10. Terjebak

1753 Kata
Sean menggosok-gosokkan kedua tangannya, lalu menempelkannya ke pipi, berharap rasa dingin yang menusuk-nusuk kulitnya menghilang, atau setidaknya berkurang. Meski sekarang dia sudah berada di dalam restoran lokal yang merangkap menjadi hotel itu, tetapi tetap saja ia masih merasa dingin. Kanaya sendiri tengah memesan makanan sehingga meninggalkannya di kursi itu sendirian. Lelaki itu lantas menolehkan kepalanya, melihat keadaan di luar restoran. Kebetulan sekali, dia memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela. Laki-laki itu menghela napas panjang ketika melihat langit yang sama sekali tak menampakkan benda berkilauan yang jumlahnya tak terhingga itu. Begitu gelap dan gulita. Lamat-lamat gerimis pun mulai turun, menerpa permukaan kaca besar yang berada di sampingnya. Kian lama gerimis itu berubah menjadi hujan yang lebat. Sean merutuk dalam hati, mungkin saja nanti dia akan terjebak di tempat itu. Hujan lebat tidak baik untuk seseorang melakukan perjalanan, terlebih itu perjalanan jauh yang rawan sekali dengan kecelakaan. Ia menoleh saat mendengar derap langkah kaki seseorang yang mulai mendekati tempatnya. Laki-laki itu kembali memalingkan wajahnya saat tahu kalau orang itu adalah Kanaya. Rasa kesal mulai menggelayuti hati Sean. Kalau saja tadi siang ia tak menyetujui permintaan gadis itu, dia tak akan terjebak di sana dan tentu bersama gadis yang sangat ia hindari. Namun, semuanya telah terjadi. Sekarang dia hanya perlu bersabar, menunggu sampai hujan reda. Kini, Kanaya sudah berada di dekatnya, lebih tepatnya di samping meja mereka. Senyum tipis yang hampir menyerupai sebuah seringaian terbit di wajah manis gadis itu. "Dokter Sean, maaf ya, udah buat Dokter nunggu lama, tadi antreannya lumayan panjang," beritahu gadis itu tanpa Sean minta, lalu mendudukkan dirinya di samping si lelaki. "Hm." Sean hanya berdeham singkat tanpa menolehkan kepalanya. Laki-laki itu lebih asyik memandangi rintik hujan yang menerpa jendela. Menghitung dengan cepat tetesan demi tetesan air yang tertangkap netranya. Senyum masam menghiasi wajah Kanaya, ketika tak mendapat respons yang berarti dari Sean. Selalu saja, Sean tidak pernah memberikan reaksi yang bagus untuknya, lelaki itu malah bersikap dingin dan kaku. Hal itu jugalah yang semakin memperkuat niat Kanaya untuk menjalankan rencana di luar nalarnya itu. Sungguh demi apa pun, ia sangat mencintai Sean. Dia sendiri tidak tahu mengapa rasa itu semakin hari semakin membesar, hingga membuatnya berbuat senekat itu. "Eh iya, hampir aja lupa. Ini Dok makanannya. Aku nggak tahu Dokter mau apa, soalnya Dokter tadi nggak bilang pengen apa sama aku. Jadi aku cuma pesen sop sama teh anget." Kanaya kembali berujar, seraya menggeser semangkuk sop sayur yang dicampur dengan daging sapi, serta secangkir teh hijau yang di atasnya masih mengepulkan asap tipis itu ke hadapan Sean. Sean menoleh. "Hm, terima kasih," katanya. Ia pun langsung meraih semangkuk sop itu, dan langsung memakan isinya. Jujur saja, cacing-cacing di perutnya sudah berdemo meminta diberi makan dan ia sendiri pun butuh makanan untuk mengembalikan energinya yang habis terbuang untuk menuruti permintaan Kanaya. Kanaya ikut memakan makanannya. Sesekali perempuan itu menolehkan kepalanya ke samping, melihat bagaimana Sean yang dengan lahap memakan sop sayur dan daging itu. "Pelan-pelan, Dok," peringat Kanaya pada Sean, takut-takut pria itu akan tersedak atau terbatuk. Sementara itu, Sean tak mengacuhkan Kanaya. Pria itu malah melanjutkan makannya. Benar saja, tak lama setelah itu Sean tersedak. Sebelah tangannya melambai-lambai, meminta bantuan agar ada yang menolongnya, sementara tangannya yang lain bergantian mengelus tenggorokan lalu memukul berulang laki dadanya dengan pelan, berusaha mengusir rasa serat dan panas yang hinggap di sana. Buru-buru Kanaya meraih botol air mineral dari dalam tas, membuka tutupnya lalu menyerahkannya pada Sean. "Minum ini dulu, Dok. Pelan-pelan aja," katanya seraya membantu memegangi botol itu. Sean lantas segera meneguk air yang Kanaya sodorkan. Rasanya lebih baik dari sebelumnya. "Terima kasih," kata Sean dengan suaranya yang terdengar serak. Kanaya tersenyum lebar, perempuan itu mengangguk dengan semangat. "Iya Dok, sama-sama," balas gadis itu, kemudian kembali melanjutkan acara makannya. Sementara itu, Sean hanya diam seraya menyeruput teh hijau miliknya. Pria itu sudah tak berminat lagi dengan makanannya. Lama-kelamaan Sean merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya. Matanya pun terasa berkunang-kunang. Akibatnya, apa pun yang ia lihat berubah menjadi ganda. Mungkinkah, udara yang begitu dingin itu membuat kesehatannya drop? Ya, mungkin saja, mengingat dirinya sangat jarang merasakan udara seperti itu, bisa dikatakan kalau tubuhnya belum beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Lamat-lamat kesadaran Sean pun mulai terenggut. Laki-laki itu masih bisa mendengar suara Kanaya yang memanggil namanya dengan nada khawatir. Setelahnya, ia tidak mendengarkan apa pun. *** Kanaya menatap Sean yang saat ini sudah dibaringkan di atas ranjang oleh beberapa pemuda yang berbaik hati mau membantunya mengangkat tubuh pria itu. "Terima kasih Mas-Mas, sudah mau membantu mengangkat suami saya. Maaf ya, jadi merepotkan." Kanaya menyunggingkan senyum simpulnya. Ia sengaja menyebut Sean sebagai suaminya, karena tidak mungkin juga jika ia mengatakan Sean bukan siapa-siapanya. Bisa-bisa mereka tak diizinkan menginap dalam satu kamar. "Teu nanaon atuh, Teh, sesama manusia mah, memang harus saling tolong-menolong atuh," jawab salah satu di antara mereka dengan logat Sundanya yang sangat kental. "Ya sudah Teh, saya dan teman saya pamit dulu." Kanaya menganggukkan kepala lalu mempersilakan mereka keluar dari kamar yang sudah ia sewa itu. "Sekali lagi terima kasih," ujar Kanaya sekali lagi, setelah mengantarkan mereka sampai ambang pintu. Embusan napas lega kemudian terdengar beberapa detik setelahnya. Kanaya kemudian menutup pintu itu, lalu menguncinya. Ia memalingkan wajahnya, menatap sesosok pria yang kini tengah terbaring di atas ranjang berukuran Queen Size itu. Kanaya menghela napasnya, sebelum mengayunkan kaki mendekati ranjang itu. Ditatapnya dengan lekat wajah tampan Sean. Rambut pria itu cukup lebat, hampir menutupi sebagian dahinya yang cukup lebar. Kulit wajahnya putih bersih dengan bibir kemerah-merahan yang menandakan pria itu sama sekali tak pernah mengkonsumsi nikotin---tentu saja, Sean seorang dokter, ia tahu efek samping jika mengkonsumsi barang itu---, rahangnya pun tampak kokoh. Oh, dan iya, jangan lupakan hidung bangir Sean yang semakin menambah kesan ketampanan pada pria itu hingga membuat seorang Kanaya sampai tergila-gila dengannya. Sadarlah Kanaya, bukan saatnya kamu menganggumi ketampanan pria itu! Dewi Batinnya mencoba mengingatkan. Lantas Kanaya menggelengkan kepalanya pelan, berusaha mengenyahkan bayang-bayang wajah tampan Sean dari benaknya agar ia bisa lebih berkonsentrasi. Dia harus segera menjalankan rencana keduanya, karena bisa saja pria itu tersadar. Perempuan itu beringsut maju, untuk lebih mendekatkan lagi jaraknya dengan Sean. Tangannya pun sudah mulai membuka kancing kemeja yang Sean pakai dengan bergetar, kemudian melucuti pakaian atas pria itu hingga menampakkan tubuh polosnya. Kanaya tampak menahan napasnya ketika melihat tubuh Sean yang begitu menggoda. Digigitnya bibir bawahnya, hatinya benar-benar merasa tak menentu sekarang. Antara ingin menerkam atau melanjutkan rencananya. "Oh ayolah Kanaya, kamu jangan mudah tergoda!" Ia mencoba mensugesti dirinya sendiri. Perempuan itu kemudian membuang napasnya secara perlahan, sebelum ikut melucuti pakaiannya sendiri. "Dokter Sean, maafin aku karena aku udah ngelakuin hal kotor kayak gini sama Dokter. Maafin aku, Dok. Ini semua aku lakuin karena aku cinta banget sama Dokter, aku pengen dokter jadi milikku," ujarnya dan kemudian mulai menjalankan apa yang sudah ia rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Langkah yang ini udah selesai, tinggal ngelanjutin langkah-langkah berikutnya. *** Kanaya tak pernah menyesal sekalipun ia sudah melakukan cara licik untuk mendapatkan pria yang ia cintai. Meski ia tahu apa yang ia lakukan itu adalah salah, sangat salah malah. Barangkali Tuhan juga tak mau mengampuni dosanya itu. Suara erangan masuk ke gendang telinganya, mengimpuls sampai ke otak, sehingga membuatnya tanpa sadar mamalingkan wajah. Di sana, Sean tengah mengerjab-ngerjabkan matanya sembari memijit pelipis. Mungkin mencoba meredakan rasa sakit yang menyerang kepala lelaki itu. Kanaya bisa bernapas lega saat melihat tubuh Sean yang sudah terbungkus rapi dengan pakaiannya kemarin. Untung saja tadi malam, setelah selesai dengan rencananya itu Kanaya segera memakaikan kembali pakaian pria itu. "Ini di mana?" Pertanyaan itulah yang pertama kali keluar dari mulut Sean. Pria itu berusaha menegakkan tubuhnya, dan setelahnya menyenderkan tubuhnya itu ke kepala ranjang. Dan sepertinya pria itu belum menyadari jika ada makhluk lain selain dirinya di kamar itu. Sean pun mulai mengangkat kepalanya, hendak mengedarkan pandangan ke sekeliling. Namun, sebelum keinginannya terealisasi, laki-laki itu malah mendapati perempuan yang tak ia sukai berada di hadapannya dan menatapnya begitu lekat. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Sean sembari memberikan tatapan tajamnya pada gadis itu. "Dokter udah sadar?" Kanaya mengabaikan pertanyaan Sean dan malah melemparkan kalimat tanya yang cukup retoris pada pria itu. "Memangnya kamu tidak bisa melihat saya sudah sadar apa belum?" ujar Sean dengan ketus, pria itu sudah kembali ke mode awalnya Kanaya meringis, sebelum berujar menyahuti perkataan Sean. "Aku kan cuma pengen basa-basi sama Dokter," sahut Kanaya yang membuat Sean mendecakkan lidahnya. "Ya udah, aku ganti deh pertanyaanku. Dokter udah mendingan, kan?" tanya gadis itu kemudian. "Hm," deham Sean menjawab, tidak terlalu berminat. Padahal sejujurnya kepalanya masih cukup pening dan sakit. "Kita lagi ada di mana?" tanyanya kemudian. "Kita lagi ada di hotel, Dok. Kemarin kan Dokter pingsan, mungkin karena efek kelelahan dan juga hawa di sini yang dinginnya minta ampun. Jadi aku milih buat pesan hotel aja buat kita nginep dan nunggu kondisi Dokter membaik," ujarnya memberitahu. Sean mengangguk mengerti, bagaimanapun dia seorang dokter, dan dia cukup mengerti dengan penjelasan Kanaya. "Tapi kita tidak sekamar, kan?" Kanaya menyengir. "Maaf Dok, kemarin aku udah panik banget. Jadi nggak sempat mikir buat mesen kamar lain. Tapi Dokter tenang aja, kita nggak satu kasur kok. Tadi malam aku tidur di sini," katanya sembari menepuk-nepuk sofa yang ia duduki. Sean hanya berdeham saja. Lelaki lantas menyingkap selimut yang menyelimuti setengah tubuhnya. Ia beringsut turun, mencari sepatu yang kemarin ia kenakan. Untung saja sepatu itu berada tak jauh dari posisinya sehingga ia dengan mudah bisa mengambil kedua alas kakinya itu. "Lho, lho, Dokter Sean mau ke mana?" "Pulang," sahutnya dengan singkat dan mulai memasang kedua sepatu itu di kakinya. "Tapi kan Dokter belum bener-bener pulih," kata Kanaya yang berusaha menahan Sean agar tetap berada di ranjangnya. Ia khawatir efek dari obat tidur yang kemarin sempat ia masukan ke teh yang Sean minum belum sepenuhnya menghilang dan malah membuat perjalanan mereka menuju Jakarta menjadi lebih bahaya. Tak mengacuhkan Kanaya, Sean sekarang sudah beranjak dari ranjang itu dan mulai melangkahkan kakinya. "Kalau kamu pengen pulang sama saya, cepat. Saya masih ada urusan setelah ini," ujar lelaki itu dengan dingin, bahkan tanpa menoleh ke arah orang yang ia ajak bicara, lalu meninggalkannya begitu saja. Sean baru ingat ada jadwal operasi sekitar jam sepuluh nanti, tetapi ia masih berada di sana. Meski kepalanya masih sedikit pening, Sean harus pulang. Barangkali nanti ia akan berkendara dengan pelan-pelan saja. Mendapati Sean yang sama sekali tak menunggunya, buru-buru Kanaya membereskan barang-barangnya yang ia keluarkan dari dalam tas, memakai sepatu, kemudian berlari menyusul Sean. "Dokter Sean, tunggu aku dong, Dok!" teriaknya begitu menutup dan mengunci kamar hotel itu. Sean tidak berhenti. Namun langkah lelaki itu mulai memelan, menunggu Kanaya untuk bisa menyamai langkahnya. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN