Terlalu banyak pikiran membuat fokus Kanaya buyar. Ia tak memperhatikan teman koasnya yang tengah presentasi di depan hingga mendapat teguran dari residen yang memimpin jalan diskusinya itu. Semua karena perkataan Sean yang tak kunjung enyah dari benaknya.
"Lain kali kamu harus fokus Kanaya. Saya tidak mau tahu kamu sedang punya masalah yang berat atau bagaimana, yang saya butuhkan adalah keprofesionalan kamu. Kamu bisa saja gagal saat para konsulen menguji kamu besok lusa, dan pada akhirnya kamu harus mengulangi stase ini." Ia mendapat teguran itu sesaat setelah sesi diskusi berakhir. "Sekali lagi kamu seperti ini, saya tidak akan segan-segan memberikan kamu tugas untuk mengautopsi mayat yang ada di kamar jenazah."
Menunduk patuh, Kanaya hanya bisa pasrah mendapat ancaman semacam itu. Lalu tatapan prihatin dari beberapa teman koasnya pun sudah menjadi paket komplit untuknya.
Mengautopsi jenazah bukanlah hal yang mudah, meski sekali pun ia dibantu oleh tim forensik. Yang menjadi penghalang sebenarnya hanyalah soal keberanian.
Dulu, saat masih menjadi mahasiswa, Kanaya dan beberapa temannya pernah diserahi cadaver (mayat) untuk dipelajari anatomi tubuhnya. Mati-matian ia menahan rasa takutnya, dan berhari-hari setelahnya ia mengalami mimpi-mimpi buruk. Cadaver yang ia gunakan seolah-olah menghantuinya. Jadi yang harus ia lakukan adalah berusaha bersikap profesional sekarang agar tak kembali berkutat dengan tubuh tanpa nyawa itu.
Di sini ia memang diperlakukan sama, tak ada spesialisasi untuknya meski dia sendiri merupakan salah satu putri pemilik rumah sakit itu. Lagi pula, para karyawan rumah sakit tak ada yang tahu tentang statusnya yang sebenarnya. Yang mereka tahu, dia hanyalah seorang koas biasa yang berasal dari Jakarta. Itu saja.
Dan barangkali saja, jika mereka tahu siapa Kanaya yang sebenarnya, mereka akan memperlakukan Kanaya dengan lebih baik. Yah, bisa dikatakan sebagai penjilatlah. Kanaya cukup sudah bertemu dengan orang semacam itu, ketika tahu ia putri Ferdinand Brata Sadega maka mereka akan bertingkah sebaik mungkin di depan Kanaya, untuk menarik perhatian wanita itu tentu saja. Namun Kanaya tidak bodoh, ia jelas tahu mereka juga membicarakannya di belakang, dan mengatainya sebagai gadis bodoh.
"Yang sabar ya Kanaya, jangan melamun terus. Aku tahu kamu banyak pikiran ditambah lagi dengan hormon kehamilan kamu." Salah satu koas yang Kanaya kenal bernama Anestesi Nirwana---nama yang begitu unik menurut Kanaya. Pertama kali berkenalan, ia langsung tertawa dibuatnya. Mungkin karena pekerjaan ayah Anes yang seorang dokter Anestesi, dan beliau sangat mencintai profesinya itu, maka beliau memilih mengabadikannya menjadi nama sang putri---itu mengelus perut sedikit buncit milik Kanaya.
Semua orang memang sudah tahu jika ia tengah mengandung, Kanaya sendiri yang mengumumkannya saat dulu ia baru selesai memeriksakan dirinya ke dokter kandungan untuk mengetahui apakah tes yang ia lakukan sebelumnya benar atau tidak.
Sempat mendapat tuduhan hamil di luar nikah, namun ia segera menyangkalnya. "Aku sudah menikah, beberapa minggu sebelum pindah ke sini." Itu yang ia katakan dulu saat menyanggah asumsi buruk mereka. Dan untunglah mereka semua percaya, barangkali karena wajah Kanaya yang pintar memanipulasi sedemikian rupa. Manis, polos, dan lembut, siapa yang bisa menyangkal?
