Kinara melangkahkan kakinya dengan pelan menuju ke pintu utama rumahnya. Sebelum ia sempat menekan sidik jari untuk membuka smartdoor tersebut, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dari arah dalam. Kinara mengerjapkan matanya ketika melihat Dareen sedang berdiri di hadapannya. Pria itu tidak menampilkan ekspresi apapun, tidak terlihat kesal, marah, ataupun penasaran. Dia hanya diam sambil terus menatap lurus ke arahnya tanpa mengatakan satu kata pun. “Aku sempat menghubungimu..” Kinara membuka suara karena ia merasa sangat canggung. Dareen bergeming, pria itu tetap diam seakan sedang menunggu penjelasan darinya. Oh astaga, apa yang harus ia katakan? Kinara sama sekali tidak tahu mengapa Zeline menyembunyikan fakta tentang perceraian orang tuanya dari Dareen. “Apakah kamu baik-baik saja

