Liliati sepertinya tahu aku gugup, dia diam-diam tersenyum. Aku bertanya padanya apa yang dia tertawakan, tapi dia tidak menjawab, dengan lembut meletakkan telur yang telah dikupas bersih di wajahku dan menggulirkannya perlahan. Telur itu masih terasa hangat, panas dari telur membantu mengurangi bengkak di wajahku, telur itu terasa licin dan halus, terasa enak saat menyentuh wajahku yang bengkak. Aku sudah bukan pemuda tanpa pengalaman, aku tahu siapa Liliati, seharusnya aku bisa lebih berani saat ini, tapi aku tidak tertarik sama sekali, jadi aku hanya berbaring di tempat tidur, menikmati wajahnya. Dalam cahaya lampu putih, wajah samping Liliati terlihat bersinar, aku bisa melihat kumis tipis di bawah hidungnya bergerak-gerak, tertiup angin dari nafasnya. Mungkin tatapanku t

