Pagi datang dengan cepat. Saat matahari Manhattan baru menyentuh puncak penthouse, Isabella sudah siap. Dia mengenakan pakaian kasual yang praktis sebuah seragam penyamaran yang sempurna antara wanita karier dan Nyonya Giordano.
Sal tidak mengantarnya ke bandara. Dia hanya menatap Isabella saat dia melangkah ke dalam lift bersama Nico. Tatapan perpisahan itu adalah campuran hasrat dari malam yang intens dan ancaman yang tak terucapkan.
Penerbangan ke Napoli terasa panjang, melelahkan, dan dingin, seperti kehadiran Nico di sebelahnya. Nico, yang tampak seperti patung di kursi kelas satu, adalah pengawal pribadi Sal yang paling dingin dan paling tidak bisa disuap. Isabella tahu, ini bukan perjalanan bisnisnya, ini adalah hukuman yang diperpanjang.
Saat mereka tiba di Napoli, kota itu menyambut dengan kekacauan yang hangat, bau garam, dan bumbu masakan yang kuat, kontras total dengan kemewahan dingin di Manhattan.
"Tugas pertama," kata Isabella, suaranya tenang dan profesional saat mereka dijemput oleh mobil sewaan biasa yang sudah disiapkan Nico. "Aku perlu mengkonfirmasi alamat bank yang baru, Nico. Kita akan fokus pada audit. Tidak ada kontak sosial."
Nico hanya mengangguk, matanya yang tajam menyapu setiap wajah di bandara. Kehadirannya adalah janji yang mematikan.
Isabella menggunakan hari pertama untuk bergerak cepat. Dia meminta Nico membawanya ke beberapa kantor perusahaan kecil di pinggiran kota, berpura-pura melakukan due diligence rutin. Dia sengaja memilih lokasi yang padat dan berliku-liku sebuah setting yang ia harapkan bisa memberinya celah. Dia harus menemukan bank yang ditunjukkan oleh Alfieri tanpa diketahui Nico.
Akhirnya, celah itu datang saat mereka berada di sebuah pasar ikan yang ramai, dekat dengan pelabuhan tua. Isabella, berpura-pura tertarik pada toko perhiasan kecil yang sempit, menarik Nico ke dalam labirin kios-kios yang ramai dan berbau amis.
"Aku perlu melihat cincin ini, Nico," kata Isabella, mencondongkan tubuh ke depan, memainkan kartu Nyonya Giordano yang manja. "Bisakah kau tunggu di luar? Aku benci jika ada yang melihat pengawalku saat aku berbelanja perhiasan. Ini hanya sepuluh menit."
Nico ragu. Matanya yang tajam menyapu keramaian. "Tuan Giordano akan..."
"Tuan Giordano akan senang jika aku mendapatkan perhiasan bagus dan menyelesaikan pekerjaanku," potong Isabella, dengan senyum paksa. "Lima menit, Nico."
Nico, yang loyalitasnya pada Sal terletak pada kepatuhan, akhirnya mengalah, tetapi dia tetap berdiri kaku di ambang pintu toko, menghalangi pandangan.
Isabella segera meminta izin ke kamar kecil. Di bagian belakang toko, di balik tirai beludru tebal, kamar kecil itu memiliki jendela kecil yang tersembunyi. Jendela servis itu sempit, menghadap ke gang belakang yang kotor. Didorong oleh adrenalin, Isabella tidak memikirkan pakaiannya. Dia memanjat, berhasil keluar, dan segera berlari secepat mungkin menyusuri gang-gang belakang yang sempit.
Dia telah mendapatkan lima menit berharga untuk melaksanakan misinya.
Isabella berlari tanpa henti menyusuri gang-gang belakang yang berbau dan lembap, jantungnya berdebar kencang, suaranya terengah-engah. Dia mengabaikan rasa sakit dari luka semalam, fokus pada tujuannya, alamat bank kecil yang tersembunyi di kertas Alfieri. Dia tahu Nico akan menyadari kepergiannya dan mengejarnya dalam hitungan menit.
Bank itu adalah bangunan kuno, sederhana, dan tidak mencolok, sangat kontras dengan bank-bank besar yang biasanya digunakan Giordano Holdings. Isabella masuk, berusaha keras agar penampilannya terlihat tenang. Dia mendekati petugas, menyerahkan kunci kecil dan kartu identitas palsu yang telah ia siapkan di New York.
"Saya ingin mengakses deposit Trust pribadi atas nama Adriana Alfieri," kata Isabella dengan nada formal.
Kunci deposit itu adalah kunci Adriana. Isabella harus menggunakan nama keluarga Alfieri agar bank bersedia memprosesnya. Petugas bank mengangguk kaku dan membawa kunci itu ke brankas. Setiap detik terasa seperti satu jam.
Akhirnya, petugas itu kembali, membawa sebuah kotak logam kecil yang usang. Dengan tangan gemetar, Isabella membuka kotak itu. Di dalamnya, ia menemukan lebih dari yang ia harapkan, bukan uang tunai, tetapi setumpuk dokumen dan catatan tulisan tangan yang merinci skema korupsi besar yang melibatkan Giordano Holdings. Yang paling mengejutkan, dokumen itu memuat tandatangan Sofia Mancini di beberapa transfer dana besar-besaran, membuktikan bahwa Sofia telah mencuri dari keluarga Sal selama bertahun-tahun. Bukti ini tidak hanya menjatuhkan Sofia, tetapi juga menciptakan celah hukum yang bisa menghancurkan reputasi Sal.
Isabella segera memotret semua dokumen dengan ponselnya, menyimpan file tersebut di cloud terenkripsi, dan menyalin data itu ke flash drive kecil yang tersembunyi di dalam jam tangannya.
Tiba-tiba, suara keras terdengar di pintu depan bank.
"Nyonya Giordano!"
Itu adalah Nico. Wajahnya gelap karena marah dan rasa khawatir, seolah dia telah gagal dalam tugasnya. Dia telah menemukan Isabella.
Namun, sebelum Nico bisa melangkah lebih jauh, dua pria lokal berwajah keras yang sedari tadi duduk di pojok bank tiba-tiba berdiri. Mereka bergerak cepat, menghalangi jalan Nico, dan membisikkan sesuatu dalam dialek Neapolitan. Nico menegang, menyadari bahwa ia baru saja berjalan ke dalam jebakan.
Di tengah kekacauan itu, seorang pria ketiga masuk melalui pintu samping. Itu adalah anak buah Sofia Mancini.
"Bos Mancini mengirim kami untuk membawamu pulang, Signora," kata pria itu dengan seringai dingin, menghampiri Isabella. "Dan untuk mengambil apapun yang kau pegang."
Isabella menyadari Sofia telah mengetahui rencana ini dan menunggu di Napoli. Dia bukan hanya diburu oleh Sal, tetapi juga menjadi target penangkapan Sofia. Isabella kini berada di antara Nico dan anak buah Sofia.
"Nico!" teriak Isabella, suaranya tegas. "Mereka dikirim Sofia! Mereka akan menghancurkan Sal! Tuan Giordano memerintahkan mu untuk melindungi ku!"
Perintah itu adalah kuncinya. Loyalitas Nico pada Sal mengatasi segala hal. Ia harus melindungi milik Sal, bahkan jika wanita itu sendiri adalah masalah. Dengan raungan marah, Nico mengeluarkan pistolnya dan baku hantam pun terjadi.
Isabella memanfaatkan kekacauan itu. Dia menyambar kotak deposit itu, menyerahkannya kepada petugas bank, dan melarikan diri melalui pintu belakang, meninggalkan Nico dalam pertarungan sengit melawan anak buah Sofia. Dia kini resmi menjadi buronan di Italia, tetapi dia membawa bukti yang tak ternilai harganya.
Isabella berlari tanpa arah di gang-gang Napoli, bunyi tembakan yang baru saja ia dengar di bank masih terngiang di telinganya. Dia tahu Nico akan bertahan, tetapi dia juga tahu Nico tidak akan menghentikan pencarian. Nico, sang bayangan, pasti akan segera menyusul, dan anak buah Sofia tidak akan berhenti sampai mereka merebut bukti yang ia bawa.
Dia menepi di sebuah kedai kopi kecil yang ramai, mencoba menenangkan napasnya. Dia harus segera meninggalkan Napoli, tetapi Nico sudah tahu dia ada di kota itu, dan anak buah Sofia pasti sudah diberitahu untuk mencarinya.
Isabella mengeluarkan ponselnya, mengabaikan panggilan tak terjawab dari nomor Amerika yang pasti dari Sal. Dia menghubungi kontak yang pernah ia dapatkan dari Alfieri, seorang agen perjalanan yang terikat pada jaringan lama Adriana.
"Saya Nyonya Giordano. Saya butuh penerbangan keluar dari Napoli dalam dua jam ke New York," bisik Isabella ke telepon, suaranya dipaksa tenang. "Penerbangan pribadi. Tanpa ada yang tahu."
Agen itu, yang terkejut sekaligus takut, akhirnya setuju, mengenali urgensi dari nama Giordano. Isabella membayar mahal, menggunakan kartu kredit Giordano Holdings yang Sal berikan. Dia tahu Sal akan melihat tagihan itu, tetapi pada titik ini, pengeluaran yang mencolok adalah risiko yang harus ia ambil untuk membeli waktu.
Langkah selanjutnya, menghilangkan jejak Nico.
Isabella menyadari bahwa Nico mengawasinya melalui ponsel dan kartu yang ia gunakan. Dia harus menciptakan pengalih perhatian.
Dia segera menuju sebuah area turis yang ramai. Di sana, Isabella membeli kartu SIM sekali pakai yang baru dan membakar kartu lamanya. Dia mengeluarkan ponsel lamanya, yang terhubung dengan GPS Sal, dan menyerahkannya kepada seorang pedagang kaki lima yang tampak putus asa dengan imbalan uang tunai yang besar.
"Pergi ke pelabuhan, masuk ke area feri menuju Sisilia, dan nyalakan ponsel ini setelah satu jam," perintah Isabella kepada pedagang itu, memberinya instruksi yang jelas.
Dengan Sal dan Nico mengira dia menuju Sisilia wilayah yang secara politik rumit untuk dikejar Isabella merasa waktu yang cukup untuk bersembunyi.
Dia kemudian melanjutkan ke bandara kecil yang telah diatur oleh agen perjalanan. Ketika dia naik ke pesawat carteran kecil, pikirannya hanya fokus pada satu hal, Sal. Dia telah meninggalkan Nico dalam situasi berbahaya, memancing amarah Sal.
Saat pesawat lepas landas, meninggalkan garis pantai Italia yang indah, Isabella mengirim pesan terakhir kepada Sal dari ponsel barunya.
"Aku akan kembali. Aku akan membawa jawabanmu. Tetapi kali ini, aku yang akan memegang kendali."
Pesan itu adalah tantangan terbuka, sebuah janji bahwa permainan lama sudah berakhir. Sekarang, dia memiliki bukti, keberanian, dan tekad untuk menghadapi Giudice di markasnya sendiri.