CHAPTER 4

1376 Kata
Bab 4 — Penculikan Musim Panas Cahaya pagi belum sepenuhnya menyentuh celah-celah tirai kamarku ketika aku terbangun dengan napas sedikit tersengal. Sebuah sensasi aneh, campuran antara kegelisahan dan kegembiraan yang tak bisa kuartikan, memenuhi dadaku. Secara refleks, pandanganku langsung tertuju pada jam dinding. Pukul 05:00. Terlalu larut untuk kembali tidur, bahkan jika aku mencobanya. Terlalu pagi pula untuk berpikir jernih tentang segala hal yang berputar di kepalaku. Aku bangkit dengan cepat dari tempat tidur, meraih handuk yang tergantung rapi, lalu melangkah menuju kamar mandi. Guyuran air dingin membasahi kulitku, memberikan kejutan yang menyegarkan, namun ia tak mampu membekukan pikiranku yang terus melayang ke tempat lain. Pikiranku terus mengembara. Kembali pada mimpi aneh itu. Kembali pada tatapan tenang Luira. Kembali pada bayangan diriku di cermin. Kembali pada tali biru yang berkilauan. Dan yang paling mengganggu, posisi terikat yang… membuat seluruh kakiku terbuka lebar, terpasang pada tiang. Sebuah gambaran yang begitu intim dan memalukan. Wajahku kembali memerah, kali ini bukan hanya karena uap air hangat atau suhu ruangan. Rasa malu itu terasa begitu nyata, seolah aku baru saja diperlihatkan sesuatu yang tak seharusnya kulihat. Apakah itu benar-benar hanya mimpi? Pertanyaan itu terus mengusik. Kenapa rasanya begitu nyata? Kenapa aku… merasa seperti harus membalikkan keadaan? Tiba-tiba, sebuah pemikiran aneh, liar, dan sama sekali tidak masuk akal menyeruak dalam benakku. Namun, pemikiran itu terlalu kuat untuk kuabaikan, terlalu mendesak untuk ditolak. “Kalau begitu… aku akan mengikat Luira. Di tempat yang sama. Dalam posisi yang sama. Aku akan membuatnya merasakan ini juga.” Sebuah ide nekat yang kini terasa tak terhindarkan. Setelah mandi dan menyegarkan diri, aku mengenakan pakaian musim panas favoritku: sebuah dress biru sederhana dan rok pendek yang ringan. Hari ini, aku sengaja tidak memakai stocking. Persis seperti gambaran diriku dalam mimpi. Sebuah detail kecil yang terasa seperti ritual pribadi, penanda dari niatku yang semakin bulat. Sebelum keluar, aku mengambil sebuah kristal komunikasi kecil dari kotak suratku di meja belajar. Dengan cepat, aku mengirimkan pesan singkat pada Luira, memastikan ia menerimanya. “Udara hari ini terasa sangat panas. Kamu harusnya memakai dress biru dan rok pendek juga. Jangan pakai stocking. Pasti lebih nyaman.” Sebuah pesan yang tampak biasa, namun sarat dengan maksud tersembunyi. Lalu, aku menyembunyikan sapu tangan yang sudah kuberikan sedikit ramuan tidur ringan ke dalam saku rokku. Aroma manis samar-samar tercium dari kain itu. Dengan langkah tergesa, aku bergegas menuju rute yang biasanya Luira ambil menuju akademi. Setiap detak jantungku berpacu, menandakan antisipasi dan kegugupan yang luar biasa. Jalan setapak menuju akademi terasa begitu sepi di pagi itu, hanya diselimuti oleh keheningan alam. Hanya suara serangga-serangga kecil yang samar terdengar dari balik rumput yang basah oleh embun, menciptakan melodi alam yang kontras dengan kegaduhan di dalam diriku. Aku menunggu di sekitar tikungan jalan, bersembunyi di balik semak-semak lebat. Napasku berusaha tetap tenang, namun jantungku berdegup kencang di d**a, seperti genderang perang. Entah karena rasa gugup yang meluap… atau karena antisipasi yang begitu kuat, sebuah perasaan yang sulit kujelaskan. Lalu, sosok itu muncul. Luira. Ia berjalan dengan langkah santai, seperti biasa, memancarkan aura ketenangan yang selalu menyelimutinya. Rambut pirangnya diikat ringan ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya. Dan persis seperti yang kuharapkan… ia benar-benar mengenakan dress biru dan rok pendek, tanpa stocking. Sebuah kebetulan, atau mungkin, takdir. Siluet kakinya tampak begitu bersih dan pucat di bawah cahaya matahari pagi yang lembut, tak ada bedanya dari apa yang kulihat dalam mimpiku. Gambaran itu membuatku semakin yakin akan niatku. Ini adalah kesempatan yang sempurna. Aku melihat sekeliling—tidak ada seorang pun yang terlihat. Jalanan sepi, seolah alam semesta berkonspirasi untuk rencanaku. Kemudian, dalam satu gerakan yang sigap dan senyap, aku melangkah keluar dari persembunyian, mendekatinya dari belakang. Tanpa ragu, aku menekan sapu tangan yang sudah dibasahi ramuan itu ke hidung dan mulutnya. Ia sedikit tersentak, sebuah reaksi refleks, namun tidak ada suara teriakan yang keluar dari bibirnya. Dan sesaat kemudian… matanya tertutup perlahan, tubuhnya terkulai lemas dalam pelukanku. Aku menggendongnya. Tubuhnya terasa ringan, seperti boneka kain yang tak berdaya. Ia tampak seperti putri tidur yang anggun, terlelap dalam damai. Saat aku membawanya, seolah aku hanya menyelamatkan seorang teman yang pingsan di jalan. Tidak ada seorang pun yang curiga, tidak ada yang berhenti untuk bertanya, atau bahkan melirik dua kali. Mereka semua terlalu sibuk dengan urusan masing-masing. Aku memastikan untuk tidak membawanya ke asrama. Terlalu berisiko, terlalu banyak mata yang mengawasi. Sebaliknya, aku membawa Luira kembali ke rumahnya sendiri, tempat yang sama di mana semua ini bermula. Kunci cadangan rumahnya masih tersimpan di tempat yang kuketahui—di bawah pot bunga di dekat pintu belakang. Sebuah tempat rahasia yang Luira pernah tunjukkan padaku entah kapan. Begitu berhasil masuk, aku mengunci pintu dengan rapat, memastikan tidak ada yang bisa mengganggu. Kemudian, aku mengangkat tubuhnya ke ruang tamu dan menyandarkannya pada salah satu pilar di dekat dinding, memberinya posisi tegak yang stabil. Aku menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali ketenangan yang sempat hilang. Detak jantungku masih terasa cepat, namun kini ada campuran kepuasan dan antisipasi. Waktunya eksperimen dimulai. Aku tahu aku tidak bisa menggunakan tali biasa untuk ini. Tapi aku juga tahu bahwa makhluk berlumut itu, penjaga tali biru, bisa dikelabui. Sebuah ide gila, namun patut dicoba. Dengan hati-hati, aku menyentuhkan sehelai kecil pakaian Luira ke bulu makhluk itu, memastikan aku tidak menyentuh makhluk itu secara langsung. Aku hanya ingin memicu reaksinya tanpa membuatnya menyerangku. Makhluk itu menggeliat lembut, seolah merespons sentuhan Luira, lalu mulai bekerja secara otomatis… pada Luira sendiri. Tali-tali biru mulai muncul dari udara, melingkari tubuh Luira yang tak berdaya. Aku mengarahkannya—secara bertahap, dengan visualisasi dan mantra-mantra kecil yang kuingat dari catatan sihir dasar yang pernah k****a. Aku memfokuskan energiku, membayangkan setiap simpul dan posisi yang kuinginkan. Gaya Frogtie yang sempurna. Tangannya terikat rapat di belakang punggung, kakinya ditekuk ke samping dan disatukan, membentuk ikatan yang ketat namun menekan lembut kulitnya. Lalu, tali lain muncul. Aku mengarahkannya, membuat tali itu mengikat kedua kaki bagian bawah Luira ke tiang tempat ia bersandar, hingga ikatan itu membuat paha dan lututnya menekuk tegak ke atas, mengekspos seluruh bagian bawah tubuhnya. Seluruh bagian bawah kakinya terekspos. Tidak ada stocking yang melindunginya. Persis seperti dalam mimpiku. Sebuah replika sempurna dari bayangan yang menghantuiku. Aku menatapnya, menelan ludah. Rasa puas bercampur sedikit kekaguman memenuhi diriku. Kemudian, aku berbisik pada diriku sendiri, nadaku setengah bertanya setengah menyatakan, “Bagaimana rasanya sekarang? Aku sudah membantumu dalam pelatihanmu, bukan?” Suasana hening. Hanya suara tali yang sesekali bergerak, menyesuaikan ketegangan, seolah tali itu sendiri memiliki kesadaran, mengencang di setiap titik yang tepat. Beberapa menit kemudian, matanya perlahan terbuka. Sebuah cahaya lembut muncul di kedua bola matanya yang gelap, seperti embun pagi yang menyingkap tabir malam. Ia menatapku, matanya tenang dan jernih. Masih dalam posisi yang sama. Terikat. Bersandar pada pilar. Terhubung dengan tiang. Dan… Ia tidak terlihat marah. Tidak terlihat terkejut. Ia tidak bertanya “apa yang kau lakukan?” seperti yang kubayangkan akan ia katakan. Luira hanya tersenyum lembut dan berkata, suaranya tenang dan ramah, seolah tak ada yang aneh terjadi: “Ara, Riria-san. Selamat pagi. Apa yang sedang kamu lakukan?” Aku terperangah. Terkesima. Benar-benar tak percaya. Dia benar-benar tidak terkejut? Bagaimana mungkin? Aku berjongkok sedikit, menatapnya intens, lalu bergumam, “Bagaimana rasanya… terikat seperti itu? Dengan gaya yang sama seperti yang terjadi padaku semalam. Dan… kakimu terhubung ke tiang seperti itu?” Luira memiringkan kepalanya perlahan, seolah baru menyadari posisinya sendiri, lalu terkekeh pelan. Sebuah tawa kecil yang anehnya justru menambah misteri pada dirinya. “Hmm… maksudmu apa? Maksudmu ikatan ini? Ah… ini sedikit berbeda dari pelatihan malam yang biasa kulakukan.” Aku menatapnya, masih tidak percaya dengan ketenangannya yang luar biasa. Kemudian, aku menjelaskan, menunjuk pada kakinya yang terikat. “Kamu tahu, kan? Gaya ikatannya persis seperti di mimpiku. Dan kamu tidak memakai stocking panjangmu yang biasa. Jadi kakimu—” Aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku. Wajahku kembali memanas, kata-kata itu terasa terlalu intim untuk diucapkan. Tapi Luira hanya melihat ke bawah, memandangi tali yang mengikat kakinya ke tiang, lalu mengangguk kecil. Sebuah penerimaan tanpa protes. “Benar… Kurasa ini terasa lebih ketat… dan sedikit lebih… memalukan.” Kemudian ia menatapku lagi, senyumnya masih tenang dan damai, seolah ia benar-benar menikmati posisi itu. “Tapi, Riria-san… apakah kamu ingin menahanku dalam posisi ini dan menemaniku sebentar?” “E-eh?” Aku tergagap, tak siap dengan pertanyaan itu. “Tidak juga, tapi…”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN