Kami sudah berbaring telentang di atas kasur. Mengatur napas kembali agar stabil. Belum ada satu kalimat pun yang ke luar dari bibir kami. Aku bingung antara malu dan takut. Hanya sesekali saling curi pandang. Sepertinya Putra juga merasakan hal yang sama.
Haruskah kami menyesal? Sedang dalam hati berbunga-bunga. Begitu indah hingga membuat kami terbuai dan lalai.
Mbah Painem membuka pintu tanpa permisi, membuat kami yang masih dalam keadaan polos berjingkat masing-masing. Anehnya, tak ada kata marah meski dalam raut wajahnya. Ia mengambil kain panjang yang jatuh di bawah kasur dan menangkupkannya pada tubuhku.
Putra bergegas memakai pakaiannya dengan sejuta kebingungan. Menatap ibunya tak mengerti.
“Bersihkan dirimu cepat, sebentar lagi Pak Lurah datang!” Hanya tatapan saling pandang yang kami berikan padanya.
Bergegas kuikuti perintahnya tanpa membantah. Putra beranjak pergi meninggalkanku dengan senyuman penuh arti, saat aku berjalan menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan diri, kembali aku menunggu ritual ini di atas kasur. Mbah Painem meninggalkanku pula dengan sebuah pesan, “Jangan bicara apa pun dengan Pak Lurah. Biarkan dia mengerti dengan sendirinya.” Aku mengangguk, berharap semua akan baik-baik saja. Meski dalam hati ada perasaan takut begitu dalam.
Beberapa menit setelahnya, sebuah ketukan pada pintu pertanda kedatangannya. Kupersiapkan hati dan mental untuk menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. d**a berdebar tak karuan saat wajah penuh seringai jahat itu memasuki kamar.
Ia memutar kunci dan membalikkan badan padaku, berdiri di depan pintu sembari menyilangkan tangan di d**a.
“Sudah kubilang ‘kan, aku akan membelimu dengan semua hartaku,” ucapan pertama yang ia lontarkan ketika berhadapan denganku. Kuembuskan napas berat, meremas kain yang kupakai untuk meredam segala ketakutan.
Ia mulai melangkah mendekati kasur, perlahan mendekat dan mengendus tubuh ini. Kupalingkan muka dan berusaha menghindar. Namun, ia malah menjambak rambutku kasar. Aku memekik, menengadahkan wajah. Tetapi tak berani menolaknya seperti waktu itu.
Kembali ia mengendus, dimulai dari rambut, leher dan beranjak ke d**a. Ia menghentikan gerilya hidungnya lantas memandangku lekat. Terdiam sebentar, wajahnya sudah menunjukkan rasa tidak enak, seolah ada yang dipikirkannya.
Lantas, merebahkanku perlahan.
Ia menyingkap kain yang menutupi tubuhku dengan kasar, menemukan bercak merah yang belum sempat kubersihkan. “Bajing*n!” Tangannya menghantam kasur tepat di sebelahku dengan kuat. Aku menjerit, memalingkan muka darinya.
“Siapa yang melakukannya?” teriaknya tepat pada wajahku, mataku terpejam menahan takut. “Siapa?!” Kali ini dengan suara lebih keras.
Aku tak mampu menjawabnya, hanya senggukan tangis yang meluncur dari bibir ini. Membiarkan ia menerka dengan sendirinya.
Wajahnya memerah penuh amarah, mengacak kasar rambutnya sendiri. Beberapa kali mengepalkan tangan dan memukul kasar kasur dan bantal. “Oh, aku tahu. Anak dukun ronggeng itu ‘kan?” Aku hanya terdiam tak berani menjawab.
“Kenapa harus selalu dia? Dia yang sudah membuat saudaraku pergi dari rumah ini juga.” Kepalaku bergerak menatap wajahnya.
“Maksudnya?” Aku penasaran.
“Suami Mbah Painem adalah saudaraku, gara-gara bocah tengil itu datang ke rumah ini. Mbah Painem jadi sering uring-uringan tak jelas, hingga membuat suaminya tak betah dan pergi meninggalkan rumah ini.” Aku terdiam, mendengarkan segala kisahnya.
“Dan kini ia berani juga mau menggeser posisiku?” Ia berdecih, membuatku semakin ketakutan.
“Bocah kurang ajar!” Sekali lagi tangannya mengepal.
Melihatku tak berkutik, ia semakin marah. Mulai menindih tubuhku kasar dan menghujaniku dengan dentuman-dentuman kasar, sampai aku jejeritan.
Ia seolah meluapkan segala kesalnya padaku, tak peduli lagi dengan segala jeritan dan cakaran-cakaran yang kuberikan padanya.
Aku memohon ampun agar ia menghentikan perlakuannya ini, tetapi ia seolah tak peduli. Terus memompaku dengan segala kekuatan. Tubuhku semakin lemas, tak berdaya.
“Ini akibat yang bakal kamu terima jika tak menurut denganku!” Kasar ia mengentakkan lagi kuat-kuat.
“Tolong hentikan!” Rasanya sudah tak ada lagi kekuatan dalam tubuhku. Suaraku sampai serak.
“Aku akan menghentikan semua ini, jika kamu mau memenuhi syarat dariku.”
“A-apa itu?” Suaraku semakin parau.
“Kamu harus mau menikah denganku, dan jadi istri simpananku. Kalau tidak, akan kubongkar semuanya kepada semua orang kalau kamu tidak menepati ritual Babat Alas yang sudah dipersiapkan, bahkan kamu sudah berani menodainya.”
Dalam ketidakberdayaanku, tak ada lagi yang bisa kupikirkan, selain menyelamatkan diri dengan menuruti apa yang diinginkannya. Aku mengangguk, berkali-kali mengangguk. Ingin rasanya menyudahi malam ini. Tak kuat lagi.
“Satu lagi, jangan pernah berani lagi menemui kekasihmu itu. Cukup malam ini, sebagai malam pertama sekaligus terakhir ia menyentuhmu. Paham!” Anggukanku semakin lemas, antara takut, sakit, tetapi bingung dengan keputusan yang harus kuambil.
Daripada harus mati di sini, lebih baik kusanggupi segala inginnya.
“Akan kupersiapkan segalanya, untuk pernikahan kita, kau harus jadi milikku.” Ia menarik daguku lantas tertawa terbahak. Seakan semua ini lucu sekali.
Ia berdiri dan membenarkan pakaian dan rambut. Setelahnya, ia meninggalkanku pergi dan tak kembali lagi.
Aku berbaring dengan keadaan mengenaskan, menangis sejadi-jadinya. Hingga tertidur dan terbangun berulang kali.
Saat mata ini setengah memejam, antara sadar dan tidak, kulihat Mbah Sriyani duduk di pojok kasur ini. Ia menatapku dengan mendelik tajam. Memperlihatkan wajah seram, tak seperti biasanya.
Aku sedikit memundurkan tubuh ke belakang, tetapi tak ada kekuatan untuk sekedar mengangkat tubuh. Lemas sekali.
“Pengkhianat!” Satu kata itu yang ke luar dari mulut hitamnya. Ia melanjutkan kembali,
“Kau sendiri yang menorehkan luka pada garis hidupmu. Lihatlah nanti, kau bakal menemui banyak rintangan. Akibat perbuatanmu sendiri! Berani-beraninya kau nodai ritual sakral ini, hanya demi cinta yang takkan membuatmu hidup selamanya.” Wajahnya semakin mengerikan dengan darah yang merembes dari sela matanya. Aku bergidik luar biasa.
“Ma-maafkan aku, Mbah. Ampun ....” Kukatupkan kedua tangan untuk memohon.
“Jangan sampai kau khianati juga kepercayaanku untuk menyiksa Diman.” Aku mengangguk cepat, berharap ia segera berlalu pergi.
Benar saja, ia pergi lesap bersama angin kencang yang tak kumengerti. Hilang di balik gorden jendela yang berkibar.
Kali ini aku baru menyesal, hanya karena tak bisa mengontrol nafsu, aku harus menghadapi hal yang semakin rumit ke depannya.
Bagaimana dengan nasibku kini? Sekolahku? Ah, semuanya telah hancur. Apalagi cintaku. Ini benar-benar di luar perkiraan. Aku meradang, terisak dalam balutan rasa bersalah yang teramat mendalam.
‘Nenek ... maafkan aku! Semua ini salahku,’ gumamku lirih.
‘Aku kalah!’