"Bagaskara, kamu Bagaskara kan?"
"haha, inget juga akhirnya"
"AAAA" aku berseru senang, dan berhambur memeluknya. Di depan umum. "kangenn bangettt, kamuu kenapaa ga bilaangg akuu kalo udahh balikkk" ucapku setengah berteriak, masih memeluknya. Ia terkekeh dan mempererat peluknya.
Sungguh, bukankah ini pemandangan yang jarang terlihat. haha, aku acuh dan kembali menikmati pertemuanku dengannya. Hampir 2 tahun kami berpisah, sejak ia dipindahkan sekolah ke luar kota oleh orang tuanya.
Bagaskara adalah sahabatku. Sahabat terbaikku sejak aku kecil. Dia tau, bagaimana keluargaku. Dia mengetahui segala hal tentangku. Aku melupakan sejenak orang tidak dikenal yang mengirimiku pesan aneh itu.
Aku melepaskan pelukan kami dan menatap wajahnya sekali lagi. Dia banyak berubah. pantas saja aku tidak terlalu mengenalnya. huft, harusnya aku sadar lebih awal.
"kamu pindah sekolah disini?' tanyaku padanya. tentu ini bukan pertanyaan yang harus dijawabnya. seragam yang ia gunakan, sudah jelas menunjukkan kalau dia adalah murid disini.
"iyaa Gantari. kelas kita sebelahan tau. tadi pagi aku juga telat bareng kamu" Aku terdiam. dia datang terlambat juga? "padahal ini hari pertamaku sekolah, haha." aku tersenyum.
"terus kenapa baru sekarang menemuiku?" tanyaku padanya.
"tadi pagi aku mau langsung ketemu kamu, tapi kamu ngga lihat aku. kamu banyak berubah ya, tambah cantik juga" Ia tersenyum. lesung pipi itu. hanya itu yang masih sama. Begitupun dengan senyumnya.
"curang, kamu jadi tinggi banget sekarang" Aku merengut, pura pura kesal. Sial pikiran nakal ku kembali berkelana. hey, sebesar apa miliknya? rumornya pria tinggi kebanyakan memiliki barang yg bagus. hm.
Bagaskara tertawa renyah, lalu menggendong aku secara spontan "aku juga lebih kuat sekarang Gantari" Aku terkejut, lalu tertawa. Ia menurunkan ku.
"yayaya, aku mengakui kamu cukup kuat untuk menggendongku"
"mau mengobrol dikantin? aku lapar dari pagi nyariin kamu dan baru ketemu sekarang" Aku mengangguk dan berjalan bersisian dengannya ke arah kantin.
"lagi pula, kamu bilangnya mau balik bulan depan. kok cepet banget?"
"aku mau ngagetin kamu. terbukti kan, bahkan kamu sempet ga ngenalin aku" Aku tertawa. benar, aku awalnya tidak mengenalinya. bahkan Bagaskara nampak seperti bocil ingusan tadi. Namun sekarang dia nampak begitu berbeda. dia tumbuh dengan baik disana rupanya. "gausah liatin aku kaya gitu Gantari, kamu mau aku makan mm?" Aku tersadar telah memperhatikannya cukup lama.
"siapa yang liatin kamuu dih, wuu" Aku berjalan mendahuluinya. pipi ku memerah. tolong, kenapa Bagaskara jadi se keren ini. Sungguh aku tidak menyangka.
Bagaskara tertinggal jauh dibelakangku. Tiba tiba seseorang menghampiriku. Aku teringat, dia adalah pria yang tadi pagi nimbrung di mejaku. Dia menyapaku.
"Gantari, kamu mau ke kantin?" aku menatapnya datar, dan menunjukkan raut terganggu dan benar benar tidak suka.
"kenalin, aku Johan" aku menghembuskan nafas kasar dan berjalan mendahaluinya, namun ia menahanku. Aku menoleh dan melihatnya lagi, tangannya sudah ditarik oleh Bagaskara.
