Kedua suster itu nampak memandang iba ke arah Reina, wanita yang ditemukan dengan wajah buruk rupa. Bahkan, kondisinya saat itu sangat mengenaskan.
Namun, mereka kini merasa bersyukur karena kondisinya sudah membaik. Wanita itu juga sudah sadar, hanya saja wajahnya memang tidak bisa kembali baik tanpa operasi.
"Nona ini sudah sadar, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya suster satu.
"Kita harus memberitahukan hal ini kepada dokter Rania," jawab suster dua.
"Kamu benar, kamu berjagalah di sini. Takut takutnya nanti dia akan terbangun lagi, aku akan mencari dokter Rania."
"Ya, pergilah! Jangan lama," ujar suster dua.
Pada akhirnya suster satu nampak pergi untuk menemui dokter Rania, dokter ahli bedah yang bekerja di rumah sakit internasional. Sedangkan suster satu nampak duduk di atas bangku tunggu.
Dia menatap wanita itu dengan tatapan penuh iba, selain mengalami kecelakaan yang tragis, menurutnya wanita itu juga tidak pernah dijenguk sama sekali oleh keluarganya. Rasanya pasti sangat menyedihkan.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rania seraya membuka pintu ruangan tersebut.
Suster dua nampak bangun, di seolah memberikan kesempatan kepada Rania untuk memeriksa kondisi kesehatan dari wanita buruk rupa itu.
"Tadi sempat mengamuk, Dokter. Dia berteriak dengan begitu histeris, sepertinya dia sangat stres karena melihat kondisi wajahnya yang sangat mengerikan," jawab suster satu.
"Oh, ya Tuhan. Kasihan sekali wanita malang ini, dia sudah merasa stres ketika melihat wajahnya yang rusak. Lalu, bagaimana kalau dia tahu jika bayi yang dia kandung juga tidak bisa diselamatkan?" ujar Rania dengan iba.
Wanita yang berprofesi sebagai dokter bedah itu langsung duduk di tepian ranjang pasien, lalu dia mengusap lengan wanita yang sudah satu bulan ini berada di rumah sakit itu.
"Kenapa waktu itu kamu berada di sungai? Sebenarnya apa yang terjadi? Mungkinkah dulu kamu mengalami kecelakaan mobil? Lalu, ke mana suami kamu? Kenapa ini terasa janggal? Karena tidak ada kabar berita kecelakaan mobil atau yang lainnya," ujar dokter wanita itu bermonolog sendiri.
Cukup lama dia memandangi Reina, hingga tidak lama kemudian memutuskan untuk pergi, karena masih ada pekerjaan harus dia lakukan.
Tentunya sebelum dia pergi dia menitipkan pesan kepada suster yang berjaga di sana, jika Reina tersadar dia meminta jika dirinya cepat diberitahukan.
"Siap, Dok!" jawab suster bersemangat.
Empat jam kemudian Reina nampak menggeliatkan tubuhnya, wanita itu sepertinya sudah mulai kembali kesadarannya. Dengan cepat suster yang berjaga langsung menelpon Rania.
Tentunya saat mendapatkan kabar kalau Reina sudah sadar,dengan cepat Rania datang. Dia langsung duduk di bangku tunggu seraya memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh wanita yang ada di hadapannya itu ketika benar-benar sadar.
"Argh! Sakit!" pekik Reina.
Mendengar pekikan kesakitan dari bibir Reina, Rania terlihat begitu iba. Terlebih lagi saat Reina mulai meraba raba wajahnya dan juga membuka matanya, Rania begitu sedih dibuatnya.
"Kenapa wajahku jadi buruk rupa seperti ini?" tanya Reina seraya terisak.
Kini wanita itu terlihat pasrah tanpa ingin memberontak, dia hanya menangis untuk meluapkan kesedihannya. Tubuh wanita itu sampai bergetar dengan begitu hebat.
Melihat akan hal itu, Rania benar-benar iba. Wanita itu langsung menghampiri Reina dan memberikan pelukan hangat kepada wanita itu.
"Siapa kamu? Kenapa kamu memeluk aku seperti ini?" tanya Reina seraya berusaha untuk melepaskan diri dari Rania.
Walaupun pelukan dari wanita itu terasa hangat dan juga begitu menenangkan, tetapi Reina merasa tidak mengenal wanita yang kini sedang memeluknya itu.
"Aku adalah wanita yang menemukan kamu 1 bulan yang lalu," jawab Rania seraya mengurai pelukannya.
"Satu bulan yang lalu kamu menemukan aku? Apakah itu artinya aku tidak sadarkan diri selama satu bulan?" tanya Reina yang masih seperti orang linglung.
"Ya, 1 bulan yang lalu aku menemukan kamu di sungai. Keadaan kamu sangat mengenaskan, tubuh kamu penuh dengan luka. Bahkan wajah kamu juga sangat mengerikan, beruntung kamu tidak patah tulang," jawab Rania.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rania, Reina terdiam. Hingga tidak lama kemudian Reina teringat akan suaminya yang berusaha untuk membunuh dirinya.
Wanita itu kembali menangis lalu memeluk Rania dengan begitu erat, Rania yang merasa iba nampak menepuk nepuk punggung Reina.
"Jangan bersedih, karena kehidupan itu harus dijalani. Kamu harus kuat," ucap Rania.
"Aku tahu kalau hidup itu akan terus berjalan, tetapi saat itu aku sudah dibunuh. Kenapa kamu tidak membiarkan aku mati saja? Rasanya aku tidak sanggup menghadapi kehidupan ini," ucap Reina putus asa.
Wanita itu rela meninggalkan keluarga besarnya demi menikahi pria miskin yang dicintainya, tetapi nyatanya kini dia dikecewakan.
Reina merasa sakit hati, terlebih lagi Reihan mencoba untuk membunuh dirinya dengan sangat keji. Sungguh dia merasakan kekecewaan dan kebencian yang mendalam terhadap pria itu.
"Tentu saja aku tidak bisa membiarkan kamu mati, karena aku menemukan kamu di saat kamu masih bernyawa. Tapi maaf, janin yang ada di dalam perut kamu tidak bisa terselamatkan," jawab Rania.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Rania, Reina kembali mengurai pelukannya dengan wanita itu. Lalu, dia menunduk dan mengusap perutnya.
Perutnya yang nampak rata, bahkan tubuhnya juga kini terlihat begitu kurus. Karena memang selama satu bulan ini dia mengalami koma.
"Maksud Dokter, calon buah hatiku sudah tidak ada?" tanya Reina seraya terisak.
Reina merasa kecewa sekali terhadap Reihan, benci dan rasanya jika dekat Reina ingin mencekik leher pria itu. Karena dengan berani beraninya pria itu berusaha untuk membunuh dirinya hingga membuat nyawa calon buah hatinya gugur dari dalam kandungannya.
Padahal Reina sangat menginginkan keturunan, dua tahun menunggunya hadir dalam perutnya. Dua tahun dia menantikan tangisan bayi, tetapi kini dia harus kehilangan calon buah hatinya ketika dia baru saja tahu kalau dirinya hamil.
"Ya, maafkan aku. Aku tidak bisa menyelamatkan calon buah hati kamu," jawab Rania.
"Ya, Tuhan! Kenapa calon buah hatiku harus gugur dari dalam perutku?" tanya Reina dengan sorot mata penuh kesedihan.
Rania bisa melihat jika saat ini Reina terlihat begitu sedih, kesedihan yang mendalam di matanya. Rasa benci, kekecewaan dan juga ingin balas dendam.
"Tunggu sebentar, kamu bilang tadi jika hal ini terjadi karena ada orang yang berusaha untuk membunuh kamu. Apa kamu tahu siapa orang yang berusaha untuk membunuh kamu itu?" tanya Rania.
Reina langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena tentunya dia sangat tahu siapa yang berusaha untuk membunuh dirinya. Pria yang sangat dia cintai, tetapi menorehkan luka yang begitu besar pada dirinya.
"Tentu saja aku tahu orang yang berusaha untuk membunuhku, karena dia adalah suamiku sendiri. Pria yang menikahiku dua tahun yang lalu, miris bukan?" jawab Reina dengan sedih.
Kaget sekali Rania mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu, karena ternyata seorang suami bisa melakukan hal yang begitu keji seperti ini.
Dulu Rania juga sempat dikecewakan oleh calon suaminya, wanita itu diselingkuhi oleh calon suaminya. Tidak tanggung-tanggung, pria itu berselingkuh dengan adiknya sendiri.
Maka dari itu sampai saat ini wanita itu tidak pernah berniat untuk menikah,.karena dia takut jika suatu saat nanti akan dikhianati kembali oleh seorang pria.
"Kenapa dia bisa berusaha untuk membunuh kamu?" tanya Rania yang masih penasaran.
"Karena ternyata suamiku menikahiku hanya untuk harta aku saja, dia tidak pernah mencintaiku. Dia hanya berpura-pura mencintaiku, kalau dia mencintaiku, tidak mungkin dia akan berusaha untuk membunuhku," jawab Reina.
"Oh! Seperti itu, lalu... apakah kamu ingin balas dendam terhadap suami kamu?" tanya Rania.
Jika hanya berselingkuh saja seperti apa yang dilakukan oleh calon suaminya dulu, mungkin Rania tidak akan menyarankan untuk balas dendam.
Namun kali ini cara yang dilakukan oleh suami dari Reina itu dia rasa sangat keji. Bisa-bisanya seorang pria yang harusnya melindungi wanita malah berusaha untuk membunuh istrinya, menurut Rania perbuatan dari suami Reina itu harus dibalaskan.
"Balas dendam? Balas dendam seperti apa?" tanya Reina dengan bingung.
"Lelaki b******k seperti itu harus diberikan pelajaran, jika kamu mau aku akan membantu kamu."
"Caranya?" tanya Reina dengan bingung.