Diet: Efek samping diet ketat

1174 Kata
“Sayang…” “Sayang…” “Shinta” “Ehm? Oh-” Shinta baru menoleh setelah mendapat beberapa kali panggilan dari suaminya dan tersadar kalau dirinya sudah menuangkan terlalu banyak teh ke dalam cangkirnya sampai keluar dan tumpah hingga basah ke sekitarnya “Kamu kenapa sayang? Gak focus gitu?” Ucap Rama sambil meraih tisu dan membantu Shinta mengelapi tumpahan air teh yang tak sengaja di tuangkan berlebihan sampai jadi berceceran saat ia sedang melamun baru saja itu. “Sayang…” “Ehm?” “Kamu sakit? Pusing? Kita ke dokter aja yuk, kamu pucet sayang…” Ucap Rama yang khawatir pada keadaan istrinya itu. Matanya kini memeriksa dengan seksama wajah cantik Shinta yang terlihat jadi lebih menonjolkan tulang pipinya. Jari Rama juga kemudian mengusapi bibir pucat dan kering milik Shinta. “Aku gak papa Mas…” “Gak papa gimana?? Kamu gak baik-baik aja sayang, liat Mas…” Rama membalikan tubuh Shinta sampai jadi menghadapnya agar lebih jelas ia memastikannya. Mata Rama kini menemukan betapa jelasnya tulang selangka yang menyisakan lubangan yang begitu dalam di tubuh istrinya itu. Lehernya jadi sangat kurus, dan entah kemana perginya semua daging di tubuhnya itu, yang perlahan seperti menyusut dan mendadak menghilang begitu saja selama seminggu ini. “Kamu harus makan yang cukup sayang, udahan dietnya, berhenti lakuin treatment-treatment aneh lagi, itu malah merusak badan kamu kaya gini…” Ucap Rama, ia benar-benar di buat jadi sangat khawatir dengan perubahan tubuh Shinta itu. “Diet itu bikin-“ “Engga, ini bukan diet, tapi nyiksa namanya sayang…” Rama langsung memotong ucapan Shinta, ia benar-benar sudah tak bisa membiarkan Shinta terus-menerus menjalankan kebiasaan tak sehatnya itu. “Gak usah pergi Pilates dulu, apa lagi pergi nge-gym…” Tegas Rama “Tapi aku udah-“ “Kamu udah kurus!” Kali ini Rama sampai menaikan nada suaranya, “Olahraga berlebihan dengan nutrisi yang juga kamu kurangi, itu bukannya bikin sehat tapi ngerusak sayang, kali ini Mas mau kamu dengerin Mas dan gak boleh ngelawan” Shinta diam saja, karena sesungguhnya ia pun merasa mengalami banyak keluhan dengan tubuhnya yang jadi selalu mudah capek dan pusing. “Ehmm…” Shinta bahkan terlihat goyah dan tak bisa menyeimbangkan tubuhnya saat ini, Rama yang mengetahui hal itu langsung dengan sigap melingkarkan tangannya pada tubuh istrinya itu agar tak sampai jatuh. “Sayang, kamu- kamu… kita langsung ke dokter aja sekarang” Ucap Rama sigap memapah istrinya kini berjalan keluar rumah dan menuju mobilnya dengan segera. “Kita ke rumah sakit, kamu tahan dulu yaa…” Ucap Rama setelah berhasil mendudukan Shinta di kursi samping kemudi mobilnya itu. Cup Rama menyempatkan diri untuk mengecup kening pada wajah Shinta yang kini sudah jadi pucat pasi. Setelah itu ia kemudian ikut masuk dan langsung menancap gas mbilnya, ingin segera membawa istrinya yang tampak tak baik-baik saja itu untuk secepatnya mendapat perawatan dokter. . . . “Apa istri anda belakangan mengikuti salah satu diet ekstrim?” Tanya dokter yang memeriksa Shinta pada Rama. “Ehmm itu… dia belakangan memang menjaga makannya, kemudian mengikuti beberapa kelas olahraga” “Sepertinya itulah yang menjadi penyebab kondisi istri anda yang jadi melemah saat ini, bila berat badan seseorang turun secara drastic dalam waktu singkat, itu akan mengganggu keseimbangan elektrolit dalam tubuh, dampaknya pun bisa mempengaruhi fungsi kardiovaskular. Selain itu jika kadar sodium dalam tubuh menurun itu akan membuat tubuh jadi gampang capek dan pusing...” “... Selain itu juga diet rendah kalori seperti yang biasa di jalani para pelaku diet ketat, dapat membuat metabolism menurun, kemudian juga membuat tubuh jadi kekurangan vitamin dan mineral yang dapat menyebabkan anemia seperti yang di alami Ibu Shinta saat ini...” Mendengar penjelasan panjang dari dokter itu, Rama benar-benar merasa telah kecolongan, ia tak menyangka kalau selama ini ia telah membiarkan wanita yang paling ia sayangi itu malah merusak dirinya hanya karena ingin tampil lebih cantik. “Terus istri saya gimana dok?” “Kita harus memperbaiki asupan nutrisinya dan mengembalikan cairan tubuhnya lebih dulu...” “Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok...” Pinta Rama pada dokter itu. Sampai kemudian Rama dan dokter itu kini melangkah menuju ruangan tempat Shinta terbaring tak berdaya dengan selang infus yang terpasang di tangannya. “Mas...” Panggil Shinta yang baru saja membuka matanya dan langsung melihat sosok suaminya itu. “Ehm, ini Mas sayang...” Rama langsung mendudukan diri di samping Shinta dan menggenggam erat tangan lemahnya itu. “Ibu Shinta... sebaiknya anda harus memperhatikan pola makan anda dengan baik, lakukan diet sehat dan bukan diet berlebihan yang hanya memfokuskan agar bisa mendapat tubuh yang ramping...” Dan tiba-tiba saja air mata jatuh dari kedua mata Shinta, ia benar-benar merasa malu karena tak bisa menjaga tubuhnya dan malah jadi harus terbaring di rumah sakit seperti saat ini. Padahal niatnya semula hanya ingin tampil lebih cantik, bugar dan muda, tapi yang ada kini ia menjadi seperti seorang pesakitan yang membutuhkan perawatan. “Nutrisi itu penting untuk kesehatan perempuan, dan menjalani diet dengan rendah nutrisi akan mengubah metabolism tubuh dan menyebabkan BMI terpuruk ketingkat yang tidak sehat...” *(BMI atau Body Indeks Massa tubuh adalah indeks masa tubuh yang di gunakan untuk menunjukan kategori berat badan. Melalui BMI kita bisa bisa mengetahui status berat badan kita termasuk kategori naomal, berlebihan, atau justru kurang.) Dan dari pemeriksaan di ketahui kalau BMI Shinta saat ini memang berada di bawah normal yaitu 18-24 penghitungan kalkulator BMI. Shinta sendiri hanya bisa mencapai angka 15.4 saja saat ini. Angka itu di dapat dari perhitungan berat badan shinta yang hanya 42 kg dan tinggi badannya 165 cm. “... Itu akan berpengaruh pada kondisi hormone dan kesuburan anda, terlebih dari hasil penelitian menunjukan ketahanan embrio itu biasanya pada kondisi tubuh dengan BMI normal kisaran 18.5 sampai 24...” Shinta tiba-tiba merasa seperti ada banyak tusukan benda tajam yang menghujam dalam di dadanya. Ia benar-benar baru sadar kalau ia sudah bertindak egois atas tubuhnya itu. Ia tak tahu jika akan sampai seperti itu jadinya. “Terlebih dari data yang kami dapat ibu Shinta menjalani diet vegan yang seluruhnya berbasis dari tanaman, itu sesungguhnya tidak begitu di anjurkan karena ibu akan kehilangan nutrisi utama seperti zat besi, asam folat dan vitamin B yang terdapat pada protein seperti daging, kedelai dan susu...” Shinta kini mulai terisak mendengar itu, ia benar-benar tak habis pikir bagaimana ia bisa dengan tanpa pikir panjang malah memilih untuk hidup dengan cara yang seperti itu. “Apa kesempatan saya untuk memiliki anak akan benar-benar terganggu?” Tanyanya, meski ia takut untuk mendengar jawabnya “Seorang perempuan yang kekurangan nutrisi bisa mempengaruhi kesehatan sel telurnya dan membuatnya jadi memburuk, sehingga itu bisa mengurangi kesempatan untuk hamil... karena itu saya tekankan sekali lagi, perhatikan kesehatan dan asupan nutrisi anda bu....” Shinta kini sampai menyembunyikan wajahnya pada tubuh suaminya yang tengah merengkuhnya itu. “Maaf Mas, aku... aku udah bodoh gak bisa jaga tubuh aku sendiri...” Sesalnya yang terdengar begitu dalam “Ehm, gak papa sayang, yang penting sekarang kamu udah tau dan kita perbaiki juga buat tubuh kamu sehat lagi ya...” ... ... ... ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN