Pagi di keesokan harinya, di hari yang seharusnya pertunangan tersebut akan berlangsung, kini Enzi beserta kedua orang tuanya berkumpul di meja makan untuk mengisi perut mereka. Pak Harris yang sanat jarang bertemu dengan putra semata wayangnya itu sering kali menolehkan kepalanya padanya dan mengembangkan senyum bangga. “Kenapa terus-menerus melihat ke arah saya?” tanya Enzi dengan nada yang sangat ketus. Jika diperhatikan dari cara Enzi menyebut dirinya dengan kata ‘saya’ sepertinya terdapat tembok tinggi, tebal dan dingin yang menjadi batas antara putra dan ayahnya tersebut. Pak Harris menjawab, “Papa bangga melihatmu sekarang, Enzi. Kamu sudah bisa mengemban tanggung jawab yang besar untuk memimpin CAVE Company.” Namun, kemudian Enzi mendengkus dan menyindir sang papa. “Lalu siapa l