"Akhir trimester pertama memang seperti itu Kanaya, aku pernah baca artikelnya. Hormon kehamilan yang terus meningkat dan morning sickness yang semakin parah, belum lagi stres karena ujian yang bakal dikasih sama para konselen lusa nanti. Duh, aku aja yang nggak hamil ngerasa frustrasi banget, apalagi kamu Kanaya." Keluar dari ruang diskusi dan presentasi, lagi-lagi Anestesi berbicara. Tangan kanannya yang bebas tak memegang apa pun ia gunakan untuk mengacak rambut.
Tersenyum simpul, itulah balasan yang Kanaya berikan. Hormon kehamilannya membuatnya jadi tidak bersemangat.
"Saran aku ya Kanaya, kamu sepertinya harus izin nunda koas sampai kamu melahirkan, deh."
Ide yang cukup bagus, dan sepertinya Kanaya akan menyetujuinya.
"Terlalu stres bisa mempengaruhi kandungan kamu."
"Begitu ya?" Tapi Kanaya sedikit ragu. Penundaan masa koas berarti ia harus menambah tahun lagi untuk masa itu. Tak menutut kemungkinan juga ia akan mengulangi stase anak nanti.
"Demi anak kamu, Kanaya," sahut Anestesi sembari melirik jam dinding yang terpasang di dinding koridor. Kebetulan sekali mereka melewatinya tadi.
"Eh iya, hari ini aku ada shift visit bangsal. Aku pergi dulu ya, Nay." Kemudian perempuan yang sepertinya lebih muda dari Kanaya itu bergegas pergi. Tangannya melambai pada Kanaya yang dibalas anggukan singkat oleh perempuan hamil itu.
Kanaya berhenti sejenak, mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang. Yah memang, meski ia menggunakan janin itu sebagai alat untuk mendapatkan Sean, tetapi tetap saja tak bisa ia pungkiri perasaan sayang yang merasuk dalam hatinya dan mengisi setiap sanubarinya berhasil meluluhkan dirinya. Tentu saja ia akan menjaga kandungannya sebaik mungkin dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.
"Oke, sepertinya yang Tante Anes bilang benar deh. Mama kayaknya harus berhenti dulu ya koasnya? Biar nggak stres, terus kamunya nggak kenapa-kenapa deh," Kanaya bermonolog sendiri dengan janinnya.
Tak ia sadari, sesosok pria jangkung yang berdiri tak jauh darinya menatapnya dengan sendu. Ia sudah tak ada harapan lagi untuk mendapatkan Kanaya.
***
Kanaya baru tiba di rumah ketika jarum pendek jam mengarah tepat di angka enam. Hari ini ia mendapat shift sampai sore, untung saja. Sebab kalau ia tidak beruntung, ia akan mendapat shift malam. Namun karena ia sedang hamil, tentu pihak rumah sakit memberinya sedikit kelonggaran dengan selalu menempatkannya di shift selain shift malam.
Harusnya ia sudah bisa mengistirahatkan dirinya, entah dengan memakan masakan Bi Minah yang pasti sudah tersaji di atas meja makan, atau menonton televisi dengan mulut yang sibuk mengunyah popcorn atau keripik kentang buatan Bi Minah juga. Ia sudah membayangkan hal itu sejak di perjalanan pulangnya. Namun, rupanya bayangannya itu kandas saat melihat Sean bersama sosok wanita yang cukup ia kenali.
Kusuma, dokter umum yang juga bekerja di rumah sakit ayahnya. Tiga bulan menjalani koas di sana, Kanaya cukup tahu bagaimana tingkah polah wanita itu. Bukan kabar burung jika hampir semua dokter dan perawat membicarakannya secara diam-diam karena tingkahnya yang jauh dari kata baik. Entah tentang ia yang gemar menggoda pria, entah pria yang masih melajang atau yang sudah beristri untuk ia ajak bermain di atas ranjangnya.
Kanaya sempat tidak mempercayai hal itu ketika diceritakan oleh senior sesama koasnya. Namun, tak lama setelah itu ia melihat sendiri bagaimana Kusuma dan Dokter Prambudhi tengah saling berciuman di lorong paling ujung yang berdekatan dengan kamar jenazah. Lorong yang tentu jarang dilalui orang dan tentu memperlancar aksi tak senonoh mereka. Berganti hari, Kanaya lagi-lagi mendapati Kusuma dengan lelaki yang berbeda dengan posisi yang sama saat ia memergoki wanita itu tengah berciuman dengan Dokter Prambudhi. Ia tidak tahu siapa lelaki itu, terlalu asing dan sepertinya bukan bagian dari tenaga medis di rumah sakit.
Dan, melihat wanita itu berada di rumahnya, duduk sembari bergelayut manja dengan Sean jelas bukan hal yang ingin ia lihat sore itu. Pikirannya bahkan sudah ke mana-mana. Pun, kenapa Sean membawa wanita lain ke rumah mereka, yang sejujurnya adalah rumah mertuanya? Apa lelaki itu tidak malu? Lagi, apa saja yang sudah mereka perbuat selama ia masih di rumah sakit? Apakah seperti yang pernah ia lihat?
Entah mengapa, memikirkan semua hal buruk itu membuat jantung Kanaya bergemuruh. D*adanya didera rasa sesak yang luar biasa, hingga menghantarkan sesuatu yang membuat matanya memanas dan berembun. Dalam satu kejap saja, air mata wanita itu akan tumpah dengan sendirinya.
"D-dokter Sean." Lirih ia memanggil nama lelaki itu. Tak seberapa lama, Sean mendongak. Manik cokelat laki-laki itu berhenti tepat di matanya, menatapnya selama beberapa detik dengan tatapan yang lagi-lagi terasa menghunus tepat di jantung Kanaya.
Kenapa sakit sekali rasanya? Jelas, itulah pertanyaan yang memenuhi benak wanita itu. Apakah Sean benar-benar ingin membuatnya tersiksa dengan pernikahan mereka seperti yang sudah laki-laki itu katakan sebelumnya? Apakah ia akan membuat Kanaya menyesal telah melakukan semuanya?
Sakit, rasanya benar-benar sakit dan Kanaya tak mampu lagi menahan air matanya untuk tidak menetes. Ia tak peduli jika setelah itu Sean akan tersenyum dan mengejeknya. Kanaya sudah tidak memiliki pertahanan lagi. Ia mungkin masih mampu menerima semua sikap Sean yang dingin juga tidak bersahabat. Tapi tidak untuk yang satu itu, rasanya benar-benar menyakitkan melihat Sean duduk sedekat itu dengan wanita lain, juga pemikiran negatifnya yang tak kunjung enyah dari kepala.
"Ah, Kanaya sudah pulang, ya? Maaf ya, Kanaya, saya datang ke rumah kamu. Dokter Sean tadi yang mengajak saya ke sini."
Suara Kusuma yang terdengar mendayu-dayu dan dibuat semanja mungkin membuyarkan lamunan Kanaya. Wanita itu lantas mengalihkan maniknya dari Sean dan menatap Kusuma yang tersenyum lebar padanya, kontras dengan suasana yang begitu menyesakkan bagi Kanaya itu.
Kanaya menipiskan bibir, menggigit kulit bagian dalamnya. Rasa-rasanya ia tak berani berucap. Jangankan berucap, suaranya saja sudah tertahan di tenggorokan, membuatnya menggondok dan meninggalkan rasa sakit yang luar biasa.
"Anda tahu Dokter Sean sudah beristri, tapi kenapa Anda mau ketika suami saya mengajak Anda mampir ke sini?" tanya Kanaya pada akhirnya, mencoba memberanikan diri dengan suara bergetarnya yang nyaris tak terdengar. Pantas, ia sudah sejak tadi menahan tangisnya untuk tidak pecah. Meski air mata sudah membanjiri pipi wanita yang tengah berbadan dua itu. Sean terlalu tega berbuat seperti itu padanya.
"Lho, kenapa tidak, Kanaya? Dokter Sean Sean baik sudah menawari saya, kalau saya tolak saya yang jahat, kan?" sahut Kusuma dengan senyum yang terulas di bibir merah menggodanya.
Kanaya lagi-lagi menggigit bibir. Lalu, ia tatap Sean yang kini sudah tak lagi menatapnya. Ekspresi lelaki itu sedatar biasanya. Tidak ada senyum atau ekspresi lainnya di sana.
Puas memandang Sean yang tak acuh padanya, Kanaya kembali mengalihkan tatap pada Kusuma yang setia dengan senyum manis yang tersungging di bibir wanita itu.
