Dua hari berlalu, Raga masih mempertahankan egonya untuk tidak berbicara dengan Jiwa. Laki laki itu ingin Jiwa sadar, menikah muda dengan perbedaan usia diantara mereka bukankah suatu hal yang memalukan. Kecuali, jika mereka menikah karena hal yang tidak di inginkan. Namun, sepertinya di diamkan oleh Raga bukanlah hal yang terlalu penting bagi Jiwa. Mereka berdua itu sama, sama sama keras kepala. Pagi ini, Raga bangun siang karena hari libur. Niat hati ingin bermanja dengan istrinya, tapi laki laki itu ingat jika sampai hari ini Jiwa belum minta maaf padanya. Jangankan meminta maaf, gadis itu bahkan tidak pernah mengajaknya makan bersama. Jadilah Raga tidak pernah makan di rumah selama dua hari. Raga sangat merindukan istri kecilnya. "Pagi tuan, sarapannya sudah siap. Tadi non Jiwa sudah

