Di dalam ruang rapat dengan sebuah meja berbentuk oval yang berada di tengahnya, Ibu Anne yang duduk di salah satu kursi yang berada di sekitar meja kini memperhatikan layar ponselnya dengan tatapan kedua matanya yang tajam. Kemudian Ibu Anne berdesis pelan, "Sepertinya mulai saat ini kamu yang harus diwaspadai, Iva."
"Ada apa, Bu?" tanya sekretaris Ibu Anne yang mendengar desisan wanita paruh baya tersebut.
"Kirim satu orang untuk memata-matai semua gerak-gerik Iva setiap harinya. Saya tidak mau sampai kecolongan," titah Ibu Anne berbisik yang langsung dijawab dengan sebuah kalimat singkat, "Baik, Bu."
Kemudian Ibu Anne meletakkan ponselnya dengan kondisi layar ponsel berada di bagian bawah. Lalu dia menyunggingkan senyuman dan melanjutkan rapat yang sempat terinterupsi sesaat.
Atas tindakan Enzi yang menghindari rapat dengan dewan direksi perusahaan keluarganya Bella, dan membawa kabur Iva ke tempat tinggalnya sendiri, kini gadis bernama Iva tertimpa masalah. Enzi tidak memikirkan tentang apa yang akan menimpa Iva karena dia sendiri tidak sepenuhnya tahu poin perjanjian yang ditandatangani Iva. Karena saat menemukannya, Enzi tidak sempat membaca keseluruhan isinya. Hanya sekilas saja yang dia baca tentang keuntungan yang akan Iva dapatkan.
Enzi dan Iva kini sudah dalam perjalanan menuju ke kantor mereka. Sepanjang perjalanan itu Iva memasang wajah datar dan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Iva membiarkan Enzi memutar lagu dengan lirik yang melantunkan kalimat tentang cinta.
"Lagunya bagus 'kan," celetuk Enzi.
Kedua bola mata Iva hanya melirik untuk beberapa saat, lalu kembali menatap ke arah depan.
"Andai saja jodohku belum ditentukan, mungkin aku akan menjadikanmu istriku, Iva," ucap Enzi kemudian. "Tetapi itu juga kalau kamu bisa menggodaku. Kalau kamu masih dingin seperti itu, jangankan aku, lelaki lain juga sepertinya tak akan mau denganmu, hehehe …," Enzi menambahkan sekaligus memberi sindirian.
Masa bodoh dengan apa yang dikatakan Enzi barusan, Iva menulikan kedua telinganya dan tidak ingin memberi tanggapan apapun. Dalam otak Iva kini dia hanya memikirkan pekerjaan yang menumpuk di kantor. Dia juga menyiapkan diri untuk menghadapi Ibu Anne jika nanti wanita paruh baya yang memiliki kuasa itu meminta penjelasannya.
Sesampainya di kantor, Enzi dan Iva melangkahkan kaki mereka beriringan menuju ke arah lift. Aura penuh wibawa yang dipancarkan oleh CEO dan General Manager tersebut membuat semua staff yang melihat kedua orang tersebut langsung menunduk dan juga memberi salam dengan hormat pada mereka. Hanya Iva yang membalas semua staff dengan tersenyum simpul dan juga menganggukkan kepalanya. Sedangkan Enzi memasang mimik angkuh di wajahnya, sehingga semua staff takut untuk menatap ke arahnya.
"Hey! Tak bisakah kamu sedikit tersenyum pada karyawanmu?" sindir Iva dengan suara pelan.
Enzi menjawab, "Untuk apa? Aku tak mau menjadikan mereka pembangkang jika aku bersikap lembut pada mereka."
"Pembangkang? Kamu terlalu berlebihan," tegur Iva.
"Aku tidak berlebihan," bantah Enzi. "Sudahlah, jangan mengaturku," sambungnya kemudian.
Tak mau peduli lagi dengan sikap pemuda di sebelahnya itu, Iva mempercepat langkah kakinya dan masuk ke dalam lift terlebih dahulu. Enzi mendengkus lalu tersenyum miring menatap punggung gadis itu dan menyusulnya masuk ke lift.
Di dalam lift tersebut kini ada tiga orang lainnya selain Enzi dan Iva. Mereka bertiga tampak tegang dengan keberadaan Enzi di dalam lift. Mereka bertiga juga berdiri membelakangi Enzi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Kepala mereka menunduk, kedua mata mereka memperhatikan sepatu pantofel yang mereka gunakan. Hingga nanti terdengar suara lift yang menandakan mereka sampai di lantai yang mereka tuju. Kebetulan mereka bertiga menuju ke lantai yang sama; dua lantai sebelum lantai tujuan Enzi dan Iva.
