CHAPTER 8

1332 Kata
Chapter 8 — Gadis yang Mengetahui Terlalu Banyak Suara langkah kaki Aira perlahan menghilang di kejauhan, menyisakan jejak keheningan yang kini terasa terlalu sunyi, menusuk ke dalam gendang telinga Riria. Kepergian Aira justru meninggalkan kekosongan yang lebih berat daripada kehadiran gadis itu sendiri. Riria menutup pintu perlahan, seolah takut suara bantingan akan memecahkan ilusi ketenangan yang tersisa. Suara klik kunci pintu terdengar seperti dentang terakhir dari sebuah jam tua, sebuah pengingat brutal bahwa segalanya belum berakhir, bahwa waktu terus berjalan, dan masalah baru saja dimulai. Ia bersandar di pintu kayu itu sejenak, merasakan dinginnya permukaan, napasnya memburu, paru-parunya masih bekerja keras untuk mengisi oksigen setelah kepanikan yang melanda. Perlahan, ia membalikkan tubuh, pandangannya langsung tertumbuk pada Luira yang masih duduk di tengah ruangan. Luira, terikat sempurna, posisinya anggun dan tenang meskipun berada dalam kungkungan tali. Ball gag yang membungkamnya beberapa menit yang lalu kini sudah dilepas, tergeletak di lantai di sampingnya, namun ekspresi Luira sama sekali tak berubah. Matanya yang biru dalam masih tenang, jernih, dan penuh pemahaman. Tubuhnya masih disambung ke tiang kokoh dengan gaya ikatan frogtie yang membuat kedua kakinya terbuka lebar dan terekspos sepenuhnya—sebuah pemandangan yang akan membuat siapa pun, kecuali Luira, merasa malu jika melihat pantulan dirinya sendiri di cermin. Namun kali ini, tidak ada senyum tipis atau raut jenaka dari Luira seperti biasanya. Ketegangan yang baru saja terjadi telah mengubah atmosfer. Hanya pandangan serius yang terpancar dari matanya, sebuah ketenangan yang dingin, seolah ia sedang mengolah informasi yang baru saja diterima, informasi yang berat dan mengkhawatirkan. “Siapa dia?” tanya Luira, kalimat pertamanya setelah diam begitu lama, suaranya pelan namun tegas, memecah keheningan dengan pertanyaan krusial yang juga ada di benak Riria. Riria melangkah pelan mendekat, lututnya sedikit gemetar, lalu duduk di depan Luira dengan lutut tertekuk, melupakan sejenak ketidaknyamanan posisi itu. Tidak ada cermin di antara mereka sekarang, tidak ada ekspresi memerintah di wajah Riria—hanya kelelahan yang terpancar jelas dan kegelisahan yang masih berputar-putar di benaknya. Ia menatap Luira, matanya mencari jawaban. “Dia bilang namanya Aira,” jawabnya, suaranya sedikit serak. “Katanya murid baru… tapi… kamu dengar sendiri kan, dia tahu tentang tali biru.” Riria mencoba menekan suaranya agar tidak bergetar. Luira mengangguk pelan, sebuah konfirmasi tanpa kata. Tatapannya tetap lurus ke depan, seolah melihat sesuatu yang tak kasat mata di kejauhan. “Aku belum pernah dengar nama itu,” Luira mengakui, suaranya rendah dan kontemplatif. “Wajahnya juga asing bagiku, tidak ada dalam catatan murid atau kenalan.” “Tapi… dia tahu aku ada di rumah ini,” Riria melanjutkan, desakan dalam suaranya semakin kuat. “Dia tahu kamu di dalam. Dan… dia bahkan tahu soal latihan ini, tentang tali-tali yang kita gunakan.” Kata-kata Riria keluar dengan cepat, mencoba menyusun potongan-potongan teka-teki yang membingungkan ini. Riria menggertakkan gigi, rasa frustrasi bercampur takut. “Dan dia juga bilang sesuatu yang sangat mengkhawatirkan sebelum pergi.” “Apa?” Luira bertanya, tatapan seriusnya mengunci mata Riria, menuntut penjelasan. Riria menelan ludah. Kata-kata Aira bergaung di kepalanya. “Dia bilang… ‘tali biru sudah mulai bergerak ke arah yang menarik’.” Riria mengulang kalimat itu dengan nada yang sama misteriusnya, seolah mengeluarkannya dari kedalaman ingatannya. Luira terdiam. Lama. Keheningan kembali melingkupi mereka, kali ini dipenuhi oleh bobot makna dari kata-kata itu. Luira memprosesnya, menimbang setiap implikasi. Matanya berpaling ke lantai, pandangannya kosong, seolah ia sedang menyelami lautan pikiran yang tak terbatas. “Berarti… dia tahu lebih dari sekadar latihan,” gumam Luira, suaranya nyaris tak terdengar, sebuah realisasi yang menakutkan. Riria mengangguk pelan, sebuah konfirmasi pahit. “Dan dia juga tahu kamu tidak memakai stocking hari ini,” Riria melanjutkan dengan cepat, menambahkan detail lain yang memperburuk situasi. Ia merasa harus menyampaikan setiap petunjuk yang ia miliki. Luira menatapnya, kali ini alisnya sedikit mengernyit, sebuah ekspresi yang menunjukkan keterkejutan samar. Ia tahu betapa intimnya detail itu, dan betapa tak mungkin Aira bisa mengetahuinya jika ia hanya berdiri di ambang pintu. “Dia tidak melihat langsung, kan?” tanya Luira, nadanya mengandung sedikit desakan yang tak biasa, sebuah kilatan kekhawatiran yang nyaris tak terlihat. Riria menggeleng. “Nggak. Aku yakin dia nggak lihat langsung. Tapi… mungkin dia bisa merasakan. Atau… dia memang punya koneksi dengan tali itu. Lebih dari kita. Lebih dari yang kita duga.” Pikiran itu, betapa pun fantastisnya, terasa paling masuk akal dalam situasi yang aneh ini. Luira menutup mata sejenak, membiarkan informasi itu meresap, menyusun kembali pikirannya yang kini dipenuhi pertanyaan-pertanyaan baru. Ia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan. Ketika matanya terbuka kembali, sorotnya lebih tajam, lebih fokus. “Riria-san…” panggilnya, suaranya tenang namun ada bobot yang tak terbantahkan. “Ya?” Riria menjawab cepat, seluruh perhatiannya tertuju pada Luira. “Jika dia benar-benar tahu segalanya, dan bisa muncul sewaktu-waktu… maka hari ini hanya perkenalan.” Luira mengatakan itu dengan keyakinan yang menggetarkan, seolah ia telah melihat masa depan. Riria menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. “Kamu pikir dia akan kembali?” tanyanya, meskipun ia sudah tahu jawabannya. “Dia sudah bilang akan datang malam nanti,” Luira mengingatkan, “Tanpa mengetuk.” Kalimat terakhir itu terasa seperti ancaman sunyi, sebuah janji yang mengkhawatirkan. “Gila,” desis Riria, memijat pelipisnya. “Kenapa dunia ini makin aneh setiap harinya. Apa lagi yang akan terjadi?” Luira menunduk, matanya menatap tali-tali yang melilitnya, seolah mencari jawaban di sana. Lalu mengangkat kepalanya perlahan, mata birunya menatap Riria dengan tatapan serius, tatapan yang menembus hingga ke inti. “Riria-san. Kau harus mulai mempertimbangkan satu hal.” “Apa?” Riria bertanya, jantungnya berdebar kencang, firasat buruk mulai merayap. “Kalau yang kita lakukan selama ini… bukan hanya latihan pribadi.” Suara Luira rendah, penuh makna, sebuah kebenaran yang baru terungkap. Riria mengerutkan kening, mencoba memahami implikasi dari perkataan itu. “…Maksudmu?” “Kalau tali biru ini… sudah mulai menarik perhatian makhluk lain,” Luira menjelaskan, suaranya kini mengandung nada peringatan yang jelas. “Atau orang-orang yang punya tujuan berbeda. Orang-orang yang memiliki pemahaman atau kekuatan yang melampaui kita.” Keheningan kembali menyelimuti ruangan, namun kali ini bukan hening karena canggung atau karena pemahaman baru. Ini adalah hening karena otak mereka bekerja keras, memproses ancaman yang baru saja mengetuk pintu mereka, ancaman yang kini terasa lebih nyata dan kompleks daripada yang mereka bayangkan. Ada ketidakpastian yang mengawang di udara. Riria menatap Luira lama, menyerap setiap kata dan ekspresi. Kemudian, dengan suara yang lebih pelan, hampir sebuah bisikan, ia bertanya. “Apa kita masih aman di rumah ini?” Luira mengangguk pelan, kepalanya sedikit bergerak. “Selama dia belum memaksa masuk, ya. Kehadiran tali melindungi kita dari intrusi langsung yang tidak diinginkan, selama ikatan itu dihormati.” “Dan… kalau dia masuk?” Riria bertanya lagi, takut akan jawabannya, namun harus tahu. “Tali akan bereaksi,” Luira menjawab dengan tegas, matanya memancarkan keyakinan. “Ikatan ini memiliki kehendak sendiri. Dia akan menolaknya, mungkin dengan kekuatan yang tidak bisa kita bayangkan.” Riria menarik napas lega, sebuah desahan panjang yang membawa sedikit beban dari dadanya. Tapi hanya sedikit. Ancaman itu belum sepenuhnya hilang, hanya tertunda. Lalu… matanya tertumbuk kembali ke tubuh Luira. Sosok Luira yang terikat sempurna. Masih duduk tenang. Masih disambung ke tiang. Ada rasa hormat yang mendalam muncul di hati Riria melihat ketenangan Luira di tengah kekacauan ini. Dan cermin kecil yang telah disembunyikan di bawah sofa… masih ada di sana, menjadi simbol dari semua pengungkapan dan kerentanan yang telah mereka bagikan. Rasa gelisah dalam dadanya belum hilang sepenuhnya, seperti gema dari bel pintu yang terus bergaung. Tapi sekarang ada rasa lain yang muncul, sebuah dorongan kuat: ingin tahu lebih banyak. Tentang Aira, gadis misterius dengan mata emas dan pengetahuan tak terduga. Tentang tali biru, yang tampaknya jauh lebih dari sekadar alat latihan biasa, mungkin memiliki kekuatan dan kesadaran tersendiri. Dan tentang… apa yang bisa membuat Luira akhirnya menunjukkan emosi yang sesungguhnya, sisi dirinya yang belum pernah Riria lihat—sebuah sisi yang terasa begitu manusiawi di balik ketenangan ilahinya. Ini semua terasa seperti permulaan dari sebuah petualangan yang tak terduga, jauh melampaui apa yang pernah mereka rencanakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN