perjalanan

692 Kata
“Cukup Tuhan, Cukup… aku sudah tidak sanggup lagi dengan semua ini. Ku mohon akhiri saja penderitaanku.” Tangis pilu seorang gadis terus menderu di persimpangan jalan. Meratapi nasib yang dilimpahkan padanya, seolah Tuhan telah melakukan kejahatan di dalam hidupnya. Umpatan dan penyesalan terus ia lontarkan. Mengapa? Mengapa kehidupannya sangat menyedihkan?! . . Tubuh mungilnya bergetar kedinginan, sudah 2 jam lamanya ia melakukan hal yang sama. Terduduk. Meratap dan memaki yang disebutnya sebagai Tuhan. Tangisannya terus mengundang hujan turun semakin deras, sesaknya mengundang kilatan oetir seolah mencoba menerangi kegelapan yang ada dalam benaknya. “Na,” Panggil seorang pemuda yang berada tak jauh dibelakangnya sembari membawa paying kuning bergambah Pikachu dengan telinga khas di atasnya. Ya… gadis itu adalah Nirina, kerap disapa Na atau Nina… Seorang gadis piatu yang telah ditinggalkan ibunya tadi pagi.. Gadis itu sungguh merasakan kehilangan yang teramat. Mengingat ibunya adalah sosok yang selalu ia jadikan sandaran. Ibunya adalah sosok yang lembut dan penyayang. Seorang yang selalu mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang memanusiakan manusia lainnya. Manusia yang menjaga hubungannya dengan alam. Manusia yang berjalan dalam cinta kasih untuk seluruh makhluk. Flashback On “Buk, kenapa sekarang banyak bencana ya… apa Tuhan tidak saying pada kita? Katanya Tuhan baik bu… tapi kenapa merenggut milik orang-orang itu Bu?” Tanya Nirina setelah menonton tayangan berita di TV “Nak, kau tahu bukan bahwa alam itu sama seperti kita? Hanya saja dengan versi yang lebih besar. Coba bayangkan apa yang terjadi jika kita sebagai manusia hanya berdiam diri dengan posisi yang sama terus menerus?” Tanya Ibu “Pegel bu, capek.. kram” Jawab Nirina polos “Nah, begitupun alam. Alam juga butuh peregangan, Sayang. Alam butuh namanya pergerakan. Untuk menata kembali posisi yang nyaman untuknya. Tapi, karena kita ini bagian kecil jadi alam maka dampaknya besar menurut kita. Memang sudah semestinya bencana itu terjadi Nak” Jelas ibu “Oh, jadi karena peregangan ya bu? Berarti bohong kalau alam marah ya bu? Kata orang-orang alam marah bu dengan kita jadinya begitu” “ahahaah yay a, memang itu juga salah satu pemicu pergerakan alam. Ulah manusia yang menyebabkan keseimbangan menjadikan alam harus bergerak. Sekali lagi, alam akan menjaga keseimbangannya, mencari posisi yang nyamn untuknya. Ingat Nak, semua hal yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi. Kita hidup di dunia ini selalu ada sebab dan akibat. Ada tabor tuai yang terus berlaku. Ada gelap ada terang. ada baik ada buruk. Semua itu untuk keseimbangan dunia.” Rinci Ibu dengan sabar “keseimbangan dunia itu apa bu?” Tanya nirina lagi “Nak, mungkin kita hanya mengenal diri kita sebagai manusia. Tapi sesungguhnya kita adalah bentu energy, dimana energy tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan bukan? Yaah, alam kita, semesta kita hanya mengenal yang namanya energy. Manusia hanya mengenal benar dan salah. Baik dan buruk. Padahal itu hanya dualitas semata. Jika kita menarik dari berbagai sudut pandang, tentu tidak ada yang namanya benar atau salah. Manusia banyak menilai bahwa membunuh itu sebuah kejahatan. Sebuah hal yang dibilang tidak baik. Tapi pernahkah manusia memikirkan lebih jauh lagi? Mengapa alas an orang itu membunuh? Mengapa orang itu tidak sadar dan tidak bisa mengendalikan dirinya? Tuhan tidak akan membiarkan sesuatu hal terjadi tanpa izinnya bukan? Tuhan selalu memiliki alas an mengapa sesuatu hal terjadi. Seseorang yang sampai bisa membunuh tidak bisa selalu dipandang salah Nak. Bisa jadi dia membela dirinya, bisa jadi dia merasa terancam, bisa jadi juga dia hanya membalaskan karma orang yang dibunuh itu yang dibawanya dari kehidupan lalu. Ibu pernah menceritakanmu tentang reinkarnasi bukan? Nah, begitulah. Semua yang kita alami, semua yang terjadi dalam hidup ini untuk keseimbangan alam semesta kita” Tutur lembut Ibu Flashback off Sosok yang dipanggilnya ibu itu sudah tidak ada lagi. Tuhan telah merenggutnya dari Nirina. Meninggalkannya bersama ayah yang tidak bisa disebut ayah dan seorang adik balita berusia 3tahun yang belum mengerti apa yang sedang terjadi. Seketika dunia nirina hancur, ia tak tahu apa yang harus dia lakukan setelah semua ini. “ Na, “ panggil pemuda itu lagi Nirina bergeming. Benaknya masih berlari kesana kembari mencari sebuah jawaban bahwa apa yang dialaminya saat ini adalah sebuah kesalahan. Bukan kenyataan. Dia belum kembali pada kesadarannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN