09

664 Kata
Dan benar saja ayah dan Ibu Dian mendatangi rumah Indah yang berada di Cerebon. Bermaksud untuk melamar Indah. Saat telah sampai ayah dan ibu Indah tersenyum rama melihat kedatangan orang tua Dian. Begitupun dengan ayah Dian, ia juga ikut tersenyum rama. Namun berbeda dengan ibu Diam, senyum nya sangat tidak mengenakan untuk di pandang. Ada raut ketidak sukaan nya pada saat datang ke rumah Indah. "Silahkan masuk." Ucap ayah Indah. "Terima kasih."Jawab Ayah Dian, lalu menarik tangan istrinya. "Ayo bu, kita masuk." Bisik nya. Ayah Dian menjelaskan maksud dan tujuan nya datang berkunjung, ayah Indah mendengar sambil sesekali melempar senyum, berbeda denagn ibu Indah, entah mengapa ia merasa kalau ibu Dian tidak menyukai anaknya sama sekali, karna terlihat jelas dari raut wajah ibu Dian yang terus saja melihat ke sana kemari memandang rumah ibu Indah dengan wajah yang jelas nampak tidak suka. "Jadi bagaimana pak, bu? Apakah niat baik kami di terima?" Tanya ayah Dian. "Kalau saya semua tergantung dari Indah. Karna Indah lah yang akan menjalani nya nanti, buka kami." Jawab ayah Indah. "Iya pak. Kami belum bisa memberi jawaban sekarang, kami berdua harus mendiskusikan ini terlebih dahulu dengan Indah." Timpal ibu Indah. "Baiklah bu, pak. Aku menunggu jawaban baik dari kalian berdua. Semoga saja Indah mau menerima niat baik ku datang ke sini." Ucap ayah Dian sambil tersenyum. "Bagaimana ibu?" Tanya ayah Dian sambil memberi kode dengan meyenggol lengan istrinya. "Hhmm itu, iya.." Jawab nya. "Iya apa bu?" Tanya Ibu Indah. Ibu Dian menoleh ke arah suaminya. Ia pusing mau menjawab apa. Karna sedari tadi ia tidak menyimak pembicaraan, ia hanya fokus menatap rumah Indah yang terbilang di bawa sederhana.. "Itu bu, niat baik kita datang kesini." Ucap ayah Dian. "Ouh iya itu. Kami ingin melamar Indah. Semoga ibu dan bapak bisa menerima lamaran kami." Ucapnya. Namun hatinya berkata lain. ????? Singkat cerita, dan akhirnya pada bulan Mei tahun 2000, Indah dan Dian resmi menikah.. Tapi meskipun sudah menikah, Ibu Dian tetap tidak suka sama sekali dengan Indah. Hanya ayah dan ipar ipar Dian yang laki laki, yang suka dan welcome dengan Indah. Hari berganti dengan minggu, dan berganti dengan bulan. Indah dan Dian menjalani rumah tangga seperti biasanya. Indah masa bodoh dengan ibunya Dian yang selalu tidak memandangnya sama sekali.. "Sayang, kau harus sabar yah menghadapi ibuku.".Ucap Dian "Tidak masalah kok. Lagian juga kita kan tidak tinggal sama ibu mu jadi masih aman aman saja." "Iya juga sayang. Makasih yah sudah mau mengerti tentang ibu." Indah cuman tersejum mendengar penjelasan Dian, karna menurutnya tidak ada juga pentingnya mau menggubris ibu Dian yang tidak suka dengan nya. Selagi ibu Dian tidak menghina kelurga Indah, indah mah masa bodoh amat. Hingga suatu hari, Ibu Dian berada di kontrakan Dian dan Indah. Menunggu kepulangan Dian dari bekerja. Saat ibu Dian sedang berada di teras duduk sambil memikirkan bagaimana cara agar Dian dan Indah bisa berpisah. Karna jujur sampai saat ini ibu Dian masih belum menerima kehadiran Indah sebagai menantu di keluarganya. Hingga beberapa saat Dian telah pulang kerja, Ibu Dian yang melihat anaknya sudah pulang, langsung berdiridari duduknya dan tersenyum. "Ibu." Ucap Dian kala melihat sang ibu yang sedang berdiri di teras kontrakan nya. "Kau sudah pulang sayang." "Iya, ibu kapan datang nya?" Tanya Dian. "Baru saja. Ouh iya bukan kah hari ini kamu gajian? Sini mana gajimu?" Ucapnya sambil mengulurkan tangan nya meminta gaji kepada Dian. "Tapi bu, ini untuk ke......" Ucap Dian terpotong. "Ingat Dian, surga mu ada di bawah telapak kaki ibu, jadi jangan pernah membatah ucapan Ibu, jangan mau jadi anak durhaka." Dian hanya bisa diam mendengar ucapan sang ibu, dan dengan pasrah Dian menyerahkan amplop yang berwarna coklat itu kepada ibunya.. "Tapi bu, mau di apakah gajiku?" Tanya nya "Ibu akan menyimpan nya untukmu. Jadi kamu tenang saja. Jangan banyak tanya." "Baiklah bu," ucapnga dengan pasrah. "Ibu pulang dulu. Kamu di sini baik baik yah.Kalau istri kampung mu macam macam, bilang sama ibu. Ibu sikat dia." Pamitnya sambil mengancam. Lagi lagi Dian hanya bisa diam mendengar ucapan sang ibu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN