Dua bulan lebih berlalu, kini usia anak Indah genap 2 bulan lebih,. Indah memutuskan untuk kembali ke Bandung bekerja di pabrik, dan Indrahayu anak Indah di jaga oleh ibu dan ayah Inda di Cirebon.. Indah tetap menjalani rumahnya seperti layaknya rumah tangga orang lain. Semua di tanggung oleh Indah, dari keperluan sehari hari, sufor dan uang bulanan yang Indah kirim tiap bulan nya untuk sang anak.. Dian memang bekerja, namun semua gajinya sampai saat ini tetap dia berika kepada ibu nya..
Hingga suatu hari, ayah Dian terjatuh sakit dan di rawat di rumah sakit.. Lagi lagi Indah yang mengurus semuanya. Sampai merawat mertuanya pub Indah lakukan, jika pagi hari Indah bekerja, maka malam hari Indah akan menginap di rumah sakit untuk menjaga ayah mertuanya.
"Indah nak, terima kasih sudah menjaga ayah."
"Ayah jangan berterima kasih, ini sudah tugasku."
"Dian sangat beruntung bisa memiliki istri seperti dirimu Indah."
Indah hanya tersenyum mendengar ucapan ayah mertua..
"Maafkan ibu mertua mu. Yang masih sering marah kepadamu Indah."
"Ayah tidak usah membahas nya lagi. Aku baik baik saja kok."
"Ayah tahu nak perasaan mu, di berlakukan seperti itu dari istriku.. Aku sudah menegurnya. Jadi kamu yang sabar yah nak."
"Iya ayah."
"Indah, jika ayah sembuh. Apa ayah bisa melihat cucuk Ayah?"
"Tentu saja ayah" Ucap Indah tersenyum bahagia mendengar permintaan sang ayah mertua.
••••
2tahun berlalu
Indah pun berangkat ke Cirebon untuk menjemput sang anak tercinta..
"Kau yakin Indah, akan membawa Indrahayu ke Bandung?" Tanya Ibu Indah.
"Iya bu', ayah mertua dia ingin sekali melihat cucunya."
"Indah, tapi kenapa perasaan ibu tidak enak yah?"
"Maksud ibu?"
"Apa ibu mertua mu baik padamu??" Tanya Ibu Indah
"Iya bu." Jawab Indah singkat
"Jangan berbohong nak, jelas sekali terlihat di wajah mu saat kau menjawab. Ibu tahu kau sedang berbohong pada ibu."
Indah menunduk sesaat lalu menarik nafas panjang dan di hembuskan nya secara perlahan. Lalu Indah mengangkat kepalanya, melihat ke sang ibu.
"Indah masih bisa mengatasinya bu'. Ibu percaya padaku, Indah baik baik saja di sana. Meski ibu mertua ku tidam baik padaku. Tapi ayah mertuaku sangat baik ibu. Jadi ibu tidak perlu khawatir."
Ibu Indah memeluk tubuh Indah lalu mengusap dan menepuk pundak belakang Indah. "Ibu tahu, kau wanita yang sangat kuat. Ibu yakin sebesar apa pun masalah mu, kau pasti bisa melewatinya. Ibu berdoa semoga kau bahagia anak ku."
"Iya bu, terima kasih."
?????
Indah kembali ke kota Bandung bersama anaknya yang kini berusia 2tahun. Indrahayu, anak yang imut dan cantik, rambut yang selalu di ikat membuat nya tampak begitu rapi dan terlihat manis..
Beberapa saat kemudian, kini Indah dan sang anak telah sampai ke rumah ayah dan ibu Dian..
"Ibu, ibu ini lumah ciapa?" Tanya Indrahayu sambil menarik baju ibunya.
Indah berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan Indrahayu. "Sayang, ini rumah kakek dan nenek." Ucap Indah sambil membelai rambut Indrahayu.
"Tate cama nene?" Tanya Indrahayu dengan polosnya.
Indah tersenyum sambil menganggukkan kepalanya..
"Indah." Ucap sang ayah mertua yang baru saja keluar dari dalam rumah dan melihat Indah yang sedang berjongkok di hadapan anak kecil.
Indah dan Indrahayu serentak menoleh ke arah sumber suara.
"Apa ini cucuk ku?" Tanya ayah Indah sambil mendekat ke arah Indrahayu.
"Iya ayah." Jawab Indah.
"Cucuk ku." Ucap nya sambil menitihkan air mata, dan memeluk tubuh Indrahayu.
Untuk pertama kalinya, ayah Indah melihat sang cucu.. Ayah Dian begitu bahagia, bisa melihat cucunya secara langsung. Karna selama ini, mereka hanya sesekali berbica lewat sambungan telepon saja..
"Kau sudah besar sayang, maafkan kakek mu ini."
"Tate, enapa tate enangis??"
Ayah Dian menghapus air matanya. "Kakek tidak menangis sayang."
"Oong, itu ada ail matanya. Kata ibu sama nenek, oong doca loh." Ucap Indrahayu.
"Wao wao wao." Ucap Ibu Dian yang entah dari mana tiba tiba menatap tidak suka pada cucu nya.