Chapter 16 — Pagi yang sulit Malam telah merayap pergi, digantikan oleh fajar yang perlahan menyingsing, membawa serta kehangatan mentari pagi yang menerobos celah tirai. Di dalam kamar yang hening, Luira masih terlelap dalam tidurnya, sebuah pemandangan yang tak biasa kamarnya. Ia duduk tegak di lantai, punggungnya bersandar pada dinding di samping ranjangnya yang empuk, kaki dan pahanya terangkat, kaku dalam posisi tegak yang dipaksakan oleh ikatan. Tubuhnya yang mungil terbalut erat dalam simpul-simpul tali biru yang presisi dari makhluk lumutnya, yang kini diperkuat dengan tali merah penghubung antara ikatan paha dan ikatan tangan tambahan dari Aira, sehingga membuat pahanya selalu tegak dan sedikit mundur ke arah badannya dengan presisi yang sempurna. Sebuah jalinan rumit yang membin