"Hanya tinggal kita berdua saja sekarang," celetuk Enzi saat pintu lift sudah menutup kembali.
Iva melangkahkan kakinya satu langkah ke sebelah kiri. "Jangan mencari gara-gara. Menjauh dariku," tegas Iva.
"Aku masih kekasih rahasiamu, jadi kamu harus menuruti permintaanku kali ini." Enzi mengingatkan Iva tentang hal tersebut. Mereka berdua memang masih terikat jalinan sebagai kekasih yang dirahasiakan.
Iva menolehkan kepalanya ke kanan dan berkata, "Kalau begitu akhiri saja hubungan rahasia ini."
"Huh!" Enzi mendengkus. "Siapa kamu berani memerintahku?" tanyanya dengan nada mengejek.
"Menjadi kekasih rahasia anda akan sangat membahayakan posisi saya di perusahaan ini. Jadi sebaiknya anda fokus dengan pasangan anda. Jangan juga anda bergonta ganti pasangan lagi," ujar Iva.
Enzi merasa tidak membutuhkan ceramah dari Iva. Pemuda itu bergerak semakin mendekat pada Iva hingga gadis itu tersudutkan.
Ting!
Untungnya lift cepat mengantarkan mereka ke lantai tujuan mereka. Sesaat kemudian pintu lift pun terbuka. Dengan sigap Iva menerobos tubuh Enzi dan melangkah keluar dari kotak besi tersebut.
"Cih! Masih saja dia seperti itu," Enzi berdecak kesal.
Iva berjalan menuju ruangannya. Begitu juga dengan Enzi yang langsung menuju ke ruangannya sendiri.
Dari kejauhan Rachel melihat kedatangan Enzi. Dia pun tersenyum dan langsung sedikit merapikan penampilannya. Dia bangkit dari kursinya saat Enzi melewati mejanya.
"Pak Enzi, tadi ada orang yang ingin bertemu dengan anda," ucap Rachel dengan cepat sebelum Enzi masuk ke dalam ruangannya.
"Siapa?" tanya Enzi.
Rachel memberikan sebuah map berwarna cokelat pada Enzi. "Dia adalah karyawan yang akan mulai bekerja besok."
"Karyawan baru? Itu bukan urusan saya. Silahkan temui HRD." Enzi memberikan kembali map coklat tersebut pada Rachel.
"Tapi, Pak … Ibu Anne yang merekomendasikannya dan meminta dia untuk langsung datang menemui anda," ujar Rachel.
Dahi Enzi sedikit berkernyit. Tadi mamanya itu sama sekali tidak mengatakan apapun tentang orang yang dia rekomendasikan tersebut. Enzi mulai mencium sesuatu yang tidak beres dengan kehadiran orang tersebut.
"Kalau begitu hubungi dia. Suruh dia segera menemui saya hari ini juga," pinta Enzi pada Rachel.
"Baik, Pak. Dia juga masih menunggu di lobi lantai dasar. Saya akan hubungi langsung."
"Bagus," balas Enzi. Bibirnya kini tersenyum licik seolah ada sesuatu yang dia rencanakan.
Tak sampai sepuluh menit kemudian orang yang dimaksud datang ke ruangan Enzi. Seorang wanita berpakaian sangat sopan diantar oleh Rachel masuk ke ruangan Enzi.
"Permisi, Pak. Ini orang yang tadi saya bilang ke Pak Enzi," kata Rachel saat memasuki ruangan Enzi.
Manik mata Enzi memindai wanita yang memiliki paras yang ayu dan menyejukkan hati. Pakaiannya sangat sopan dan tidak menunjukkan keseksian tubuhnya. Panjang rok yang dia kenakan juga hingga di bawah lutut. Dari gelagatnya, tampaknya wanita tersebut sangat terpelajar dan penuh pengalaman.
"Baiklah, Rachel. Tinggalkan kami berdua, dan jangan lupa tutup pintunya," titah Enzi.
Rachel sedikit membungkukkan tubuhnya lalu melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan Enzi. Tinggalah kini Enzi bersama wanita yang katanya direkomendasikan oleh Ibu Anne untuk bekerja di perusahaan tersebut.
"Boleh saya duduk?" tanya wanita tersebut dengan kedua mata yang menatap kursi kosong di depan meja Enzi.
Enzi pun menjawab singkat, "Silahkan."
Tersungging senyum tipis di wajah wanita tersebut setelah Enzi mempersilahkannya. Tanpa kecanggungan sedikit pun wanita tersebut menarik kursi, duduk di sana, lalu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, saya Laura."
Uluran tangan dari wanita bernama Laura tersebut ditanggapi dengan sinis oleh Enzi. Mata Enzi menatap ke arah tangan yang menunggu untuk dijabat lalu bergerak naik menatap wajah wanita tersebut.
"Ada keperluan apa kamu ingin bertemu saya?" tanya Enzi sinis.
Laura menarik kembali uluran tangannya lalu menjawab, "Saya diberitahu oleh Ibu Anne untuk bekerja di perusahaan ini mulai besok."
"Bekerja atau … memata-matai saya?"
Kedua bola mata wanita tersebut tampak membesar saat Enzi menanyakan hal tersebut. Namun, rupanya wanita berusaha menampiknya.
"Apa maksud anda? Saya memata-matai anda? Maaf, saya datang ke perusahaan ini untuk bekerja, bukan untuk melakukan sesuatu seperti yang anda tuduhkan barusan," tampik Laura.
Enzi mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian pemuda itu bangkit dari kursi dan berjalan mendekat ke arah Laura. Enzi sengaja membungkuk di samping Laura. Mendekatkan bibirnya ke telinga Laura sehingga membuat jantung wanita itu berdegup tak beraturan.
"Katakan apa tujuan kamu sebenarnya, maka aku akan memberikan kenikmatan dunia untukmu," bisik Enzi dengan lembut di telinga Laura.
"Saya sudah bilang jika saya datang untuk be-"
Laura tak bisa melanjutkan kalimatnya karena bibirnya langsung dikunci oleh ciuman panas yang dilabuhkan oleh Enzi. Laura mengerjapkan kedua matanya beberapa kali sebelum memejamkan kedua matanya kemudian. Kepandaian Enzi dalam memberikan kenikmatan dalam ciumannya membuat nafas Laura mulai tersengal, hasratnya juga memuncak dalam waktu singkat.
"Katakanlah apa keperluanmu. Karena aku ingin melanjutkan kemesraan kita di tempat lain," bisik Enzi lagi di sela-sela aktifitas ciumannya.
"A-aku … aku … aku diminta oleh Ibu Anne untuk mengawasimu dengan wanita bernama Iva." Laura memberikan jawaban pada Enzi dengan nafas tersengalnya.
"Bagus. Terima kasih karena sudah mengatakan yang sebenarnya. Sekarang … apa kamu melanjutkan ke hal yang lebih menantang?" tanya Enzi. Tatapannya menjadi tajam, dan bibirnya menyunggingkan senyum menyeringai.
Laura sudah tak bisa menahan lagi pesona dari pemuda tersebut. Tangannya bergerak membelai pipi Enzi. Tatapan matanya lurus melihat ke bibir Enzi. Laura menginginkan sesuatu yang lebih.
"Lakukanlah apa yang kamu inginkan," kata Laura mempersilahkan Enzi.
"Ikutlah bersamaku ke tempat yang nyaman untuk kita berdua. Setelah itu jangan lagi kamu berurusan dengan orang tuaku. Akan kuberi kamu banyak uang asalkan kamu mau menurutiku." Enzi memberikan penawaran.
Tanpa banyak berpikir Laura pun menyetujuinya. Hasratnya sudah di puncak. Sepertinya harum parfum Enzi yang menyeruak juga membuat Laura semakin tak sabar menginginkan pemuda itu.
Jika benar Laura adalah orang suruhan Ibu Anne untuk mengawasi Enzi dan Iva, lalu apakah rencana Ibu Anne sudah gagal? Semudah itukah rencana seseorang yang mempunyai kuasa untuk digagalkan?
Sayangnya tidak. Laura adalah umpan kecil yang dikirimkan oleh Ibu Anne untuk disantap oleh Enzi. Namun, ada orang lain lagi yang sudah dikirim oleh Ibu Anne untuk memotret segala kelakuan Enzi dan menjadikannya sebuah ancaman untuk Enzi dikemudian Enzi.
Tak hanya itu, posisi Iva juga jadi terancam. Karena orang yang diperintahkan oleh Ibu Anne tentu juga akan memotret kebersamaan Enzi dan Iva dan melaporkannya pada Ibu Anne.