“Gila serius lo, Ya?” teriakan cempreng Dela terdengar sangat jelas meski hanya dari sambungan telepon. Sambil melahap makanan ringan yang tadi aku beli di swalayan dengan lahap aku menjawab, “Segabut-gabutnya gue mana mungkin gue ngarang cerita nggak bermutu kayak gitu sih! Apalagi ada Dimas-Dimasnya, jijik banget!” jawabku kesal. “San, kok lo diam aja sih? Ini mantan Aya yang nggak tahu diri itu gilanya kumat lagi, loh! Enak aja ngajak balikan padahal udah punya istri,” omel Dela lantaran sejak awal mula kami memulai panggilan grup, Sandra hanya diam. Bahkan tidak sama sekali menanggapi ceritaku padahal nada bicaraku sudah menggebu-gebu lantaran emosi. “Aduh …. Sorry guys sorry, kali ini gue cuma bisa dengerin doang soalnya lagi ada di rumah Bima, nggak enak kalau gue teriak-teriak,”