"ngapain kamu pegang pegang Gantari?" ucap Bagaskara dengan nada tidak bersahabat.
"apaan sih, emang kamu siapanya Gantari berani ngomong gitu"
"pacarnya" Jawab Bagaskara singkat, lalu menarik lenganku berjalan menjauh dari Johan.
"kamu kok jadi berani gini?" tanyaku setiba di kantin.
Bagaskara tersenyum "aku harus berani sekarang, karena harus jagain kamu" Aku tertawa. "kamu tetep sama ya, ga waktu sd, waktu smp, tetep aja banyak yang suka sama kamu" Aku berdeham.
"cuz i'm pretty as a f**k haha" ucapku sambil mengibaskan rambut. Bagaskara tertawa renyah.
"kamu masih suka mie ayam kan? aku pesenin ya" aku menjawab dengan anggukan. tak lama datang 2 sahabatku. ya siapa lagi jika bukan Caca dan Selly.
"lah ini Gantari sendirian, kok anak anak bilang Gantari peluk peluk cowo sih" ucap Caca yang baru datang dan langsung duduk di hadapanku.
"iya geh, aneh banget mereka. nyebar hoax mulu. Sejak kapan Gantari tertarik sama cowo" sambung Selly. Baru hendak menjawab, Bagaskara telah lebih dulu menjawabnya.
"Gantari suka cowo kok. Tapi cuma saya aja yang dia suka" Caca dan Selly serentak menengok ke arah Bagaskara. Mereka terlihat bingung, bergantian melihat aku dan Bagaskara. Lalu menatapku lama dan meminta penjelasan.
"kenalin, ini temen masa kecilku. haha sampe gede juga siih" jelasku pada Caca dan Selly.
"temen?" tanya Bagaskara.
"iyaa temen, kalau bukan temen maunya apaa" jawabku sedikit terkekeh.
"pacar"
"yaudah deh iya, pacarkuu" jawabku sambil mencubit pipinya. Caca dan Selly jadi tambah bingung.
"Sel, kayanya aku halusinasi deh. masa aku liat Gantari cubit cubit cowo"
"kayanya kita berdua halusinasi Ca. aku juga liat soalnya"
"emang Gantari ga pernah gini sama cowo lain?" tanya Bagaskara dan dijawab gelengan serempak oleh Caca dan Selly. Ia beralih menatapku.
"makasih ya udah ngejaga perasaan kamu buat aku" Aku tertawa lepas.
"guys, dia tuh temen akuu. udah udah ayo makan. kalian pesen sana" ucapku mengakhiri kesalah pahaman ini. Bagaskara menatapku sejenak, lalu menyuap bakso kemulutnya. Begitupun aku. Dengan senang hati aku menghabiskan mie ayam yang dibelinya untukku.
Perasaanku hari ini begitu bahagia. Namun seketika aku teringat nomor aneh tadi pagi. Bagaimana dia bisa tau apa yang aku lakukan? bagaimana jika dia merekamnya dan menyebarkan itu? itu adalah hal buruk. Aku bisa saja menjeratnya ke ranah hukum, tapi tentu itu akan memakan waktu dan juga biaya.
Sebenarnya siapa dia? apa salah satu dari teman sekelasku? atau anak anak yang pagi tadi juga datang terlambat? Bagaskara menyenggol bahu ku, membuatku kembali ke alam sadar.
"lagi mikirin apa mm? ada yang ganggu pikiran kamu?" aku menggeleng dan tersenyum.
"Gantari, jangan deket deket sama dia" ucap Caca sambil duduk dengan mangkuk bakso ditangannya.
"iya, kita abis diskusi sambil ngantri tadi. dia keliatan ga baik" sambung Selly sambil menatap Bagaskara dari atas sampai bawah. "liat aja, seisi sekolah juga kayanya ga setuju sama hubungan kalian"
Aku menoleh keseliling. Kenapa aku baru sadar, kami menjadi pusat perhatian?
"buaya buaya sekolah ini bisa pada demo ke kamu" tambah Caca sambil memandang Bagaskara dengan tatapan penuh kebencian.
Aku tertawa setengah menangis melihat sahabatku yang tiba tiba jadi possesif begini. "kenapaa, kalian kan juga punya pacarr" Bagaskara tidak memperdulikan Caca dan Selly, ia tetap fokus pada semangkuk bakso dihadapannya.
"ya, gasuka aja"
"iya, gasuka"
Bagaskara tiba tiba merangkulku, "Gantari, makannya udah? aku anterin ke kelas ya, disini banyak haters nanti kamu malah keganggu sama mereka mm" ucapnya sambil mengusap rambutku. Aku kembali tertawa, bukan karena perlakuannya, tapi karena raut wajah sahabatku. Nampak sekali kalau mereka tidak menyukai Bagaskara.
Aku berdiri dan berjalan meninggalkan mereka masih dalam rangkulan Bagaskara. Mereka menatapku bingung dan cukup terkejut. auk melambaikan tangan. Ah aku yakin, mereka tidak akan marah dalam waktu lama. Lagi pula tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan tentang Bagaskara. Aku mengenalnya melebihi siapapun.
*****
Aku telah sampai di apartemen ku, bersama Bagaskara. Ia memaksa untuk mengantarku pulang. Sebelum kesini, kami mampir di mini market untuk membeli makanan ringan. Banyak hal yang akan kami bicarakan. Sepanjang jalan, ia tidak berhenti membicarakan masa kecil kami. Aku hanya bisa tertawa dan sesekali marah padanya karena membuat buat cerita. huh, dia masih tetap menyebalkan.
"kamu tinggal sendiri kan?" retoris sekali. padahal aku sudah sering memberitahunya sejak pertama pindah kesini.
"biasanya sih ditemenin setan"
"setan h***y kali ah"
"AHAHAHAHAHAHA" aku tertawa lepas. ia lalu berjalan mendahuluiku layaknya tuan rumah. aku mengunci pintu dan segera menyusulnya yang berjalan ke kamarku.
"lumayan luas, kasiann kamu pasti kesepian" ucapnya sambil mengusap rambutku. aku mulai memasang wajah sok menyedihkan. Dia tertawa, lalu menjatuhkan diri ke kasur ku.
"Gantari, sini" ucapnya sambil menepuk nepuk sisi kasur yang lain. Aku menaruh belanjaan kami dan ikut rebahan di sampingnya. Bagaskara memelukku erat. aku cukup terkejut, kenapa dia jadi se berani ini? 2 tahun kami tak jumpa, dan di hari pertama dia sudah begini? seolah kami tidak pernah terpisah.
Padahal selama 2 tahun ini juga, kami tidak terlalu sering berkomunikasi. apa dia begini karena terbiasa dengan wanita lain?
"aku kangen banget sama kamu" ucapnya, masih dalam posisi memelukku. Aku merasa sedikit getir membayangkan dia memeluk wanita lain seperti ini juga.
"ceritain gimana kamu disana"
"aku? gabanyak hal menarik. karena gaada kamu" tentu ini akan menjadi gombalan buaya jika diucapkan pria lain. Tapi ini Bagaskara.
"belajar gombal dari siapa sih" aku melepaskan peluknya, dan menatapnya tajam. Yang di tatap justru tertawa lalu menatapku intens. 1 menit pertama masih baik baik saja. Tapi di menit berikutnya, aku kalah. aku tidak nyaman ditatapnya seperti itu. imajinasi liar sialan ini kembali mengacaukan segalanya.
Pikirku mulai tidak waras. Kami berdua saja, di atas kasur dengan situasi yang sedikit awkward ini. Aku memalingkan wajahku. Mengalihkan situasi agar tidak terlalu awkward, aku mengambil belanjaan kami tadi. belum sempat kubuka, Bagaskara menarik tanganku dan membuatku terjatuh di peluknya.