Kanaya menghela napas, menghapus lelehan air mata di pipinya, sebelum berucap dengan nada yang penuh akan sindiran. "Saya nggak tahu apakah Dokter Kusuma manusia atau iblis, sampai Dokter nggak punya hati seperti ini. Dokter wanita, seharusnya juga paham dengan perasaan wanita lainnya. Bagaimana bisa Dokter menerima ajakan dari lelaki yang sudah beristri? Iya, saya tahu, mungkin suami saya salah. Tapi, sebagai perempuan Dokter punya kewajiban untuk menolak jika hal yang ditawarkan tidak benar. Bukan malah mempersilakan yang jatuhnya melukai hati wanita lain, terkhususnya hati saya," ujar Kanaya panjang lebar.
Ia lantas menyunggingkan senyum miris, sebelum kembali melanjutkan ucapannya itu. "Sebagai perempuan dengan pendidikan tinggi, Dokter seharusnya sudah tahu adab. Mana yang baik dan mana yang buruk, bukan malah jadi wanita yang tidak tahu diri juga tidak tahu malu. Pantas kalau Dokter dicap sebagai perempuan b*nal oleh yang lain, sikap Dokter Kusuma saja tidak bisa diterima akal sehat," pungkas Kanaya.
Kusuma yang mendengar hal itu sontak membulatkan matanya. Tampak tersinggung dengan perkataan Kanaya. Wajahnya bahkan sudah memerah, menahan emosi yang sebentar lagi meledak.
"Kamu!" Ia menunjuk tepat di wajah Kanaya, yang berhasil membuat wanita berbadan dua itu menyunggingkan senyum simetrisnya.
Kanaya mengangkat alis. "Yang saya katakan benar kan, Dokter Kusuma Anggerwati?" ujarnya penuh dengan penekanan. Sebelum Kusuma menjawab ucapannya, Kanaya sudah lebih dulu bersuara dengan nada tegasnya. "Ini rumah saya, silakan pergi dari sini sebelum saya memanggil satpam dan menyuruhnya untuk menyeret Anda sampai gerbang depan," lanjutnya.
Kusuma dengan wajah semerah saganya menghentakkan kaki dengan keras. Dengan kesal ia meraih tasnya yang tergeletak di atas meja, mencium pipi Sean sekilas yang tak luput dari pandangan Kanaya, sebelum berbicara dan keluar dari sana.
"Dokter Sean, maaf. Mungkin lain kali, ya? Saya pulang dulu." Dan setelah itu benar-benar pergi dari sana.
Selepas itu, Kanaya menatap Sean yang masih terduduk di posisinya tadi dengan nanar. Ia tidak mengerti jalan pikiran Sean yang demikian. Sean menyakitinya terlalu dalam.
"Dokter Sean tega sama aku. Dokter Sean nyakitin aku," ujar Kanaya menyuarakan hatinya yang seperti sedang dicubuti oleh tangan tak kasat mata, membuatnya kembali melelehkan air mata.
Sean berdiri, badan tegaknya menghadap sepenuhnya pada Kanaya. Mata lelaki itu masih setajam tadi. Lantas, dengan suara beratnya lelaki itu bersuara. Suaranya sudah seperti penjahat berdarah dingin. "Kamu sendiri juga tega pada saya, Kanaya, kalau kamu lupa itu," ujarnya. "Jadi, apa saya harus tidak tega sama kamu setelah semua yang kamu perbuat? Tidak, jangan salah sangka. Saya bisa lebih kejam dari itu. Saya pastikan itu."
Lelaki itu lantas menghela kakinya, berjalan meninggalkan Kanaya sebelum masuk ke kamarnya sendiri.
Kanaya meluruh di tempat. Air matanya semakin banyak saja. Sakit, rasanya sakit sekali. Ia bahkan sampai memukul d*adanya berkali-kali, mencoba mengurai sesak yang bersarang di sana.
Mengapa? Mengapa Sean sekejam itu padanya? Kenapa lelaki itu tidak belajar mencintainya saja? Kenapa?
"Non Kanaya," suara Bi Minah yang sedari tadi menonton semua drama itu dari balik pintu dapur.
Wanita setengah baya itu mendekat, merengkuh tubuh Kanaya dan memeluknya erat. Sungguh, ia tidak tahu cerita sebenarnya antara kedua majikannya itu. Namun, ia sendiri tak kuasa bertanya. Bi Minah berharap, semua masalah mereka akan cepat teratasi dan Non Kanayanya segera menemukan kebahagiaan.
Semoga saja.
Tbc