CHAPTER 2

1684 Kata
Bab 2 — Penjaga Berlumut Waktu terasa mengalir begitu lambat di ruang tamu yang kini terasa asing itu. Setiap detak jam dinding yang lembut, seolah teredam oleh ketegangan yang menggantung di udara, terasa seperti palu yang memukul kesabaran Riria. Ia masih bersandar tak berdaya di sisi sofa, tubuhnya terkunci dalam posisi yang sama persis seperti Luira. Kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung, sementara kakinya tertekuk dalam posisi Frogtie yang memaksa. Tali-tali biru yang kini membelitnya membentuk pola simetris yang dingin dan ketat di permukaan kulitnya, memancarkan cahaya redup yang ironisnya terasa seperti ejekan. Sudah hampir lima belas menit sejak ia pertama kali mencoba melepaskan diri, sebuah upaya sia-sia yang hanya menambah rasa frustrasi. Setiap kali ia menggeliat, setiap kali ia mencoba menggeser tubuhnya, ia semakin menyadari bahwa tali biru ini bukanlah tali biasa. Simpulnya tidak kendor sedikit pun; justru, gerakan sekecil apa pun seolah ditanggapi oleh tali sebagai isyarat untuk mengencang, menekan lebih dalam. Hal itu membuat tubuhnya makin sulit bergerak, bahkan untuk sekadar bergeser mencari posisi yang lebih nyaman. Luira, di sisi lain, masih duduk di sofa dengan tubuh terikat sempurna, seolah tak terpengaruh oleh waktu atau ketidaknyamanan. Tidak ada tanda-tanda ketegangan di wajahnya yang tenang. Justru, ia terlihat… nyaman. Ekspresinya menunjukkan kedamaian yang mendalam, seolah kondisi itu adalah bagian tak terpisahkan dari rutinitas malamnya yang biasa, sebuah ritual yang telah ia jalani berulang kali. “Luira,” gumam Riria, nadanya rendah namun tajam, penuh dengan campuran ketidakpercayaan dan sedikit kekesalan. “Berapa lama lagi kamu mau diam kayak patung begitu?” Perlahan, Luira membuka matanya. Bola mata gelapnya menoleh sedikit ke arah Riria, memancarkan ketenangan yang tak tergoyahkan. “Ini belum selesai,” jawabnya lembut, suaranya seperti bisikan angin malam. “Tapi aku akan bantu sesudahnya.” “Selesai apa?” Riria mendesak, rasa frustrasinya tak bisa lagi ia sembunyikan. “Meditasimu? Kamu bahkan gak bisa bergerak dalam keadaan kayak gitu. Bagaimana caramu membantuku melepaskan ikatan yang mengikatku ini? Ini bukan tali biasa, Luira!” Luira tersenyum samar, nyaris tak terlihat, sebuah lengkungan tipis di sudut bibirnya yang menambah misteri pada dirinya. “Aku bisa,” katanya tenang. “Tapi perlu waktu.” Riria mencibir, lalu memalingkan wajahnya, menatap ke arah dinding yang kosong. “Kamu ini aneh,” desisnya, kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya. Sunyi sejenak, hanya detak jam dinding yang mengisi kekosongan. Kemudian, suara lembut Luira kembali menyusul, memecah keheningan. “Boleh aku tahu… kenapa kamu datang?” Pertanyaan itu diucapkan dengan nada yang tulus, tanpa sedikit pun tuduhan. Riria terdiam sejenak. Rasa bersalah dan malu mulai merayapi benaknya, namun di balik itu ada kejujuran yang tak bisa ia pungkiri. Ia menghela napas kesal, sebuah isyarat kekalahan. “Aku… penasaran,” akunya, suaranya lebih pelan dari yang ia inginkan. “Semua orang ngomongin kamu. Tentang latihan fisik penenangan diri, tentang tali biru, tentang kamu yang selalu sendiri… Aku cuma… pengen lihat. Aku gak bermaksud buruk.” Luira menatapnya sejenak, sorot matanya seolah memahami setiap kata yang diucapkan Riria. Kemudian, ia mengangguk pelan, sebuah isyarat pengertian. “Aku mengerti.” “Aku gak nyangka kamu bakal… ya, beneran ngelakuin hal kayak gini,” Riria menambahkan, masih sedikit takjub dengan pemandangan di depannya. “Bukan hal yang aneh untukku,” kata Luira, menunduk pelan, seolah mengenang masa lalu. “Di tempat pelatihanku dulu, pelatihan diam-dalam-ikat adalah bagian dari kedewasaan. Kami menyebutnya ‘penyelarasan tubuh dan kehendak’.” Riria menaikkan alisnya, rasa ingin tahu mengalahkan rasa malu. “Kamu latihan buat… diem?” “Lebih dari itu,” jawab Luira tenang, suaranya menjelaskan dengan sabar. “Diam, dalam posisi terkekang, menghadap ke batas tubuh. Jika kau bisa tetap tenang dan terpusat meski tubuhmu tak bebas, kau bisa mengendalikan emosimu dengan lebih halus, memahami dirimu sendiri lebih dalam.” “Gak masuk akal,” desis Riria, meskipun tatapannya sedikit melembut, mengakui keanehan namun juga keefektifan metode itu. “Tapi… kelihatannya kamu beneran bisa.” Luira memejamkan mata lagi, seolah kembali masuk ke dalam dunianya sendiri. “Setiap malam. Sepulang akademi. Aku aktifkan kembali ikatan. Lalu duduk sampai tali itu membiarkanku keluar, sampai aku merasa selaras.” “Tali itu… hidup?” Riria bertanya, sebuah pertanyaan yang muncul dari rasa takjub. “Tidak dalam arti biologis,” Luira menjelaskan, tanpa membuka mata. “Tapi ia diberi energi oleh satu entitas kecil. Ia yang menjagaku, dan sekaligus memastikan aku tidak kabur dari pelatihan. Ia adalah penjaga keheningan ini.” “Entitas?” Riria mengulang, rasa penasaran semakin memuncak. Perlahan, Luira menggeser tubuhnya ke sisi sofa, sebuah gerakan yang tampak sulit namun ia lakukan dengan lancar. Ia memiringkan kepalanya ke arah lorong di sebelah kanan, mengisyaratkan sesuatu. “Kalau kau ingin tahu… dia ada di sana. Ruang samping.” Riria menoleh mengikuti arah yang ditunjuk Luira. Sebuah pintu terbuka sedikit, menampakkan celah ke ruangan yang lebih gelap. Dari dalamnya, cahaya biru redup menyala samar, berdenyut pelan. Suara seperti desis lembut udara, atau mungkin bisikan yang tak jelas, keluar dari balik pintu itu, menambah aura misteri. “Apa… itu?” Riria bertanya, suaranya nyaris berbisik. “Makhluk berlumut hijau,” Luira menjawab, suaranya tenang dan informatif. “Tidak berbicara. Tidak bergerak banyak. Tapi jika seseorang menyentuhnya… atau jika seseorang yang tidak diizinkan masuk rumah ini, maka ia akan bereaksi. Ia adalah mata dan telinga dari tali ini.” Riria menegang, menyadari implikasi dari ucapan Luira. “...Jadi kamu tahu aku gak diundang?” “Dan tali tahu juga,” Luira mengonfirmasi. “Tapi yang membuatmu terikat seperti itu karena kau yang memotret tanpa izin. Itu adalah pelanggaran yang lebih serius.” Riria membuka mulut hendak protes, namun kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Rasa bersalah muncul perlahan di benaknya, sebuah kesadaran bahwa ia memang telah melanggar privasi Luira. “Maaf,” ucapnya pelan, tulus. “Sudah terjadi,” jawab Luira pelan. “Sekarang tinggal ditunggu.” “Ditunggu?” Riria bertanya, bingung. “Ya. Aku akan coba bergerak. Tali ini akan melepaskanmu jika aku sudah membuktikan kemampuanku untuk bergerak dalam kondisi terikat.” Butuh beberapa menit sampai Luira berhasil bergeser dari duduknya. Sebuah perjuangan yang tampak berat, namun ia lakukan dengan ketenangan yang luar biasa. Ia mengatur napasnya yang teratur, memiringkan tubuhnya dengan hati-hati, lalu menggunakan tumpuan lutut dan pergelangan kaki yang terikat untuk mengangkat badannya perlahan dari posisi duduk ke jongkok. Tangan yang terikat di belakangnya membuat keseimbangan menjadi sulit, namun ia bergerak tanpa ragu, seolah sudah terbiasa dengan keterbatasan ini. Ia maju setengah langkah, tubuhnya tetap dalam posisi jongkok. Berhenti sejenak, ia mengatur napas, membiarkan tubuhnya beradaptasi dengan gerakan baru. Lalu, ia melanjutkan langkahnya, perlahan namun pasti. Riria menatap, tercengang. Matanya membelalak tak percaya. “…Kamu serius bisa jalan kayak gitu?” tanyanya, suaranya penuh kekaguman. Luira tidak menjawab, fokus pada setiap gerakannya. Ia terus bergerak perlahan, langkah demi langkah, seperti semacam makhluk