mungil Airin. Pelan, gadis itu melahap juga suapan ke empat yang sudah terlanjur ia sendok. Sebelum akhirnya gadis itu mengangkat wajahnya agar bisa melihat Bayu yang kini sedang menatap dirinya.
“Ehm, itu bukan urusanmu. Tapi kalau boleh jujur, memang salah satu alasannya adalah iya karena itu. Mungkin aku akan mundur dari proyek itu. Dia ... lebih suka aku bekerja sebagai pelayan di restoran daripada jadi pegawai kantoran,” ucap Airin sedih terdengar pelan, tapi Bayu masih bisa mendengarnya dengan baik.
Kini terjawab sudah apa yang sudah menjadi pertanyaan Bayu selama dua hari ini.
‘Jadi benar, dia tidak masuk kerja karena pacarnya yang melarang.’ Kesal Bayu dalam hati.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Mereka berdua sibuk menikmati minuman masing-masing. Sampai akhirnya ucapan Bayu membuat Airin tersentak kaget.
“Aku tidak tahu siapa dan bagaimana pria yang menjadi kekasihmu itu. Tapi jika kau ingin tahu bagaimana pendapatku, maka akan aku katakan jika pacarmu itu adalah seorang pengecut!”
Airin menghentikan suapan es krimnya. Menajamkan pendengaran yang entah mengapa ucapan Bayu terdengar seperti dukungan untuknya.
“Jika dia adalah pria sejati yang mencintaimu, seharusnya ia merasa bangga dengan apa yang sudah kamu raih sekarang. Menjadi seorang pegawai di perusahaan besar dan memegang tanggung jawab yang aku yakin, bahkan orang lain belum tentu bisa meraihnya. Itu adalah sebuah kebanggaan tersendiri.”
“Seharusnya dia mendukungmu, bukan malah menjatuhkanmu hanya karena cemburu.” Pungkas Bayu dengan penuh penekanan.
Airin mengangkat wajahnya, melihat pria yang sedang menatap hangat kepada dirinya.
“Kamu adalah gadis yang pintar, dan aku bisa melihat potensi yang besar di dalam dirimu. Kamu lebih dari hanya seorang pelayan biasa. Karena itu aku berani memintamu sebagai syarat pada Tuan Gunawan, untuk menjadi orang yang memegang tanggung jawab proyek kerja sama itu.” Bayu melanjutkan perkataannya.
"Aku tahu kamu mampu. Dan ku harap kamu sendiri juga mau berpikir maju seperti apa yang sudah aku pikirkan. Bukan untuk siapa-siapa, tapi berusahalah untuk dirimu sendiri.” Bayu tersenyum hangat.
Mengatakan semua yang tersimpan di dalam d**a rasanya begitu lega.
Karena sejak awal memang pria itu merasa jika Airin adalah gadis yang cerdas. Terlepas dari perasaan pribadi yang tumbuh di dalam hatinya untuk gadis itu, Bayu ingin Airin menunjukkan kepandaiannya yang mampu melebihi seorang pelayan restoran.
Hati Airin terenyak, rasa hangat seperti menjalar di seluruh dadanya. Belum pernah ia mendapati seseorang yang mau mendukung kemampuannya. Bahkan Raldo yang tiga tahun menjadi kekasihnya saja tidak pernah melakukannya.
Apa yang ia dengar dari mulut Bayu adalah sesuatu yang baru yang sudah lama ingin ia dengar dari kekasihnya sendiri. Yang sayangnya Raldo mungkin tidak akan pernah mau melakukannya.
“Terima kasih, aku senang mendengar ada orang yang mendukungku.” Ucap Airin tulus sambil tersenyum manis, membuat wajah gadis itu terlihat sangat cantik.
“Mungkin jika kita menjadi teman bukan sesuatu yang buruk, bagaimana menurutmu?” Airin meminta pendapat Bayu.
Sesuatu yang belum pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi entah mengapa bersama Bayu, Airin merasa bebas dan dihargai. Mendengar tawaran angin segar, tentu saja Bayu tidak ingin melewatkannya. Pria itu mengangguk sambil mencoba tersenyum.
“Apa itu artinya besok kamu akan masuk kerja? Kamu tahu, menatap wajah Yasmin dan banyak wanita yang lebih tua, membuatku mengantuk dan cepat bosan. Mungkin jika besok kamu datang dan duduk di seberangku, aku janji walau harus berada di ruangan itu selama sehari penuh pun aku sanggup melakukannya.” Goda Bayu yang kemudian membuat mereka berdua tertawa bersama.
Meski apa yang Bayu katakan jujur dari dalam hati, tapi bagi Airin hanya mengira jika pria itu sengaja menggodanya saja. Gadis itu mengangguk, mengiyakan apa yang baru saja Bayu katakan. Sedikit pembicaraan hangat akhirnya membawa kedua manusia lawan jenis itu terlibat obrolan hangat.
Entah mengapa, tapi tak hanya Bayu, Airin pun menikmatinya. Sudah lama ia tidak menemukan teman bicara yang nyambung seperti itu. Hingga tak terasa dua puluh menit sudah mereka berada di kedai itu, kedua gelas minuman yang tadi mereka pesan juga sudah kosong.
“Aku harus pergi sekarang. Terima kasih sudah menjadi teman bicaraku. Aku merasa lebih baik sekarang.” Airin menyandang tasnya di bahu, membuka dompet hendak mengeluarkan sejumlah uang dari dalamnya.
“Jangan membuatku malu, Airin!” cegah Bayu. “Bagaimana jika mereka tahu, seorang CEO kaya sepertiku untuk membeli segelas moccachino saja harus dibayari oleh seorang wanita,” sungut Bayu yang berpura-pura kesal.
Airin terkekeh sambil mengangguk pelan. Memasukkan kembali uang yang tadi hendak ia keluarkan.
“Baiklah, jadi sekarang kamu yang mentraktirku, begitu?”
“Yup, tentu saja!”
“Kalau begitu terima kasih sekali lagi,” ucap Airin sambil berdiri dari duduknya. “Lain kali biar aku yang mentraktirmu, oke!”
“Hmm, pasti. Aku sangat menanti saat itu.” Bayu tersenyum hangat, menatap gadis cantik yang sepertinya benar-benar sudah memikat hati.
“Ai ... kamu tidak keberatan bukan jika aku memanggilmu begitu?” tanya Bayu dengan hati-hati. Tidak ingin gadis itu marah kepadanya.
“Tentu saja, kamu boleh memanggilku begitu.” Tegas Airin yang sudah bersiap pergi.
“Kamu terlihat sangat cantik, meski hanya memakai pakaian sederhana seperti itu,” puji Bayu yang entah bagaimana meluncur keluar begitu saja dari mulutnya.
Dada Airin berdetak kencang, kenapa rasanya pria itu terdengar baru saja memuji dirinya. Membuat Airin tiba-tiba merasa senang sekaligus malu dan canggung. Bahkan wajah gadis itu juga merona merah dan membuatnya terlihat lebih menggemaskan. Tidak ingin terlarut dalam suasana, Airin memilih lekas pergi.
“Sampai jumpa besok!” pamitnya sebelum berbalik dan meninggalkan Bayu yang masih duduk di tempatnya.
“Sampai besok, Ai!” balas Bayu terdengar seperti bisikan.
Matanya terus memandang punggung wanita yang baru saja keluar dari kedai es krim itu.
***
Airin menekan tombol lift sambil membawa sekantung belanjaan yang ada di tangan kirinya. Sengaja tadi ia mampir dulu ke mini market di dekat apartemennya untuk berbelanja, sebelum memutuskan kembali ke apartemen. Dibanding tadi ketika pergi, kini Airin sudah merasa lebih baik. Pertemuannya dengan Bayu benar-benar membawa suasana hangat yang menyelimuti hatinya.
Dentingan berbunyi disusul pintu lift yang terbuka. Airin melangkah keluar dengan riang. Berjalan menyusuri lorong apartemen untuk sampai ke kamarnya. Jemari lentik menekan tombol angka yang ada di samping pintu. Membuat kunci terbuka dan Airin segera masuk ke dalam apartemennya.
Hari sudah sore ketika gadis itu kembali. Ruangan yang gelap karena gorden jendela yang lupa ia buka, membuat Airin segera menekan saklar lampu agar ruangan menjadi terang. Baru saja jarinya menyentuh saklar dan membuat ruangan menjadi terang, telinganya menangkap suara seseorang yang membuatnya tegang seketika.
“Dari mana saja, Honey? Kenapa kamu melanggar perintahku?”