Malu bertanya, sesat di jalan.
Mungkin itulah kalimat yang tepat untukku. Aku malu, usia sudah menginjak dua puluh lima tahun, tapi bacaan salat yang kutahu hanya itu-itu saja. Tuntunan salat pun hafal saat mengikuti ujian praktek waktu SD. Aku malu mengatakan atau pun bertanya pada Bu Dewi bagaimana caranya melakukan salat malam. Dan di sisi lain, merasa ragu salatku diterima atau tidak. Sedangkan, salat wajib saja terakhir kulakukan beberapa tahun lalu.
Dan sekarang nyatanya aku benar-benar tersesat, tak mendapat petunjuk apapun dari keragu-raguan yang kurasakan. Bertanya pada Bu Dewi sekali lagi. Dan dia pun sudah memasrahkan segala keputusannya padaku.
Tak mendapat jawaban yang ingin kudengar. Pernah sekali bertanya pada Mila, meminta pendapatnya dengan tidak menyebutkan nama Danish.
Dia berkata, "Kalau itu yang terbaik, kenapa tidak? Berarti laki-laki itu sudah siap dengan segala tanggung jawab. Dia akan menafkahi dan melindungi keluarganya. Terutama, dia siap menjadi imam yang baik."
Jawaban meresap ke dalam pikiranku yang sudah seperti benang kusut.
***
Satu hari saat bertemu dengan Danish di ruang Enginering, dia menghampiri. Tersenyum manis seperti biasanya. Dan seperti biasa pula ekspresi ketusku. Namun kali ini tidak seberapa.
Danish mengucap salam. "Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam."
"Ada apa? Tak biasanya kamu datang ke sini?"
"Lagi nyari Staf kamu, Konveyor di Line rusak. Di sana tidak ada satu Staf Enginering pun. Pada kemana, si?" tanyaku ketus.
"O, iya, baiklah." Danish pun memanggil salah satu stafnya. Langsung dia perintahkan untuk membetulkan konveyor di Line.
Setelah keperluan selesai, aku berbalik arah tanpa berkata lagi. Mengabaikan Danish yang masih belum beralih dari posisinya.
"Nika, aku akan datang bersama kedua orang tuaku hari minggu nanti," ucap Danish.
Langkahku terhenti seketika. Berbalik arah lagi dan menghampirinya. Danish tersenyum. Namun tidak denganku.
"Lebih baik kamu mundur, dari pada malu karena nanti lamaranmu aku tolak."
"Apa itu sudah pasti?"
"O, iya! Jelas saja! aku tidak pernah cinta sama kamu, kita juga tidak pernah pacaran, berteman pun tidak, berlagak mau langsung melamar." Aku membuang muka.
Danish manggut-manggut.
"Baiklah, kalau begitu, aku akan jujur tentang satu hal padamu."
Aku diam.
"Aku adalah tipe orang yang keras kepala. Jadi, apa pun yang ingin kau lakukan, lakukan saja. Karena aku akan tetap datang minggu nanti."
Mataku terbulat sempurna. Kaget sebenarnya, tapi tak terlalu. Sebab selama ini, dia memang yang paling sulit diusir meski telah kuperlakukan sekeras apa pun.
"Assalamu'alaikum," ucap Danish mengakhiri pembicaraan kami.
Sekarang malah aku yang mematung, menatapi punggungnya dari belakang. Kenapa pemuda itu begitu serius ingin menikahiku? Sedangkan dia tahu aku ini seorang janda beranak satu.
***
Keesokan harinya aku masih masuk kerja seperti biasa. Meskipun tak ingin memikirkan, tapi tetap saja niat Danish datang ke rumah bersama kedua orang tuanya selalu melintas di ingatan. Berkali-kali bertanya pada diri sendiri.
Keputusan mana yang harus ku ambil, iya? Atau Tidak? Aku masih tetap bingung. Bahkan menghitung kancing baju untuk menentukan keputusan itu pun sudah buntu.
"Dasar bodoh!" umpatku pada diri sendiri.
Sedangkan semakin kesini, Danish semakin menunjukan keseriusannya. Sekali lagi ia datang ke rumah tanpa sepengetahuanku. Aku baru tahu dia datang menemui Bu Dewi itu pun karena Bu Dewi yang bercerita. Danish menanyakan, apakah Ayah bisa datang atau tidak besok lusa.
Ini gila! Ternyata dia benar serius! Aku malah jadi kalangkabut sendiri.
Berusaha menelpon Ayah agar dia tak datang ke rumah Bu Dewi. Tapi gawainya sulit dihubungi, Ayah pasti masih sibuk dengan pekerjaanya.
*
"Assalamu'alaikum."
Jantung berdebar saat mendengar suara ketukan pintu dari luar. Aku dan Bu Dewi yang tengah berada di depan TV pun kaget. Kulihat jam di dinding. Waktu sudah menunjukan pukul empat sore. Ini adalah hari minggu dan aku berada di rumah karena libur.
Semakin berdegup cepat jantungku saat berjalan menuju pintu. Apakah ini Danish?
Dengan sedikit rasa ngeri akhirnya pintu kubuka. Namun yang terlihat ternyata bukanlah Danish.
"Iqbal?" Aku kaget.
"Hai," sapanya ramah seraya menyunggingkan senyuman khasnya yang manis.
Aku celingukan ke sana-kemari, apa para tetangga melihat kedatangannya.
"Silahkan masuk." Aku mengajaknya masuk kedalam rumah. Iqbal pun menyalami tangan Bu Dewi.
"Tunggu sebentar, ya. Aku ambil minum dulu."
"Eh, jangan ... tidak usah. Aku cuma sebentar." Iqbal menahan gerak langkahku.
Aku hanya mengangguk mengerti.
"Tumben datang ke sini sore-sore, apa kamu tidak ada kerjaan?"
"Ada."
Aku mengernyit, "loh? Terus kenapa ke sini?"
"Kerjaan aku sekarang, mau mengajak kamu sama Athaya jalan-jalan. Apa kamu mau?"
"H-hah? Jalan-jalan? Ke mana?" tanyaku sedikit kaget.
Iqbal tak menjawab, dia malah tersenyum dan menghampiri Bu Dewi yang tengah bersama Athaya.
"Bu, maaf. Saya mau minta izin mengajak Anika sama Athaya pergi keluar sebentar. Apa boleh?" tanya Iqbal.
Bu Dewi melihat ke arahku. Sorot matanya mengisyaratkan sesuatu. Dan aku mengerti. Sebab malam ini sudah pasti Danish dan keluarganya datang ke rumah.
"Itu terserah Anika saja, Ibu tidak akan melarang."
Kuhela napas panjang, agak sesak terasa. Entah karena apa. Aku sendiri kurang mengerti. Hingga pada akhirnya kuputuskan untuk menerima ajakannya. Sekaligus untuk menghindari pertemuanku dengan Danish malam nanti. Toh, Ayah juga tak datang. Mereka juga pasti takkan datang. Pikirku.
***
Iqbal mengajak kami pergi ke Jogja Mall, Athaya begitu senang. Karena memang sudah cukup lama aku tak mengajaknya kemana-mana. Iqbal juga begitu baik, dia bahkan tak sungkan menggendong Athaya dan mengajaknya bermain. Seolah sudah saling mengenal, pembawaan Iqbal mampu membuat anakku tertawa riamg.
"Apa Thaya senang?" tanya Iqbal pada Athaya yang tengah bermain di salah satu tempat bermain anak.
"Senang, Om," jawab Athaya polos.
"Abis ini, Thaya mau main apa?"
"Nanti abis ini, Thaya mau naik mobil sama kereta ya, Om. Boleh kan?"
"Boleh dong, sip dulu!" Iqbal tertawa.
Athaya kembali lagi bermain. Aku tersenyum.
"Terima kasih, ya, kamu sudah membuat Athaya bahagia hari ini. Jujur, sebulan belakangan aku tidak pernah mengajak dia main kemana-mana. Soalnya di pabrik lembur terus."
"Tidak usah bilang terima kasih, aku suka anak-anak. Jadi, melihat Athaya senang tuh rasanya seperti balik lagi ke masa lalu," jawab Iqbal.
Sejenak menatap wajahnya tanpa celah. Dia laki-laki yang sangat baik. Bahkan pada orang yang baru ditemuinya. Baru kali ini melihat Athaya begitu akrab dengan orang baru. Apakah benar yang dikatakan Bu Dewi? Athaya butuh sosok seorang Ayah.
***
Setelah merasa puas dan malam semakin gelap. Aku pun mengajak pulang. Hari ini benar-benar merasakan kebahagiaan dari Iqbal. Aku merasa nyaman bersamanya.
Pukul delapan malam kami sampai di depan rumah Bu Dewi. Athaya sudah tertidur lelap di pangkuanku. Lelah pun mulai terasa dan kantuk mulai merapat ke mata.
"Sini, aku bawa Athaya," ucap Iqbal seraya mengambil alih tubuh mungil Athaya dari pangkuanku.
"Terima kasih."
Aku turun dari mobil dengan beberapa kantong belanjaan di tangan, Iqbal pun sudah berada di luar bersama Athaya di gendongannya. Kali ini, aku tak perduli lagi apa kata tetangga. Yang terpenting, aku tak pernah berbuat seperti apa yang mereka katakan.
"Nika? Kayanya di rumah kamu ada tamu."
Aku menoleh.
Langkahku tiba-tiba terhenti. Baru tersadar ada sebuah mobil yang terparkir di dekat mobil milik Iqbal. Dan parahnya, kulihat pintu rumah Bu Dewi terbuka. Beberapa pasang alas kaki terlihat berjejer rapih.
Hati mendadak tak menentu.
"Iqbal, mendingan kamu langsung pulang saja sekarang, ini juga sudah malam. Tidak enak sama tetangga." Aku memberi alasan pada Iqbal.
"Nika, tapi ini udah di depan rumah kamu. Tidak enak juga kalau aku tidak menemui Ibu kamu dulu. Kamu juga pasti tidak akan bisa bawa Thaya sambil bawa belanjaan. Sebentar saja. Setelah itu, aku pulang."
Aku jadi serba salah, Iqbal juga sudah melangkah menuju pintu rumah. Berusaha mencegahnya dan memberi beberapa alasan. Namun Iqbal tetap kekeh ingin bertemu dengan Ibu mertuaku.
"Iqbal ... tunggu." Masih berusaha menahannya masuk, aku menarik lengan Iqbal di ambang pintu.
Iqbal akhirnya berhenti dan sempat mengucap salam pada orang yang ada dalam rumah. Namun beberapa saat kemudian terdengar seorang wanita berkata cukup lantang.
"Astagfirullahal'adzim ... Danish. Apa wanita seperti itu yang hendak kamu jadikan istri?!"
Aku terperanjat dan buru-buru melepaskan pegangan pada Iqbal.
"Ayah ...." Aku semakin kaget lantaran Ayah juga sudah berada di rumah Bu Dewi.
Padahal kukira dia takkan datang, dan proses lamaran ini tak pernah terjadi.
Wanita yang berkata itu pun segera ditari oleh seorang laki-laki yang berada di sampingnya hingga dia diam.