malam yang gesit walau terikat. Bunyi kecil dari lantai terdengar tiap kali stocking-nya yang putih bersih menyentuh kayu, menciptakan irama pelan dalam keheningan. Cahaya biru dari ruang samping menjadi lebih terang saat ia mendekat, seolah menyambut kedatangannya. Begitu ia mencapai ambang pintu, Luira menunduk dalam, sebuah isyarat hormat. Kemudian, ia berbisik, suaranya nyaris tak terdengar. “Maaf, aku menyela… Boleh aku meminjam kristalnya?” Riria tidak bisa melihat jelas dari sudutnya, namun ia bisa merasakan udara di sekitar Luira bergeming. Ada semacam reaksi sihir yang lembut, tidak menyerang—lebih seperti izin yang diberikan secara diam-diam oleh sesuatu di dalam ruangan itu, sebuah persetujuan dari entitas penjaga. Tak lama kemudian, Luira menyentuhkan sisi wajahnya ke dinding di dekat ambang pintu, sebuah gerakan yang tampak seperti ritual. Sebuah crystal sphere kecil, memancarkan cahaya biru yang lebih terang, jatuh ke lantai dari ceruk rahasia di dinding. Luira mengarahkan wajahnya ke bola itu dan mengucap mantra pendek, kata-kata kuno yang tak dimengerti Riria. Kristal itu menyala terang, memancarkan gelombang energi. Udara bergetar, dan dalam satu gerakan perlahan yang terasa seperti keajaiban, simpul-simpul tali di tubuh Riria mulai melonggar. “Eh?!” Riria berseru, terkejut dan lega. Tali di kakinya melunak, tekanan yang mencekik perlahan menghilang. Ikatan di pahanya melepas, membebaskan kakinya. Simpul di punggungnya mengendur, dan akhirnya… kedua lengannya bebas, terlepas dari belenggu yang mengikat. Riria menghela napas berat, sebuah desahan lega yang panjang. Ia langsung duduk normal, mengusap tangannya yang bekas terikat, merasakan sensasi kebebasan yang mendalam. Kakinya sedikit gemetar karena selama hampir satu jam ia duduk dengan tekanan tinggi, peredaran darahnya terasa kembali mengalir. “…Aku kira gak bakal bisa keluar,” gumamnya, masih tak percaya. Luira berbalik pelan, tubuhnya masih terikat penuh, memancarkan cahaya biru redup. Ia belum membebaskan dirinya. “Kenapa kamu gak lepas juga?” tanya Riria, heran. “Aku akan melakukannya nanti,” Luira menjawab, suaranya tenang. “Latihan malamku belum selesai. Aku harus menyelesaikannya sendiri.” “Padahal kamu udah bantu aku,” Riria menimpali, merasa sedikit bersalah. “Aku tak akan pernah memutus ikatan tengah malam jika tak ada alasan mendesak,” Luira menjelaskan. “Kau bukan ancaman. Jadi aku hanya membebaskanmu saja, agar kau bisa kembali dengan aman.” Riria memandangi Luira cukup lama, sebuah pemandangan yang kini terasa berbeda di matanya. Lalu ia berdiri, berjalan mendekat, dan menatap wajah Luira dari jarak sangat dekat. Ada rasa hormat yang baru tumbuh di hatinya. “…Kamu serius banget, ya,” ucapnya, sebuah pengakuan tulus. Luira hanya menatap kembali tanpa menjawab, matanya memancarkan kedalaman yang tak terduga. Beberapa menit kemudian, Riria berdiri di depan pintu rumah Luira, siap untuk kembali ke asrama. Udara malam terasa lebih dingin, namun ada kehangatan aneh di hatinya. “Maaf sudah masuk sembarangan,” ucapnya pelan, rasa bersalah masih sedikit terasa. “Kalau kau ingin datang lagi, ketuk saja,” jawab Luira, suaranya lembut, sebuah undangan tak terduga. “Tapi jangan pernah memotret.” “Janji,” Riria mengangguk, sebuah janji yang ia tahu akan ia pegang. Riria melangkah pergi, menyusuri jalanan berbatu yang kini terasa lebih akrab. Namun, sebelum benar-benar jauh, ia menoleh kembali. Melalui jendela, ia bisa melihat Luira masih duduk di sofa, dalam posisi yang sama, mata terpejam, tubuh terikat oleh tali biru yang bercahaya. Dan entah mengapa… ada rasa damai yang terpancar dari pemandangan itu, sebuah pemahaman baru tentang ketenangan dan disiplin yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN