Bab 6

1027 Kata
Pergulatan panas antara Rima dan juga Reihan terjadi dengan penuh gairah, keduanya nampak kecapean dan tertidur sampai siang hari tiba. Saat mereka bangun, dari wajah keduanya terlihat raut kepuasan. Mereka sangat puas dan juga bahagia karena sudah bisa membunuh Reina, wanita yang diperistri oleh Reihan selama dua tahun lamanya. "Yang, mandi yuk!" ajak Rima. Keduanya masih tiduran dan dalam keadaan polos, Rima bahkan dengan sengaja mengusap-usap d**a pria itu. Reihan tersenyum lalu mengungkung pergerakan wanita itu, setelah itu dia menunduk untuk mencium bibir Rima dengan penuh hasrat. Cukup lama mereka berciuman, sampai milik pria itu kembali bangun dan seakan tidak sabar untuk segera kembali masuk ke dalam sarangnya. "Ayo, habis itu kita langsung pulang aja. Aku udah nggak sabar pengen mengambil alih semua aset berharga milik Reina," ujar Reihan setelah pagutan bibir mereka terlepas. Namun, kalau kau seperti itu tangan kanan itu tetap saja mengusap dan menyentuh titik sensitif tubuh wanita itu. Pada awalnya Rima masih ingin bersenang-senang di puncak, jarang-jarang dia pergi bersama dengan Reihan. Dia ingin pergi ke tempat wisata yang ada di daerah sana. Namun, mendengar prianya ingin mengalihkan semua aset berharga milik Reina, Rima jadi bersemangat. Karena jika aset berharga milik wanita itu sudah jatuh ke tangan Reihan, Rima juga bisa dengan mudah menikmati harta Reina. "Hem! Aku setuju, karena lebih cepat akan lebih baik. Kita bisa menikmati harta wanita itu," timpal Rima. Rima mengangkat kepalanya, lalu dia menggigit leher Reihan. Pria itu langsung terkekeh karena wanita itu berusaha untuk membangkitkan hasratnya. "Boleh, kita akan segera pulang dan segera bersenang-senang. Tapi, sebelum itu kita main kuda-kudaan dulu." Reihan yang merasa sudah tidak sabar langsung mencium bibir Rima dengan rakus, tangan kirinya dia gunakan sebagai tumpuan. Sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menuntun milik pria itu agar segera masuk. Pria itu memang selalu saja tidak sabar, jarang sekali melakukan rangsangan. Karena Rima juga sama, jika sudah ingin dia selalu tidak sabar dan tidak perlu waktu lama untuk dirangsang. "Ouch!" pekik Rima ketika milik Reihan kembali memenuhi inti tubuhnya. Kedua insan yang tidak memiliki status sah itu kembali memadu kasih, siang ini mereka bercinta dengan penuh hasrat. Di dalam ruangan itu hanya terdengar suara erangan penuh kenikmatan yang saling bersahutan dari bibir Rima dan juga bibir Reihan. Puas bercinta keduanya segera membersihkan tubuhnya, setelah itu mereka pun mencari makanan untuk mengisi perut mereka. Lalu, mereka segera pergi dari penginapan tersebut menuju ibu kota. Tidak lupa Reihan juga membawa tas milik istrinya, karena tentunya ada identitas berharga milik istrinya di sana. Untuk baju milik Reina, sengaja Reihan tidak membawanya. Karena itu tidak lagi berharga bagi dirinya. Selama perjalanan menuju ibu kota, Reihan nampak fokus dalam mengemudi. Sedangkan Rima nampak memeluk lengan pria itu seraya menyandarkan kepalanya panda pundak Reihan. Selama perjalanan menuju pulang mereka tidak ada bosannya untuk bercerita, bercerita tentang rencana apa yang akan mereka lakukan setelah mendapatkan aset berharga milik Reina. "Mau langsung ke Resto atau pulang ke rumah dulu?" tanya Reihan ketika mereka keluar dari tol. Rima nampak melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya, saat ini waktu menunjukkan pukul empat sore. Dia merasa lelah setelah melakukan perjalanan jauh. Dia juga merasa lelah karena sebelum mereka pergi, keduanya melakukan percintaan yang begitu panas dan sampai berkali-kali. "Pulang aja, Yang. Kita cari dulu surat-surat berharga milik istri kamu itu," jawab Rima. Reihan tersenyum menyeringai dengan apa yang dia dengar dari bibir kekasihnya, karena sepertinya dia memang harus mencari surat-surat berharga milik istrinya tersebut. Setelah itu, keesokan paginya dia lebih baik pergi ke pengacara untuk membalik nama semua aset berharga milik istrinya. Dia juga harus mencari cara agar pengacara tidak curiga ketika dia mengambil semua aset istrinya tersebut. "Hem! Kamu benar," ujar Reihan mengiyakan. "Aku selalu benar," jawab Rima dengan bangga. Reihan langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Reina, setibanya dia di dalam kamar utama, Reihan langsung membuka lemari pakaian istrinya. "Tidak ada apa-apa di sini,'' ujar Reihan. Reihan sudah merasa lelah mencari barang-barang berharga yang ada di dalam lemari istrinya tersebut, tetapi nyatanya dia tidak kunjung menemukan apa pun. Tidak ada emas milik istrinya, tidak ada juga surat-surat berharga milik istrinya. Reihan menjadi kesal dan juga resah. "Mungkin di dalam ruang kerja Reina, Yang," ujar Rima. Reihan terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Rima, tetapi dia memang mengakui bahwa istrinya memiliki ruang pribadi. Reina sering berkata kepada dirinya jika ruangan yang ada di dekat gudang merupakan ruangan favoritnya, uangnya di mana tempat dia mencari inspirasi atau menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai. "Kamu benar, ayo ikut aku!" ujar Reihan. Reihan mengajak Rima untuk masuk ke dalam ruangan yang ada di dekat gudang, ruangan itu nampak sangat nyaman dan terlihat ada banyak barang di sana. Ada lemari yang entah apa isinya Reihan tidak tahu, ada juga lemari kaca berisikan perhiasan milik Reina. Bahkan di sana juga ada rak buku milik istrinya, semua bacaan favorit istrinya ada di sana. "Wow! Ternyata dia mengoleksi banyak perhiasan, aku boleh memilikinya bukan, Sayang?" tanya Rima. Mata wanita itu terlihat berbinar saat menatap banyaknya perhiasan di sana, Reihan juga merasa tidak percaya jika istrinya itu ternyata mengoleksi banyak perhiasan. "Boleh, Sayang. Ambil dan pakai, aku akan mencari surat-surat penting dulu di lemari itu." Reihan menunjuk sebuah lemari yang tidak jauh dari dekatnya. Rima yang melihat banyak perhiasan seolah lupa dengan tujuan awalnya, dia malah asik memandangi perhiasan yang menurutnya sangat indah itu. "Iya, Sayang." Rima langsung membuka lemari kaca itu dan mengambil perhiasan itu dan memakainya. Wanita itu tersenyum-senyum seraya menatap dirinya di pantulan cermin yang ada di dalam ruangan itu, dia merasa jika dirinya kini paling cantik setelah memakai banyak perhiasan. Berbeda dengan Reihan, di bibir pria itu tidak ada senyuman sama sekali. Dia nampak fokus membuka lemari tersebut, tidak lama kemudian bibir pria itu langsung menyunggingkan senyuman. Senyum penuh dengan kebahagiaan, karena ternyata semua surat-surat penting milik istrinya ada di dalam lemari tersebut. "Wow! Suratnya ada di sini, Sayang. Lihatlah!" ujar Reihan dengan bangga. Rima yang sedang memakai perhiasan langsung menghentikan aktivitasnya, lalu dia menghampiri Reihan dan memeluk lengan pria itu dengan penuh kebanggaan. "Baguslah, Sayang. Besok cepatlah balik nama, biar aman." "Hem! Kamu benar, nanti aku akan langsung pergi. Biar aman," ujar Reihan dengan matanya yang menerawang jauh. Dia membayangkan jika dirinya akan menjadi orang kaya dengan mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN