Lyo 3. akhir semuanya

1441 Kata
Lorong hotel itu terasa terlalu panjang. Lyo berjalan cepat, hampir tersandung beberapa kali. Tangannya masih gemetar, napasnya tidak teratur. Kepalanya masih berat, tapi satu hal yang terus berputar di pikirannya hanya satu, sang kekasih Danial. Lyo mempercepat langkahnya dan tak lama pintu lift terbuka. Lyo masuk dengan tergesa, menekan tombol lantai bawah berkali-kali, seolah itu bisa membuat lift bergerak lebih cepat. Air matanya kembali jatuh, ia tak peduli siapa yang melihat dan tak peduli bagaimana keadaannya sekarang. Yang ia tahu hanya satu, ia harus mengejar Danial dan menjelaskan semuanya, walau semua ingatan itu blong seketika. Begitu pintu lift terbuka, Lyo langsung berlari keluar. “Danial!” Suara itu menggema di lobby hotel dan beberapa orang menoleh. Namun Lyo tidak peduli, matanya menyapu ke segala arah, panik, mencari sosok yang ia kenal dan di sana, didepan pintu keluar, Danial masih berdiri. Lyo langsung berlari dengan langkah yang sakit, karena perih dibawah sana. “Danial! Tunggu!” Langkah Danial terhenti, namun ia tidak langsung menoleh. Lyo akhirnya sampai di depannya, napasnya terengah, tubuhnya masih sedikit gemetar. “Danial, please!” Danial menatapnya dengan tatapan yang masih sama dingin dan menusuk. “Ngapain lo ke sini?” suaranya datar. “Danial.” “Bukannya lo harusnya membersihkan tubuh dulu?” Lyo terdiam sesaat, kata ‘lo’ itu begitu asing. “Aku mau jelasin,” lirih Lyo. Sementara itu ada yang melihat keduanya di dalam mobil, siapa lagi kalau bukan Mala, pelaku sebenarnya dalam kejadian yang menimpa Lyo. “Udah gue bilang, nggak perlu.” Lyo menggeleng cepat. “Enggak, kamu harus dengerin aku dulu! Aku bener-bener nggak tahu apa yang terjadi di atas—” “Terus? Gue harus percaya gitu aja?” Danial memotong omongan Lyo dengan suara yang cukup tinggi, walau tak berteriak, namun cukup untuk membuat Lyo semakin hancur. “Aku beneran nggak sadar, aku cuma minum yang dikasih Mala, terus aku tiba-tiba pusing.” Suara Lyodra melemah. Danial tertawa kecil, ia terlihat sinis. “Semua orang juga bisa bilang gitu, Lyo.” “Aku nggak bohong, Danial!” “Bukti lo apa?” Lyo terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar, karena memang tidak ada. Lyo sendiri tidak ingat apa-apa. “Lihat kan? Gue datang dan gue lihat semuanya dengan mata kepala gue sendiri,” lanjut Danial, menunjuk ke arah dirinya sendiri. “Danial, please.” Lyo meraih tangannya. Namun Danial langsung menarik tangannya. “Jangan sentuh gue, Lyo!” Lyodra membeku. Air matanya jatuh lagi. “Kamu jijik sama aku ya?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dan Danial menatapnya lama. “Iya. Sangat.” Jawaban itu pelan dan cukup untuk menghancurkan semuanya. Lyo menggeleng. “Enggak, kamu nggak mungkin—” “Gue liat lo sama cowok lain, Lyo. Di atas tempat tidur dan dalam keadaan kayak gitu, tanpa busana.” “Tapi yang kamu lihat belum tentu kejadian, Danial. Please dengerin aku dulu, aku bingung sekarang.” “Lo mau jelasin apa lagi? Walau lo nggak sadar, walau lo bingung dan nggak tahu apa yang terjadi, tapi itu nggak bisa menutup murahannya lo di sana, lo tetap udah ternodai, lihat leher lo, semua merah di sana, buat gue yang melihatnya jadi bener-bener merasa … jijik.” Setiap kata terasa seperti pisau, menusuk sangat dalam. “Kenapa kamu bereaksi seperti itu, Danial?” “Lo mau gue bereaksi gimana?” Lyo tidak bisa menjawab. Kakinya terasa lemas. “Gue percaya sama lo,” lanjut Danial. “Tiga tahun, Lyo. Tiga tahun gue jaga semuanya.” Suaranya mulai bergetar, tapi ia menahannya. “Gue nggak pernah nyentuh lo lebih dari yang seharusnya. Karena gue mikir … nanti, kalau kita nikah—” Danial berhenti, ia seolah tengah menelan sesuatu yang pahit. “Tapi ternyata—"” Lyodra langsung menggeleng keras. “Bukan kayak gitu! Gue nggak pernah—” “Udah cukup!” Kali ini Danial benar-benar meninggikan suara. Beberapa orang yang melalui mereka, mulai memperhatikan. Tapi ia tidak peduli. “Lo masih mau bilang lo nggak tahu apa-apa?” “Aku emang nggak tahu!” “Terus itu siapa?!” Lyo terdiam lagi dan ia tidak tahu mau jawab bagaimana karena ia memang tak tahu siapa pria itu dan itu justru membuat semuanya terlihat semakin buruk. “Aku mohon, jangan tinggalin aku kayak gini, kita udah janji kan mau nikah.” suara Lyodra pecah. Danial menatapnya. Ada sesuatu di matanya yang selalu berusaha ia tahan sejak tadi, Danial menggeleng pelan. “Gue capek, Lyo!” Satu kalimat itu terasa berat. “Gue capek percaya.” Lyo menangis semakin keras. “Aku bisa perbaiki ini. Kita bisa—” “Enggak bisa,” sergah Danial. “Tapi—” “Gue udah bilang kita udah selesai.” Lyo langsung memegang lengannya lagi. Kali ini lebih erat. “Jangan, Danial! Aku nggak bisa tanpa kamu!” Danial menutup mata sejenak. Seolah mencoba menahan sesuatu. “Lo bisa.” “Enggak, aku nggak bisa—” “Kamu harus bisa.” Lyo menggeleng terus. Seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu. “Aku sayang dan cinta sama kamu, Danial,” lirih Lyo. Danial membuka mata. Menatapnya untuk terakhir kali. “Gue juga.” Lyo terdiam. Harapan itu muncul. Namun langsung dihancurkan oleh kalimat berikutnya. “Tapi itu dulu.” Tangan Lyo melemah. Perlahan terlepas dari lengan Danial. Danial melangkah mundur. “Jangan cari aku lagi dan di sini adalah terakhir kita bertemu.” Tidak ada lagi ruang untuk tawar-menawar untuk mereka dan itu semua final bagi Danial. Danial melangkahkan kakinya masuk ke mobil dan ia tidak menoleh melihat betapa hancurnya Lyo saat ini, Lyo masih berdiri di sana, ia diam dan berharap Danial mau menggenggam tangannya, namun kenyataannya sudah tak seperti yang ia harapkan. Orang-orang di sekitar mulai berbisik. Namun suara itu seperti jauh. Karena yang ia dengar hanya suara langkah Danial yang semakin menjauh dan sampai akhirnya menghilang. “Lyo?!” Suara itu tiba-tiba memecah semuanya. Lyo menoleh. Mala berlari ke arahnya. Wajahnya terlihat panik. “Nih, gue dari tadi nyari lo! Lo ke mana sih?!” Lyo menatapnya. “Gue—" “Lo kenapa?! Muka lo pucet banget, Lyo!” tanya Mala mendekat. “Lo kenapa memberitahu Danial kalau gue di sini?” tanya Lyo. “Dia telepon gue terus loh, terus gue bilang aja lo di sini, kan di sini kita minum tadi dan kayaknya dia buntutin lo deh,” dusta Mala. Lyo langsung memeluk Mala. Seolah Mala adalah satu-satunya hal yang tersisa. “Mal,” lirih Lyo dengan tangisnya yang pecah. “Hm? Ada apa?” “Gue hancur.” Mala sedikit terkejut. Namun perlahan membalas pelukan itu. “Eh, eh … kenapa sih? Tenang dulu.” “Danial ninggalin gue.” Mala terdiam dan pura-pura terkejut. “Apa?” “Dia … dia liat gue di atas,” suara Lyo bergetar. “Gue nggak tahu apa yang terjadi, Mal, gue beneran nggak tahu.” Tangannya mencengkeram baju Mala. Seolah takut ditinggalkan lagi. “Gue cuma minum … terus gue pusing, terus—” Lyo tidak sanggup melanjutkan dan Mala mengusap punggungnya pelan. “Udah… udah,” ujar Mala dengan senyuman sinis dibelakang ceruk leher Lyo. “Lo mungkin cuma salah paham—” “Enggak!” Lyodra langsung menggeleng. “Dia liat semuanya.” Mala diam. “Terus?” “Dia bilang, dia jijik sama gue.” Kalimat itu keluar pelan, hampir seperti bisikan. Namun cukup untuk membuat suasana menjadi sangat sunyi. “Terus sekarang gimana?” tanya Mala pelan. Lyo melepaskan pelukannya. Matanya merah. “Gue nggak tahu.” “Lo mau kejar dia lagi?” Lyo menatap ke arah pintu keluar. “Dia nggak mau dengerin gue lagi.” Mala menghela napas. “Ya udah … mungkin dia lagi emosi.” “Dia benci gue, Mal.” Mala menatapnya. “Kalau dia beneran sayang sama lo … dia bakal balik.” Kalimat itu terdengar menenangkan. Namun ada sesuatu yang tidak terasa benar. Lyo menggeleng pelan. “Gue kehilangan semuanya. Gue bahkan nggak tahu … apa yang terjadi sama gue tadi.” Air matanya jatuh lagi. “Gue takut, Mal.” Mala langsung memeluknya lagi. “Gue di sini.” Lyo memejamkan mata. Memeluknya erat. Karena sekarang, hanya itu yang ia punya. Tanpa ia sadari orang yang ia peluk adalah alasan dari semua kehancuran ini. “Lo tenengin diri dulu,” kata Mala. “Gue nggak tahu mau kemana sekarang.” “Kita ke kost gue aja.” “Tapi—” “Nggak apa-apa, gue kan udah putus. Jadi, gue udah nggak tinggal sama dia lagi,” ujar Mala membuat Lyo mengangguk. Saat ini yang ia miliki hanya Mala, walaupun tanpa ia ketahui Mala adalah ular berbisa yang ingin membuatnya hancur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN