8

1343 Kata
Sudah 1 jam kami sibuk berkutat dengan laptop. Ini sangat membosankan. Entah kapan manusia ini akan pergi. Aku menghela nafas berat, lalu mencomot sebungkus ciki yang ku bawa tadi. Ponselku berdering, dengan sigap aku langsung menjawab telfonnya. "halo?" "..." "ooh, iya pah Gantari masih ada urusan kelompok." "..." "hah? urgent banget pa?" Aku melirik Rendy, ya dia juga sepertinya mulai tertarik. "...." "oke oke pa, Gantari siap siap dulu ya pa. see you." "..." Sambungan telfon pun terputus. "Ar, sorry aku harus ketemu papa. Proposal nya kita lanjutin besok aja gimana? Kan besok libur." Dia menjawabnya dengan anggukan, sembari merapikan barang barangnya. "Besok aku kesini lagi." Aku melotot dan langsung menolaknya secara halus. "Emmm gimana kalau kita kerjain di luar aja? Di cafe atau perpustakaan gitu?" Dia nampak berfikir sejenak, lalu mengangguk. "Oke, kabarin aja besok ya." Aku berseru dalam hati, dan tersenyum padanya. Ku antarkan dia sampai pintu. Setelah yakin dia memasuki lift, aku berlari menuju kamarku dan mengganti pakaianku. Setelah bersiap siap, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Aku pun segera keluar dari apartemen, dan memastikan pintunya sudah ku kunci. Aku turun ke basement menggunakan lift. Sudah lama aku tidak menduduki BMW i8 Coupe ku ini. Aku lebih suka naik kendaraan umum saat ke sekolah. Soal telfon dari papa, itu hanya omong kosong. Yang sebenarnya menelfon adalah Hera. Dia adalah sepupuku, yaa aku senang bersamanya karena dia sosok yang open minded dan blak blakan. Dia memintaku untuk datang ke salah satu club langganan kami. Tentu saja aku sangat semangat, sudah lama sekali aku tidak ke club. Hanya perlu 30 menit untuk sampai disana. Halaman parkir nya masih sepi. Tentu, karena belum memasuki tengah malam. Aku memakai dress ketat diatas lutut, berwarna merah pekat. Dengan rambut ku ikat, menampakkan collarbone dan leherku. Nampaknya Hera sudah menungguku di depan bar. Aku tersenyum senang, dan langsung memeluknya. "Kemana ajaa siih Tariiii." ucapnya sambil memelukku erat. "Aku sibuk di sekolah Hera." "Sok sibuk aja kalii hahahaha, ayo masuk. Aku mau ngenalin kamu sama seseorang." Aku langsung mematung. "Kamu tadi gabilang soal ini loh Her waktu di telfon..." "Emangnya kenapa Tar?" Hera nampak bingung dengan ucapanku. Aku menghela nafas. "Kalau kamu bilang kan aku bisa dandan lebih cantiikkk." Tawa nya pecah. "Gilee gilee masih buayaa ternyata. Udahh lagian udah cantik banget nih. Ayo masuk cepet." Aku terkekeh pelan, lalu merangkul lengannya. Kami masuk berdua ke dalam club. Baru beberapa langkah memasuki club, kami telah disambut dengan sorot lampu berkedip dan putaran musik memenuhi telinga. Pandanganku tertuju pada proyektor di tengah club. "Wellcome back Gantari Hanasta" Aku menggeleng, ini pasti ulah Hera. "Gimana, seneng Tar?" Aku menjawabnya dengan anggukan. Dia pun menggeret ku ke sudut club. Sambil duduk, aku bertanya pada Hera, "dimana orang yang mau kamu kenalin ke aku Her?" ujarku. "Belum datang Tar, sabarrr sihh hahahaha." Balas Hera. Aku hanya mengangkat bahuku. Tak lama, ada waiters yang menghampiri kami. Aku memesan beberapa makanan ringan dan soda biasa. Sedangkan Hera? tentu dia memesan minuman beralkohol. Sudah menjadi kebiasaannya begitu. Dan aku yang akan bersusah payah membawanya pulang ke apartemenku. Sangat berbahaya bagiku untuk mabuk, apalagi di club. Tidak lucu jika aku dibungkus om om berperut buncit. Sambil menunggu pesanan kami, aku membuka ponselku. Ada 1 pesan text dari Bagaskara. Bagaskara : Kamu dimana? Sudah makan sayang? 1 jam yang lalu? Apa dia akan ke apartemenku? Aku sedikit risau, dan memilih untuk mengabaikannya. Besok, aku akan bilang kalau ketiduran. Ku lihat Hera sudah turun ke dance floor. Meliuk liuk diantara pengunjung. Aku menyenderkan bahuku ke sofa, masih enggan berdiri. Waiters tadi menghampiriku dengan troli makanan yang kami pesan. Mataku berbinar, yaa aku memang sedikit lapar. "Sendirian saja nona?" Ucapnya, aku mulai paham. Dengan cepat langsung memasang wajah datar, dan menyilangkan lenganku. Menolaknya dengan gesture tubuh. Aku tidak menjawabnya, acuh saja mencomot kentang goreng di piring. Tak ku sangka, dengan beraninya dia duduk disampingku lalu mengusap pahaku. Aku reflek menjauh, wajahku merah padam karena marah. Dengan sangat kesal, aku berdiri dan langsung menamparnya. Club terlalu bising, orang orang disekitar kami tidak sempat memperhatikan. Terlebih, sudut sudut club seperti tempat ku berada sekarang, minim cahaya. "How disgusting shit." Umpat ku kesal. "Siapa nama kamu!" Nada bicaraku mulai meninggi. Dia hanya berdecak lalu merapihkan pakaiannya. Ku cengkram kerah bajunya kuat, namanya Verren. Aku berdecih dan mendorongnya. "Saya bisa laporkan ke manager kamu. Jangan main main, saya tamu VIP disini." Ucapku penuh penekanan. Wajahnya memerah malu, antara malu dan takut dipecat. Aku mengibaskan tanganku, mengarahkannya untuk menjauh dari hadapanku. Huh, sungguh awal yang menyebalkan. Sangat merusak mood ku. Aku kembali duduk di sofa. Memijat pelipis ku yang berdenyut, kaget. Kenapa orang orang disini tidak bisa melihat perempuan sexy? Sangat norak. Ku lihat Hera berjalan mendekati ku dengan sedikit sempoyongan. Anak ini belum apa apa sudah mabuk. "Kamu.. ngapain tadi... Tarii... hahaha kamu suka sama waiters nya?" Ucapannya mulai ngelantur. Aku jadi lebih sebal. "Dimana orang yang mau kamu kenalin ke aku." Sela ku tak sabaran. Aku benar benar penasaran. Hera melirik jam di pergelangan tangannya. "Mungkin.. sebentar lagi.." Balasnya, aku mengangguk. Tiba tiba Hera berseru. "Hei ! Disiniiii !" Teriaknya, entah siapa yang di panggilnya. Aku kebingungan melihat orang orang yang sudah mulai banyak di dalam club. Sampai aku melihat sosok yang ku kenal, mendekat ke arahku. Aku menyipitkan mataku, berusaha kembali meneliti. Berusaha tidak percaya dengan penglihatan ku, karena terkadang aku lupa dengan wajah orang orang. Aku memandangnya dari atas sampai bawah, hingga dia lebih dulu menyapaku. "Hai Gantari." Tubuhku meremang. Aku memalingkan wajahku dan berusaha mengingatnya lagi. "Nahh hahaha ... Arya, kenalin ini Tari sepupuku." Aku terbelalak. Ku lihat lagi, ya ternyata ini memang benar Arya. Jantungku berdegup kencang, bagaimana bisa kami bertemu di tempat seperti ini. "Tar, ini Arya yang mau aku comblangin sama kamu... hahaha terus kalian menikah, aku jadi tante hahahahahahaha." Omongan Hera semakin ngelantur dan membuatku merasa malu. Terjadi kecanggungan diantara kami. Aku pun tersenyum kikuk pada Arya. "Hai, Ren. hehehe." Sambutku. Arya tersenyum, lalu duduk disampingku. Oke, ini terlalu mepet. Aku bergeser sedikit. Saat aku mengalihkan pandanganku, Hera sudah tidak ada di tempatnya. Gadis itu sudah memasuki dance floor lagi. Aku menggerutu dalam hati. "Papa ku sama Papa nya Hera rekan bisnis." Jelasnya menjawab pertanyaan dalam kepalaku. Oke, aku mulai paham biangkerok awal. "Papa Hera yang nyuruh dia buat ngenalin aku ke kamu." Sambungnya lagi. Benar, sesuai tebakanku. Om Hans benar benar meresahkan. "Gausah bilang ke anak anak kalau gw kaya gini-" "No, santai aja Ta. Aku juga paham, zaman sekarang main ke club bukan hal yang tabu." "But, aku lebih dari sekedar main ke club Ar." Ucapku dalam hati. Aku menjawabnya dengan senyuman singkat. Perasaanku kini sungguh tidak nyaman. Aku bergerak gelisah, dan hendak bangun mencari Hera. Sialnya, kakiku tersandung meja. Arya dengan cepat menarikku, menahanku agar tidak tersungkur. Namun kurasa, ini jauh lebih buruk dari pada tersungkur. Aku terduduk di atas pangkuannya. Dan sepertinya, batangnya mengeras. Aku benar benar menahan malu, bagaimana aku akan menemuinya di sekolah besok? Aku memegang pahanya sebagai tumpuan untuk bangun. Tapi dia menahanku. Tangannya justru melingkari perutku, dan memeluknya erat. Tubuhku mulai memanas. Kini tanganku menyentuh tangannya, berusaha melepaskan pelukannya. "Aryaa..." Lirihku, kurasa dia tidak sepenuhnya sadar. Dia meniup niup leher belakang ku, dan menjilati daun telingaku. Sekujur tubuhku merinding dibuatnya. Jelas ini salah. Aku Berusaha sekuat tenaga untuk melepaskannya. Tenaga nya cukup kuat, tapi aku berhasil lepas. Aku tak ingin banyak urusan dengannya. Tanpa basa basi, aku langsung mengambil tasku juga tas Hera. Menyusup ke dance floor, berdesakan untuk mencari gadis itu. Pikiranku sudah berantakan. Setelah menemukan Hera, aku langsung menariknya. Kali ini membutuhkan tenaga juga. Dia yang tengah mabuk, jadi jauh lebih menyebalkan. "Her, please sadar!" Aku berseru. "Kamu ngapain sama aku heiii! Aku mau pulang sama om om disana hahahahaha." Aku berdecak. Dengan mengerahkan semua tenagaku, aku berhasil menyeretnya masuk ke mobilku. Aku menghela nafas lega. Hera sudah berhenti meracau, tampaknya anak ini sudah tertidur pulas. Aku tidak bisa membawanya pulang ke apartemen ku. Takut kalau kalau Bagaskara sedang mengawasi ku melalui cctvnya. Oh aku sangat merindukannya. Mobilku melaju ke sebuah kawasan hotel berbintang. Malam ini, lebih baik bermalam di hotel saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN