Kinara menatap layar ponselnya yang raut kebingungan. Nama Kinara muncul di layar tersebut, namun ia tentu tahu siapa yang sebenarnya sedang menghubunginya. Dengan ragu Kinara mengusap layar ponselnya dan menggerakkan tangan untuk meletakkan ponsel tersebut ke dekat telinganya. “Aku tahu kamu sangat bingung ketika aku menghubungimu, Zeline.” Kinara mengernyitakn dahinya sesaat lalu ia menghembuskan napas dengan pelan. Sudah pasti Zeline ingin membahas tentang perceraian orang tuanya. “Zeline, jangan membuatku tampak buruk dengan memanggilku seperti itu. Kamu tahu jika namaku adalah Kinara.” Kinara berucap pelan. “Tapi.. bukankah sebaiknya kita tetap berpura-pura seperti apa yang kita lakukan selama dua minggu belakangan ini?” Tampaknya Zeline juga merasa ragu. “Tidak, kurasa kita

